Feeds:
Pos
Komentar

Tak terasa 9 tahun umur komunitas Tangan Di Atas (TDA), dari sekumpulan orang-orang yang punya visi-misi sama bagaimana membangun bisnis, berdiri di atas kaki sendiri. Berusaha menjadi orang-orang yang bermanfaat, menebar rahmat ke sesama. Menjadi tangan di atas. Sekarang TDA telah menjadi gerakan nasional tentang kemandirian ekonomi.Pesta Wirausaha TDA 2015

Sebentar lagi TDA akan merayakan kelahirannya. Jika dahulu perayaan ini diberi nama dengan milad TDA, beberapa tahun terakhir ini diberi nama dengan nama event: Pesta Wirausaha TDA (PW TDA). Ya, diberi nama Pesta Wirausaha karena memang event ini akan menjadi pestanya para wirausahawan di seluruh Indonesia. Jika dulu hanya perayaan sekumpulan orang, sekarang TDA telah berkembang dengan puluhan ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara.

Dari syukuran dengan tumpengan sekadarnya, dirayakan di panggung sederhana. Sekarang milad TDA dirayakan di panggung megah dan dirayakan oleh ribuan member dan pengunjung umum. Dari syukuran segelintir member, sekarang Pesta Wirausaha telah menjadi event nasional. Dihadiri dari seantero negeri. Dari semula pengisi acara hanya dari para pendiri dan penasihat TDA, sekarang diisi dan dihadiri oleh orang-orang hebat penggerak dan inspirator kewirausahaan.

Beberapa tahun telah berlalu semenjak saya bergabung dari masa-masa awal terbentuknya TDA. Dari sekadar pengamat sampai jadi penikmat TDA. Dari semula pasif sampai aktif dalam kegiatan-kegiatan TDA. Banyak hal-hal besar telah terjadi yang saya saksikan dalam perjalanan TDA selama ini, terutama dalam perkembangan hidup dan bisnis para membernya. Dari semula bisnis recehan sampai menjadi miliaran!

Setiap Pesta Wirausaha selalu saya nanti-nanti dan memastikan hadir. Kenapa? Karena disanalah saya bisa menyaksikan transformasi hebat para anggotanya. Dari semula tidak punya bisnis lalu punya bisnis sendiri. Dari semula karyawan sekarang malah sudah punya banyak karyawan. Dari semula tangan di bawah (sebutan untuk orang gajian) sekarang berubah menjadi tangan di atas (orang yang memberi gaji dan berkontribusi bagi sesama).

Bagi para pemula, di acara ini akan mendapatkan banyak inspirasi dan belajar dari para pakar dan orang-orang sukses. Anda akan bertemu orang-orang hebat dalam bisnis dan perubahan. Dan yang lebih hebatnya lagi, selain sukses mereka adalah orang-orang yang suka berbagi dan senang melihat orang lain sukses pula. Ada panggung-panggung motivasi, inspirasi sampai kelas-kelas atau sesi kecil tentang bisnis praktis. Ada pula stan-stan bermacam kuliner, fashion, teknologi dan berbagai macam bisnis.

Setiap PW TDA saya pastikan untuk hadir. Bukan sekedar bertemu teman-teman lama yang satu gerakan, tapi juga dari acara ini saya mendapatkan inspirasi, motivasi dan bertukar-pikiran. PW ini bukan sekedar ngumpul-ngumpul tapi juga pencerahan dan pergerakan.

Pesta Wirausaha ini adalah panggilan pulang bagi para member TDA untuk datang dan berkumpul kembali dan sharing. Berkumpul dalam rumah besar TDA.

Para pemimpin negeri boleh berganti, tapi para anak-anak muda penggerak kewirausahaan negeri ini akan terus bergerak. Para elit boleh datang dan pergi, tapi kami akan terus berjuang untuk negeri ini; dengan cara kami sendiri: TDA ways. Menjadi inspirasi, motor penggerak dan membangun negeri ini. Jika para politisi berkoar dengan jalan politik, maka pejuang TDA melakukan aksi nyata dalam bidang ekonomi. Menjadi mandiri dalam bidang ekonomi.

Jadi, yuk bagi para member TDA baik member jadulers (sebutan untuk member lama) maupun member baru mari kita ramaikan Pesta kita ini. TDA memanggilmu! Dan bagi para calon member atau peserta umum, yuk kita hadiri event nasional ini, dimana disana kita akan menyaksikan berkumpulnya para orang-orang hebat seantoro negeri. Sebab, ada pepatah lama berkata: Jika anda berkumpul dengan penjual minyak wangi maka Anda pun akan tertular wanginya. Dan jika anda ingin menjadi oranghebat maka berkumpullah dengan orang-orang hebat.

Sebab kesuksesan itu adalah bertemunya kesempatan dengan kesiapan.

Yuk, luang waktu Anda 3-5 April 2015 untuk menghadiri Pesta Wirausaha, pestanya kita semua. Info acara sila kunjungi: http://pestawirausaha.com

 

 

22 Pebruari lalu, saya ikutan street photo hunting yang digagas komunitas The Ribets bersama beberapa kelompok fotografi lainnya. Kami blusukan mengitari kota Bogor, menelusuri jalan-jalan yang tidak umum dilalui. Masuk keluar kampung-kampung. Kampung-kampung yang seolah tiada menyisakan lagi sisa tempat di belahan Bogor, sampai-sampai tebing, pinggir jurang ditumbuhi oleh jejaran rumah-rumah penduduk yang seperti kehabisan lahan.

Jalan-jalan hunting foto ini bukanlah jalan-jalan biasa. Tak ada model cantik, ataupun obyek-obyek hunting foto pada umumnya, atau sekte penggemar merek kamera tertentu. Yang ada, peserta diajak jalan-jalan menyusuri kota, masuk keluar kampung, naik-turun tebing menyusuri kali yang membelah perkampungan di Bogor. Memotret dinamika warga, bercengkrama dengan bocah-bocah kampung, melihat tempat-tempat ibadah dan segala kehidupan kota Bogor.

Acara hunting foto ini diberi nama Gentayangan, dan kali ini sudah memasuki tahun atau seri kelima.

Berikut rekaman foto-foto sepanjang perjalan waktu itu:

Kepala Suku wak Awaludin memberikan arahan

Pedagang mainan

 

Hmm…. apa ya. yang pas deskripsi untuk foto ini…???

 

Menyusuri pinggir kota

 

Masuk kampung

 

Masuk keluar kampung

 

Ayoo kita pada ngumpul….

 

Mari bercengkrama ria…

 

A: Hayoo.. siapa nama walikota Bogor? Tahu nggak? B: Hmm…. ???

 

Kuis untuk anak-anak

 

Foto rame-rame…

 

Ngumpul

 

Bercengkrama sesama peserta

 

Kumpul

 

DSC_0010

Kumpul

 

Kumpul

 

Ketemu teman lama…

 

Bocah kampung tapi kota

 

20150222_161208

Menonton ada orang masuk kampung

 

Menyusuri tebing

 

Menghubungkan 2 batas

 

2 Batas

 

Jembatan warga

 

Horizon

 

Anak kampung tapi kota

 

Kampung Kota

 

Masjid pinggir sungai

 

Lilin untuk keluarga. Lokasi Vihara Bogor

 

Jembatan merah

Banyak kenangan dan rekaman pada perjalanan ini. Namun sayang, acara yang rutin setiap tahun dan menjadi kalender wajib bagi para peserta ditandai jauh-jauh hari untuk ikut harus berakhir kali ini. Gentayangan yang ke-5 harus berakhir dan tak akan diulangi lagi…..

 

 



 







 

 

 

Hujan dari semalam, basah dan dingin dimana-mana. Malas keluar, membuat saya cuma berdiam diri saja di rumah. Sambil menyelesaikan beberapa kerjaan, multitasking melihat status teman-teman di media sosial.

Kopi, macet, banjir dimana-mana. Itulah update paling banyak yang terbaca di media sosial. Selain kopi, tentu saja status-status tadi ujung-ujungnya mengerucut ke pimpinan Jakarta dan Republik ini.

Mengenai kopi, tentu saja hujan-hujan dan dingin-dingin begini merangsang sekali begitu melihat kopi hitam kental terhidang di secangkir kopi. Walau bukan maniak kopi, tapi saya terbiasa minum kopi dari kecil. Sudah tentu kopi asli, bukan jenis sachetan atau instan. Beberapa varian kopi jadi koleksi saya, bahkan sampai membeli alat french press untuk menghidangkan kopi serta membeli alat grinder untuk mengiling kopi agar bisa mendapatkan rasa kopi yang segar dan mantap.

Kopi, satu teman yang asik menemani hujan begini.

banji-jktLalu, status banjir mengepung Jakarta. Di beberapa titik banjir melanda Jakarta. Sampai-sampai istana negara pun tak luput dari banjir ini. Sempurna sudah alam atau Tuhan menguji pemimpin yang dipilih rakyat untuk memimpin Jakarta. Seolah sebagai pembuktian, bahwa mereka yang dulunya berkata begitu mudah menyelesaikan persoalan Jakarta dan persoalan Indonesia.

Dulu, ketika masih menjadi pemimpin lokal para pemimpin ini begitu mudahnya bilang: mudah dan gampang itu menyelesaikan persoalan Jakarta. Beri saja kami kesempatan maka akan selesai! Lalu, rakyat jelata begitu saja percaya dan lalu memberikan mandat Jakarta. Kalau nggak percaya baca aja beritanya di link ini. Kemudian ketika berhasil mempimpin Jakarta, tapi ternyata tidak berhasil juga. Malah bilang lagi, masalah ini akan bisa diatasi kalau beliau bisa jadi presiden, baca link ini.

Dan ketika macet semakin parah di Jakarta. Banyak kritik dan komentar bertebaran, pemimpin ini dan para pendukungnya berciloteh, persoalan Jakarta tak bisa diselesaikan hanya dengan kekuasaan Jakarta. Harus menjadi orang nomor satu di republik ini agar mudah menyelaikan carut-marut Jakarta. (Baca link ini: Jokowi: Macet dan Banjir Lebih Mudah Diatasi jika Jadi Presiden). Lalu, kembali rakyat jelata ini terpesona dan menyerahkan kursi nomor satu negeri ini.

Dan ketika Jakarta dan republik ini sudah dikuasai, seolah sang waktu semakin membuktikan kualitas orang-orang yang terpilih ini. Baik yang di parlemen maupun pemerintah seolah sama saja. Konflik parlemen, pertikaian Polri-KPK, dan sekarang banjir malah melanda.

Boleh-boleh saja kita tidak serta-merta menyalahkan para pemimpin ini atas musibah atau gejolak krisis negeri ini. Tapi rakyat tentu saja ada yang tidak lupa, bahwa mereka ini dulu jumawa pernah berkata, beri saya kesempatan maka saya dengan mudah menyelesaikan persoalan Jakarta—dan Indonesia.

Sebuah kesombongan dijawab oleh alam. Katanya mudah mengataasi Jakarta, lalu dijawab oleh Alam (mungkin oleh Tuhan) dengan hujan lebat dan banjir dimana-mana. Lalu, sang Gubernur mudah saja menjelaskan bahwa ini adalah sabotase.

Kebohongan mobil Esemka dan niat memajukan mobil nasional, lalu tekad kuat untuk mengatasi krisis macet Jakarta dan sumpeknya jalanan Indonesia oleh mobil-mobil non mobnas terjawab sudah. Sang Presiden sudah menyepakati dengan ditanda-tanganinya kerjasama antara pihak Malaysia dengan pihak swasta Indonesia—yang ternyata beliau ini adalah orang kuat tim sukses sang presiden (lagi-lagi kolusi). Esemka entah kemana, mobil nasional entah kemana pula konsepnya. Yang ada malah membuka kerjasama memasukkan mobil Malaysia ke Indonesia.

Inilah ironi negeri ini. Dan..tentu saja masih ada yang percaya dan berharap….

Sporte Big Sale Program. Let’s swim with Sporte – sporte.id
Webstore: http://efashion.co.id

View on Path

BBMTadi pagi saya belanja ke pasar, isteri nitip belanja beberapa item untuk masak. Ketika hendak membayar belanja ke kedai belanja, saya kaget ternyata uang 50 ribu tidak cukup lagi untuk belanja beberapa bumbu seperti cabe, bawang, daun bawang, sayuran,  sedikit kentang , dan petai:). Cuma belanja itu saja, tidak termasuk lauk-pauknya karena sebelumnya isteri sudah belanja lauk-pauk di swalayan.

Jika beberapa waktu lalu uang 30ribuan sudah cukup banyak untuk belanja beberapa tambahan pelengkap masak, sekarang uang 50 ribu minimal untuk hal ini. Harga-harga naik tinggi, rakyat semakin sulit untuk membeli.

Saya membayangkan, bagaimana kalau masyarakat yang berpenghasilan lebih kurang 50 ribu perhari. Bahkan masih banyak yang penghasilan kurang dari itu. Apa yang bisa mereka beli? Belum lagi beras, minyak, gas, serta kebutuhan keluarga seperti uang jajan anak, uang sekolah, kontrakan dan sebagainya.

Pemerintah telah menaikkan harga BBM. Maka harga-harga lainnya membubung ikut tinggi.

Bagi kelas menengah, atau karyawan yang bergaji tinggi sebagian mereka no problem dengan kenaikan harga BBM ini. Bagi mereka, kalau pun toh BBM naik tinggal minta sama bos kenaikan gaji. Beres masalah. Tapi bagi rakyat berserak yang gajinya di bawah 100.000 atau lebih kurang 50.000 perhari, ini adalah cekikan yang pelan-pelan menghabiskan napas mereka. Belum lagi masih banyak yang pendapatannya di bawah 50ribuan perhari.

Pemerintah berdalih bahwa kenaikan BBM ini untuk rakyat kecil juga. Subsidi selama ini ke BBM dialihkan ke bantuan tunai ke masyarakat. Tapi, bukankah dengan begitu telah mengajarkan masyarakat untuk jadi mengemis dan merendahkan diri mereka dengan ikut mengantri beramai-ramai dan berjam-jam demi hanya mendapatkan uang tunai yang tidak seberapa?

Yang dibutuhkan rakyat bukan bagi-bagi uang, tapi daya beli dan stabilitas ekonomi. Apalah arti uang yang hanya beberapa ratus ribu saja, jika selepas dari loket mereka ke pasar mendapati harga-harga barang malah semakin tinggi? Kenaikan BBM adalah pemicu, menjadi lokomotif bagi kenaikan harga-harga lainnya. Otomatis harga-harga lain juga ikut naik.

Kembali ke masalah subsidi BBM. Saya tidak perlu beragumentasi dengan cara para intelektual yang memainkan data demi membenarkan atau menentang kenaikan harga BBM.

Bukankah rakyat berhak atas harga BBM yang murah? Jika di beberapa negara maju dan beradab harga BBM murah lalu kenapa di negeri ini malah mahal? Bukankan fungsi  adanya negara demi menjamin kesejahteraaan buat rakyatnya? Jika negara atau pemerintah tidak bisa lagi menyejahterakan rakyatnya, maka jangan disalahkan jika beberapa warganya pindah warga negara dan kuatirnya nanti beberapa wilayah terluar lebih memilih bergabung dengan negara tetangga.

Jika alasannya selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran dan hanya dinikmati oleh segelintir orang, lah itu bukan alasan untuk memahalkan harga BBM. Bukankah itu masalah pemerintah yang tidak bisa mengatur distribusi, hanya orang-orang mampu yang menikmati, dan mengapa sampai bocor diperjual-belikan dan disalahgunakan oleh beberapa gelintir orang/mafia dengan memperdagangkan BBM subsidi? Bukankan ini seperti peribahasa orang-orang dulu, buruk muka, lalu cermin dibelah? Pemerintah tidak bisa urus dirinya lalu kenapa rakyat berserak yang disalahkan dan menanggung  derita?

Toh,  kalau pun BBM subsidi selama ini dinikmati oleh orang-orang mampu berkendaraan bagus. Boleh-boleh saja ‘kan? Jangan salahkan mereka jika membeli BBM murah itu ‘kan hak mereka sebagai rakyat? Bagaimana tidak mereka akan beli BBM murah, sebab dengan kondisi jalan raya yang macet parah akan memakan boros BBM? Orang-orang tentu akan berhitung dalam pembelian dan pemakaian BBM. Bagaimana rakyat tidak akan berlomba-lomba naik kendaraan pribadi, jika transportasi umum tidak memadai dan malah menyengsarakan? Sudah tentu orang akan nyaman naik kendaraan pribadi dibanding naik kendaraan umum yang mana penumpang di dalamnya ditumpuk seperti ikan di kaleng sardine? Belum lagi kejahatan dan gangguan lainnya?

Seandainya negeri kita seperti negara tetangga atau pun negeri-negeri beradab lainnya. Dimana transportasi umum begitu menyenangkan dan murah. Tentu saja rakyat akan dengan senang hati menaruh mobil-mobil pribadi di rumah dan naik kendaraan umum.

Seharusnya transportasi umum dibenahi dulu, jalan-jalan diperbaiki dan layak dipakai, daya beli kuat dulu, baru bicara kenaikan harga BBM.

Boleh saja pemerintah beralasan bahwa kenaikan BBM ini adalah warisan pemerintah sebelumnya dan karena ada kesepakatan dengan pihak internasional untuk menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi. Lalu pertanyaan terakhirnya, pemerintah ini sebenarnya berpihak kepada siapa sih? Rakyat atau kapitalisme internasional?

Lalu dimana jargon Trisakti yang selalu didengung-dengungkan: berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya.

Pada akhirnya, untuk memahami derita rakyat, memang kita harus terjun langsung ke bawah.  Main dan ikut belanja ke pasar-pasar, pergi ke sekolah-sekolah dan tempat lainnya rakyat berkumpul. Bukan semata sekedar lewat, senyum-senyum dan pencitraan belaka.

Dengan blusukan singkat ke pasar pagi ini, setidaknya saya jadi mengerti dan berempati, betapa tangguhnya para ibu rumahtangga kita dalam menyiasati belanja sehari-hari di tengah keterbatasan uang belanja dari suami….

Bagi para suami, mari semangat terus bekerja! ;)

 

Walau tak akan ada yang mengibarkanmu, aku kan tetap menjunjungmu: Merdekalah negeriku Indonesia!

View on Path

Nabi Muhammad Saw pernah berkata, ada 3 jalan keselamatan:
1. Jagalah lisan
Bicaralah seperlunya dan sesuaikan dengan lingkungan. Kata-kata kadang lebih tajam dari hantaman anak panah.
2. Betah di rumah
Buatlah suasana rumah yang menyenangkan dan hindarkan yang menggelisahkan (tdk nyaman); jangankan manusia, malaikat pun tak mau masuk. Sebaliknya setan yang betah disana.
3. Tangisi dosa-dosamu
Kata Ali bin Abi Thalib: jika kamu tak mampu menangisi dosa-dosamu maka tangisilah hatimu yang tak mampu menangisi dosamu itu.

View on Path

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.876 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: