Feeds:
Pos
Komentar

choiceBeberapa waktu akhir ini saya melihat betapa media social, media tv, grup dan komunitas begitu serunya dukung-menentang, jelek-membela para capres. Cuma dua calon presiden sekarang ini, tapi betapa telah terbelah besar negeri ini. Isi wall FB, Twitter, grup-grup seru sekali dengan posting-posting capres ini.

Inilah produk demokrasi salah kaprah yang kita terapkan di negeri. Demokrasi betapa menjunjung individualisme lalu melupakan semangat kolektivisme—kegotong-royongan kita. Hilang sudah musyawarah untuk mufakat warisan nenek moyang kita.

Lupa begitu saja pada cita-cita the founding father kita. Lupa kita pada semangat Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, H. Agus Salim dan para pendiri bangsa lainnya. Kalau pun ingat, cuma sekedar mengutip-ngutip saja pikiran Bung Karno dan founding father lainnya, tentang Trisakti, Pancasila dan sebagainya tapi lupa pada esensi dan ruh dari pemikiran mereka.

Karena kadung berdemokrasi liberal seperti sekarang ini, memang sulit menemukan pemimpin sejati saat ini. Yang terjadi betapa dalam setiap pemilihan umum baik legislatif, kepala daerah atau presiden betapa bergolaknya negeri ini.

Nah, dalam konteks memilih presiden sekarang ini kita memang dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Di satu sisi dianggap ada calon yang begitu merakyat, di satu sisi lagi ada calon yang dianggap tegas yang diperlukan saat ini.

Dalam menentukan pilihan, sederhananya saya menggunakan nasehat para ulama yang menetapkan kriteria:

  1. Jika ada yang sama-sama baik maka pilihlah yang terbaik
  2. Jika ada yang buruk dan baik maka pilihlah yang baik
  3. Jika sama-sama buruk maka pilihlah yang sedikit keburukannnya (mudhorat).

Idealnya kita menginginkan kriteria yang pertama. Tapi jika tidak ada pilihan terbaik saat ini kita bisa menggunakan kriteria-2 dan kriteria-3.

Kemudian dalam memilih Pemimpin, kita bisa mengambil model yang ada pada Rasulullah Saw:

  1. Jujur, lawan dari kata dusta. Ia memiliki kecocokan sesuatu dengan fakta, tidak asal ngomong. Tidak suka pula memelintir fakta.
  2. Amanah, dapat dipercaya tidak ingkar. Mengenai nilai amanah, Daniel Goleman mencatat beberapa ciri orang yang memiliki sifat tersebut:
    • Dia bertindak berdasarkan etika dan tidak pernah mempermalukan orang
    • Membangun kepercayaan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnian/kejujuran)
    • Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain
    • Berpegang kepada prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak disukai serta memiliki komitmen dan menepati janji
    • Bertangung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta terorganisir dan cermat dalam bekerja. (Goleman, 1998)

    Amanah berkaitan erat dengan tanggungjawab. Terhadap kepercayaan yang diberikan apakah dia khianat, atau lari atau melepaskan diri dari tanggungjawab.

  3. Tablig (komunikatif), mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Termasuk dia juga harus mampu menyampaikan kebenaran walaupun pahit.
  4. Fathonah (Cerdas). Pemimpin harus punya kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat. Dia punya kemampuan mendefinisikan, atau mengidentifikasi, menganalisa dan menyediakan solusi terhadap masalah. Tidak harus sampai detil, seorang jenderal tak harus paham sampai hal-hal kecil. Seorang direktur tidak harus paham soal pritil-pritil. Dia cerdas mendelegasikan wewenang pada pihak yang kompeten.

Saya rasa, dengan kriteria-kriteria yang saya sampaikan di atas Anda sudah bisa menentukan pilihan. Yang penting harus obyektif tidak subyektif pada suka atau tidak suka pada perasaan belaka.

Nah, mengenai pilihan capres saya siapa? Saya pikir Anda sudah paham ‘kan…? He..hehe..

 

 

Sampah dan Sapu

sapu-sampahBegitu banyak sampah berserakan di halaman rumahku. Hanya sapu yang kuatlah yang akan bisa membersihkannya. Sebab, kalau ia lembek dan lemah maka ia akan menjadi sampah itu sendiri….

Yang Maha Menjaga

Kalau saja setiap dosa kita mengeluarkan bau, maka bayangkan akan seperti apa bau tubuh kita dan apakah orang akan mau mendekati kita?
Kalau saja setiap dosa kita mengeluarkan belatung, maka akan seperti apa tubuh kita? Dan apakah orang akan mau mendekati kita?

Kita masih dihargai orang lain karena Allah masih menutupi keburukan-keburukan kita. Coba kalau aib kita dibukakan, apakah orang lain masih mau mendekat dan menghargai diri ini?

Wahai Yang Membolak-balik hati, tetapkan hati kami ini dalam agama-Mu.

Ya Allah janganlah Engkau condongkan hati kami ke arah kesesatan setelah. Engkau berikan kami hidayah.

Bersyukur Selalu

Para motivator mengajarkan, untuk mendapatkan bahagia itu sederhana: bersyukurlah terhadap apa-apa yang telah kita dapatkan atau miliki.

Syukur itu tak harus pada rumah nyaman yang punyai. Tak juga pada mobil dan kekayaan yang kita miliki. Syukur bisa mulai dari hal-hal kecil yang jarang kita renungi.

Tafakur sejenak untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki, maka akan menibulkan kebahagiaan dan menumbuhkan cinta kepada Illahi.

Coba kita renungkan, ketika kita dalam kesulitan lalu ada seseorang yang memberikan bantuan–baik karena kita minta ataupun tidak–maka hal ini akan menimbulkan hormat dan kagum kita pada orang itu. Setiap kesulitan kita dipenuhi oleh dia, maka ketika suatu saat orang itu mengundang kita untuk datang pada acaranya maka dipastikan kita akan datang dan merasa tidak akan enak hati untuk menolaknya.

Apatah lagi pada Tuhan yang banyak memberikan nikmat-karunia pada diri kita; baik yang kita minta ataupun tidak. Sudah inherent dalam diri kita.
Komposisi tulang dan organ tubuh kita begitu sempurna. Jika saja Allah hilangkan atau kurangi cairan atau pelumas antar tulang kita, maka akan dibayangkan betapa sakitnya. Berapa banyak biaya yang akan dikeluarkan?

Jika saja satu saraf diantara jutaan saraf di tubuh Allah putuskan, atau terganggu maka betapa sakitnya badan ini. Atau jika kadar oksigen yang kita hirup Allah stop atau kurangi sebentar saja maka betapa sengsaranya hidup ini.

Ini setiap hari kita nikmati kecukupan yang kita dapatkan dari Tuhan? Tanpa meminta sudah begitu saja didapatkan.

Maka, tanpa kita minta pun Allah telah lengkapi dan cukupi penghidupan kita, apalah kalau kita mau meminta. Jika pada manusia meminta kita akan menimbulkan ketidaksukaan, maka Allah sangat suka pada orang yang suka meminta kepada-Nya.

Ya Allah, tuntun kami untuk selalu dekat kepada-Mu.

biduk1Pagi akhir tahun, hujan tak jua mereda dari semalam. Gerimis masih saja setia membasahi wilayah Tangerang Selatan—barangkali merata di kawasan Jabodetabek. Pepohonan tunduk ke bumi, tanah basah dan di beberapa tempat air menggenangi. Saat yang melankolis untuk kilas-balik mengenang sepanjang perjalanan 2013.

Seperti musim dan perubahan cuaca, demikian perjalanan hidup berselang-seling kadang bisa diprediksi kapan musim hujan atau musim panas. Tapi terkadang hujan turun di tengah saatnya kemarau, dan panas menyengat malah di tengah musim hujan.

Kadang kita membuat rencana, tapi kenyataan yang dihadapi adalah Kuasa dari Yang Maha Kuasa. Bukan berarti diri tak perlu mempersiapkan diri, terkadang kesiapan untuk beradaptasi yang diperlukan dalam menghadapi hidup ini. Sedia payung sebelum hujan, tambal genteng yang bocor. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kalau ia sendiri yang tak mengubahnya.

Ada saat musim tanam, ada saat musim merawat dan ada pula musim memanen. Alam kehidupan mengajarkan kita untuk tegar dan adaptif. Kemarau setahun bisa hilang karena hujan sekejab, tapi hujan sehari tak akan hilang oleh panas sehari pula. Orang bisa lupa akan penderitaan dan terpukau oleh kesenangan.

Kesenangan dan pesona hidup begitu melenakan. Membuat kita lupa akan prioritas dan tujuan hidup ini. Dunia adalah sandiwara dan permainan. Sebaik-baik manusia yang tak lupa akan tujuan hidupnya, dan menyiapkan bekal yang sebaik-baiknya untuk hidup yang lebih kekal.

Mari kita ciptakan atau cari lingkungan yang mendukung untuk pencapaian cita-cita. 5 tahun kehidupan seseorang di masa datang, bisa dilihat dengan siapa dia bergaul pada hari ini.

Kematian adalah pelajaran dan guru yang terbaik. Betapa banyak sahabat dan orang-orang yang tengah nikmat hidup di dunia ini, lalu sekejab kita mendapatkan kabar akan kepergian mereka. Ada harapan, dan ada pula ancaman di dunia ini. Kematian dan kelahiran adalah dua hal yang bersandingan.

Ibarat mendayung biduk, atau berlayar di laut lepas. Perjalanan akan sampai jua di tanah tepi, melabuh di dermaga akhir. Kalau lah tak sampai kemudi ke dermaga, barangkali topan badai kan menghempas-benamkan kapal ke laut dalam. Semoga selamat diri ini membawa bekal sampai ke tanah abadi…..

Ada hal-hal yang patut disyukuri atas pencapaian dan ada pula beberapa hal yang patut menjadi catatan agar diri ini menjadi lebih baik di masa depan. Syukur dan sabar adalah temannya orang yang beriman.

Sungguh beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Barang siapa yang hari ini sama saja dengan kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka sungguh ia telah celaka.

Kalimat di atas adalah quote dahsyat yang bisa digunakan untuk mengevaluasi diri—baik kehidupan atau pun bisnis.

Tuhan telah menganugerahkan umur dan kesempatan, adakah kita telah mempergunakan dan memaksimalkannya?

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakitlah dahulu bersenang-senang di kemudian.

Teringat akan ucapan Syaidina Ali RA: Ya Allah, tundukkanlah dunia dalam genggamanku, tapi jangan sampai ke hatiku….

Namanya, Sarbini saja. Satu kata, seperti nama-nama orang besar atau yang pernah tercatat di sejarah. Saya yakin, beliau pun juga akan mencatatkan namanya sebagai salah satu orang besar. Coba perhatikan: Ibrahim, Muhammad, Sukarno, Syailendra, Suharto (yang ini kontroversi), hanya satu kata nama saja. Profil beliau, selain di http://sarbini.net, bisa juga dilihat di Facebook pada link ini atau link ini.

Anak Banten, yang lahir dari kampung Onyam, Tangerang ini melewatkan masa kecilnya di kampung. Menamatkan SMP di pondok pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI), Bangil-Jawa Timur. Lalu dia menghabiskan masa remajanya di pondok pesantren Daar el-Qalam, Tangerang yang dilanjutkan dengan menamatkan pendidikan S1 di Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) 1945 Jakarta.

Saya mengenalnya sejak perjuangan tahun ’98. Mantan Ketua Senat Mahasiswa dan Presiden Mahasiswa UNTAG ’45 Jakarta ini adalah aktivis dan pejuang tulen. Koordinator FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahaiswa se-Jakarta) tahun 1998 ini adalah motor, inspirator dan motivator perjuangan mahasiswa. Sosoknya yang low profile acap kali hilang dari liputan dan wawancara media massa.

Saya ingat, ketika Jakarta membara pada medio Mei ’98. Konstalasi politik tidak menentu pasca resesi ekonomi dan penembakan (pembunuhan?) mahasiswa serta bumi hangus Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat ingin menyampaikan aspirasi ke gedung DPR/MPR, tapi terhalang oleh pagar duri dan hadangan tentara bersenjata lengkap. Tak ada celah untuk bisa masuk kesana. Demo-demo mahasiswa hanya bisa terjadi di dalam kampus saja, tak bisa keluar karena dijaga aparat bersenjata.

Saya ingat, kami para pentolan pimpinan berbagai kampus Jakarta. Para Ketua-ketua Senat Mahasiswa atau perwakilannya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) berkumpul di IKIP Jakarta, lalu menyusup dalam rombongan rektor IKIP Jakarta masuk ke Gedung DPR/MPR. Saat itulah kepemimpinan dan ketokohan Sarbini terlihat. Bertindak sebagai juru bicara FKSMJ, beliau dan kami mendesak pimpinan DPR/MPR meminta agar Suharto mundur dari Presiden Republik Indonesia dan diadakan Sidang Istimewa segera!

Saya menyaksikan, betapa pucat dan gugup muka Harmoko dan pimpinan Dewan yang lain, atas desakan mahasiswa menyampaikan agar Suharto mundur dari Presiden. Hasilnya, reaksi hebat para elit pemerintah dan aparat terhadap seruan ini. Wiranto sebagai Pangliman ABRI waktu itu langsung bereaksi bahwa seruan itu adalah seruan pribadi dan siap melindungi keluarga Suharto.

Kami memutuskan menginap di gedung DPR/MPR, dalam kepungan tentara bersenjata dan sniper yang mengincar di malam hari. Saking mencekamnya disana, sampai Syarwan Hamid dari Fraksi ABRI di DPR/MPR tidak berani keluar dari sana.

Ah, betapa mencekam malam itu. Bayangan peristiwa 27 Juli masih saja terbayang di mata. Apakah kami akan berakhir seperti ini?

Nostalgia, ya kenangan itu begitu melekat pada diri saya dengan Sarbini sebagai salah satu tokoh sentral dalam aksi ini.

Singkat cerita, akhirnya Suharto pun tumbang digantikan Habibie yang penuh kontoversi. Mahasiswa terpecah dukung-mendukung dan menentang dengan meminta sidang istimewa MPR atau membentuk pemerintahan transisi atau pemerintahan rakyat. Isu berkembang menjadi fitnah, bahwa yang menentang Habibie adalah kelompok komunis. Kami pun dipetakan dalam grup komunis ini.

Tapi mana mungkin Sarbini, jebolan pesantren murid kesayangan kiyai bisa menjadi komunis? Dalam forum-forum diskusi dan seminar, lugas dan cerdas Sarbini menjawab fitnah dan tuduhan ini.

Kami menyebut Sarbini dengan istilah Buldozer. Ya, beliau adalah jagonya dalam retorika dan berorasi. Dalam setiap forum, beliau mampu melabrak para elit yang pasca runtuh Suharto mengklaim sebagai pihak yang paling berjasa dalam menjatuhkan Orde Baru, dan mengklaim sebagai “orang” dibalik gerakan mahasiswa. Sebagai pelaku langsung di lapangan, Sarbini tentu saja perlu meluruskan hal ini. Gerakan mahasiswa bersih dari kepentingan elit!

Kami menyebut dia si Buldozer! Argumentasinya jelas dan logikanya benar. Tentu saja para oportunis yang main di forum-forum mati kutu olehnya.

Pasca jatuhnya Suharto, gerakan mahasiswa masih melakukan reli-reli aksi. Sarbini masih saja berada di garis terdepan. Beliau mempelopori pertemuan-pertemuan ketua senat mahasiswa dan perwakilan mahasiswa secara nasional untuk menghasilkan sinergi perjuangan.

Ketika pemerintah tak lagi legitimate maka perlu dicari pemimpin alternatif, yang bisa menyatukan semua perbedaan dan menghindarkan Indonesia dari perpecahan dan kehancuran. Sarbini adalah salah satu orang yang menjadi otak dari pertemuan para tokoh bangsa dan mendorong mereka untuk bertemu. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Deklarasi Ciganjur. Dimana, dari pertemuan inilah naiknya popularitas Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Sri Sultan HB IX.

Sayang, tak banyak diharap dari pertemuan tokoh ini. Mereka masih takut untuk maju memimpin alih kepemimpinan nasional. Semenjak itulah kami menyatakan tidak lagi percaya kepada para elit, dan menyerukan POTONG SATU GENERASI!.

Sarbini adalah sahabat saya, yang lahir dari kancah perjuangan. Ketika mahasiswa terpecah dalam isu dukung-mendukung Habibie, menentang dan mendukung Sidang Istimewa, beliau tampil beda dengan argumentasi yang cerdas logis. Beliau belajar dari guru terbaik, dan tentu saja semua apa yang disampaikannya tak terbantahkan!

Pasca reformasi ’98, sebagian mahasiswa balik ke kampus dan sebagian lagi sibuk dengan perjuangan. Ada juga yang masuk ke gelanggang politik praktis. Berbeda dengan Sarbini, ketika berbagai tawaran datang masuk afiliasi politik, sampai tawaran beasiswa dan dukungan dana dari berbagai funding. Beliau masih tetap dalam jalur independen dan bersih dari kepentingan praktis.

Ketika beberapa teman bergabung dengan berbagai partai politik, atau melanjutkan kuliah di luar negeri, Sarbini memilih mematangkan dan menyiapkan diri. Beliau belajar dari guru terbaik, dari aktivis angkatan ’60an, ’70an sampai ’80an. Mahasiswa kesayangan dari Prof. Sri Soemantri, guru besar ilmu hukum tata negara ini kuat dalam landasan ilmiah. Murid kesayangan kiyai di pondok pesantren ini, kuat dalam dalam argumentasi agama dan ilmiah. Sehingga ketika pertentangan mahasiswa membelok ke isu politik, ekonomi sampai agama, maka Sarbini bisa selamat dan menang dalam hal ini.

Kematangan politik dan basis massa Sarbini teruji dalam perjuangan. Beliau adalah tokoh yang menjadi tangan kanan Sarwono Kusumaatmadja yang berhasil memenangkan dan mengantarkan Sarwono maju sebagai wakil DKI Jakarta pada DPR MPR RI periode 2004-2009. Sampai akhirnya dipercaya menjadi staf ahli parlemen di DPD bidang politik mendampingi Ir. Sarwono Kusumaatmadja.

Sekarang, setelah merasa saatnya tiba dan matang, beliau maju membawa aspirasi rakyat Jakarta sebagai calon legislatif DPR RI dari Partai Hanura. Dengan dukungan penuh dari KH. Drs, Ahmad Syahiduddin selaku pimpinan Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Sarbini bertekad akan membawa dan membela kepentingan rakyat.

Tak diragukan lagi, saya percaya dengan latar belakang perjuangan yang teruji maka Sarbini akan mampu membawa aspirasi rakyat ke DPR MPR RI.

Selamat berjuang sahabat, kami para sahabatmu akan mendukungmu!

Wassalam,
Helsusandra Syam

http://hensyam.com

Koordinator FKSJM (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta) tahun 2000.

Diposting dari tulisan isteri saya:

Diriwayatkan oleh Tabrani dari Ubadah bin Shamit RA, Rasulullah SAW berkata:
Inginkah kalian kuberitahu sesuatu yg dapat membuat Allah SWT memuliakan sosok pribadi dan meningkatkan derajat? “Mereka berkata, Mau Wahai Rasulullah”. Beliau bersabda :

“Bersikap lembut pada orang yg bodoh darimu, memaafkan orang yg menzalimimu, memberi orang yang menahanmu, dan menghubungkan silahturahim orang yg memutuskanmu.”

Hadist ini terbukti dengan cerita teman saya, teh Putri (nama disamarkan). Beberapa waktu yang lalu teh Putri pergi melayat saudara seorang ustadzah yg baru saja meninggal.
Yang meninggal ini adalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang pendidikannya juga biasa saja. Tapi saat beliau meninggal begitu banyak yg mensholatkan, sampai-sampai mesjid yg 3 lantai penuh dan sampai shalat diluar.
Bukan hanya itu, ketika melayat, teh Putri dan tamu-tamu yang lain mencium bau yg sangat wangi sekali pada diri almarhumah, bau yang belum pernah dicium sebelumnya. Wangi tersebut memenuhi semua ruangan, yang membuat orang-orang berbisik, gerangan apa yang dikerjakan almarhumah sehingga dari beliau tercium wangi sekali.

Ketika ditanya pada sang anak, mereka bilang ibunya hanya seperti Muslimah lainnya, yang biasa tahajud, shalat dhuha, puasa senin kamis. Ketika terus didesak orang-orang, apakah amalan lain si  ibu, anaknya baru ingat, ibunya sangat pemaaf sekali, tiada dendam di hatinya. Ketika ada selisih dengan keluarga atau orang lain pastilah dia yang minta maaf duluan, walaupun sebenarnya beliau nggak salah.  Walaupun orang tersebut masih marah dan memaki-maki beliau, ibu tetap tersenyum dan minta maaf. Beliau mendatangi orang tersebut sambil membawakannya  oleh-oleh buah.

Subhanallah..ternyata pemaafnya sang ibu telah menggetarkan pintu langit, membuat beliau Mulia disisi Allah SWT. Sehingga di dunia pun Allah telah memperlihatkan kepada kita bagaimana mulianya derajat ibu ini nantinya di akhirat.

Semoga kita bisa mencontoh beliau dan menjadi hamba yg dimuliakan Allah SWT, amiin….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 533 pengikut lainnya.