Feeds:
Pos
Komentar

Sporte Big Sale Program. Let’s swim with Sporte – sporte.id
Webstore: http://efashion.co.id

View on Path

BBMTadi pagi saya belanja ke pasar, isteri nitip belanja beberapa item untuk masak. Ketika hendak membayar belanja ke kedai belanja, saya kaget ternyata uang 50 ribu tidak cukup lagi untuk belanja beberapa bumbu seperti cabe, bawang, daun bawang, sayuran,  sedikit kentang , dan petai:). Cuma belanja itu saja, tidak termasuk lauk-pauknya karena sebelumnya isteri sudah belanja lauk-pauk di swalayan.

Jika beberapa waktu lalu uang 30ribuan sudah cukup banyak untuk belanja beberapa tambahan pelengkap masak, sekarang uang 50 ribu minimal untuk hal ini. Harga-harga naik tinggi, rakyat semakin sulit untuk membeli.

Saya membayangkan, bagaimana kalau masyarakat yang berpenghasilan lebih kurang 50 ribu perhari. Bahkan masih banyak yang penghasilan kurang dari itu. Apa yang bisa mereka beli? Belum lagi beras, minyak, gas, serta kebutuhan keluarga seperti uang jajan anak, uang sekolah, kontrakan dan sebagainya.

Pemerintah telah menaikkan harga BBM. Maka harga-harga lainnya membubung ikut tinggi.

Bagi kelas menengah, atau karyawan yang bergaji tinggi sebagian mereka no problem dengan kenaikan harga BBM ini. Bagi mereka, kalau pun toh BBM naik tinggal minta sama bos kenaikan gaji. Beres masalah. Tapi bagi rakyat berserak yang gajinya di bawah 100.000 atau lebih kurang 50.000 perhari, ini adalah cekikan yang pelan-pelan menghabiskan napas mereka. Belum lagi masih banyak yang pendapatannya di bawah 50ribuan perhari.

Pemerintah berdalih bahwa kenaikan BBM ini untuk rakyat kecil juga. Subsidi selama ini ke BBM dialihkan ke bantuan tunai ke masyarakat. Tapi, bukankah dengan begitu telah mengajarkan masyarakat untuk jadi mengemis dan merendahkan diri mereka dengan ikut mengantri beramai-ramai dan berjam-jam demi hanya mendapatkan uang tunai yang tidak seberapa?

Yang dibutuhkan rakyat bukan bagi-bagi uang, tapi daya beli dan stabilitas ekonomi. Apalah arti uang yang hanya beberapa ratus ribu saja, jika selepas dari loket mereka ke pasar mendapati harga-harga barang malah semakin tinggi? Kenaikan BBM adalah pemicu, menjadi lokomotif bagi kenaikan harga-harga lainnya. Otomatis harga-harga lain juga ikut naik.

Kembali ke masalah subsidi BBM. Saya tidak perlu beragumentasi dengan cara para intelektual yang memainkan data demi membenarkan atau menentang kenaikan harga BBM.

Bukankah rakyat berhak atas harga BBM yang murah? Jika di beberapa negara maju dan beradab harga BBM murah lalu kenapa di negeri ini malah mahal? Bukankan fungsi  adanya negara demi menjamin kesejahteraaan buat rakyatnya? Jika negara atau pemerintah tidak bisa lagi menyejahterakan rakyatnya, maka jangan disalahkan jika beberapa warganya pindah warga negara dan kuatirnya nanti beberapa wilayah terluar lebih memilih bergabung dengan negara tetangga.

Jika alasannya selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran dan hanya dinikmati oleh segelintir orang, lah itu bukan alasan untuk memahalkan harga BBM. Bukankah itu masalah pemerintah yang tidak bisa mengatur distribusi, hanya orang-orang mampu yang menikmati, dan mengapa sampai bocor diperjual-belikan dan disalahgunakan oleh beberapa gelintir orang/mafia dengan memperdagangkan BBM subsidi? Bukankan ini seperti peribahasa orang-orang dulu, buruk muka, lalu cermin dibelah? Pemerintah tidak bisa urus dirinya lalu kenapa rakyat berserak yang disalahkan dan menanggung  derita?

Toh,  kalau pun BBM subsidi selama ini dinikmati oleh orang-orang mampu berkendaraan bagus. Boleh-boleh saja ‘kan? Jangan salahkan mereka jika membeli BBM murah itu ‘kan hak mereka sebagai rakyat? Bagaimana tidak mereka akan beli BBM murah, sebab dengan kondisi jalan raya yang macet parah akan memakan boros BBM? Orang-orang tentu akan berhitung dalam pembelian dan pemakaian BBM. Bagaimana rakyat tidak akan berlomba-lomba naik kendaraan pribadi, jika transportasi umum tidak memadai dan malah menyengsarakan? Sudah tentu orang akan nyaman naik kendaraan pribadi dibanding naik kendaraan umum yang mana penumpang di dalamnya ditumpuk seperti ikan di kaleng sardine? Belum lagi kejahatan dan gangguan lainnya?

Seandainya negeri kita seperti negara tetangga atau pun negeri-negeri beradab lainnya. Dimana transportasi umum begitu menyenangkan dan murah. Tentu saja rakyat akan dengan senang hati menaruh mobil-mobil pribadi di rumah dan naik kendaraan umum.

Seharusnya transportasi umum dibenahi dulu, jalan-jalan diperbaiki dan layak dipakai, daya beli kuat dulu, baru bicara kenaikan harga BBM.

Boleh saja pemerintah beralasan bahwa kenaikan BBM ini adalah warisan pemerintah sebelumnya dan karena ada kesepakatan dengan pihak internasional untuk menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi. Lalu pertanyaan terakhirnya, pemerintah ini sebenarnya berpihak kepada siapa sih? Rakyat atau kapitalisme internasional?

Lalu dimana jargon Trisakti yang selalu didengung-dengungkan: berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya.

Pada akhirnya, untuk memahami derita rakyat, memang kita harus terjun langsung ke bawah.  Main dan ikut belanja ke pasar-pasar, pergi ke sekolah-sekolah dan tempat lainnya rakyat berkumpul. Bukan semata sekedar lewat, senyum-senyum dan pencitraan belaka.

Dengan blusukan singkat ke pasar pagi ini, setidaknya saya jadi mengerti dan berempati, betapa tangguhnya para ibu rumahtangga kita dalam menyiasati belanja sehari-hari di tengah keterbatasan uang belanja dari suami….

Bagi para suami, mari semangat terus bekerja! ;)

 

Walau tak akan ada yang mengibarkanmu, aku kan tetap menjunjungmu: Merdekalah negeriku Indonesia!

View on Path

Nabi Muhammad Saw pernah berkata, ada 3 jalan keselamatan:
1. Jagalah lisan
Bicaralah seperlunya dan sesuaikan dengan lingkungan. Kata-kata kadang lebih tajam dari hantaman anak panah.
2. Betah di rumah
Buatlah suasana rumah yang menyenangkan dan hindarkan yang menggelisahkan (tdk nyaman); jangankan manusia, malaikat pun tak mau masuk. Sebaliknya setan yang betah disana.
3. Tangisi dosa-dosamu
Kata Ali bin Abi Thalib: jika kamu tak mampu menangisi dosa-dosamu maka tangisilah hatimu yang tak mampu menangisi dosamu itu.

View on Path

choiceBeberapa waktu akhir ini saya melihat betapa media social, media tv, grup dan komunitas begitu serunya dukung-menentang, jelek-membela para capres. Cuma dua calon presiden sekarang ini, tapi betapa telah terbelah besar negeri ini. Isi wall FB, Twitter, grup-grup seru sekali dengan posting-posting capres ini.

Inilah produk demokrasi salah kaprah yang kita terapkan di negeri. Demokrasi betapa menjunjung individualisme lalu melupakan semangat kolektivisme—kegotong-royongan kita. Hilang sudah musyawarah untuk mufakat warisan nenek moyang kita.

Lupa begitu saja pada cita-cita the founding father kita. Lupa kita pada semangat Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, H. Agus Salim dan para pendiri bangsa lainnya. Kalau pun ingat, cuma sekedar mengutip-ngutip saja pikiran Bung Karno dan founding father lainnya, tentang Trisakti, Pancasila dan sebagainya tapi lupa pada esensi dan ruh dari pemikiran mereka.

Karena kadung berdemokrasi liberal seperti sekarang ini, memang sulit menemukan pemimpin sejati saat ini. Yang terjadi betapa dalam setiap pemilihan umum baik legislatif, kepala daerah atau presiden betapa bergolaknya negeri ini.

Nah, dalam konteks memilih presiden sekarang ini kita memang dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Di satu sisi dianggap ada calon yang begitu merakyat, di satu sisi lagi ada calon yang dianggap tegas yang diperlukan saat ini.

Dalam menentukan pilihan, sederhananya saya menggunakan nasehat para ulama yang menetapkan kriteria:

  1. Jika ada yang sama-sama baik maka pilihlah yang terbaik
  2. Jika ada yang buruk dan baik maka pilihlah yang baik
  3. Jika sama-sama buruk maka pilihlah yang sedikit keburukannnya (mudhorat).

Idealnya kita menginginkan kriteria yang pertama. Tapi jika tidak ada pilihan terbaik saat ini kita bisa menggunakan kriteria-2 dan kriteria-3.

Kemudian dalam memilih Pemimpin, kita bisa mengambil model yang ada pada Rasulullah Saw:

  1. Jujur, lawan dari kata dusta. Ia memiliki kecocokan sesuatu dengan fakta, tidak asal ngomong. Tidak suka pula memelintir fakta.
  2. Amanah, dapat dipercaya tidak ingkar. Mengenai nilai amanah, Daniel Goleman mencatat beberapa ciri orang yang memiliki sifat tersebut:
    • Dia bertindak berdasarkan etika dan tidak pernah mempermalukan orang
    • Membangun kepercayaan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnian/kejujuran)
    • Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain
    • Berpegang kepada prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak disukai serta memiliki komitmen dan menepati janji
    • Bertangung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta terorganisir dan cermat dalam bekerja. (Goleman, 1998)

    Amanah berkaitan erat dengan tanggungjawab. Terhadap kepercayaan yang diberikan apakah dia khianat, atau lari atau melepaskan diri dari tanggungjawab.

  3. Tablig (komunikatif), mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Termasuk dia juga harus mampu menyampaikan kebenaran walaupun pahit.
  4. Fathonah (Cerdas). Pemimpin harus punya kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat. Dia punya kemampuan mendefinisikan, atau mengidentifikasi, menganalisa dan menyediakan solusi terhadap masalah. Tidak harus sampai detil, seorang jenderal tak harus paham sampai hal-hal kecil. Seorang direktur tidak harus paham soal pritil-pritil. Dia cerdas mendelegasikan wewenang pada pihak yang kompeten.

Saya rasa, dengan kriteria-kriteria yang saya sampaikan di atas Anda sudah bisa menentukan pilihan. Yang penting harus obyektif tidak subyektif pada suka atau tidak suka pada perasaan belaka.

Nah, mengenai pilihan capres saya siapa? Saya pikir Anda sudah paham ‘kan…? He..hehe..

 

 

Sampah dan Sapu

sapu-sampahBegitu banyak sampah berserakan di halaman rumahku. Hanya sapu yang kuatlah yang akan bisa membersihkannya. Sebab, kalau ia lembek dan lemah maka ia akan menjadi sampah itu sendiri….

Yang Maha Menjaga

Kalau saja setiap dosa kita mengeluarkan bau, maka bayangkan akan seperti apa bau tubuh kita dan apakah orang akan mau mendekati kita?
Kalau saja setiap dosa kita mengeluarkan belatung, maka akan seperti apa tubuh kita? Dan apakah orang akan mau mendekati kita?

Kita masih dihargai orang lain karena Allah masih menutupi keburukan-keburukan kita. Coba kalau aib kita dibukakan, apakah orang lain masih mau mendekat dan menghargai diri ini?

Wahai Yang Membolak-balik hati, tetapkan hati kami ini dalam agama-Mu.

Ya Allah janganlah Engkau condongkan hati kami ke arah kesesatan setelah. Engkau berikan kami hidayah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.647 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: