Menuju Milad TDA-5: Menunggu Waktu Bertemu Orang-orang Hebat

Seminggu menjelang Pesta Wirausaha (Milad TDA ke-5).

Tak sabar rasanya menunggu momen tersebut, berkumpul dan bersilaturahim dengan teman-teman komunitas bisnis Tangan Di Atas (TDA) dari seluruh tanah air. Bertemu dengan pengusaha-pengusaha tangguh, dan selama dua hari diisi dengan materi penuh gizi dari pembicara-pembicara hebat dan tokoh-tokoh terkemukan yang sangat menginspirasi dan memotivasi kita.

Berdebar dada saya. Ya, kenapa berdebar? Empat tahun, dua kali milad TDA dan beberapa kali momen halal bi halal ataupun forum-forum offline TDA saya tidak datang. Selama ini hanya memantau sekilas aktivitas teman-teman melalui milis online. Perjuangan selama empat tahun ini membuat saya tak banyak kesempatan atau ada halangan untuk berinteraksi baik online maupun offline.

Terakhir saya datang di Milad TDA ke-2 tahun 2008 silam, ketika acara milad ini masih sederhana. Sound system dan konten acara yang apa adanya, tapi semangat dan isi acara memberikan nilai plus untuk acara ini. Semua bergembira, para motivatornya hebat-hebat walaupun dari kalangan sendiri. Berbagai penghargaan disampaikan kepada teman-teman yang berhasil mengungkit, mengangkat dan mencapai double, triple dan naik berkali lipat dalam pencapaian bisnisnya.

Dan, biasanya yang paling menyenangkan adalah ketika Pak Haji Alay menyampaikan sensational offer, penawaran-penawaran menggiurkan peluang bisnis ataupun tawaran dagang, maupun penawaran toko-toko gratis sewa yang boleh diisi oleh teman-teman TDA. Ataupun tantangan-tantangan bisnis lainnya.

Apalagi ada acara wisuda untuk teman-teman yang telah berani memajukan diri keluar kerja dan full bisnis mengelola usaha. Panggung penuh, dan Pak Haji Alay mewisuda, menyampaikan  tausiyah dan kemuliaan Tangan Di Atas. Sayang, pada waktu itu saya belum berhak naik panggung bersama teman-teman ini, baru bisa naik pada sesi panggung selanjutnya. Ketika sesi pembacaan tekad untuk tahun atau milad selanjutnya telah full TDA. Panitia memfoto orang-orang yang naik panggung ini dan bertekad untuk full TDA. Direkam dan akan jadi saksi!

Melihat teman-teman hebat yang dipanggil ke panggung diberi penghargaan. Timbul rasa iri positif di hati saya. Saya harus bisa seperti mereka. Dari segi umur, tidak jauh beda dan malah ada yang lebi muda dari saya, tapi mereka telah mencapai kesuksesan dalam hidup dan bisnis mereka. Cuma barangkali starting point-nya saja yang berbeda. Saya terlambat mendapatkan “pencerahan” memilih jalan nabi, yaitu menjadi Pedagang alias berwirausaha. Terlalu lama disibukkan dengan dunia lain yang menguras waktu dan pikiran.

Saya bertekad, tahun depan di milad selanjutnya akan akan tampil di panggung itu nanti.

Berbulan-bulan, bertahun sudah berlalu. Sudah dua kali milad dilewati. Jalan penuh berliku, badai silih berganti. Ketika milad demi milad tiba, saya terpuruk tak bisa datang. Dengan biaya yang “lumayan” untuk ukuran saya waktu itu, terlalu mewah saya harus mengeluarkan uang untuk membayar HTM ikut milad TDA. Saya memilih prioritas lainnya.

Saya hanya membaca keramaian dan kegembiraan pesta. Lalu memilih fokus menyelesaikan beberapa persoalan yang tersisa dengan bisnis saya. Ketika memutuskan resign beberapa tahun lalu, saya tidak membawa uang keluar dari kantor. Tak ada pesangon, tak tabungan dan hanya menyisakan sedikit uang gaji terakhir yang tak utuh lagi karena harus membayar kontrakan dan beberapa pembayaran lainnya. Sementara isteri yang menunggu di rumah, juga tidak bekerja. Tapi senyum dan semangatnya menyambut saya agar kuat memilih jalan berwirausaha. (Kisah saya resign saya baca disini: http://wp.me/p1dJY-41

Sekarang, alhamdulillah walau bisnis belum seindah yang diinginkan. Tapi dengan kebebasan sebagai seorang TDA kami bisa mendaftarkan diri sebagai salah seorang peserta milad TDA yang ke-5. Setidaknya saya bisa menegakkan kepala, karena di kartu nama saya sudah tercetak:
Helsusandra Syam: Owner. Dengan bisnis yang punya brand sendiri: sporte (eFashion) – Fashionable Islamic Swimwear.

Inilah jalanku, jalan TDA: TDA Way!
Dan dengan jalan ini saya ingin berjumpa dengan teman-teman seperjuangan di seluruh tanah air. Orang-orang hebat yang di tangan merekalah Indonesia masa depan ditentukan. Saatnya kekuatan ekonomi berbicara, tidak lagi dibuncahkan oleh politisi yang hanya asal bicara dan mengeruk uang rakyat!

Empat tahun sudah saya tak menjumpai milad TDA. Makanya, kalaupun berdebar dada saya wajarlah. Tak sabar saya melihat kawan-kawan lama dan baru, apa kabar mereka? Dan, “keajaiban” apakah yang akan terjadi dengan saya nanti…?

Refleksi 2011 dan Resolusi 2012

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2011. Sebagian orang memanfaatkan  liburan akhir tahun ini dengan kegiatan rekreasi dan hiburan, setelah setahun penuh kerja dan sebagainya. Tempat hiburan dan wisata penuh sesak, dan keramaian terpusat di tempat-tempat tertentu.

Terompet akhir tahun berkumandang dimana-mana, makanan-minuman terhidang. Hampir semua orang larut dalam suka-cita sesaat, hura-hura dan sebagainya.

Dan sebagian kecil lainnya, khusuk dalam suasana kontemplasi, merefleksi hari-hari panjang yang telah berlalu dan menyiapkan resolusi apa yang akan dicapai di tahun depan.

Hari-hari pasti berlalu, tak ada yang abadi. Masa depan adalah keniscayaan. Pertanyaannya, apakah pada hari-hari yang telah berlalu itu kita telah meninggalkan catatan gemilang?

Sahabat, pada akhir tahun ini marilah kita sempatkan untuk merenungkan apa-apa saja prestasi dan kesalahan yang telah kita lakukan. Saat yang tepat, mari ambil selembar kertas dan pena. Telusuri dari hari pertama sampai hari terakhir 2011 ini. Jika ini adalah hari terakhir kita, paling tidak kita telah meng-hisab perjalanan kita.

Bagi seorang muslim, sebenarnya sudah terbiasa dengan menghisab diri. Menghitung diri ini tidaklah di akhir tahun saja. Per hari setiap individu diharuskan memikirkan apa saja yang telah dilakukan diri, adakah kebaikan dan dosa apa saja yang telah diperbuat?

Menjelang tidur, setiap kita diajarkan ber-istighfar dan mensyukuri perjalanan hari itu. Meminta ampun atas salah dan dosa, serta berterimakasih kepada Tuhan atas nikmat-Nya pada hari itu. Dan berniat, esok hari akan melakukan yang terbaik lagi.

“Demi sang waktu, sungguh manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” Alquran, surat Al-‘Ashr (Masa).

Waktu memegang peranan penting, sampai dalam Alquran Allah Swt menyebut dan menekankan beberapa kali.

“… Merugilah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin. Dan celakalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin”, demikian Rasulullah SAW menyampaikan melalui Bukhari Muslim.

Waktu yang telah berlalu tak bisa lagi diputar ulang, pintu yang tertutup tak lagi bisa bisa dibuka. Pintu baru telah terbuka, dan semua kita niscaya akan masuk kesana.

Malam tahun baru bukanlah saatnya bersuka-cita. Banyak cara mulia untuk mengakhiri tahun dan menyambut tahun baru. Berbagai masjid dan tempat mulia lainnya mengadakan muhasabah akhir tahun. Mari kita catat apa-apa saja yang telah kita lakukan dan tertunda dan menyiapkan rencana-rencana. Hendaklah setiap diri menghisab apa-apa yang telah dilakukannya, demikian pesan Allah Swt.

Barangkali dalam bisnis, ada perencanaan yang belum terlaksa. Atau ada yang diluar perencanaan malah tercapai.

Alhamdulillah, di tahun ini kami sudah punya konveksi sendiri untuk produk baju renang muslim. Sebelumnya, untuk produk pakaian renang dan olahraga muslim kami menjalankan sistem makloon alias mengupah ke orang lain untuk rancangan produk yang kami siapkan. Kami juga punya brand baru: sporte (http://sporte.co.id) setelah sebelumnya brand eFashion (http://efashion.co.id). Brand sporte sudah masuk terdaftar di Dijen HAKI Departemen Kehakiman dan untuk dua alamat website ini sudah mendapatkan domain co.id jika sebelumnya hanya numpang di blog gratisan wordpress. InsyaAllah untuk ke depan eFashion hanya dijadikan nama perusahaan saja.

Ibarat membangun, barangkali baru pondasi yang kami bangun. Sudah tentu banyak rintangan dan cobaan menghadang. Hidup tak seindah yang dibayangkan, tapi bagaimana untuk terus mengejar keindahan itu sendiri atau menciptakan keindahan lainnya. InsyaAllah di tahun 2012 ini eFashion bisa menjadi perusahaan yang mandiri sebagai perusahaan penyedia pakaian renang muslim terbaik dan mendunia. Amien.

Tentu para sahabat sekalian punya prestasi lain yang lebih baik. Mari kita catat dan syukuri atas nikmat ini. Dan mari jadikan kesalahan dan kekurangan ini sebagai bahan untuk perbaikan berkelanjutan.

Esok matahari 2012 insyaAllah akan bersinar. Mari siapkan resolusi. Tak perlu takutkan kiamat akan terjadi pada tahun ini. Sebab kalaupun tak ada kiamat besar, “kiamat kecil” pun bisa terjadi pada setiap orang. Tinggal bagaimana kita menyiapkan diri dan melakukan yang terbaik!

InsyaAllah kami akan mengikuti mengisi akhir tahun ini dengan muhasabah di Masjid BI, Jakarta dengan 2 orang pembicara hebat: Ustad Salim A. Fillah dan Ustad Muhsinin Fauzi.

Teringat Ibu Kemanakah Airmataku?

Hari ini Hari Ibu. Dimana momen penghargaan dan balasan kasih ditujukan kepada ibu.

Kalau teringat ibu, saya selalu teringat pada puisi pak Handrawan Nadesul (HN). Puisi ini begitu menyentuh saya. Semenjak menemukannya di halaman depan sebuah koran sekitar tahun 2001 silam, puisi ini begitu menawan saya, dan merasa: gua banget!. Puisi ini saya kliping, dan kemudian saya sematkan di halaman khusus (http://wp.me/P1dJY-7) di blog saya.

Kalau Teringat Ibu

Saat burung melupakan dahan
aku teringat ibu
setelah pulang dari terbang jauh
luka rindu pada petang
yang terpisah
mungkin bukan milikku

Sejak kecil bertanyaku kepada bintang
tak pernah aku tahu
bagaimana rasanya rindu
Teman kecilku kupu-kupu
kembaraku angin ladang
bahagiaku capung-capung telaga
sejak dulu kerinduanku selalu gugup
ke mana hinggap sayap-sayapku

Kecilku layang-layang
tak seorang memegang benang
Hanya karena tangan-tangan langit
tak hilang angin dan awanku

Terpejam aku setiap ingat ibu
kalau nanti sampai titik airmataku
ingin kukirim itu sebagai kado
setangkai kenangan kepada ibu
tak tahu apa ibu sedang menunggu.

(sebuah puisi dari Handrawan Nadesul, 2001)

Sepemahaman saya, puisi ini bercerita tentang kerinduan dan kegamangan seorang anak kepada sosok seorang ibu. Seperti seekor burung yang telah terbang jauh, rindu pulang tapi gamang hendak hinggap kemana? Sejak kecil bertanya pada bintang, tak pernah tahu bagaimana rasanya rindu seperti kebanyakan orang yang punya ibu. Seperti burung yang ingin hinggap, dia bertanya kemana hinggap sayap-sayapku?

Dari kecil hidup seperti layang-layang yang putus benang, tak ada yang memegang. Tapi untunglah ada “tangan-tangan langit” yang menjaganya hingga tak tersesat hilang arah dia.

Puisi HN begitu menusuk kalbu saya. Berdebar dada saya setiap membaca ulang puisi ini. Masa kecilku seperti layang-layang putus, terbang terbawa angin tak ada yang memegang benang. Semenjak kecil telah ditinggal sang ibu tercinta, hilang kenangan akan masa-masa terindah dan manis bersama bunda. Tercerabut masa bermanja-manja.

Sering setiap kala renungan malam di acara kampus atau muhasabah, sulit terbit airmata ini ketika sampai sesi renungan tentang ibu. Ketika teman  yang lain terguguk terisak-isak ketika diajak mengingat segala tentang orangtua, saya begitu tersiksa karena merasa sayalah satu-satunya orang yang kebingungan tak tahu harus berbuat apa karena susah mengekspresikan arti ibu dan orangtua.

Mama pergi ketika saya masih kecil, mungkin saya masih berumur sekitar 5 tahun. Beliau meninggalkan kami berdua, saya dan adik perempuan yang masih kecil setelah sakit bertahun-tahun. Saya tak tahu, apakah adik saya masih sempat beliau susui atau tidak.

Satu-satunya kenangan terindah yang masih membekas pada saya adalah ketika pada suatu pagi, saya membimbing tangan mama, memapah memetik buah rimbang (kalau di Jakarta disebut lenca, buahnya kecil dijadikan sayur). Buah rimbang ini bisa jadi obat mata. Sudah sekian tahun badan mama seperti lumpuh dan mata rabun.

Kemudian kenangan kedua yang samar, adalah ketika mama meninggal dan dibawa ke kuburan. Banyak orang mengantar ke kuburan, saya lupa apakah saya menangis atau tidak waktu itu.

Setelah kedua kenangan samar ini, tak ada lagi kenangan tersisa bagi saya terhadap mama karena memori masa kecil saya belum kuat menyimpan yang lainnya.

Tentu beda kenangan adik saya. Tak ada kenangan sedikit pun kepada mama. Sedari kecil kami berdua hidup tanpa kedua orangtua. Semenjak mama jatuh sakit, kemudian meninggal sampai kami mulai besar kami tinggal bersama tante dan nenek.

Ketika anak-anak yang lain terjatuh dan ingin mengadu kepada orangtuanya, kami bangun sendiri dan berjalan lagi. Ketika yang lain butuh bermanja dan merasakan dekapan dada seorang bunda, kami entah bermanja kepada siapa. Malam-malam kami gelap dan tidur kami tak pernah merasakan dekapan orangtua. Kepada siapatah kami harus bermanja, dan kepada siapatah pula kami mesti mengadu, ketika kaki kami terluka dan ada yang hendak ditanya?

Ketika para sahabat larut dalam keharuan dan kecintaan kepada orangtua—khususnya ibu. Saya bingung mesti mengalamatkan ke siapa kerinduan saya ini. Ketika yang lain terisak akan salah dan ingin sujud mencium kaki sang bunda, saya hilang arah hendak ke siapa saya mesti bersujud dan melepaskan sifat kanak-kanak saya. “Luka rindu pada petang yang terpisah, mungkin bukan milikku.”

Cerita ini saya maksud bukanlah sentimentil yang hendak dikedepankan. Tapi hanya sebagai pembanding bagi para sahabat yang masih beruntung punya orangtua. Mumpung anda masih punya mereka, bahagiakan dan balaslah kebaikan mereka selama ini. Mereka yang telah terjaga di malam-malam sunyi oleh tangisan anda semasa bayi yang butuh susu.

Balaslah mereka yang sabar oleh rengekan dan kenakalan anda. Mereka yang telah memeras keringat dan berdarah-darah mempertaruhkan kehormatan dan nyawa demi sang ananda. Mereka yang telah menempatkan kepala di kaki, dan menempatkan kaki di kepala. Mereka yang tak lagi peduli diri dan kesehatan mereka, hanyalah demi kebahagiaan dan masa depan anak-anak tercinta.

Selagi masih ada tempat berbakti, persembahkanlah bakti anda kepada mereka. Selagi masih ada tempat dituju, tujulah mereka. Selagi masih ada tangan-tangan yang berhak mendapatkan ciuman anda, ciumlah tangan mereka minta maaf dan minta doa ridho mereka. Selagi masih ada tujuan untuk mencurahkan cinta anak pada orangtua, peluklah mereka dan angkat tinggi mereka ke tempat yang layak.

Sebab, ketika tiada lagi tempat yang akan dituju, dan kesempatan sudah terlambat. Maka di akhirat, entahlah apa kita akan bisa bersua dengan mereka. Sebab bisa jadi, kita hanyalah menjadi anak yang akan menceburkan orangtua sendiri ke neraka!

Marilah menjadi anak-anak yang menyiapkan surga untuk orangtua.

Selamat hari Ibu. Kami menyintaimu!

(Jika terbit airmataku, hendak kepada siapatah akan dituju?)