Perjalanan ke Bandung

Akhir minggu lalu, tepatnya 02 – 04 Agustus kami—saya dan isteri—berada di Bandung. Selain ingin menghadiri acara diskusi “All About Textile” yang diadakan oleh teman-teman TDA Bandung, kami juga ingin melakukan perjalanan bisnis dan silaturahmi ke Bandung.

Berangkat setengah sepuluh pagi, saya dan isteri naik bus Jakarta – Bandung dari Cawang, Jakarta Timur. Sampai di Bandung jam setengah satu siang, langsung menuju ke lokasi acara di restoran Republik Kuliner milik Kang Agah. Demi acara ini, Kang Agah rela menutup restoran untuk umum dan hanya diperuntukkan bagi teman-teman TDA yang mengikuti acara ini.

Restoran sudah penuh oleh peserta, selain dari TDA Bandung ada juga saya melihat Pak Edi Supriadi dari Jakarta, selain dari teman-teman daerah lain. Diskusi dibawakan oleh Pak Eko yang fasih menjelaskan seluk-beluk dunia tekstil. Semakin bertambah pengetahuan saya tentang tekstil, yang selama ini banyak orang menyamakan tekstil dengan garmen. Seringkali kita bertanya pada seseorang, “Usaha apa”. Terkadang ada yang menjawab, “Usaha saya di bidang tekstil.” Ternyata ada perbedaan antara tekstil dengan garmen. Garmen ternyata adalah bidang dalam pengolahan hasil tekstil.

Suasana diskusi di Republik Kuliner. Masakan disini juga enak-enak.

Suasana diskusi di Republik Kuliner: Ngumpul Enak Makan Enak

Pak Eko Veri

Pak Adib dan Pak Eko

Pak Adib dan Pak Eko

Materi All About Textile

Materi All About Textile

Selain Pak Eko, ada pak Adib yang menambahkan. Beliau bicara sekilas tentang dunia tekstil di Cina dan pengalaman beliau selama disana. Ada kejutan dari Pak Wisnu, pelaku dunia garmen yang membuka rahasia berapa biaya jahit kaos, murah ternyata. Sudah pasti, selesai acara saya manfaatkan untuk bincang-bincang dengan orang yang kompeten dengan dunia tekstil dan garmen ini. Misi saya ke Bandung adalah ingin mencari sumber-sumber material untuk produksi baju renang muslimah saya.

Sore hari, kami menuju Geger Kalong, Bandung Utara. Rencana ingin menginap di cottage Daarut Tauhid tapi tidak jadi. Tahun lalu, kami dan Pak Roni dan isteri pernah menginap di penginapan DT ini dalam perjalanan silaturahmi, bisnis dan jalan-jalan di Bandung.

Sebelum mencari penginapan, kami singgah menikmati mie ayam dan bakso di pinggir jalan menuju wilayah DT. Belum berapa lama menikmati, hujan deras turun membasahi Bandung. Setelah sebelumnya hujan pertama membilas Bandung saat acara diskusi di Republik Kuliner, lalu reda. Sekarang hujan kedua turun kembali dengan lebatnya. Sudah lama hujan tak turun di Bandung, berbarengan dengan kedatangan kami, hujan membasuh turun ke bumi.

Malam mulai menjemput, kami harus menuntaskan menjamak shalat Magrib dan Isya. Tapi hujan tak kunjung benar-benar reda, terpaksa diterobos juga. Gerimis membasahi badan, dingin Bandung utara mulai menggigit daging. Setelah beberapa kali mencari penginapan yang pas, akhirnya dapat juga penginapan yang lumayan, dekat pula dengan Masjid Daarut Tauhid.

Malam pertama di Bandung kami lewati dengan dingin yang menusuk tulang, bagi kami orang Jakarta yang terbiasa dengan panas, hawa Bandung utara di malam hari itu begitu dingin, setelah hujan petang hari yang menambah hawa semakin dingin pula.

Hari Kedua

Pukul setengah empat pagi kami sudah bangun. Shalat Tahajud di penginapan, lalu meneruskan Witir di Masjid DT. Di sana sudah penuh oleh jamaah yang shalat tahajud, berzikir, tafakur dan witir. Ada Aa Gym saya lihat di antara jamaah. Menyenangkan bisa beribadah malam hari dan Shubuh berjamaah di masjid yang penuh jamaah. Selain jalan-jalan, beribadah pun terpenuhi di Bandung ini.

Aa Gym mengimani shalat Shubuh, dilanjutkan dengan ceramah agama. Aa menyapa para jamaah dengan gaya khasnya, ternyata ada di antara jamaah yang datang dari luar Jawa.

Masjid Daarut Tauhid yang menyatu dengan lingkungan

Masjid Daarut Tauhid yang menyatu dengan lingkungan

Dari informasi yang didapat, hari Minggu ini kami memutuskan pergi ke Cigondewah untuk mencari material baju renang. Dari Geger Kalong naik bus kota Damri. Ada suasana berbeda yang saya temukan saat naik bus kota ini, dan membandingkannya dengan naik bus kota di Jakarta.

Bus berjalan biasa saja, tanpa kebut-kebutan seperti di Jakarta. Penumpang naik dan turun beberapa kali, supir menepikan mobilnya menunggu yang naik dan turun dengan sabarnya.

Salah seorang penumpang ingin turun, “Kirik…!”, maksudnya “Kiri” dengan tambahan “k” untuk minta berhenti. Yang aneh, si penumpang wanita yang minta turun malah masih duduk, berteriak kiri dan menunggu bus baru benar-benar berhenti lalu berdiri untuk turun. Kalau di Jakarta, sudah didamprat sang supir dan kondektur kita.

Lalu, setelah bus melaju tak lama kemudian di belakang terdengar suara pula ingin minta berhenti. Seorang ibu ingin turun.

“Ayo… Mari buk…. Ayo, silahkan turun…. Ditunggu….”, suara kondektur terdengar ramah mempersilahkan sang penumpang untuk turun. Luar biasa! Mana ada yang seperti ini di Jakarta, kondektur dengan ramah mempersilahkan penumpang untuk turun. Paling, supir memberhentikan mobil di tengah jalan, lalu bentakan kondektur memaksa penumpang yang minta turun. Ketika kaki belum sempurna menjejak ke bumi, sang supir sudah menancapkan gas melarikan kendaraan. Tinggallah sang penumpang yang panik, kebingungan di tengah jalan di kepung sepeda motor yang melaju dengan gila.

Setelah 2 kali ganti angkutan umum, sampai juga di Cigondewah.

Hari Minggu ternyata toko-toko di Cigondewah banyak yang tutup. Sia-sia saja perjalanan kali ini, selain menambah pengalaman baru dan tahu lokasi. Pasar Cidondewah tak ubahnya pasar Cipadu yang ada di wilayah dekat Jakarta, tepatnya di wilayah Tangerang. Pasar ini adalah satu kawasan wilayah yang terdiri dari pertokoan yang menjual bahan-bahan sisa pabrik.

Karena tak ada yang bisa ditemukan di tempat yang libur ini, maka kami kembali ke pusat kota. Selepas turun dari angkot di Kalapa, kami berjalan kaki menuju Alun-alun. Sepanjang jalan, penuh dengan pertokoan busana yang sangat ramai oleh pengunjung. Beragam toko busana, dari baju, celana, aksesories, sepatu, distro dan sebagainya padat oleh pengunjung yang berbelanja atau sekedar masuk saja. Memang Bandung kota wisata belanja, penuh orang membelanjakan uang untuk mendapatkan aneka busana dan makanan.

Sebelum ke alun-alun sengaja saya mencari satu warung makan Minang yang ada di depan alun-alun. Teringat tahun ’94 saya pernah makan disana dan masakannya enak sekali. Tapi saya tak menemukannya lagi, ya terpaksa makan di warung yang ada saja.

Selesai makan, kami menuju alun-alun yang tepat di depan Masjid Raya Bandung. Ramai orang berkunjung dan bermain disana. Banyak orang beristirahat di halaman alun-alun, dan di pelataran masjid. Sayang sekali, keindahan masjid agung ternoda oleh banyak pedagang kaki lima. Ada penjual bakso, CD, sate, rujak, mainan, balon dan sebagainya. Ada juga pasangan-pasangan yang berpacaran di depan masjid, sayang sekali. Banyak orang berkunjung ke masjid, tapi bukan beribadah. Hanya menjadikan halaman masjid sebagai tempat kongkow-kongkow dan istirahat setelah lelah berbelanja.

Masjid Raya Bandung, ramai dengan berbagai kegiatan

Masjid Raya Bandung, ramai dengan berbagai kegiatan

Foto mesra dulu ah, dengan isteri tercinta;)

Dari masjid, saya menuju Parahyangan Plaza yang ada di samping masjid. Ada teman lama yang memproduksi kaos dan punya gerai distro di lantai 1, nama labelnya Six Clothing. Parahyangan Plaza memang lokasi khusus dari para pemain distro, beragam label ada disini, dari yang ternama sampai pemain baru.

Selepas bincang-bincang nostalgia dan seluk-beluk bisnis, kami melanjutkan perjalanan meninjau pusat-pusat belanja di sekitar alun-alun. Pertokoan ramai oleh orang yang belanja, jalanan penuh oleh para pejalan kaki. Berjalan-jalan malam hari di Bandung alangkah menyenangkan sekali.

Selepas makan malam di salah satu restoran Sunda, kami balik ke penginapan. Malam terus beranjak, Bandung malam hari terasa sejuk hawanya.

Hari Ketiga

Hari ketiga adalah full bisnis. Tidak saya ceritakan suka-duka hari ini.

Selesai bertemu dengan beberapa calon potensial, kami balik ke Jakarta dengan kereta malam Argo Gede. Kereta kelas eksekutif yang masa lalu tiketnya mahal sekali, sekarang sudah turun harga menjadi Rp 45 ribu saja. Malam yang jatuh, tak menyisakan sedikit pun pemandangan di luar kaca. Ditambah ruangan kereta yang dingin, tentu saja tidur adalah hal yang terbaik yang dilakukan. Ya, lebih baik tidur saja, dengan kenangan 3 hari selama di Bandung.

Dapat ilmu, silaturahmi, jalan-jalan, spritual, bisnis, lengkap sudah paket perjalanan selama 3 hari di Bandung, dari rencana semula hanya menginap semalam saja. Bandung, kota sejuk dengan dinamika tersendiri, ketenangan yang memikatku, suatu saat ingin rasanya punya rumah disini.

Oleh-oleh dari Bandung, masuk angin. Dikerok oleh isteri

Oleh-oleh dari Bandung, masuk angin. Dikerok oleh isteri :D

Satu gagasan untuk “Perjalanan ke Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s