Keberkahan dari Karangkamulyan

Selepas pintu tol Serang Timur, perjalanan mulai memasuki pedalaman Banten. Memasuki kawasan Lebak, perjalanan dihadapkan pada jalan yang rusak, berlubang disana-sani dan dan berdebu. Untung musim kemarau, tak terbayangkan jika turuh hujan. Tentu saja Avanza yang kami naiki akan berlepotan oleh mandi lumpur.

Berangkat dari Graha Pillar sekitar pukul setengah delapan pagi, pukul satu kami—Pak Sonny, Pak Anto, mbak Nunu, Saya dan sopir pak Budi—masih saja diguncang jalan yang hancur di perjalanan menuju Malingping, seterusnya ke desa Karangkamulyan, Lebak Banten. Udara yang panas berdebu, sementara sedang menjalankan puasa sedikit menyedot semangat pagi kami tadi. Sempat gentar di hati melihat perjalanan ini, harus berapa lama lagi akan sampai di tujuan? Di kiri-kanan hanyalah hutan, kebun kelapa sawit, karet dan kadang-kadang perkampungan. Sementara di depan, kalau tak hati-hati hanyalah jalan yang bolong-bolong tercabik terlupa oleh Pemda.

Lebih setengah hari dilewatkan belum sampai juga di tujuan. Tubuh yang sedang berpuasa, perut yang kosong dan haus yang mendera bercampur di perut yang terkocok serasa melilit ketika mobil beberapa kali terhantam batu dan berguncang oleh lobang jalan. Terdengar beberapa kali mobil pak Anto berderit oleh guncangan. Avanza, mobil yang cocoknya di kota harus berhadapan dengan rute off road!

Menjelang tigaperempat hari, barulah kami sedikit terhibur ketika mata yang lelah, haus dan lapar dihadapkan dengan pemandangan baru. Jika sebelumnya di kiri-kanan hanya hutan, perkebunan kelapa sawit, karet dan desa-desa pedalaman. Sekarang mata dihadapkan oleh laut lepas samudera. O, rupanya telah sampai di ujung barat selatan pulau Jawa.

Segarnya angin laut Pantai Selatan, dan pemandangan ombak yang memecah pantai menggoda kami sebentar untuk turun menghirup udara laut. Setelah berpose sebentar, perjalanan kembali dilanjutkan karena tugas belum selesai. Menghantarkan sumbangan teman-teman dari komunitas bisnis Indonesian Business Forum, untuk disumbangkan ke Herman, seorang bocah umur 9 tahun dari Desa Karangkamulyan, Banten. Seorang anak kecil dengan semangat luar biasa, dengan kekurangan fisik dan materi ingin menjadi pemain sepakbola terkenal dan bersekolah tinggi. Dalam umur semuda ini, dia juga berjuang membantu menghidupi kedua orangtua dan 2 adik tirinya. Herman sendiri ditinggal ibu kandung ketika melahirkannya. Sekilas tentang Herman bisa dibaca disini:

http://trilogicinta.wordpress.com/2011/06/03/herman-bocah-perkasa-dari-cibogos-banten/

Menjelang Ashar, kami sampai sudah di kampung Karangkamulyan. Di persimpangan pantai Bayah, Pak Tono guru ngaji Herman menunggu kami untuk dihantar ke tujuan. Menanjak naik ke bukit, pantai kami tinggalkan dan perjalanan penuh batu kembali menunggu kami.

Sampai di rumah pak Tono, Herman rupanya sedang menggembala kambing. Herman tiba dengan adiknya yang sedikit terbelakang mental, wajah keduanya ceria bertemu kami.

Pak Anto menanyakan apa cita-cita Herman yang katanya ingin menjadi pemain sepakbola terkenal. Lalu pak Anto mengambil bungkusan berisi bola dan sepatu bola. Kedua bocah ini tampak sumringah bersemangat membuka bungkusan dan mencoba sepatu. Alhamdulillah, ternyata pas. ketika ditantang pak Sonny main bola, tendangan keras Herman sedikit merepotkan Pak Sonny. Padahal dengan kaki kurang sempurna, tendangan Herman mantap menunjukkan bakat alaminya sebagai pemain bola.

Kami menyerahkan paket bantuan kawan-kawan. Ada bahan makanan kami serahkan ke ibu tiri Herman. Sedikit uang kami titip ke Pak Tono untuk dibelikan sepeda dan uang sekolah serta untuk biaya pemasangan listrik. Ini dilakukan karena kedua orang tua Herman ternyata buta huruf dan tidak terlalu mengenal uang. Tercetus oleh kami untuk membantu Herman bisa melanjutkan sekolah nanti sampai SMP, malah sampai ke perguruan tinggi. InsyaAllah, nanti teman-teman IBF akan mengumpulkan dana kembali dan disimpan dalam bentuk logam mulia, sebagai simpanan untuk sekolah Herman nanti.

Sedikit cerita pak Tono tentang Herman dan sekolahnya, begitu menggugah kami. Betapa kekurangan tidaklah membuat kita harus terbelakang. Hak untuk maju ada pada setiap orang.

Setelah menjama’ shalat Ashar dan Zuhur, kami pamit pulang dan berharap bisa kembali.

Mitra, adik Herman dengan wajah lugu bocahnya melepas kami dengan lambaian senyum dan berucap, “Kadieu, nya’!”

“Ya, kadieu dei!”, kata saya tersenyum menjanjikan insyaAllah kami akan kembali lagi.

Menuruni bukit dan menyusuri pantai kembali. Pak Sonny rupanya mulas dengan jalur keberangkatan tadi, lalu kami pulang mencoba jalur yang berbeda. Menyusuri pantai selatan Banten, di kanan sejauh mata memandang hanyalah laut Samudera Selatan dengan ombak besar yang memecah di pantai berkarang. Sesekali kami dihadapan pada teluk yang permai, dengan pantai dan ombaknya yang tenang. Pemandangan alami yang belum tersentuh pariwisata begitu menyegarkan jiwa yang berpuasa. Segala puji hanyalah untuk Allah semata, “Subhanallah, wal hamdulillah!”. Begitu agung dan indah ciptaan-Nya.

Keajaiban Allah SWT ditunjukkan kepada kami. Berkah berbagi ke Herman langsung dibayar tunai oleh Allah. Pak Sonny, yang sebelumnya proposal bisnisnya masuk ke beberapa kampus besar dan disponsori oleh salah satu minuman terkenal telah disetujui. Dan, masyaAllah! Pak Sonny dapat telpon, disuruh minta untuk menyampaikan invoicing, tagihan awal untuk proyek ini. Padahal proposalnya sendiri secara resmi belum ditandatangani.

Saya sendiri hampir tidak percaya, dan pak Sonny geleng-geleng kepala.

MasyaAllah, baru kali ini ada proyek yang proposalnya sendiri belum ditandatangani tapi sudah disuruh minta mengajukan tagihan! ‘Gimana ceritanya ada yang begini?

Itulah dahsyatnya sedekah dan berbagi. Sebelumnya saya mendapatkan telepon juga dari isteri, bahwa ada yang mengorder baju renang kami dengan jumlah lumayanlah untuk bulan puasa ini. Coba bayangkan, di bulan puasa ini siapa yang akan mau berenang? Seperti tahun yang lalu, disaat bisnis pakaian muslim lainnya panen kami di bulan puasa ini biasanya hampir tidak ada penjualan. Lah, siapa yang mau berenang di bulan puasa ini? Ternyata, alhamdulillah dapat rezeki lumayan untuk bulan puasa ini.

Begitu juga Pak  Anto, mendapatkan juga keberkahan berbagi ini.

Senja turun dan petang menjemput kami. Setelah berbuka seadanya di mobil, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kerlap-kerlip lampu nelayan di kejauhan menghias laut lepas. Kami sibuk dengan takjub kemurahan Allah SWT dan pesona alam. Setelah beberapa lama menyusuri pantai, mobil menanjak menjauh dari pantai memasuki pedalaman wilayah Sukabumi, Jawa Barat.

Rupanya lama perjalanan pulang hampir sama lamanya dengan keberangkatan tadi. Tapi dari jalurnya, lumayanlah lebih bagus dibanding keberangkatan. Jalan beraspal dan beberapa kali berbatu dan berlubang lumayan dibanding keberangkatan yang lebih banyak jalan hancurnya.

Lewat tengah malam, akhirnya kami sampai sudah di Graha Pillar. Alhamdulillah, perjalanan hari ini melewati tiga provinsi: Jakarta, Banten dan Jawa Barat berakhir sudah. Sumbangan teman-teman sudah kami sampaikan, semoga Allah SWT membalas para donatur dengan berlimpat ganda dan keberkahan rezeki.

Selamat berpuasa. Semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi kita semua.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s