Memulai Bisnis sebagai Pilihan Hidup

Pada saat makan siang, di suatu workshop tentang proses kreatif mencari peluang usaha seorang bapak berkonsultasi dengan pembicara workshop ini. Beliau minta nasehat bagaimana mengembangkan usaha dan meningkatkan penjualan.

Saat ini beliau menjabat di salah satu BUMN yang cukup strategis. Selain bekerja di BUMN beliau punya sebuah bisnis yang cukup menarik tapi bingung bagaimana mengembangkan usahanya. Beliau punya produk import dan ingin mencari partner untuk memasarkan produk ini. Beliau mengaku hanya punya keahlian pada proses mengadakan produk tapi tidak ahli, atau tidak mau masuk wilayah pemasaran. Jadi, istilahnya beliau ingin berdiri di dua kaki. Di satu sisi sebagai eksekutif di perusahaan, di sisi lain punya usaha atau produk tapi tidak mau memikirkan lagi tentang pemasarannya. Cukup mencari produk dan mencari partner marketing.

Si bapak pertama bilang, dulu dia juga pernah punya usaha dengan modal 200 juta tapi bangkrut. Pengalaman ini membuat dia trauma dan bimbang untuk keluar kerja dan fokus pada bisnis baru ini.

Setelah panjang cerita, si Pembicara workshop tersenyum dan bilang: Kalau bapak ingin menyeriusi bisnis ini, bapak harus fokus!….

“Tapi, Pak, bla bla bla ….”, si bapak pertama masih beragumentasi….

“Bapak harus keluar kerja, ….” kata bapak pembicara. Tidak bisa berdiri pada dua kaki di posisi yang berbeda. Memang bisnisnya bisa bertahan tapi tidak berkembang.

Sebelum keluar kerja paling tidak bapak harus menyiapkan cadangan dana untuk sekitar 3 bulan ke depan. Ada juga yang bilang sekitar 6 bulan ke depan.

Saya teringat dengan cerita orang-orang, bahwa kalau ingin keluar kerja dan fokus ke bisnis harus menyiapkan tabungan untuk hidup sekitar 6 bulan atau satu tahun ke depan jika ingin aman.

Saya yang duduk dekat mereka mendengar cerita ini juga tersenyum. Wow! Pernah punya bisnis dengan modal 200 juta, hmm…menarik juga ya…. Berarti secara materi bapak ini cukup lumayan juga ya, bahkan termasuk kaya. Saya teringat dengan kisah saya memulai bisnis, nyaris tanpa modal dan persiapan sama sekali!

Ketika memutuskan keluar kerja sekitar tiga tahun lalu, saya pulang dari kantor hanya membawa gaji terakhir dan menyisakan uang sekitar satu jutaan setelah dibayarkan cicilan dan kontrakan rumah. Setelah belanja lain-lain, kalau tidak salah kurang dari satu juta yang masih di tabungan.

Tanpa persiapan, dan harapan untuk bulan depan dan masa-masa yang akan datang.

Sementara bisnis kami—saya dan isteri—juga belum berjalan sebagaimana ideal yang diharapkan. Tanpa modal, bisnis kami hanya menjual produk bajurenang dan blazer yang dijual di internet. Modal saya waktu itu hanya sebuah laptop yang masih dicicil dan kamera digital yang juga dibeli lewat cicilan kartu kredit.

Saya memfoto produk orang dengan kamera digital, lalu saya edit dengan laptop menggunakan software photoshop lalu diupload ke webstore yang juga gratisan menggunakan wordpress.

Saya beruntung punya isteri yang setia dan mendukung tekad berbisnis ini. Ketika saya pulang dari kantor untuk terakhir kalinya, sang isteri sudah menjemput di ujung jalan mau masuk ke kontrakan. Beliau menyambut saya dengan senyumnya yang menenangkan dada saya yang bergumuruh oleh beragam perasaan: gembira lepas dari tekanan kerja, takut, galau, antusias, bingung akan masa depan yang tidak pasti.

Mau dikasih makan apa ini anak orang? Mau dibayar apa nanti kontrakan? Kalau ketika saya masih bujangan tak masalah, saya masih bisa nekat tidak makan seharian. Tapi ini ada tanggungjawab anak orang yang saya tanggung. Sementara kami tinggal hanya berdua saja, jauh dari saudara dan orangtua yang di kampung, mengontrak pula! Kalau ada apa-apa dengan kami, kepada siapa kami akan mengadu? Sementara isteri saya tidak bekerja, hanya mendukung suami di rumah saja.

Semangat isteri begitu berharga bagi saya: Kalaupun nanti kita kelaparan, atau gagal dalam bisnis ini, Kak. Kita pulang kampung aja ya…”, godanya dengan tersenyum.

Hah, pulang kampung?! Sebuah kalimat yang tabu bagi saya. Pulang kampung dengan membawa kegagalan? Mau kemana ditaruh muka saya?

Beruntunglah kalau kita punya lingkungan yang juga saling mendukung. Sampai ada salah satu teman akrab kami bilang, “Kalau pun nanti gak bisa bayar kontrakan tinggal aja sama kami….”

Dukungan ini membuat saya semakin berani menghadang masa depan. Dan yang paling penting, adalah penyerahan hidup sepenuhnya kepada Allah Swt-lah yang membuat saya yakin akan hidup yang lebih baik. Keyakinan kepada Allah Swt bisa menyebabkan terjadinya mukjizat!

Saya berkeyakinan, bahwa pilihan hidup yang saya ambil ini, menjadi Pedagang adalah pilihan yang benar. Ya Allah, bukankah Pedagang ini adalah profesi para Nabi dan Sahabat dan mulia. Karena mulia, sudah pasti Engkau akan meridhoi dan memberkahi kami.

Pernah kami berduka, uang di kantong hanya tinggal recehan 7500 saja. Bingung hendak mau makan apa dan belanja apa saja. Tapi ya, itulah. Ketika kita betul-betul menyandarkan hidup pada Allah Swt, ada saja rezeki yang datang. Ada orang yang mengorder dagangan kami, alhamdulillah bisa makan malam ini!

Alhamdulillah, tiga tahun saya serius menggeluti profesi ini. Dengan suka-duka, pahit-manis dan sebagai macamnya. Saya bersukur masih diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk bisa hidup melewati semua fase ini. Kami bersyukur saat ini sudah bisa menggaji orang untuk konveksi baju renang muslim kami. Walau masih kecil, insyaAlllah dengan pertolongan Allah kami yakin bisa menjadi besar.

Kalau mengenang masa-masa lalu terkadang terbit juga ketakutan di hati saya. Tanpa modal, tanpa persiapan, tanpa tabungan saya memutuskan keluar kerja dan kami menggeluti bisnis. Sementara menurut para konsultan, untuk keluar kerja dan memulai bisnis kita harus menyiapkan tabungan minimal 6 bulan ke depan.

Tapi itulah, dalam bisnis kadang logika tidak bisa menjawab masa depan.

(Untuk membaca kisah pertama kali saya keluar kerja bisa dibaca di link ini: http://hensyam.wordpress.com/2008/04/16/meraih-impian/ )

Wassalam,

Syam

2 gagasan untuk “Memulai Bisnis sebagai Pilihan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s