Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Indonesia’ Category

Untuk membaca bagian pertama, silahkan klik link ini ( http://t.co/NdvgSTaVvI)

—————————————–

Selasa, 19 Mei ’98, matahari cerah muncul di pagi itu

Setelah melewati malam yang menegangkan, pagi pun cerah menyambut kami. Sekitar jam sembilan lewat, kami dikejutkan oleh suara heboh dari depan gedung. Ternyata telah masuk rombongan pertama mahasiswa ke dalam gedung MPR/DPR.

“Rombongan mahasiswa darimanakah?”, pikirku. Aku pun bergegas ke arah depan gedung. Teman-teman yang lain ikut juga menyambut. Ternyata itu adalah rombongan mahasiswa Kampus Biru Budi Luhur dengan sekitar 300 orang massa. Mahasiswa Budi Luhur adalah mahasiswa pertama yang datang untuk ikut menduduki gedung MPR/DPR. Sehabis subuh para mahasiswa BL sudah berkumpul dan berangkat ke gedung MPR/DPR. Awalnya dari pintu gerbang belakang mereka datang. Tapi karena gerbang tertutup dan terkunci, mereka tidak bisa masuk. Sebagian memanjat pagar tinggi lalu menyelinap ke parit. Kemudian mereka masuk ke basement parkiran. Menyerbu masuk dari belakang gedung Nusantara. Mungkin karena banyaknya mahasiswa yang mendesak masuk akhirnya security membuka gerbang. Issuenya sih mereka menyandera security. Setelah jam 8 lewat barulah gerbang depan juga dibuka. Masuklah semua rombongan mahasiswa yang datang dari mana-mana.

Kawan-kawan BL langsung disambut oleh para delegasi FKSMJ yang rata-rata adalah Ketua Senat Mahasiswa. Rama Pratama Ketua Senat Mahasiswa UI terlihat ikut menyambut dan menyampaikan ucapan selamat datang.

Semangat yang sempat down akibat psy war semalam terasa bangkit kembali begitu melihat rombongan mahasiswa BL. Aku merasa “hidup” kembali ketika melihat kawan-kawan satu kampus. Berikutnya beberapa kampus lain menyusul memasuki gedung MPR/DPR. Di tangga gedung oval (gedung utama) langsung diadakan orasi. Silih berganti para mahasiswa dan delegasi menyuarakan suara-suara reformasi: Soeharto harus turung sekarang juga! Sidang Istimewa sekarang juga!

Semakin siang semakin banyak massa mahasiswa dari berbagai kampus memasuki halaman gedung. Tak terasa sebentar saja MPR/DPR telah dipenuhi oleh ribuan massa mahasiswa.

Sekitar pukul 14.00, terlihat massa Pemuda Pancasila, FKPPI, PPM dengan pimpinannya masuk berserta rombongan pendekar Banten yang pro Soeharto sebanyak kurang lebih 300 orang. Diantara teman-teman ada yang melihat mereka membawa senjata tajam (golok). Suasana semakin pans. Mahasiswa mencoba menghadang gerak maju mereka. Hampir terjadi bentrok fisik antara kedua belah pihak. Setelah bersitegang, lama-kelamaan mereka pun pulang.

Malam itu, gedung MPR/DPR seperti menjadi pasar malam. Mahasiswa bertahan menduduki gedung MPR/DPR. Dimana-mana, di setiap tempat luang dan pojok gedung terlihat mahasiswa memenuhi lantai ubin. Suasana ini kontras sekali dengan suasana kami semalam yang penuh ketegangan. Gedung MPR/DPR pun “ditiduri’ oleh para mahasiswa. Tengah malam, kembali ada isu akan ada penyerangan oleh Pemuda Pancasila. Kami pn bersiaga, beberapa orang mahasiswa ditugaskan berkelompok berjaga-jaga di setiap pintu dan celah masuk gedung.

Rabu, 20 Mei ‘98

Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional. Semua mahasiswa yang ada di gedung memperingati hari itu sebagai hari kebangkitan dari penindasan oleh rezim orde baru. Mimbar dadakan yang diadakan di pelataran depan gedung diisi dengan orasi-orasi. Badut-badut politik, oportunis kesiangan pun mulai silih berganti menampakkan diri dan ikut pula berpidato. “Biarin aja”, pikir kami.

Sementara itu aksi massa yang direncanakan di Monas dibatalkan oleh Amien Rais. Beliau pun menuju ke MPR/DPR. Hari itu puluhan ribu massa tumpah-ruah berbaur rupa memadati gedung.

Siangnya pertemuan antara 40 lebih Ketua Senat Mahasiswa/perwakilan dengan pimpinan MPR/DPR. Mahasiswa mendesak MPR untuk menyelenggarakan Sidang Istimewa segera. Setelah pertemuan itu Harmoko dan rombongan keluar dari ruangan dengan muka tegang. Wartawan mendesakkan pertanyaan apa hasil pertemuan. Harmoko menolak menjawab, “Tanya saja ke mahasiswa. Mereka akan menjelaskannya”. Ia bergegas pergi.

Lalu mahasiswa mengadakan jumpa pers. Sarbini—Ketua Senat Mahasiswa Univ. 17 Agustus Jakarta—sebagai jurubicara FKSMJ menyampaikan keputusan pimpinan MPR/DPR. Keputusannya pimpinan MPR/DPR memberi waktu kepada Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannya paling akhir Jumat. Jika tidak mengundurkan diri maka Dewan akan mengadakan rapat hari Senin, 25 Mei untuk menyiapkan Sidang Istimewa. Mahasiswa melonjak gembira. Semua bergembira atas ultimatum itu.

Sekitar jam empat sore, isu-isu meresahkan mulai beredar. Massa yang membaur dan bercampur semakin ramai dan beragam. Dikarenakan situasi dan kondisi yang semakin tidak menentu dan meresahkan, maka sebagian mahasiswa Budi Luhur minta disiapkan bus kampus untuk menarik massa ke kampus, dan esoknya akan kembali lagi. Teman-teman yang ingin balik dan belum menyiapkan diri akan ditarik menginap di kampus.

Malamnya terjadi pembakaran di lantai atas gedung oleh oknum-oknum yang ingin menodai perjuangan mahasiswa. Mereka berhasil menyusup ke dalam gedung.

Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, sekitar pukul 20.15 rombongan mahasiswa BL pun dievakuasi ke kampus dengan menggunakan 2 bus kampus yang penuh sesak. Aku dan teman-teman lainnya tetap bertahan dan berjaga-jaga di gedung MPR/DPR.

Kamis, 21 Mei Dini Hari, Semua Siaga

Sekitar pukul 00.15 tertangkap 5 “ekor” penyusup. Ada yang kedapatan membawa senjata tajam. Suasana semakin tegang dan panas.

Sekitar pukul 08.00 waktu DPR, masuk sekitar 30 truk pembersih sampah ke gedung. Mahasiswa BL yang bertahan di gedung ikutan membantu mereka.

Dan…. akhirnya pada pukul 09.15 WIB…. Alhamdulillah… Soeharto mundur dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia. Tapi jabatannya langsung diserahkan ke Habibie. Lewat layar televisi yang dipasang di tengah gedung, para mahasiswa menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Shock, surprise! Para mahasiswa gembira. Ada yang berpelukan, melonjak dan berbagai cara mengekspresikan kegembiraannya. Mereka menyanyikan lagu Sorak-sorak Bergembira di semua tempat. Ada yang berlarian sambil bergandengan tangan mengelilingi taman tengah. Ada yang langsung menceburkan diri ke kolam depan. Ada yang berjingkrak-jingkrak. Semua bergembira dengan berbagai bentuk tingkah masing-masing. Semua terharu! Pokoknya macam-macam deh tingkah laku dan ekspresi yang ditampilkan. Yang jelas, semua bergembira sekali!

Di samping gembira, FKSMJ juga merasa tidak puas. Karena proses menyerahan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie tidak melewati proses kedaulatan rakyat.

Pukul 12.00, masyarakat umum sudah boleh masuk ke gedung. Pukul 14.00, dikarenakan sudah tidak “steril” lagi massa yang berada di MPR/DPR maka FKSMJ memutuskan untuk tidak ada lagi aksi atas nama FKSMJ setelah pukul 13.00. para mahasiswa yang tergabung dalam FKSMJ dievakuasi ke kampus masing-masing untuk menyiapkan aksi berikutnya.

Setelah pukul lima sore, mahasiswa BL yang dievakuasi tiba dengan selamat di kampus. Pas masuk pintu gerbang kampus, teman-teman mahasiswa semua serempak meneriakkan yel-yel “Turunkan SKS! Turunkan SKS!” Haa…haa..haa… Mas-mas Satpam dan orang-orang yang ada di kampus cekikan tertawa….

Sementara itu, meskipun secara resminya rombongan FKSMJ dan mahasiswa BL telah ditarik semua, tapi masih ada juga beberapa orang mahasiswa BL yang tetap bertahan di gedung. Massa mahasiswa yang berada di gedung bukan lagi atas nama FKSMJ.

Jumat, 22 Mei ‘98

Sekitar pukul sembilan pagi, masuk rombongan mahasiswa ke gedung MPR/DPR, yang ‘ngakunya sebagai massa Habibie (dari spanduk-spanduk yang mereka bawa bisa terbaca dukungan terhadap Habibie). Bentrokan parah hampir terjadi antara massa pro Habibie dengan massa mahasiswa yang masih ada di dalam yang menolak peralihan kekuasaan ke Habibie.

Jam sembilan malam lewat, di kampus aku mendapat informasi dari kawan di sentra informasi yang berada di kampus Moestopo bahwa malam ini akan ada sweeping di gedung MPR/DPR. Diberi batas waktu sampai jam 05.00 pagi untuk mengosongkan gedung. Jika tidak, maka ABRI akan menyerbu dan melakukan tindak kekerasan. Dari rekan mahasiswa yang berada di dalam gedung, datang permintaan bus untuk evakuasi massa ke kampus.

Sabtu, 23 Mei ‘98

Jam 00.45 dini hari, masuk lagi informasi dari sentra informasi Moestopo mengabarkan bahwa telah terjadi penyerbuan oleh ABRI (Angkatan Darat) ke gedung sekitar jam 23.30 (Jumat). Didapat informasi bahwa tentara sempat mengeluarkan tembakan yang mengakibatkan mahasiswa panik dan kocar-kacir. Benar-benar seperti perang, tentara menyerbu masuk seolah menghadapi para teroris.

Setelah menguasai gedung, para mahasiswa dikumpulkan di halaman depan gedung.

Dari kampus kami—aku dan beberapa orang teman—menyiapkan kendaraan 2 mobil Carry. Langsung ke Moestopo, setelah itu ke MPR/DPR. Sesampai disana terhalang tidak masuk. Gedung telah dikepung dan dijaga sangat ketat. Tapi setelah mencari celah dan bergabung dengan tim nego dan wartawan, bisa juga kami masuk lewat bagian samping depan.

Di dalam terjadi negosiasi antara mahasiswa dengan aparat tentang mekanisme dan teknis evakuasi. Mahasiswa akan dievakuasi ke kampus Atmajaya yang berada di Semanggi. Sebagian mahasisw minta long march, sebagiannya lagi setuju dengan kendaraan yang telah disediakan aparat. Setelah bertemu dengan rekan-rekan BL yang tersisa, maka diputuskan mereka akan kami tunggu di Atmajaya.

Pukul 02.30, para mahasiswa dievakuasi ke kampus Atmajaya, setelah ada kesepakatan mahasiswa akan dikawal pasukan dari Marinir.

Kami yang menunggu di Atmajaya sempat down, baik fisik maupun mental karena terlalu lama menunggu. Setelah menunggu sekian jam, kok rombongan belum sampai juga.

Menjelang subuh, mulailah berdatangan rombongan mahasiswa ke Atmajaya. Sempat terjadi kepanikan karena ternyata pasukan Marinir melakukan manuver/atraksi dengan tank-tanknya berputar-putar di Semanggi. Suara yang ditimbulkan oleh pergesekan rantai tank dengan aspal serta suara mesin yang menderu-deru menimbulkan bunyi yang sangat mencekam dan seakan-akan suasan akan perang. Di lain waktu baru aku ketahui hal itu sengaja dilakukan untuk membuat tandingan dan show of power Marinir terhadap pasukan AD yang menggiring mahasiswa. Marinir ingin mengesankan bahwa mereka siap melindungi mahasiswa. Marinir akan berada di depan mahasisw jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sesampainya rombongan mahasiswa di Atmajaya, diaturlah pengevakuasian teman-teman BL ke kampus. Setelah istirahat sebentar, barulah kami berangkat membawa mahasiswa ke kampus.

Kejadian-kejadian yang bermula dan dipicu dari tragedi Trisakti benar-benar telah menyita fisik dan batin aku dan kawan-kawan. Ada yang tidak pulang ke rumah sejak tanggal 12 Mei tersebut sampai dengan tanggal kejatuhan Soeharto. Baju yang melekat di badan, sampai behari-hari belum diganti. Selama di MPR, ada yang ‘nggak mandi-mandi, tidak ganti baju beberapa hari disana. Apalagi CD (celana dalam) yang sudah side A dan side B. Bagaimana mau ganti baju, sementara suasana sangat mencekam dan tidak bisa pulang?

Semua yang dilakukan adalah suatu keikhlasan untuk tegaknya reformasi. Ternyata perjuangan dan pengorbanan kita tidak sia-sia. Kita saksikan telah runtuhnya rezim penindas yang menutup penindasan dengan baju kemakmuran. Kemakmuran yang hanya dinikmati segelintir orang. Turunnya Soeharto barulah sukses kecil, barulah langkah awal untuk mencapai kesejatian bangsa yang merdeka dan jaya.

Kejatuhan Soeharto, gelora reformasi yang dicanangkan mahasiswa, ternyata menjadi medan baru dari penderitaan baru bangsa. Elit-elit politik bunglon bermetamoforsa menjadi kaum reformis. Ambisi pribadi dan kelompok masih masih tetap menjadi cita-cita mereka.

Musim terus berganti, perubahan dan iklim baru berdemokrasi terus kita lalui, tapi cita-cita menuju masyarakat yang merdeka, adil dan makmur semakin jauh dari realita.

Satu-persatu pejuang reformasi berguguran, satu-persatu pergi memenuhi hidup masing-masing. Para mahasiswa pun kembali disibukkan dengan dunia mereka. Reformasi yang bergulir semakin tidak jelas arahnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin hancur rupanya.

Sementara itu, masih tersisa sekelompok anak muda yang masih setia dan tetap menjunjung-memeluk erat semangat untuk kejayaan rakyat dan bangsanya. Perjuangan masih panjang, Bunda Pertiwi rindu akan hadirnya anak-anaknya yang akan terus membela nasibnya….

Jakarta, Mei 1998

Helsusandra Syam

Read Full Post »

Sebuah kesaksian dari sudut pandang mahasiswa kampus Budi Luhur

Oleh: Helsusandra Syam

 

98Menara kesombongan orde baru ternyata tidak cukup kuat untuk menahan terpaan badai krisis. Istana pasir yang dibangun, megah rupanya tapi rapuh isinya. Krisis moneter telah menghantarkan rupiah melemah sampai Rp 17.000 per dollar Amerika. Krisis multidimensial menggejolakkan mahasiswa untuk berteriak: REFORMASI!!! Aksi-aksi keprihatinan bergelora di setiap kampus. Ketidakbecusan para pemimpin bangsa, korupsi, kolusi dan nepotisme yang seperti kanker ganas berurat-berakar ke seluruh negeri, menjadi tema sentral dalam setiap demonstrasi.

Kisah ini adalah sebuah ledakan akumulasi dari kekecewaan para mahasiswa dalam menyikapi keadaaan kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga terjadilah pendudukan gedung MPR/DPR—dan kesaksian bahwa kampus Budi Luhur adalah kampus pertama yang masuk ke gedung MPR/DPR—hingga mengakibatkan turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan yang selama 32 tahun sudah didudukinya.

Pada saat itu hari menunjukkan Selasa, 12 Mei 1998. Langit Jakarta kelabu.

Aksi keprihatinan yang dilakukan oleh para mahasiswa kampus Trisakti telah dinodai oleh serigala-serigala haus darah yang keluar dari persembunyiannnya di belantara kekejaman. Aksi yang semula berlangsung tertib—walau sempat timbul sedikit ketegangan dengan aparat—akhirnya dapat tercapai saling pengertian antara kedua belah pihak. Para mahasiswa yang sudah terlanjur keluar kampus, akhirnya mau mundur kembali memasuki areal kampus.

Tiba-tiba, entah darimana datangnya serigala-serigala ganas pun bagai keluar dari dalam bumi. Memuntahkan kebencian dan perang lewat mulut-mulutnya. Tiba-tiba aparat keamanan memuntahkan peluru-peluru tajam ke arah kerumunan mahasiswa. Keberingasan begitu saja dipertontonkan. Peluru-peluru tajam melesat, pentungan-pentungan, tendangan, pukulan dan kekerasan lainnya diarahkan ke para mahasiswa. Akibatnya, 4 orang mahasiswa Trisakti dan beberapa orang non mahasiswa roboh tewas! Tinta sejarah yang berdarah ditorehkan di bumi Indonesia. Lagu pilu berkumandang di cakrawala. Kisah besar pun bermula!

Jakarta pun membara akibatnya. Lagu perang telah dikumandangkan dan kekerasan terpicu dan bermula. Mulailah kita saksikan kebiadaban dipertunjukkan dan gambaran bangsa pun semakin buram.

 

Rabu, 13 Mei 1998

Pemakaman Tanah Kusir seakan tidak mampu menampung ribuan pelayat yang menghadiri prosesi pemakaman 2 orang mahasiswa Trisakti, yaitu Hery dan Elang akibat ditembak oleh aparat kemaren Selasa. Gemuruh isi dada para mahasiswa yang mengantar, seakan siap menghantam apa saja yang ada di depannya. Semua orang penuh emosional.

Kemarahan telah menyebar di setiap kampus dan setiap isi dada anak bangsa.

Malamnya, sekitar pukul 19.00 mahasiswa Budi Luhur bergabung dengan para mahasiswa kampus Mercu Buana (UMB) untuk mengikuti malam renungan. Dengan dua bus metromini penuh sesak kami berangkat kesana. Orasi-orasi penuh emosi dan airmata tumpah dalam acara ini.

Setelah acara di UMB, kami kembali ke kampus BL. Malam itu juga sekitar pukul setengah duabelas kami segera mengadakan rapat untuk membahas perkembangan yang terjadi dan langkah apa yang akan dilakukan oleh para mahasiswa Budi Luhur. Akhirnya disepakati untuk mengadakan aksi keprihatinan pada esok harinya (Kamis). Malam itu juga sambil bergadang kami dari Senat Mahasiswa bersama beberapa orang kawan menyiapkan perangkat-perangkat untuk mimbar bebas besok.

 

Kamis, 14 Mei ’98, denyut Jakarta semakin cepat

Pukul 11.00 mimbar bebas pun dimulai di kampus Budi Luhur. Walaupun dilakukan secara spontanitas, tanpa persiapan yang matang sebagaimana biasanya untuk persiapan aksi-aksi, massa yang hadir ramai sekali. Acara berlangsung cukup tertib dan aman. Tampi menjadi orator dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa BL sendiri, dosen maupun pejabat akademik, mahasiswa dari kampus lain, pelajar, masyarakat sampai seniman jalanan (pengamen) pun ikut serta mendendangkan lagu-lagu reformasi dan lagu-lagu kritik panas yang antusias didengar dan diikuti massa. Kampus-kampus yang tercatat hadir di mimbar bebas adalah STIE Bhakti Pembangunan, Universitas Bina Nusantara, Universitas Atmajaya dan lainnya lagi.

Semakin siang mimbar bebas semakin ramai. Suasana di luar kampus mulai panas. Beberapa truk pasukan militer dan kepolisian telah merapat dan berjaga-jaga di luar gerbang kampus. Kami terpaksa menutup pintu gerbang kampus untuk mencegah masuknya provokator dan hal-hal lain yang tidak diinginkan (dari rekaman video kaset salah satu teman yang diputar kemudian hari, terlihat beberapa orang aparat berpakaian preman telah berbaur dengan massa di depan gerbang. Jangan tanya bagaimana kami tahu, kami punya cara sendiri untuk membekan mana intel mana masyarakat awam).

Ketika aku ke belakangan (ke yayasan kampus) untuk menjemput pak Sutrisna Hari untuk ikut berpartisipasi dalam mimbar bebas dan meminta dukungan moral dari yayasan dalam aksi mimbar bebas ini, tiba-tiba terdengar suara keras tembakan dari depan kampus.

Tanpa sadar pak Sutrisna Hari aku tinggalkan dan aku berlari kencang ke depan kampus. Tembakan menyalak membuat panik massa dan masyarakat yang berada di luar gerbang. Rupanya tembakan dikeluarkan untuk peringatan terhadap massa rakyat yang mulai beringas. Keadaan rupanya telah bergejolak di luar kampus. Dari arah Kreo dan Gang Masjid terlihat asap tebal mengepul ke angkasa. Rupanya aksi pembakaran dan chaos telah dilakukan oleh masyarakat. Acara mimbar bebas pun berakhir pukul empat sore.

Aksi pembakaran dan penjarahan telah terjadi dimana-mana. Kemarahan dan keberingasan massa telah bergejolak dan meledak. Keramahan dan kasih-sayang bangsa Indonesia yang terkenal selama ini musnah begitu saja. Jakarta lumpuh hari itu.

Setelah melakukan aksi mimbar bebas, kami mahasiswa ikut serta membantu pengamanan dan pemadaman kebakaran yang terjadi di Gang Masjid serta ikut menenangkan massa. Beberapa toko/ruko telah hangus terbakar. Kami menolong pemilik toko menyelamatkan barang-barang yang tersisa dan beberapa anggota keluarga mereka. Ada beberapa pemilik toko keturunan Cina yang kami selamatkan dan evakuasi.

Mobil pemadam kebakaran yang datang tidak bisa menuju lokasi, ternyata diblokir massa di Pasar Cipulir. Aku dan beberapa rekan mahasiswa terpaksa menuju kesana untuk menjemputnya. Rupanya mahasiswa begitu dihargai oleh masyarakat. Mobil pemadam kebakaran yang tadinya diblokir akhirnya dibiarkan lewat dengan pengawalan mahasiswa. Hidup Mahasiswa!

Massa membludak ke jalanan dan telah menumpahkan kemarahan mereka yang selama 32 tahun terkekang dalam tirani. Sekitar 35 mobil dibakar massa berderet antara Batas dan Kereo. Kerusuhan menjadi-jadi sampai malam datang menjemput. Kami para mahasiswa bersama karyawan dan dosen yang tidak pulang ke rumah serta Satpam kampus terus siaga dan mengamankan kampus sampai pagi.

Penginapan kami para mahasiswa pun mulai pindah dari kos, dari rumah ke kampus. Kampuslah telah menjadi rumah kami semenjak beberapa hari lalu.

 

Jumat, 15 Mei ’98

Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia telah membara dan luluh-lantak oleh kerusuhan dan penjarahan. Melalui Senat Mahasiswa, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Budi Luhur mengeluarkan pernyataan sikap KBM Budi Luhur terhadap suasana dan aksi-aksi massa yang terjadi. Inti dari pernyataan sikap itu adalah keprihatinan terhadap kerusuhan dan penjarahan yang terjadi. KBM Budi Luhur meminta seluruh komponen bangsa untuk arif dan tenang.

Siangnya aku dan beberapa teman menuju kampus UI Salemba untuk berdiskusi dan berkoordinasi dengan teman-teman Senat Mahasiswa UI. Selesai shalat Jumat aku dan teman BL menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk melihat mayat korban-korban kerusuhan. Seumuran hidup baru kali itu aku melihat mayat-mayat manusia bertebaran tak utuh lagi. Seperti pokok kayu yang hangus terbakar, tidak berbentuk dan baunya begitu menyengat sekali. Aku mual dan muntah melihat ini. Rasa campur aduk dan serta bau yang menyengat membuat kami tak bisa berlama-lama disini. Sampai beberapa hari bau mayat terbakar ini masih saja seolah menempel di hidung dan membual mual isi perut.

 

Sabtu-Minggu, 16-17 Mei ’98

Beberapa kali pertemuan secara intensif diadakan secara bergerilya oleh para Ketua Senat Mahasiswa se-Jakarta dan berpindah-pindah tempat. Rapat ini membas perkembangan terakhir dan bagaimana stategi-taktik mahasiswa menghadapi suasana terakhir di negeri ini. Terakhir diadakan rapat rahasia di kampus IKIP Jakarta (sekarang UNJ).

Rapat marathon berlangsung dari Sabtu sampai Minggu di kampus IKIP Jakarta. Rapat berlangsung sampai malam hari. Mereka akhirnya memutuskan untuk “menguasai” gedung MPR/DPR yang “katanya” simbol rakyat. Dibahaslah tentang teknis dan cara untuk menguasai gedung ini. Sebab, sudah tentu kalau menggunakan cover mahasiswa untuk masuk gedung ini akan sulit sekali.

Sementara itu dikirim pulalah informasi ke kampus masing-masing untuk persiapan dan mem-back up aksi ini.

Kesepakatan rapat adalah, pada hari Sening 18 mei delegasi FKSMJ akan datang ke gedung MPR/DPR dengan membawa statement yang intinya menuntut MPR untuk mengadakan Sidang Istimewa dan mencabut mandat terhadap Presiden Soeharto. Delegasi FKSMJ akan memutuskan menduduki/berada di gedung MPR/DPR sampai dipenuhinya tuntutan diadakannya Sidang Istimewa.

Sudah tentu dengan rombongan dan agenda seperti ini tidak akan mungkin kami bisa masuk ke Gedung MPR/DPR.

Akhirnya didapat cara untuk masuk ke gedung MPR/DPR RI dengan menumpang dalam rombongan rektor IKIP yang akan beraudiensi dengan pimpinan MPR/DPR RI Senin esok.

Sebenarnya direncanakan aksi pendudukan MPR/DPR akan dilaksanakan pada saat momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Tapi mengingat sudah bocornya tanggal tersebut dan beredar luasnya tentang aksi serempak mahasiswa dan rakyat di Monas, maka diputuskan untuk bergerak cepat dan mendahului tanggal 20 Mei dan difokuskan aksi mahasiswa di MPR/DPR. Diputuskan teknik keberangkatan dari IKIP Jakarta pada hari Senin, 18 Mei dan berkumpul jam 09.00 pagi.

Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh tahu tentang rencana aksi ini. segala informasi dirahasiakan. Kawan-kawan di kampus pun tidak ada yang tahu. Mengingat situasi pada saat itu yang sudah tidak menentu. Intel-intel sudah mulai berkeliaran. Aksi besar-besaran yang rencananya akan diadakan tanggal 20 Mei pada momen Hari Kebangkitan Nasional yang sudah keburu tersebar luas kemana-mana.

Hari Minggu malam 17 Mei itu, sebagian para Ketua/delegasi Senat Mahasiswa ada yang bermalam di IKIP, sementara yang lainnya pulang dan kembali ke kampus masing-masing untuk mensosialisasikan dan mempersiapkan pergerakan untuk menduduki MPR/DPR.

Hitungan wkatu dihitung dalam hitungan detik. Semua berpacu dalam irama percepatan waktu dan deguban dada. Terasa sekali dada ini berdegub kencang. Semua perencanaan aksi benar-benar diarahasiakan sekali, untuk menjaga jangan sampai bocor ke aparat. Mana teman mana lawan kita tidak tahu pasti waktu itu. Intel-intel sudah bertebaran dan berbaur ke dalam kampus-kampus. Ingat, bagaimana tertangkapnya intel yang menyusup di kampus IKIP Jakarta. Bukan tidak mungkin intel itu direkrut dari mahasiswa yang mungkin adalah teman kita sendiri. Segala informasi dijaga rapih sekali. Hari Seninnya direncanakan hanya mengirim perwakilan masing-masing kampus hanya dua orang saja sebagai tim perintis, salah satunya harus Ketua Senat Mahasiswa.

 

Senin, 18 Mei ’98

Dalam suasana tegang dan kelelahan aku tertidur di ruang Senat Mahasiswa BL. Dini hari, sekitar jam 3 aku dibangunkan oleh Kemas, yang waktu itu Ketua II Senat Mahasiswa. Ia membisiki untuk bersiap-siap untuk berangkat pagi-pagi sekali ke IKIP Jakarta. Julianto, Ketua Umum Senat Luhur. Jam 05.00 aku pulang sebentar ke rumah untuk mempersiapkan pakaian untuk beberapa hari. Suasana seolah-olah akan menuju perjalanan panjang dan tidak menentu kapan pulang.

Senin pagi itu, dari IKIP Jakarta dengan menaiki 2 bus metromini kami rombongan FKSMJ dengan koordinator lapangan (Korlap) Hanry Basel (Ketua Senat Mahasiswa IKIP Jakarta) mulailah berangkat ke MPR/DPR dengan mendompleng rombongan rektor IKIP Jakarta yang akan beraudiensi dengan pimpinan MPR/DPR. Tercatat ada sekitar 75 orang delegasi FKSMJ dari 43 kampus masuk ke MPR/DPR sebagai tim pionir.

Jam menunjukkan pukul sebelas ketika sampai. Suasana masih sepi, yang ada hanyalah para wartawan dan aparat keamanan yang mengawal ketat. Rombongan kami sempat ditahan pihak keamanan gedung. Setelah menunjukkan surat pemberitahuan dari kepolisian dan suara lantang dari dosen IKIP barulah kami diizinkan masuk.

Dengan humas MPR/DPR diadakanlah lobby dan negosiasi agar dapat bertemu dengan pimpinan Dewan. Permintaan tidak dikabulkan, dan hanya bisa ditemui oleh fraksi-fraksi. Kami menolak, yang kami inginkan agar bisa dipertemukan dengan pimpinan Dewan/Majelis yaitu Harmoko.

Siangnya, sementara negosiasi masih berlangsung, masuklah rombongan mahasiswa yang tergabung dalam Forkot (Forum Kota).

Akhirnya kami mengadakan jumpa pers, dan membacakan pernyataan sikap FKSMJ yang intinya menuntut MPR untuk mengadakan Sidang Istimewa dan mencabut mandat presiden Soeharto.

Karena desakan terus-menerus dari kami, akhirnya Harmoko sebagai pimpinan MPR/DPR dan pimpinan Dewan lainnya bersedia ditemui. Setelah pertemuan mereka mengadakan jumpa persa. Pimpinan Dewan meminta Soeharto secara arif dan bijaksana untuk mengundurkan diri. Terlihat raut pucat dari wajah mereka. Namun kami bergembira!

Rekan-rekan Forkot akhirnya memutuskan untuk pulang. Sementara kami memutuskan untuk menginap sampai diadakannya Sidang Istimewa dan berjanji akan mendatangkan massa esok harinya untuk mem-push pimpinan dan anggota Dewan/Majelis untuk segera menyelenggarakan Sidang Istimewa. Malam harinya Pangab (panglima ABRI)/Menhankam Jenderal Wiranto menyatakan bahwa pernyataan Harmoko adalah pendapat pribadi walaupun disampaikan secara kolektif. Malam itu pun kami menginap, tapi sampai kapankah…?

Benarkah akan diadakan Sidang Istimewa? Kami tidak tahu, dan Pangab sudah menganulir pernyataan pimpinan Dewan. Namun yang jelas kami semua sudah siap mati! Tumbal untuk harga Sidang Istimewa adalah para pimpinan Senat Mahasiswa. Kami masih ingat traumanya kasus 27 Juli 1996 dan desas-desus kami pun akan di-27 Juli-kan. Seandainya malam itu kami diserbu dan dibantai, kami sudah siap sedia. Seandainya para pimpinan senat mahasiswa ini dihabisi, maka pastilah akan besar akibatnya! Para mahasiswa tentu tidak akan rela dan marah besar jika pimpinannya dihabisi!

Lalu kami mencari posisi untuk mendirikan tenda kecil di pelataran dalam gedung, untuk tempat barang-barang. Sedangkan untuk tidur, hanya beralaskan jaket almamater masing-masing di lantai ubin yang dingin dan mengkilap. Malamnya psy warpun mulailah terjadi! Isu sweeping dan penyerbuan mendadak akan terjadi oleh aparat keamanan membuat suasana semakin tegang. Dengar-dengar kabarnya MPR/DPR sudah dikepung. Kami akan di-27 Juli-kan (Bagi yang tahu peristiwa 27 Juli 1996 tentu akan paham hal ini. Sudah tentu semua kami tegang dan kuatir. Apalagi ada info ada yang melihat seperti sinar laser sniper dari puncak gedung TVRI yang berada di sebelah gedung MPR/DPR.

Kami semua semakin tegang dan was-was.

Akhirnya dari Syarwan Hamid (pimpinan fraksi ABRI) kami mendapat jaminan bahwa beliau menjamin keselamatan mahasiswa dari teror dan penyerbuan aparat, dengan syarat mahasiswa tidak meledek aparat dan menjaga ketertiban. Di kemudian hari barulah kami tahu, ternyata malam itu Syarwan Hamid pun tak berani pulang malam itu. Kami tahu, pagi-pagi sekali kami melihat beliau masih berada di gedung dan ternyata bajunya belum diganti. Malam itu beliau disembunyikan di dalam gedung. Suasana semakin tidak jelas, apalagi sudah ada counter berita dari Panglima ABRI mengenai aksi dan statement di gedung MPR ini, dan nyatanya memang kami sudah dikepung malam itu.

Malam itu, dari salah satu teman yang membawa handphone (HP masih langka waktu itu) kami mendapat informasi-informasi yang berkembang dan semakin menegangkan. Beberapa orang teman sudah pasrah dan masing-masing memanjatkan doa dengan cara masing-masing. Ada juga salah satu teman yang mencoba memutuskan untuk melarikan diri, tapi setelah diberikan kesadaranoleh salah seorang teman, ia pun pasrah.

 

Bersambung nanti ya….

 

 


Read Full Post »

Tak terasa 9 tahun umur komunitas Tangan Di Atas (TDA), dari sekumpulan orang-orang yang punya visi-misi sama bagaimana membangun bisnis, berdiri di atas kaki sendiri. Berusaha menjadi orang-orang yang bermanfaat, menebar rahmat ke sesama. Menjadi tangan di atas. Sekarang TDA telah menjadi gerakan nasional tentang kemandirian ekonomi.Pesta Wirausaha TDA 2015

Sebentar lagi TDA akan merayakan kelahirannya. Jika dahulu perayaan ini diberi nama dengan milad TDA, beberapa tahun terakhir ini diberi nama dengan nama event: Pesta Wirausaha TDA (PW TDA). Ya, diberi nama Pesta Wirausaha karena memang event ini akan menjadi pestanya para wirausahawan di seluruh Indonesia. Jika dulu hanya perayaan sekumpulan orang, sekarang TDA telah berkembang dengan puluhan ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara.

Dari syukuran dengan tumpengan sekadarnya, dirayakan di panggung sederhana. Sekarang milad TDA dirayakan di panggung megah dan dirayakan oleh ribuan member dan pengunjung umum. Dari syukuran segelintir member, sekarang Pesta Wirausaha telah menjadi event nasional. Dihadiri dari seantero negeri. Dari semula pengisi acara hanya dari para pendiri dan penasihat TDA, sekarang diisi dan dihadiri oleh orang-orang hebat penggerak dan inspirator kewirausahaan.

Beberapa tahun telah berlalu semenjak saya bergabung dari masa-masa awal terbentuknya TDA. Dari sekadar pengamat sampai jadi penikmat TDA. Dari semula pasif sampai aktif dalam kegiatan-kegiatan TDA. Banyak hal-hal besar telah terjadi yang saya saksikan dalam perjalanan TDA selama ini, terutama dalam perkembangan hidup dan bisnis para membernya. Dari semula bisnis recehan sampai menjadi miliaran!

Setiap Pesta Wirausaha selalu saya nanti-nanti dan memastikan hadir. Kenapa? Karena disanalah saya bisa menyaksikan transformasi hebat para anggotanya. Dari semula tidak punya bisnis lalu punya bisnis sendiri. Dari semula karyawan sekarang malah sudah punya banyak karyawan. Dari semula tangan di bawah (sebutan untuk orang gajian) sekarang berubah menjadi tangan di atas (orang yang memberi gaji dan berkontribusi bagi sesama).

Bagi para pemula, di acara ini akan mendapatkan banyak inspirasi dan belajar dari para pakar dan orang-orang sukses. Anda akan bertemu orang-orang hebat dalam bisnis dan perubahan. Dan yang lebih hebatnya lagi, selain sukses mereka adalah orang-orang yang suka berbagi dan senang melihat orang lain sukses pula. Ada panggung-panggung motivasi, inspirasi sampai kelas-kelas atau sesi kecil tentang bisnis praktis. Ada pula stan-stan bermacam kuliner, fashion, teknologi dan berbagai macam bisnis.

Setiap PW TDA saya pastikan untuk hadir. Bukan sekedar bertemu teman-teman lama yang satu gerakan, tapi juga dari acara ini saya mendapatkan inspirasi, motivasi dan bertukar-pikiran. PW ini bukan sekedar ngumpul-ngumpul tapi juga pencerahan dan pergerakan.

Pesta Wirausaha ini adalah panggilan pulang bagi para member TDA untuk datang dan berkumpul kembali dan sharing. Berkumpul dalam rumah besar TDA.

Para pemimpin negeri boleh berganti, tapi para anak-anak muda penggerak kewirausahaan negeri ini akan terus bergerak. Para elit boleh datang dan pergi, tapi kami akan terus berjuang untuk negeri ini; dengan cara kami sendiri: TDA ways. Menjadi inspirasi, motor penggerak dan membangun negeri ini. Jika para politisi berkoar dengan jalan politik, maka pejuang TDA melakukan aksi nyata dalam bidang ekonomi. Menjadi mandiri dalam bidang ekonomi.

Jadi, yuk bagi para member TDA baik member jadulers (sebutan untuk member lama) maupun member baru mari kita ramaikan Pesta kita ini. TDA memanggilmu! Dan bagi para calon member atau peserta umum, yuk kita hadiri event nasional ini, dimana disana kita akan menyaksikan berkumpulnya para orang-orang hebat seantoro negeri. Sebab, ada pepatah lama berkata: Jika anda berkumpul dengan penjual minyak wangi maka Anda pun akan tertular wanginya. Dan jika anda ingin menjadi oranghebat maka berkumpullah dengan orang-orang hebat.

Sebab kesuksesan itu adalah bertemunya kesempatan dengan kesiapan.

Yuk, luang waktu Anda 3-5 April 2015 untuk menghadiri Pesta Wirausaha, pestanya kita semua. Info acara sila kunjungi: http://pestawirausaha.com

 

 

Read Full Post »

22 Pebruari lalu, saya ikutan street photo hunting yang digagas komunitas The Ribets bersama beberapa kelompok fotografi lainnya. Kami blusukan mengitari kota Bogor, menelusuri jalan-jalan yang tidak umum dilalui. Masuk keluar kampung-kampung. Kampung-kampung yang seolah tiada menyisakan lagi sisa tempat di belahan Bogor, sampai-sampai tebing, pinggir jurang ditumbuhi oleh jejaran rumah-rumah penduduk yang seperti kehabisan lahan.

Jalan-jalan hunting foto ini bukanlah jalan-jalan biasa. Tak ada model cantik, ataupun obyek-obyek hunting foto pada umumnya, atau sekte penggemar merek kamera tertentu. Yang ada, peserta diajak jalan-jalan menyusuri kota, masuk keluar kampung, naik-turun tebing menyusuri kali yang membelah perkampungan di Bogor. Memotret dinamika warga, bercengkrama dengan bocah-bocah kampung, melihat tempat-tempat ibadah dan segala kehidupan kota Bogor.

Acara hunting foto ini diberi nama Gentayangan, dan kali ini sudah memasuki tahun atau seri kelima.

Berikut rekaman foto-foto sepanjang perjalan waktu itu:

Kepala Suku wak Awaludin memberikan arahan

Pedagang mainan

 

Hmm…. apa ya. yang pas deskripsi untuk foto ini…???

 

Menyusuri pinggir kota

 

Masuk kampung

 

Masuk keluar kampung

 

Ayoo kita pada ngumpul….

 

Mari bercengkrama ria…

 

A: Hayoo.. siapa nama walikota Bogor? Tahu nggak? B: Hmm…. ???

 

Kuis untuk anak-anak

 

Foto rame-rame…

 

Ngumpul

 

Bercengkrama sesama peserta

 

Kumpul

 

DSC_0010

Kumpul

 

Kumpul

 

Ketemu teman lama…

 

Bocah kampung tapi kota

 

20150222_161208

Menonton ada orang masuk kampung

 

Menyusuri tebing

 

Menghubungkan 2 batas

 

2 Batas

 

Jembatan warga

 

Horizon

 

Anak kampung tapi kota

 

Kampung Kota

 

Masjid pinggir sungai

 

Lilin untuk keluarga. Lokasi Vihara Bogor

 

Jembatan merah

Banyak kenangan dan rekaman pada perjalanan ini. Namun sayang, acara yang rutin setiap tahun dan menjadi kalender wajib bagi para peserta ditandai jauh-jauh hari untuk ikut harus berakhir kali ini. Gentayangan yang ke-5 harus berakhir dan tak akan diulangi lagi…..

 

 



 







 

 

 

Read Full Post »

Kopi, Hujan, dan Banjir

Hujan dari semalam, basah dan dingin dimana-mana. Malas keluar, membuat saya cuma berdiam diri saja di rumah. Sambil menyelesaikan beberapa kerjaan, multitasking melihat status teman-teman di media sosial.

Kopi, macet, banjir dimana-mana. Itulah update paling banyak yang terbaca di media sosial. Selain kopi, tentu saja status-status tadi ujung-ujungnya mengerucut ke pimpinan Jakarta dan Republik ini.

Mengenai kopi, tentu saja hujan-hujan dan dingin-dingin begini merangsang sekali begitu melihat kopi hitam kental terhidang di secangkir kopi. Walau bukan maniak kopi, tapi saya terbiasa minum kopi dari kecil. Sudah tentu kopi asli, bukan jenis sachetan atau instan. Beberapa varian kopi jadi koleksi saya, bahkan sampai membeli alat french press untuk menghidangkan kopi serta membeli alat grinder untuk mengiling kopi agar bisa mendapatkan rasa kopi yang segar dan mantap.

Kopi, satu teman yang asik menemani hujan begini.

banji-jktLalu, status banjir mengepung Jakarta. Di beberapa titik banjir melanda Jakarta. Sampai-sampai istana negara pun tak luput dari banjir ini. Sempurna sudah alam atau Tuhan menguji pemimpin yang dipilih rakyat untuk memimpin Jakarta. Seolah sebagai pembuktian, bahwa mereka yang dulunya berkata begitu mudah menyelesaikan persoalan Jakarta dan persoalan Indonesia.

Dulu, ketika masih menjadi pemimpin lokal para pemimpin ini begitu mudahnya bilang: mudah dan gampang itu menyelesaikan persoalan Jakarta. Beri saja kami kesempatan maka akan selesai! Lalu, rakyat jelata begitu saja percaya dan lalu memberikan mandat Jakarta. Kalau nggak percaya baca aja beritanya di link ini. Kemudian ketika berhasil mempimpin Jakarta, tapi ternyata tidak berhasil juga. Malah bilang lagi, masalah ini akan bisa diatasi kalau beliau bisa jadi presiden, baca link ini.

Dan ketika macet semakin parah di Jakarta. Banyak kritik dan komentar bertebaran, pemimpin ini dan para pendukungnya berciloteh, persoalan Jakarta tak bisa diselesaikan hanya dengan kekuasaan Jakarta. Harus menjadi orang nomor satu di republik ini agar mudah menyelaikan carut-marut Jakarta. (Baca link ini: Jokowi: Macet dan Banjir Lebih Mudah Diatasi jika Jadi Presiden). Lalu, kembali rakyat jelata ini terpesona dan menyerahkan kursi nomor satu negeri ini.

Dan ketika Jakarta dan republik ini sudah dikuasai, seolah sang waktu semakin membuktikan kualitas orang-orang yang terpilih ini. Baik yang di parlemen maupun pemerintah seolah sama saja. Konflik parlemen, pertikaian Polri-KPK, dan sekarang banjir malah melanda.

Boleh-boleh saja kita tidak serta-merta menyalahkan para pemimpin ini atas musibah atau gejolak krisis negeri ini. Tapi rakyat tentu saja ada yang tidak lupa, bahwa mereka ini dulu jumawa pernah berkata, beri saya kesempatan maka saya dengan mudah menyelesaikan persoalan Jakarta—dan Indonesia.

Sebuah kesombongan dijawab oleh alam. Katanya mudah mengataasi Jakarta, lalu dijawab oleh Alam (mungkin oleh Tuhan) dengan hujan lebat dan banjir dimana-mana. Lalu, sang Gubernur mudah saja menjelaskan bahwa ini adalah sabotase.

Kebohongan mobil Esemka dan niat memajukan mobil nasional, lalu tekad kuat untuk mengatasi krisis macet Jakarta dan sumpeknya jalanan Indonesia oleh mobil-mobil non mobnas terjawab sudah. Sang Presiden sudah menyepakati dengan ditanda-tanganinya kerjasama antara pihak Malaysia dengan pihak swasta Indonesia—yang ternyata beliau ini adalah orang kuat tim sukses sang presiden (lagi-lagi kolusi). Esemka entah kemana, mobil nasional entah kemana pula konsepnya. Yang ada malah membuka kerjasama memasukkan mobil Malaysia ke Indonesia.

Inilah ironi negeri ini. Dan..tentu saja masih ada yang percaya dan berharap….

Read Full Post »

BBMTadi pagi saya belanja ke pasar, isteri nitip belanja beberapa item untuk masak. Ketika hendak membayar belanja ke kedai belanja, saya kaget ternyata uang 50 ribu tidak cukup lagi untuk belanja beberapa bumbu seperti cabe, bawang, daun bawang, sayuran,  sedikit kentang , dan petai:). Cuma belanja itu saja, tidak termasuk lauk-pauknya karena sebelumnya isteri sudah belanja lauk-pauk di swalayan.

Jika beberapa waktu lalu uang 30ribuan sudah cukup banyak untuk belanja beberapa tambahan pelengkap masak, sekarang uang 50 ribu minimal untuk hal ini. Harga-harga naik tinggi, rakyat semakin sulit untuk membeli.

Saya membayangkan, bagaimana kalau masyarakat yang berpenghasilan lebih kurang 50 ribu perhari. Bahkan masih banyak yang penghasilan kurang dari itu. Apa yang bisa mereka beli? Belum lagi beras, minyak, gas, serta kebutuhan keluarga seperti uang jajan anak, uang sekolah, kontrakan dan sebagainya.

Pemerintah telah menaikkan harga BBM. Maka harga-harga lainnya membubung ikut tinggi.

Bagi kelas menengah, atau karyawan yang bergaji tinggi sebagian mereka no problem dengan kenaikan harga BBM ini. Bagi mereka, kalau pun toh BBM naik tinggal minta sama bos kenaikan gaji. Beres masalah. Tapi bagi rakyat berserak yang gajinya di bawah 100.000 atau lebih kurang 50.000 perhari, ini adalah cekikan yang pelan-pelan menghabiskan napas mereka. Belum lagi masih banyak yang pendapatannya di bawah 50ribuan perhari.

Pemerintah berdalih bahwa kenaikan BBM ini untuk rakyat kecil juga. Subsidi selama ini ke BBM dialihkan ke bantuan tunai ke masyarakat. Tapi, bukankah dengan begitu telah mengajarkan masyarakat untuk jadi mengemis dan merendahkan diri mereka dengan ikut mengantri beramai-ramai dan berjam-jam demi hanya mendapatkan uang tunai yang tidak seberapa?

Yang dibutuhkan rakyat bukan bagi-bagi uang, tapi daya beli dan stabilitas ekonomi. Apalah arti uang yang hanya beberapa ratus ribu saja, jika selepas dari loket mereka ke pasar mendapati harga-harga barang malah semakin tinggi? Kenaikan BBM adalah pemicu, menjadi lokomotif bagi kenaikan harga-harga lainnya. Otomatis harga-harga lain juga ikut naik.

Kembali ke masalah subsidi BBM. Saya tidak perlu beragumentasi dengan cara para intelektual yang memainkan data demi membenarkan atau menentang kenaikan harga BBM.

Bukankah rakyat berhak atas harga BBM yang murah? Jika di beberapa negara maju dan beradab harga BBM murah lalu kenapa di negeri ini malah mahal? Bukankan fungsi  adanya negara demi menjamin kesejahteraaan buat rakyatnya? Jika negara atau pemerintah tidak bisa lagi menyejahterakan rakyatnya, maka jangan disalahkan jika beberapa warganya pindah warga negara dan kuatirnya nanti beberapa wilayah terluar lebih memilih bergabung dengan negara tetangga.

Jika alasannya selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran dan hanya dinikmati oleh segelintir orang, lah itu bukan alasan untuk memahalkan harga BBM. Bukankah itu masalah pemerintah yang tidak bisa mengatur distribusi, hanya orang-orang mampu yang menikmati, dan mengapa sampai bocor diperjual-belikan dan disalahgunakan oleh beberapa gelintir orang/mafia dengan memperdagangkan BBM subsidi? Bukankan ini seperti peribahasa orang-orang dulu, buruk muka, lalu cermin dibelah? Pemerintah tidak bisa urus dirinya lalu kenapa rakyat berserak yang disalahkan dan menanggung  derita?

Toh,  kalau pun BBM subsidi selama ini dinikmati oleh orang-orang mampu berkendaraan bagus. Boleh-boleh saja ‘kan? Jangan salahkan mereka jika membeli BBM murah itu ‘kan hak mereka sebagai rakyat? Bagaimana tidak mereka akan beli BBM murah, sebab dengan kondisi jalan raya yang macet parah akan memakan boros BBM? Orang-orang tentu akan berhitung dalam pembelian dan pemakaian BBM. Bagaimana rakyat tidak akan berlomba-lomba naik kendaraan pribadi, jika transportasi umum tidak memadai dan malah menyengsarakan? Sudah tentu orang akan nyaman naik kendaraan pribadi dibanding naik kendaraan umum yang mana penumpang di dalamnya ditumpuk seperti ikan di kaleng sardine? Belum lagi kejahatan dan gangguan lainnya?

Seandainya negeri kita seperti negara tetangga atau pun negeri-negeri beradab lainnya. Dimana transportasi umum begitu menyenangkan dan murah. Tentu saja rakyat akan dengan senang hati menaruh mobil-mobil pribadi di rumah dan naik kendaraan umum.

Seharusnya transportasi umum dibenahi dulu, jalan-jalan diperbaiki dan layak dipakai, daya beli kuat dulu, baru bicara kenaikan harga BBM.

Boleh saja pemerintah beralasan bahwa kenaikan BBM ini adalah warisan pemerintah sebelumnya dan karena ada kesepakatan dengan pihak internasional untuk menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi. Lalu pertanyaan terakhirnya, pemerintah ini sebenarnya berpihak kepada siapa sih? Rakyat atau kapitalisme internasional?

Lalu dimana jargon Trisakti yang selalu didengung-dengungkan: berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya.

Pada akhirnya, untuk memahami derita rakyat, memang kita harus terjun langsung ke bawah.  Main dan ikut belanja ke pasar-pasar, pergi ke sekolah-sekolah dan tempat lainnya rakyat berkumpul. Bukan semata sekedar lewat, senyum-senyum dan pencitraan belaka.

Dengan blusukan singkat ke pasar pagi ini, setidaknya saya jadi mengerti dan berempati, betapa tangguhnya para ibu rumahtangga kita dalam menyiasati belanja sehari-hari di tengah keterbatasan uang belanja dari suami….

Bagi para suami, mari semangat terus bekerja! ;)

 

Read Full Post »

Ini Capresku, Capresmu…?

choiceBeberapa waktu akhir ini saya melihat betapa media social, media tv, grup dan komunitas begitu serunya dukung-menentang, jelek-membela para capres. Cuma dua calon presiden sekarang ini, tapi betapa telah terbelah besar negeri ini. Isi wall FB, Twitter, grup-grup seru sekali dengan posting-posting capres ini.

Inilah produk demokrasi salah kaprah yang kita terapkan di negeri. Demokrasi betapa menjunjung individualisme lalu melupakan semangat kolektivisme—kegotong-royongan kita. Hilang sudah musyawarah untuk mufakat warisan nenek moyang kita.

Lupa begitu saja pada cita-cita the founding father kita. Lupa kita pada semangat Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, H. Agus Salim dan para pendiri bangsa lainnya. Kalau pun ingat, cuma sekedar mengutip-ngutip saja pikiran Bung Karno dan founding father lainnya, tentang Trisakti, Pancasila dan sebagainya tapi lupa pada esensi dan ruh dari pemikiran mereka.

Karena kadung berdemokrasi liberal seperti sekarang ini, memang sulit menemukan pemimpin sejati saat ini. Yang terjadi betapa dalam setiap pemilihan umum baik legislatif, kepala daerah atau presiden betapa bergolaknya negeri ini.

Nah, dalam konteks memilih presiden sekarang ini kita memang dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Di satu sisi dianggap ada calon yang begitu merakyat, di satu sisi lagi ada calon yang dianggap tegas yang diperlukan saat ini.

Dalam menentukan pilihan, sederhananya saya menggunakan nasehat para ulama yang menetapkan kriteria:

  1. Jika ada yang sama-sama baik maka pilihlah yang terbaik
  2. Jika ada yang buruk dan baik maka pilihlah yang baik
  3. Jika sama-sama buruk maka pilihlah yang sedikit keburukannnya (mudhorat).

Idealnya kita menginginkan kriteria yang pertama. Tapi jika tidak ada pilihan terbaik saat ini kita bisa menggunakan kriteria-2 dan kriteria-3.

Kemudian dalam memilih Pemimpin, kita bisa mengambil model yang ada pada Rasulullah Saw:

  1. Jujur, lawan dari kata dusta. Ia memiliki kecocokan sesuatu dengan fakta, tidak asal ngomong. Tidak suka pula memelintir fakta.
  2. Amanah, dapat dipercaya tidak ingkar. Mengenai nilai amanah, Daniel Goleman mencatat beberapa ciri orang yang memiliki sifat tersebut:
    • Dia bertindak berdasarkan etika dan tidak pernah mempermalukan orang
    • Membangun kepercayaan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnian/kejujuran)
    • Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain
    • Berpegang kepada prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak disukai serta memiliki komitmen dan menepati janji
    • Bertangung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta terorganisir dan cermat dalam bekerja. (Goleman, 1998)

    Amanah berkaitan erat dengan tanggungjawab. Terhadap kepercayaan yang diberikan apakah dia khianat, atau lari atau melepaskan diri dari tanggungjawab.

  3. Tablig (komunikatif), mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Termasuk dia juga harus mampu menyampaikan kebenaran walaupun pahit.
  4. Fathonah (Cerdas). Pemimpin harus punya kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat. Dia punya kemampuan mendefinisikan, atau mengidentifikasi, menganalisa dan menyediakan solusi terhadap masalah. Tidak harus sampai detil, seorang jenderal tak harus paham sampai hal-hal kecil. Seorang direktur tidak harus paham soal pritil-pritil. Dia cerdas mendelegasikan wewenang pada pihak yang kompeten.

Saya rasa, dengan kriteria-kriteria yang saya sampaikan di atas Anda sudah bisa menentukan pilihan. Yang penting harus obyektif tidak subyektif pada suka atau tidak suka pada perasaan belaka.

Nah, mengenai pilihan capres saya siapa? Saya pikir Anda sudah paham ‘kan…? He..hehe..

 

 

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.953 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: