Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Indonesia’ Category

Ini Capresku, Capresmu…?

choiceBeberapa waktu akhir ini saya melihat betapa media social, media tv, grup dan komunitas begitu serunya dukung-menentang, jelek-membela para capres. Cuma dua calon presiden sekarang ini, tapi betapa telah terbelah besar negeri ini. Isi wall FB, Twitter, grup-grup seru sekali dengan posting-posting capres ini.

Inilah produk demokrasi salah kaprah yang kita terapkan di negeri. Demokrasi betapa menjunjung individualisme lalu melupakan semangat kolektivisme—kegotong-royongan kita. Hilang sudah musyawarah untuk mufakat warisan nenek moyang kita.

Lupa begitu saja pada cita-cita the founding father kita. Lupa kita pada semangat Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, H. Agus Salim dan para pendiri bangsa lainnya. Kalau pun ingat, cuma sekedar mengutip-ngutip saja pikiran Bung Karno dan founding father lainnya, tentang Trisakti, Pancasila dan sebagainya tapi lupa pada esensi dan ruh dari pemikiran mereka.

Karena kadung berdemokrasi liberal seperti sekarang ini, memang sulit menemukan pemimpin sejati saat ini. Yang terjadi betapa dalam setiap pemilihan umum baik legislatif, kepala daerah atau presiden betapa bergolaknya negeri ini.

Nah, dalam konteks memilih presiden sekarang ini kita memang dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Di satu sisi dianggap ada calon yang begitu merakyat, di satu sisi lagi ada calon yang dianggap tegas yang diperlukan saat ini.

Dalam menentukan pilihan, sederhananya saya menggunakan nasehat para ulama yang menetapkan kriteria:

  1. Jika ada yang sama-sama baik maka pilihlah yang terbaik
  2. Jika ada yang buruk dan baik maka pilihlah yang baik
  3. Jika sama-sama buruk maka pilihlah yang sedikit keburukannnya (mudhorat).

Idealnya kita menginginkan kriteria yang pertama. Tapi jika tidak ada pilihan terbaik saat ini kita bisa menggunakan kriteria-2 dan kriteria-3.

Kemudian dalam memilih Pemimpin, kita bisa mengambil model yang ada pada Rasulullah Saw:

  1. Jujur, lawan dari kata dusta. Ia memiliki kecocokan sesuatu dengan fakta, tidak asal ngomong. Tidak suka pula memelintir fakta.
  2. Amanah, dapat dipercaya tidak ingkar. Mengenai nilai amanah, Daniel Goleman mencatat beberapa ciri orang yang memiliki sifat tersebut:
    • Dia bertindak berdasarkan etika dan tidak pernah mempermalukan orang
    • Membangun kepercayaan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnian/kejujuran)
    • Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain
    • Berpegang kepada prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak disukai serta memiliki komitmen dan menepati janji
    • Bertangung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta terorganisir dan cermat dalam bekerja. (Goleman, 1998)

    Amanah berkaitan erat dengan tanggungjawab. Terhadap kepercayaan yang diberikan apakah dia khianat, atau lari atau melepaskan diri dari tanggungjawab.

  3. Tablig (komunikatif), mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Termasuk dia juga harus mampu menyampaikan kebenaran walaupun pahit.
  4. Fathonah (Cerdas). Pemimpin harus punya kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat. Dia punya kemampuan mendefinisikan, atau mengidentifikasi, menganalisa dan menyediakan solusi terhadap masalah. Tidak harus sampai detil, seorang jenderal tak harus paham sampai hal-hal kecil. Seorang direktur tidak harus paham soal pritil-pritil. Dia cerdas mendelegasikan wewenang pada pihak yang kompeten.

Saya rasa, dengan kriteria-kriteria yang saya sampaikan di atas Anda sudah bisa menentukan pilihan. Yang penting harus obyektif tidak subyektif pada suka atau tidak suka pada perasaan belaka.

Nah, mengenai pilihan capres saya siapa? Saya pikir Anda sudah paham ‘kan…? He..hehe..

 

 

Read Full Post »

Sampah dan Sapu

sapu-sampahBegitu banyak sampah berserakan di halaman rumahku. Hanya sapu yang kuatlah yang akan bisa membersihkannya. Sebab, kalau ia lembek dan lemah maka ia akan menjadi sampah itu sendiri….

Read Full Post »

Namanya, Sarbini saja. Satu kata, seperti nama-nama orang besar atau yang pernah tercatat di sejarah. Saya yakin, beliau pun juga akan mencatatkan namanya sebagai salah satu orang besar. Coba perhatikan: Ibrahim, Muhammad, Sukarno, Syailendra, Suharto (yang ini kontroversi), hanya satu kata nama saja. Profil beliau, selain di http://sarbini.net, bisa juga dilihat di Facebook pada link ini atau link ini.

Anak Banten, yang lahir dari kampung Onyam, Tangerang ini melewatkan masa kecilnya di kampung. Menamatkan SMP di pondok pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI), Bangil-Jawa Timur. Lalu dia menghabiskan masa remajanya di pondok pesantren Daar el-Qalam, Tangerang yang dilanjutkan dengan menamatkan pendidikan S1 di Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) 1945 Jakarta.

Saya mengenalnya sejak perjuangan tahun ’98. Mantan Ketua Senat Mahasiswa dan Presiden Mahasiswa UNTAG ’45 Jakarta ini adalah aktivis dan pejuang tulen. Koordinator FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahaiswa se-Jakarta) tahun 1998 ini adalah motor, inspirator dan motivator perjuangan mahasiswa. Sosoknya yang low profile acap kali hilang dari liputan dan wawancara media massa.

Saya ingat, ketika Jakarta membara pada medio Mei ’98. Konstalasi politik tidak menentu pasca resesi ekonomi dan penembakan (pembunuhan?) mahasiswa serta bumi hangus Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat ingin menyampaikan aspirasi ke gedung DPR/MPR, tapi terhalang oleh pagar duri dan hadangan tentara bersenjata lengkap. Tak ada celah untuk bisa masuk kesana. Demo-demo mahasiswa hanya bisa terjadi di dalam kampus saja, tak bisa keluar karena dijaga aparat bersenjata.

Saya ingat, kami para pentolan pimpinan berbagai kampus Jakarta. Para Ketua-ketua Senat Mahasiswa atau perwakilannya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) berkumpul di IKIP Jakarta, lalu menyusup dalam rombongan rektor IKIP Jakarta masuk ke Gedung DPR/MPR. Saat itulah kepemimpinan dan ketokohan Sarbini terlihat. Bertindak sebagai juru bicara FKSMJ, beliau dan kami mendesak pimpinan DPR/MPR meminta agar Suharto mundur dari Presiden Republik Indonesia dan diadakan Sidang Istimewa segera!

Saya menyaksikan, betapa pucat dan gugup muka Harmoko dan pimpinan Dewan yang lain, atas desakan mahasiswa menyampaikan agar Suharto mundur dari Presiden. Hasilnya, reaksi hebat para elit pemerintah dan aparat terhadap seruan ini. Wiranto sebagai Pangliman ABRI waktu itu langsung bereaksi bahwa seruan itu adalah seruan pribadi dan siap melindungi keluarga Suharto.

Kami memutuskan menginap di gedung DPR/MPR, dalam kepungan tentara bersenjata dan sniper yang mengincar di malam hari. Saking mencekamnya disana, sampai Syarwan Hamid dari Fraksi ABRI di DPR/MPR tidak berani keluar dari sana.

Ah, betapa mencekam malam itu. Bayangan peristiwa 27 Juli masih saja terbayang di mata. Apakah kami akan berakhir seperti ini?

Nostalgia, ya kenangan itu begitu melekat pada diri saya dengan Sarbini sebagai salah satu tokoh sentral dalam aksi ini.

Singkat cerita, akhirnya Suharto pun tumbang digantikan Habibie yang penuh kontoversi. Mahasiswa terpecah dukung-mendukung dan menentang dengan meminta sidang istimewa MPR atau membentuk pemerintahan transisi atau pemerintahan rakyat. Isu berkembang menjadi fitnah, bahwa yang menentang Habibie adalah kelompok komunis. Kami pun dipetakan dalam grup komunis ini.

Tapi mana mungkin Sarbini, jebolan pesantren murid kesayangan kiyai bisa menjadi komunis? Dalam forum-forum diskusi dan seminar, lugas dan cerdas Sarbini menjawab fitnah dan tuduhan ini.

Kami menyebut Sarbini dengan istilah Buldozer. Ya, beliau adalah jagonya dalam retorika dan berorasi. Dalam setiap forum, beliau mampu melabrak para elit yang pasca runtuh Suharto mengklaim sebagai pihak yang paling berjasa dalam menjatuhkan Orde Baru, dan mengklaim sebagai “orang” dibalik gerakan mahasiswa. Sebagai pelaku langsung di lapangan, Sarbini tentu saja perlu meluruskan hal ini. Gerakan mahasiswa bersih dari kepentingan elit!

Kami menyebut dia si Buldozer! Argumentasinya jelas dan logikanya benar. Tentu saja para oportunis yang main di forum-forum mati kutu olehnya.

Pasca jatuhnya Suharto, gerakan mahasiswa masih melakukan reli-reli aksi. Sarbini masih saja berada di garis terdepan. Beliau mempelopori pertemuan-pertemuan ketua senat mahasiswa dan perwakilan mahasiswa secara nasional untuk menghasilkan sinergi perjuangan.

Ketika pemerintah tak lagi legitimate maka perlu dicari pemimpin alternatif, yang bisa menyatukan semua perbedaan dan menghindarkan Indonesia dari perpecahan dan kehancuran. Sarbini adalah salah satu orang yang menjadi otak dari pertemuan para tokoh bangsa dan mendorong mereka untuk bertemu. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Deklarasi Ciganjur. Dimana, dari pertemuan inilah naiknya popularitas Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Sri Sultan HB IX.

Sayang, tak banyak diharap dari pertemuan tokoh ini. Mereka masih takut untuk maju memimpin alih kepemimpinan nasional. Semenjak itulah kami menyatakan tidak lagi percaya kepada para elit, dan menyerukan POTONG SATU GENERASI!.

Sarbini adalah sahabat saya, yang lahir dari kancah perjuangan. Ketika mahasiswa terpecah dalam isu dukung-mendukung Habibie, menentang dan mendukung Sidang Istimewa, beliau tampil beda dengan argumentasi yang cerdas logis. Beliau belajar dari guru terbaik, dan tentu saja semua apa yang disampaikannya tak terbantahkan!

Pasca reformasi ’98, sebagian mahasiswa balik ke kampus dan sebagian lagi sibuk dengan perjuangan. Ada juga yang masuk ke gelanggang politik praktis. Berbeda dengan Sarbini, ketika berbagai tawaran datang masuk afiliasi politik, sampai tawaran beasiswa dan dukungan dana dari berbagai funding. Beliau masih tetap dalam jalur independen dan bersih dari kepentingan praktis.

Ketika beberapa teman bergabung dengan berbagai partai politik, atau melanjutkan kuliah di luar negeri, Sarbini memilih mematangkan dan menyiapkan diri. Beliau belajar dari guru terbaik, dari aktivis angkatan ’60an, ’70an sampai ’80an. Mahasiswa kesayangan dari Prof. Sri Soemantri, guru besar ilmu hukum tata negara ini kuat dalam landasan ilmiah. Murid kesayangan kiyai di pondok pesantren ini, kuat dalam dalam argumentasi agama dan ilmiah. Sehingga ketika pertentangan mahasiswa membelok ke isu politik, ekonomi sampai agama, maka Sarbini bisa selamat dan menang dalam hal ini.

Kematangan politik dan basis massa Sarbini teruji dalam perjuangan. Beliau adalah tokoh yang menjadi tangan kanan Sarwono Kusumaatmadja yang berhasil memenangkan dan mengantarkan Sarwono maju sebagai wakil DKI Jakarta pada DPR MPR RI periode 2004-2009. Sampai akhirnya dipercaya menjadi staf ahli parlemen di DPD bidang politik mendampingi Ir. Sarwono Kusumaatmadja.

Sekarang, setelah merasa saatnya tiba dan matang, beliau maju membawa aspirasi rakyat Jakarta sebagai calon legislatif DPR RI dari Partai Hanura. Dengan dukungan penuh dari KH. Drs, Ahmad Syahiduddin selaku pimpinan Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Sarbini bertekad akan membawa dan membela kepentingan rakyat.

Tak diragukan lagi, saya percaya dengan latar belakang perjuangan yang teruji maka Sarbini akan mampu membawa aspirasi rakyat ke DPR MPR RI.

Selamat berjuang sahabat, kami para sahabatmu akan mendukungmu!

Wassalam,
Helsusandra Syam

http://hensyam.com

Koordinator FKSJM (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta) tahun 2000.

Read Full Post »

Tulisan ini  masuk nominasi Lomba Penulisan Characterpreneur yang diadakan oleh Komunitas Tangan Di Atas dalam rangka acara Pesta Wirausaha 2012
————————————————————————————————–
Pengantar

Characterpreneur, adalah singkatan yang berasal dari 2 suku kata yaitu character dan enterpreneur. Character, menurut kamus Poerwadarminta adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan , akhlak ataupun budi pekerti yang mencirikan seseorang..

Secara bahasa, pengertian enterpreneur secara umum adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan.

Secara sempit enterpreneur dipandang adalah seorang pedagang (businessman). Namun pengertian/pendapat Joseph Schumpeter dipakai oleh banyak kalangan luas. Yaitu, seorang enterpreneur tidak selalu pedagang atau seorang manager; ia adalah orang yang unik yang berpembawaan pengambil resiko dan yang memperkenalkan produk-produk inovatif dan teknologi baru ke dalam perekenomian.

Selain konteks bisnis, kita juga mengenal yang namanya social enterpreneur. Social enterpreneur, dimotivasi oleh keinginan untuk membantu, meningkatkan dan mengubah lingkungan sosial

Secara bebas, menurut saya pengertian character-enterprener, selanjutnya disingkat menjadi characterpreneur adalah seseorang atau kelompok yang mengadakan usaha inovatif yang mempunyai karakter atau watak khusus yang mulia, yang memberikan manfaat perubahaan pada lingkungan atau masyarakatnya.

Pengusaha yang Berkarakter

Mengutip ucapan Nietzsche, “Seni demi seni, ilmu demi ilmu atau puisi demi puisi adalah kedok yang digunakan untuk menutupi watak jahat seniman atau ilmuwan serta memberikan pembenaran atas sikapnya dalam menghindari tanggungjawab sosial.” Kalau saya perluas, “Bisnis demi bisnis adalah kedok jahat yang digunakan oleh pengusaha untuk menutupi sifat jahatnya serta memberikan pembenaran atas sikapnya mencari untung dan menghindari tangungjawab sosial.”

Kalimat di atas memang sedikit keras, tapi hal ini perlu dijelaskan. Karena dalam hidup ini tidak ada yang namanya bebas nilai. Ada kaidah lain yang melekat pada bisnis. Sebab pada sebuah realitas ada motif di belakang penciptaannya. Ekonomi sebagai sebuah ilmu, adalah suatu cabang dari filsafat; sebagai sebuah pencarian manusia atas realitas, lingkungan, penciptaan sesuatu, dan atas “Sesuatu” yang melingkupi segala sesuatu.

Ketika agama datang, sesungguhnya pada prinsipnya filsafat telah selesai. Terjawab sudah pertanyaan mendasar manusia. Para Rasul datang membawa nilai yang melengkapi semua persoalan manusia, memberi nilai atas semua tindak, dan sifat atau karakter manusia. Tidak semata tata ibadah syariah belaka tapi termasuk nilai hidup dalam bermasyarakat dan berdagang dibawanya.

Kegiatan ekonomi atau perdagangan telah ada sebelum zaman kenabian terakhir. Sudah tentu masyarakat zaman itu telah punya karakter atau akhlaknya sendiri. Lalu Nabi Saw yang berlatar pedagang datang membawa misi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Contoh terbaik adalah para Nabi dan Sahabat Nabi. Hampir semua Nabi dan sahabatnya adalah para pedagang. Mereka telah menyontohkan adab dan akhlak berdagang. Tidak semata mencari keuntungan, tapi juga membangun sosial kemasyarakatan. Ada kaidah-kaidah yang dibawa mereka.

Menjadi seorang pengusaha tidaklah semata memikirkan untung-rugi belaka yang hanya dihitung secara matematis ekonomi. Dia haruslah menghitung juga secara matematis sosial. Setiap barang yang diproduksi, tidak dipikirkan semata mencari untung, tapi adakah akibat negatif pada masyarakat yang ditimbulkannya? Pada setiap produk yang dijual, adakah racun atau candu di dalamnya? Pada setiap media yang dikeluarkannya, adakah berdampak pada kerusakan generasi?

Mudah saja mengimpor produk luar dengan harga murah, banyak untung yang akan didapat. Tapi tak terpikirkah bahwa ada sekian banyak petani, nelayan dan pedagang lokal yang akan terkapar kalah? Produksi saja konten yang mengikut selera dasar primitif manusia, tapi terpikirkah bahwa sama saja kita telah merusak sekian generasi?

Pada hari ini kita gampang saja menemukan banyak pengusaha yang sukses dengan bisnisnya. Banyak orang kaya atau konglemerat yang muncul. Sebagai seorang pengusaha pemula, mudah saja kita menjadikan mereka sebagai idola dan menjadikannya model dalam berusaha. Tapi pernahkah kita secara kritis menilai mereka? Sudahkah usaha yang dijalankannya beretika dan bernilai secara sosial serta apa efek jangka panjang yang ditimbulkannya?

Karakter yang mulia haruslah melekat pada diri seorang Pengusaha.

Pengusaha yang berkarakter mulia haruslah visioner, idealis, jujur, amanah, tidak semata mencari untung jangka pendek. Dia tidaklah semata mengikut kepada selera pasar. Kalau perlu dia membentuk pasar (social engineering). Pengusaha yang mulia tidaklah menjadikan manusia sebagai obyek pencari keuntungan. Ia mempunyai misi dalam hidupnya.

Bisnis tidaklah bebas nilai, ia haruslah berpegang pada landasan moral etika. Tidak berprinsp sekuler dalam bisnis. Memisahkan kegiatan ekonomi dari moral-etika, dan lupa pada efek sosial dan kebudayaan.

Tangan Di Atas Sebagai Sebuah Ideologi, eh Gerakan Perubahan

Nabi Muhammad Saw pernah menyatakan bahwa, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Terinspirasi oleh hadis ini tercetuslah sebuah komunitas yang bernama Tangan Di Atas (TDA), sebagai sebuah kelompok yang senang berbagi dan berbagi senang dengan memilih berwirausaha sebagai aktivitas para anggotanya.

Menyambung dengan hadis Nabi Saw yang lainnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. TDA mendefinisikan caranya sendiri menjadi manfaat bagi sesama dengan cara berwirausaha.

TDA didirikan oleh para anak muda atau orang-orang yang berjiwa muda, lahir sebagai bentuk perjuangan dan penyelamatan bangsa. Ciri khas orang muda adalah anti kemapanan dan dinamis. TDA mendefinisikan caranya sendiri melakukan perubahan melalui gerakan ekonomi atau perdagangan. Sebab, kemajuan suatu bangsa sudah tentu ditandai oleh kemakmuran ekonominya.

Semenjak dibentuk tahun 2006 dari puluhan anggota sekarang komunitas ini telah mencapai ribuan anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara. TDA telah menjadi kosa kata baru dalam bahasa Indonesia, yang menggambarkan kaum wirausaha (pedagang), lawan dari kata TDB (Tangan Di Bawah) yang diartikan orang yang masih bekerja (karyawan).

TDA itu adalah sebuah gerakan diam (silent movement). Tanpa gembar-gembor, gegap-gempita berita. Di saat para politisi dan aktivis ramai di media lantang bicara  tentang bagaimana mengubah Indonesia, TDA bergerak dengan caranya sendiri tanpa demonstrasi. Kecuali hanya satu kali demo TDA—yang saya ingatJ, ketika melakukan demo di Bundaran HI dua tahun lalu sebagai bentuk sosialisasi Pesta Wirausaha atau Milad TDA yang ke 4J

Banyak orang hanya bicara, tapi TDA telah bekerja!

Banyak orang memandang bahwa perubahan dunia hanya ditentukan dan direkayasa oleh kekuatan politik belaka. Tapi sesungguhnya ada kekuatan ekonomi di belakangnya. Politik dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pada sejarah perubahan dunia kita melihat bahwa sejatinya ada gerakan ekonomi yang berperan, baik dengan cara baik maupun jahat atau kasar. Pergulatan inilah yang telah melahirkan berbagai macam ideologi, dari kapitalisme—mulai dari klasik sampai kapitalisme moderen yang humanis, sosialisme, sampai marxisme.

Bung Karno mendefinisikan kejayaan Indonesia itu dengan istilah Tri Sakti, yaitu: Berdaulat di bidang politik, kemandirian di bidang ekonomi, dan berkerpribadian di bidang budaya. Bung Hatta malah menekankan pentingnya membangun kekuatan ekonomi kerakyatan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Beberapa tahun terakhir ini, kita melihat banyak fenomena menarik di negeri ini. Wirausaha telah menjadi profesi baru yang sangat menarik. Jika dahulu berdagang dipandang sebagai sebuah pelarian, bentuk kegagalan dari seseorang yang tidak diterima bekerja di kantoran. Atau berdagang adalah profesi para perantau yang mencari penghidupan yang mana tidak bisa mengandalkan ijasahnya. Berdagang juga kebanyakan dijalankan oleh  para orangtua.

Sekarang bisnis atau berwirausaha telah menjadi tren, sebuah gaya hidup baru. Ditampilkan di panggung-panggung, dikonteskan, diberi piala dan penghargaan. Pelakunya banyak para anak muda.

Kita juga melihat betapa kegiatan wirausaha telah menjadi penyokong penyelamat bangsa ini dari krisis. Beberapa negara tumbang oleh resesi politik dan ekonomi, tapi bangsa ini masih berdiri. Berbeda dengan era sebelumnya, sedikit krisis politik maka guncanglah negeri ini. Tapi sekarang, politik dan pemimpin boleh berganti, tapi ekonomi jalan terus! Sekarang pertanyaannya, politik atau ekonomikah yang telah menyelamatkan negeri ini?

Di zaman Orde Baru barangkali banyak yang alergi ketika disebut kata “ideologi”. Tapi mari kita sederhanakan saja, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang sesuatu, menawarkan perubahan untuk kemakmuran masyarakat (weltanschauung). Lalu bagaimana dengan TDA? Bukankah di dalamnya ada kumpulan ide? Tentang bagaimana membentuk masyarakat yang sejahtera? Kekurangannya, barangkali ide TDA ini belum tersusun sebagai sebuah konsep pemikiran yang utuh dan sistematis. Baru dalam tataran idealis, belum diturunkan ke dalam bentuk materialistik (ini menurut istilah filsafat.  Sedikit berat ya istilahnya… :) )

Saya tak mau berdebat soal ideologi. Nanti akan banyak pula yang mengejar saya dengan cara pandang ini. Anggap saja cerita ini hanya ngalor-ngidul kegenitan intelektual. Tapi mari kita pandang saja bahwa Tangan Di Atas adalah sebagai sebuah gerakan perubahan. Ia menawarkan harapan. Misi yang dibawanya adalah “bersama menebar rahmat!”

Menjadi Pengusaha itu Sunnah, Tapi Tangan Di Atas Wajib

Ya, saya katakan bahwa menjadi Pengusaha itu adalah sunnah karena ia adalah profesi dan jalan hidup nabi. Sebagai umatnya sudah tentu kita akan meniru teladan dari nabi. Sunnah, itu baik dan menjadi pahala ketika dilakukan tapi tidak menjadi dosa kalau tidak dijalankan.

Boleh saja seseorang tidak memilih menjadi pengusaha sebagai jalan hidupnya. Tapi menjadi Tangan Di Atas hukumnya adalah wajib, berdosa jika tidak menjalankannyaJ

Apa makna menjadi Tangan Di Atas? Ialah menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebaik-baik manusia adalah yang menjadi manfaat bagi orang lain. Ia membawa harapan, bukan musibah bagi sesamanya. Sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah di atas bumi, ia membawa sifat-sifat Tuhan pada dunia ini, yaitu menyebarkan rahmat.

Prinsip Tangan Di Atas itu adalah, memberi dahulu baru menerima (give and receive).

Characterpreneur = Tangan Di Atas

Semua penjelasan yang saya sampaikan di atas adalah sebagai sebuah pengantar untuk sampai pada sebuah kesimpulan: character-enterpreneur atau Pengusaha yang berkarakter itu adalah Tangan Di Atas. Sebagai sebuah kosa kata baru, Tangan Di Atas (TDA) ini menjelaskan banyak hal. Menjadi pengusaha itu tidaklah bebas nilai, tiada sekularisme dalam bisnis, memisahkan bisnis demi bisnis. Ia haruslah menjadi penyebar rahmat. Pembawa kebaikan pada lingkungan sosialnya.

TDA itu senang berbagi.

Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dan, cara yang dipilih oleh TDA untuk menjadi manfaat bagi sesama adalah dengan menjadi Pengusaha. Dengan menjadi Tangan Di Atas.

Jadi, TDA itu artinya sama dengan Pengusaha, tapi Pengusaha belum tentu sama dengan TDA. TDA itu sama dengan character-enterpreneur. Yaitu, Pengusaha yang berkarakter. Yang sukses tidak hanya semata untuk dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat bagi umat. Inilah yang disebut dengan sukses-mulia, yaitu yang menebar rahmat!

Pada akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan memodifikasi ucapannya Bung Karno, “Seribu orangtua hanya bisa bermimpi tapi seorang Pengusaha bisa mengubah dunia!” Ingat, yang saya maksud dengan Pengusaha disini adalah TDA.

Bersama TDA mari kita menebar rahmat.

Read Full Post »

Emas untuk Indonesia

Walaupun kalah 1-0 dari Malaysia, hasil pertandingan semalam tidaklah mempengaruhi Indonesia masuk ke semifinal pertandingan sepakbola Sea Games 2011. Kemenangan Malaysia hanyalah syarat agar masuk ke laga semifinal, kalau mereka kalah sudah tentu akan tersingkir. Bagi Indonesia sudah cukup modal ke semifinal. Makanya saya melihat pelatih Indonesia tidak menurunkan pemain terbaik untuk tanding semalam.

Terlepas hasil semalam, dan hasil pertandingan selanjutnya. Saya melihat ada fenomena yang menarik pada Tim Merah Putih kali ini. Berbeda dengan tim-tim sebelumnya, ada Trio Papua yang memperkuat tim ini, dan mereka telah menunjukkan kualitas dan kemampuan terbaik mereka. Trio Papua—Patrich Wanggai, Titus Bonai dan Okto Maniani telah menunjukkan loyalitas dan perjuangan mereka untuk Indonesia. Trio Papua berjuang mati-matian merebut emas demi Indonesia.

Sementara pada saat yang sama emas yang lebih besar di kampung halaman mereka telah dikeruk habis-habisan oleh Freeport, dan menyisakan persoalan yang lebih besar sengsaranya. Sudah berapa gunung emas dipangkas, berton-ton dikeruk dan digali sampai perut bumi. Menyisakan lobang-lobang besar menganga menyeramkan!

Pada saat yang sama pula, sekarang ini para pekerja Freeport berjuang habis-habisan memperjuangkan gaji mereka agar lebih layak. Sudah berhari-hari, berminggu-minggu mereka melakukan demo kenaikan gaji.

Benarlah pula, pribahasa orang-orangtua dahulu dan diterapkan oleh Amerika: Walau hujan emas di negeri orang tapi lebih baik negeri sendiri. Hujan emas di Indonesia, ambil emasnya lalu bawa ke negeri sendiri, yaitu Amerika. Masa bodoh dengan negeri orang, yang penting kita kaya dan sejahtera!

Tidak disalahkan kenapa Papua ingin merdeka. Sudah berapa kekayaaan gunung emas mereka dirampas, gunung-gunung emas yang dahulu rimbun menghijau, sekarang menganga lobang yang besar menyisakan kematian yang mengancam. Emas mereka diambil tapi mereka tetap hidup sengsara, masih hidup dalam kotekanya! Sementara mereka melihat ada kemewahan di disampingnya.

Orang-orang baru datang dan pergi membawa hasil alam mereka. Mereka melihat kehidupan baru dalam kemewahan. Kota yang mewah dalam hutan kemiskinan Papua. Orang-orang asing mempertontokan ketimpangan.

Sebuah ironi negeri kaya raya, negeri yang punya kolam susu. Tongkat ditanam pun jadi. Emas, perak, logam, tembaga, uranium, hasil hutan, dan segala kekayaan seperti dihamparkan di negeri ini. Seolah surga telah turun ke bumi.

Sebuah negeri yang kaya, tapi rakyatnya sengsara. Seperti tikus yang mati di lumbung padi. Sementara para pemimpinnya banyak yang korup dan tiada peduli pada rakyatnya.

Kisah Trio Papua di laga tim nasional seperti ironi, sebuah sindiran dan tamparan keras dari Tuhan kepada kita semua. Di saat Trio Papua berjuang mati-matian merebut emas untuk negara, tapi pada saat yang sama pula emas di kampung mereka diambil, dirampas oleh orang asing. Apa yang Trio Papua bela, sementara pemerintahnya memicingkan mata atas fakta miris ini?

Selamat berjuang Trio Papua, silahkan berjuang rebut emas untuk bangsa ini. Terlepas apapun hasilnya nanti, apakah kalian berhasil memajukan tim ini ke final dan mendapatkan emas, kalian telah berjuang mengajarkan bangsa ini arti loyalitas, arti sebuah kesetiaan kepada bangsa dan negera ini. Biarlah sejarah nanti yang akan mencatat, siapa sesungguhnya yang cinta pada negeri ini.

Read Full Post »

Serbuan produk asing membanjiri pasar Indonesia. Mulai dari produk mesin, elektronik, seluler, garmen, fashion, mainan, sayur-sayuran sampai buah-buahan. Barang-barang ini murah dan mudah mendapatkannya, masuk seperti air bah yang merendam, menghanyutkan dan akhirnya mematikan industri dalam negeri.

Sudah berapa lama ini saya tidak lagi mendengar deru mesin konveksi tetangga sebelah berputar. Jika dahulu dari pagi sampai malam para anak jahit berlomba menyelesaikan jahitan. Saat ini mesin-mesin sudah mati suaranya. Tak terdengar lagi alunan musik dangdut pagi-siang-malam melantunkan hiburan untuk para anak jahit. Para bos konveksi sudah gulung tikar, kalau pun ada yang masih bertahan, pindah haluan dari produsen menjadi pedagang produk-produk garmen dari Cina.

Apa mau dikata, Pemerintah yang seharusnya membela kepentingan rakyatnya telah terlanjur memasukkan rakyatnya ke arena pertarungan perdagangan bebas. Subsidi untuk rakyat dicabut, sistem birokrasi masih saja sulit. Lalu, rakyat dijorokin bertarung dalam arena tarung bebas. Sudahlah tidak dibela, babak belur dalam sistem perdagangan bebas.

Seharusnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi hampir tak ada lagi yang bisa diproduksi. Hendak menanam padi, tapi pupuk begitu mahal, bibit susah didapat, belum lagi iklim yang tidak menentu? Bagaimana hendak menjual, jika beras dari luar begitu murah dan mudah mendapatkannya?

Bagaimana mungkin hendak menjahit baju, jika bahan baku begitu mahal, ditambah ongkos jahit, dan biaya produksi lainnya tidak sebanding dengan murahnya produk dari luar?

Ahh… daripada menanam dan memproduksi, bukankah lebih baik membeli barang impor, lebih mudah dan murah dibanding menanam dan memproduksi sendiri? Pragmatisme terjadi disini. Prinsip bisnis, tentu saja yang mudah dan murah yang akan didapatkan.

Pemerintah terdahulu telah terlanjur menjorokkan bangsa ini ke arena tarung bebas, tanpa menyiapkan rakyatnya dan menilai apakah mereka sudah siap? Bagaimana mungkin bertarung melawan gajah, jika tenaga hanya sekuat kancil? Bagaimana mungkin melawan kelas bantam, apalagi kelas berat jika rakyatnya baru sekelas bulu? Bagaimana mungkin baru sekelas liga kampung, disuruh masuk ke dalam liga dunia?….

Sawah-sawah pun mulai mengering diganti ilalang. Ladang-ladang menyemak dan menjadi terbengkalai. Pabrik-pabrik tak lagi beroperasi, menyisakan gedung-gedung kosong yang mulai melapuk, dan mesin-mesin pun akhirnya berkarat!

Petani sedih, apa yang hendak diperbuat. Para buruh bingung, hendak melangkah kemana lagi?

Read Full Post »

http://hensyam.wordpress.com/2010/06/02/belanja-di-pasar-tradisional-atau-super-market/

Pagi ini sang isteri mengajak belanja ke pasar tradisional di Ulujami, Jakarta Selatan.

Setelah memarkir sepeda motor, kami pun memasuki pasar yang berdiri secara semi permanen. Sehabis hujan petang hari kemarin, menyisakan jalanan yang becek berlumpur memasuki sampai dalam pasar. Kalaulah tak hati-hati, tentulah berlepotan sandal dan celana oleh lumpur.

Dari berbagai kios beragam pilihan tersedia. Buah-buahan, aneka sayuran, lauk-pauk, bumbu dan sebagainya. Setelah terbiasa dengan berbelanja di super market, yang rapih dan ber-AC, belanja di pasar tradisional ini memberikan nuansa dan sensasi tersendiri. Jika berbelanja di super market atau swalayan, dengan harga yang fix dan swalayan (melayani diri sendiri), maka di pasar ini kita bisa berinteraksi dengan penjual. Menawar harga, bergurau dan membincangkan seputar kenaikan harga, terkendalanya pasokan barang dari petani, sampai serbuan produk impor.

Sang isteri ingin memasak ikan, disini kami menemukan ikan air tawar yang segar, masih hidup. Ada ayam yang dipotong di tempat. Beda dengan super market yang dibekukan dan lebih mahal pula. Selanjutnya tinggal beli sayur, cabe keriting, bawang merah, bawang putih, dan bumbu-bumbu yang lain.

Dari pasar ini kami mendapatkan informasi dan pembicaran-pembicaraan yang tidak akan didapatkan dari super market. Tentang harga cabe dan bawang merah yang naik—berubah kalau istilahnya pedagang—oleh sulitnya mendapatkan pasokan dari petani karena musim penghujan sekarang ini. Saya membayangkan sulitnya kehidupan petani, belum lagi oleh serbuan produk impor. Rupanya tidak sekedar barang keras saja—berupa mesin, elektronik, pakaian, dll—yang masuk ke pasar lokal. Sayuran, dan buah-buahan pun masuk ke pasar lokal—dan itu kebanyakan berasal dari Cina.

Dari satu kios ke kios lainnya, kami beranjak dengan waspada oleh jalan yang becek penuh lumpur dan sampah. Tak habis berpikir saya, bagaimanakah pemerintah bisa membiarkan hampir semua pasar-pasar tradisional tanpa perhatian. Pasar tradisional, identik dengan kekumuhan, becek dan ketidaknyamanan. Sementara pasar moderen (super market, super mall) terus berdiri dan mendapatkan izin baru. Bukankan pada pasar tradisional terdapat hajat hidup orang banyak? Disinilah real, sejatinya kehidupan mayoritas rakyat terjadi. Mulai dari hulu para petani yang memasok barang, sampai ke rumahtangga yang mengolah menjadi makanan yang lezat tersaji.

Berbeda terbalik dengan pasar tradisional, pasar moderen penuh kenyamanan dan ber-AC. Sudah tentu saja orang yang berbelanja lebih memilih ke super market daripada ke pasar tradisional. Setiap waktu awal gajian, selalu penuh antrian orang yang berbelanja ke super market, menghabiskan uang berbelanja mingguan atau bulanan. Dan ketika akhir bulan menjelang, di saat bulan tua barulah mereka mampir ke pasar tradisional, menghabiskan uang yang tersisa untuk belanja.

Semenjak pindah ke Petukangan, jarang kami berbelanja ke pasar tradisional. Kami memilih ke super market atau toko swalayan. Alasannya sederhana saja, yang lebih dekat memang ke super market. Ada Giant, atau Carefour. Dulu, sewaktu tinggal di Cipulir, dekat Kebayoran Lama hampir setiap pagi kami berbelanja ke pasar tradisional. Waktu itu kami baru nikah, karena belum punya kulkas jadi kami tidak bisa menyimpan lama sayuran dan buah. Sudah pasti, hampir setiap pagi kami berbelanja ke pasar. Karena letak rumah yang tidak jauh dari pasar, tinggal berjalan kaki saja kami sudah sampai ke para pedagang yang berjualan di sepanjang jalan menuju Kebayoran.

Sekarang ini pasar-pasar tradisional telah terpinggirkan oleh pasar moderen. Pemerintah punya caranya sendiri menyingkirkan mereka. Pasar-pasar tradisional, bukannya dibenahi malah dibuang jauh. Seperti di Cileduk, pasar digusur dengan berbagai alasan. Lalu, kemudian yang berdiri malah mal dan super market. Pasar tradisional di pindah ke lokasi yang jauh dan tidak strategis. Jika dahulu orang kalau berbelanja, kalau naik angkutan umum cukup sekali naik saja, sekarang harus dua kali berganti angkutan, dan jauh pula. Pasar pengganti yang ditujukan untuk menampung pedagang yang digusur, bukannya ditempati oleh para pedagang malah terbengkalai begitu saja. Siapa yang mau berdagang di tempat—istilah orang—di tempat jin buang anak?….

Pasar pengganti dibangun sia-sia. Betapa uang negara terbuang begitu saja.

Perlahan dan pasti, pasar tradisional tersingkirkan diganti oleh mal dan super market. Para pedagang kecil kalah dan yang menang adalah para konglomerat—dan pejabat yang makin kaya. Para petani semakin bersedih, oleh panen yang sering gagal dan sulitnya memasarkan produk. Sementara serbuan produk impor terus meraja.

Setelah dirasa cukup berbelanja, kami pun menyudahi belanja pagi ini. Beringsut kami menghindari becek oleh bekas hujan kemarin sore. Langit mulai mendung. Kalaulah hujan turun sore ini, sudah barang tentu pasar ini akan menjadi kubangan lumpur. Dan sudah pasti tentulah semakin malas orang-orang datang berbelanja ke pasar ini. Dan terbayangkan, bagaimalah rusuhnya hati orang-orang kecil yang hidup disini.

Matahari semakin tertutup awan. Seorang pedagang bercoletoh, “Hujan lagi…..”. Tentu dengan kegundahan dikandung dalam suaranya….

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 535 pengikut lainnya.