Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Organisasi/Komunitas’ Category

Usai sudah Pesta Wirausaha TDA 2012. Acara yang berlangsung 28-29 Januari 2012 ini digagas oleh komunitas bisnis Tangan Di Atas adalah dalam rangka milad TDA  yang ke-6. Lebih dari 1800 peserta dan partisipan memenuhi gedung Smesco di Jakarta.

Ruangan utama sebagai pusat acara, sesak dan terasa panas. Pendingin ruangan yang semula dingin tak mampu lagi menyejukkan ruangan dimana sekitar 1400 peserta tumpah dalam antusias, bersemangat, bergembira dan bergelora dalam semangat persaudaraan dan perjuangan. Terbakar oleh inspirasi, motivasi dan gelora enterpreneurship.

Bagaimana tidak, tokoh-tokoh yang berbicara mengisi panggung bukan pula orang sembarangan. Ada Dahlan Iskan, menteri BUMN, Chairul Tanjung, CEO Trans Corporation, Jamil Azzaini, Inspirator Sukses-Mulia, Sandiaga Uno, pengusaha muda sukses, Arief Budiman, CEO Petakumpet, dan banyak lainnya.

Itu baru hari pertama, hari kedua diisi oleh Merry Riana, pengusaha muda sukses yang terkenal dengan Mimpi Sejuta Dollar, Joko Widodo, “ambassador” mobil Esemka, Nukman Luthfie, pegiat social media, Sumardy (pakar marketing), Asep Khairul Gani (pakar HRD) dan ditutup oleh mas Mono “Ayam Bakar” serta ustad Yusuf Mansur. Belum lagi kelihaian pembawa acara Iwel Sastra dan Putri Dwiandari.

Selain dihadiri oleh inspirator TDA Haji Alay, juga tampak para pendiri TDA. Yang terbanyak adalah rombongan peserta dari TDA wilayah yang punya ciri khas masing-masing tampak dari seragam yang digunakan atau penanda lainnya. Ratusan stan penuh dan tentu saja terjadi penjualan dan deal yang signifikan bagi pemiliknya. Dari beberapa kali even dan pameran yang saya datangi di gedung Smesco, baru kali inilah tampak paling ramai.

Selain ruang utama dengan acara besar, beberapa kelas workshop juga dibuka gratis untuk pengunjung acara. Pembicaranya juga top markotop dan pakar di bidang masing-masing. Ada Budi Rachmat, Fauzi Rachmanto, Zaenal “Teroris” Abidin, Bije Wijayanto, Teguh Wibawanto, Hafiz Khairul Rizal, Sonny B Sofyan, Ali Akbar, dan lainnya.

Salut sama teman-teman panitia yang menyiapkan acara ini. Berminggu dan berbulan mereka menyiapkan acara ini. Bahkan kabarnya adalah salah satu panitia yang rela menutup toko/bisnisnya selama satu bulan demi menyukseskan acara ini. Dan, asal tahu saja mereka semua tidak dibayar dalam kepanitiaan ini.

Hebat! Mana ada orang yang rela berkurban seperti ini. Apalagi semua mereka adalah Pengusaha. Ini bisnis bung!

Tapi itulah, semangat dan misi TDA “Bersama Menebar Rahmat” begitu kentara di acara ini. Dari jauh datang dengan ongkos sendiri, peserta begitu bahagia hanya untuk bersilaturahim dan bertatap muka. Sebab selama ini hanya banyak berinteraksi melalui dunia maya saja baik di milis, dan media sosial lainnya.

Dan, juga para pembicara hebat yang menginsiprasi dan memotivasi semua mau berbagi ilmu tanpa dibayar pula! Yah, inilah TDA!

Untuk acara selama dua hari, yang penuh daging dan bergizi semua, begitu murah harga yang harus dibayar. Kalau boleh dikata, paling uang peserta hanya untuk sewa dan petugas gedung, konsumsi dan perangkat acara. Sedangkan kalau yang tidak bayar, ya tidak dapat kartu tanda peserta dan konsumsi. Sedangkan lainnya gratis, dan bisa ikut workshop pula! Acara full dari pagi sampai malam! Gratis!

Merinding saya mengikuti acara ini dan menyaksikan semangat peserta. Teringat kisah lama ketika bergerak mengubah Indonesia dengan cara berbeda.  Jika para politisi ngakunya merubah Indonesia dengan cara perdebatan, wacana, dan ujung-ujungnya malah berbagi kekuasan dan merampok uang negara. Ini para pemuda yang berkumpul, berbicara dan bertindak dengan caranya sendiri. Tanpa banyak bicara, action oriented ternyata telah menggerakkan roda-roda ekonomi dan perubahan di tempatnya masing-masing. Biarkanlah para politisi berdebat, kita bekerja saja!

Saya percaya, bahwa perubahan itu tidak semata dari kekuatan politik. Politik dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang. Dan sesungguhnya dibalik perubahan dunia ada kekuatan tersembunyi ekonomi di belakangnya. Mana bisa beli senjata tanpa uang! Mana bisa mengangkat senjata kalau perut lapar! Para founding father sedari awal sudah menyadari ini. Bahwa kejayaan Indonesia hanya bisa melalui 3 hal: Berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.

Saya melihat ada semangat Beli Indonesia, semangat Bela Indonesia bersatu di acara ini. Saya melihat semangat, bahwa kalau mau sukses maka harus menyukseskan orang lain juga. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Inilah Sukses Mulia yang menjadi semangat Tangan Di Atas.

Dan yang paling membuat saya terharu dan meneteskan airmata, ketika sesi Merry Riana meminta semua peserta berdiri dan semua menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri. Kapan terakhir kita menyanyikan kedua lagu ini? Semua larut dalam nasionalisme Indonesia.

Beruntung saya, telah menjadi bagian dari komunitas ini: Tangan Di Atas, dengan misinya: Bersama menebar rahmat. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Seribu orangtua hanya bisa bermimpi tapi seorang Pengusaha bisa mengubah dunia!

Read Full Post »

Tulisan ini  masuk nominasi Lomba Penulisan Characterpreneur yang diadakan oleh Komunitas Tangan Di Atas dalam rangka acara Pesta Wirausaha 2012
————————————————————————————————–
Pengantar

Characterpreneur, adalah singkatan yang berasal dari 2 suku kata yaitu character dan enterpreneur. Character, menurut kamus Poerwadarminta adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan , akhlak ataupun budi pekerti yang mencirikan seseorang..

Secara bahasa, pengertian enterpreneur secara umum adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan.

Secara sempit enterpreneur dipandang adalah seorang pedagang (businessman). Namun pengertian/pendapat Joseph Schumpeter dipakai oleh banyak kalangan luas. Yaitu, seorang enterpreneur tidak selalu pedagang atau seorang manager; ia adalah orang yang unik yang berpembawaan pengambil resiko dan yang memperkenalkan produk-produk inovatif dan teknologi baru ke dalam perekenomian.

Selain konteks bisnis, kita juga mengenal yang namanya social enterpreneur. Social enterpreneur, dimotivasi oleh keinginan untuk membantu, meningkatkan dan mengubah lingkungan sosial

Secara bebas, menurut saya pengertian character-enterprener, selanjutnya disingkat menjadi characterpreneur adalah seseorang atau kelompok yang mengadakan usaha inovatif yang mempunyai karakter atau watak khusus yang mulia, yang memberikan manfaat perubahaan pada lingkungan atau masyarakatnya.

Pengusaha yang Berkarakter

Mengutip ucapan Nietzsche, “Seni demi seni, ilmu demi ilmu atau puisi demi puisi adalah kedok yang digunakan untuk menutupi watak jahat seniman atau ilmuwan serta memberikan pembenaran atas sikapnya dalam menghindari tanggungjawab sosial.” Kalau saya perluas, “Bisnis demi bisnis adalah kedok jahat yang digunakan oleh pengusaha untuk menutupi sifat jahatnya serta memberikan pembenaran atas sikapnya mencari untung dan menghindari tangungjawab sosial.”

Kalimat di atas memang sedikit keras, tapi hal ini perlu dijelaskan. Karena dalam hidup ini tidak ada yang namanya bebas nilai. Ada kaidah lain yang melekat pada bisnis. Sebab pada sebuah realitas ada motif di belakang penciptaannya. Ekonomi sebagai sebuah ilmu, adalah suatu cabang dari filsafat; sebagai sebuah pencarian manusia atas realitas, lingkungan, penciptaan sesuatu, dan atas “Sesuatu” yang melingkupi segala sesuatu.

Ketika agama datang, sesungguhnya pada prinsipnya filsafat telah selesai. Terjawab sudah pertanyaan mendasar manusia. Para Rasul datang membawa nilai yang melengkapi semua persoalan manusia, memberi nilai atas semua tindak, dan sifat atau karakter manusia. Tidak semata tata ibadah syariah belaka tapi termasuk nilai hidup dalam bermasyarakat dan berdagang dibawanya.

Kegiatan ekonomi atau perdagangan telah ada sebelum zaman kenabian terakhir. Sudah tentu masyarakat zaman itu telah punya karakter atau akhlaknya sendiri. Lalu Nabi Saw yang berlatar pedagang datang membawa misi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Contoh terbaik adalah para Nabi dan Sahabat Nabi. Hampir semua Nabi dan sahabatnya adalah para pedagang. Mereka telah menyontohkan adab dan akhlak berdagang. Tidak semata mencari keuntungan, tapi juga membangun sosial kemasyarakatan. Ada kaidah-kaidah yang dibawa mereka.

Menjadi seorang pengusaha tidaklah semata memikirkan untung-rugi belaka yang hanya dihitung secara matematis ekonomi. Dia haruslah menghitung juga secara matematis sosial. Setiap barang yang diproduksi, tidak dipikirkan semata mencari untung, tapi adakah akibat negatif pada masyarakat yang ditimbulkannya? Pada setiap produk yang dijual, adakah racun atau candu di dalamnya? Pada setiap media yang dikeluarkannya, adakah berdampak pada kerusakan generasi?

Mudah saja mengimpor produk luar dengan harga murah, banyak untung yang akan didapat. Tapi tak terpikirkah bahwa ada sekian banyak petani, nelayan dan pedagang lokal yang akan terkapar kalah? Produksi saja konten yang mengikut selera dasar primitif manusia, tapi terpikirkah bahwa sama saja kita telah merusak sekian generasi?

Pada hari ini kita gampang saja menemukan banyak pengusaha yang sukses dengan bisnisnya. Banyak orang kaya atau konglemerat yang muncul. Sebagai seorang pengusaha pemula, mudah saja kita menjadikan mereka sebagai idola dan menjadikannya model dalam berusaha. Tapi pernahkah kita secara kritis menilai mereka? Sudahkah usaha yang dijalankannya beretika dan bernilai secara sosial serta apa efek jangka panjang yang ditimbulkannya?

Karakter yang mulia haruslah melekat pada diri seorang Pengusaha.

Pengusaha yang berkarakter mulia haruslah visioner, idealis, jujur, amanah, tidak semata mencari untung jangka pendek. Dia tidaklah semata mengikut kepada selera pasar. Kalau perlu dia membentuk pasar (social engineering). Pengusaha yang mulia tidaklah menjadikan manusia sebagai obyek pencari keuntungan. Ia mempunyai misi dalam hidupnya.

Bisnis tidaklah bebas nilai, ia haruslah berpegang pada landasan moral etika. Tidak berprinsp sekuler dalam bisnis. Memisahkan kegiatan ekonomi dari moral-etika, dan lupa pada efek sosial dan kebudayaan.

Tangan Di Atas Sebagai Sebuah Ideologi, eh Gerakan Perubahan

Nabi Muhammad Saw pernah menyatakan bahwa, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Terinspirasi oleh hadis ini tercetuslah sebuah komunitas yang bernama Tangan Di Atas (TDA), sebagai sebuah kelompok yang senang berbagi dan berbagi senang dengan memilih berwirausaha sebagai aktivitas para anggotanya.

Menyambung dengan hadis Nabi Saw yang lainnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. TDA mendefinisikan caranya sendiri menjadi manfaat bagi sesama dengan cara berwirausaha.

TDA didirikan oleh para anak muda atau orang-orang yang berjiwa muda, lahir sebagai bentuk perjuangan dan penyelamatan bangsa. Ciri khas orang muda adalah anti kemapanan dan dinamis. TDA mendefinisikan caranya sendiri melakukan perubahan melalui gerakan ekonomi atau perdagangan. Sebab, kemajuan suatu bangsa sudah tentu ditandai oleh kemakmuran ekonominya.

Semenjak dibentuk tahun 2006 dari puluhan anggota sekarang komunitas ini telah mencapai ribuan anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara. TDA telah menjadi kosa kata baru dalam bahasa Indonesia, yang menggambarkan kaum wirausaha (pedagang), lawan dari kata TDB (Tangan Di Bawah) yang diartikan orang yang masih bekerja (karyawan).

TDA itu adalah sebuah gerakan diam (silent movement). Tanpa gembar-gembor, gegap-gempita berita. Di saat para politisi dan aktivis ramai di media lantang bicara  tentang bagaimana mengubah Indonesia, TDA bergerak dengan caranya sendiri tanpa demonstrasi. Kecuali hanya satu kali demo TDA—yang saya ingatJ, ketika melakukan demo di Bundaran HI dua tahun lalu sebagai bentuk sosialisasi Pesta Wirausaha atau Milad TDA yang ke 4J

Banyak orang hanya bicara, tapi TDA telah bekerja!

Banyak orang memandang bahwa perubahan dunia hanya ditentukan dan direkayasa oleh kekuatan politik belaka. Tapi sesungguhnya ada kekuatan ekonomi di belakangnya. Politik dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pada sejarah perubahan dunia kita melihat bahwa sejatinya ada gerakan ekonomi yang berperan, baik dengan cara baik maupun jahat atau kasar. Pergulatan inilah yang telah melahirkan berbagai macam ideologi, dari kapitalisme—mulai dari klasik sampai kapitalisme moderen yang humanis, sosialisme, sampai marxisme.

Bung Karno mendefinisikan kejayaan Indonesia itu dengan istilah Tri Sakti, yaitu: Berdaulat di bidang politik, kemandirian di bidang ekonomi, dan berkerpribadian di bidang budaya. Bung Hatta malah menekankan pentingnya membangun kekuatan ekonomi kerakyatan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Beberapa tahun terakhir ini, kita melihat banyak fenomena menarik di negeri ini. Wirausaha telah menjadi profesi baru yang sangat menarik. Jika dahulu berdagang dipandang sebagai sebuah pelarian, bentuk kegagalan dari seseorang yang tidak diterima bekerja di kantoran. Atau berdagang adalah profesi para perantau yang mencari penghidupan yang mana tidak bisa mengandalkan ijasahnya. Berdagang juga kebanyakan dijalankan oleh  para orangtua.

Sekarang bisnis atau berwirausaha telah menjadi tren, sebuah gaya hidup baru. Ditampilkan di panggung-panggung, dikonteskan, diberi piala dan penghargaan. Pelakunya banyak para anak muda.

Kita juga melihat betapa kegiatan wirausaha telah menjadi penyokong penyelamat bangsa ini dari krisis. Beberapa negara tumbang oleh resesi politik dan ekonomi, tapi bangsa ini masih berdiri. Berbeda dengan era sebelumnya, sedikit krisis politik maka guncanglah negeri ini. Tapi sekarang, politik dan pemimpin boleh berganti, tapi ekonomi jalan terus! Sekarang pertanyaannya, politik atau ekonomikah yang telah menyelamatkan negeri ini?

Di zaman Orde Baru barangkali banyak yang alergi ketika disebut kata “ideologi”. Tapi mari kita sederhanakan saja, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang sesuatu, menawarkan perubahan untuk kemakmuran masyarakat (weltanschauung). Lalu bagaimana dengan TDA? Bukankah di dalamnya ada kumpulan ide? Tentang bagaimana membentuk masyarakat yang sejahtera? Kekurangannya, barangkali ide TDA ini belum tersusun sebagai sebuah konsep pemikiran yang utuh dan sistematis. Baru dalam tataran idealis, belum diturunkan ke dalam bentuk materialistik (ini menurut istilah filsafat.  Sedikit berat ya istilahnya… :) )

Saya tak mau berdebat soal ideologi. Nanti akan banyak pula yang mengejar saya dengan cara pandang ini. Anggap saja cerita ini hanya ngalor-ngidul kegenitan intelektual. Tapi mari kita pandang saja bahwa Tangan Di Atas adalah sebagai sebuah gerakan perubahan. Ia menawarkan harapan. Misi yang dibawanya adalah “bersama menebar rahmat!”

Menjadi Pengusaha itu Sunnah, Tapi Tangan Di Atas Wajib

Ya, saya katakan bahwa menjadi Pengusaha itu adalah sunnah karena ia adalah profesi dan jalan hidup nabi. Sebagai umatnya sudah tentu kita akan meniru teladan dari nabi. Sunnah, itu baik dan menjadi pahala ketika dilakukan tapi tidak menjadi dosa kalau tidak dijalankan.

Boleh saja seseorang tidak memilih menjadi pengusaha sebagai jalan hidupnya. Tapi menjadi Tangan Di Atas hukumnya adalah wajib, berdosa jika tidak menjalankannyaJ

Apa makna menjadi Tangan Di Atas? Ialah menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebaik-baik manusia adalah yang menjadi manfaat bagi orang lain. Ia membawa harapan, bukan musibah bagi sesamanya. Sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah di atas bumi, ia membawa sifat-sifat Tuhan pada dunia ini, yaitu menyebarkan rahmat.

Prinsip Tangan Di Atas itu adalah, memberi dahulu baru menerima (give and receive).

Characterpreneur = Tangan Di Atas

Semua penjelasan yang saya sampaikan di atas adalah sebagai sebuah pengantar untuk sampai pada sebuah kesimpulan: character-enterpreneur atau Pengusaha yang berkarakter itu adalah Tangan Di Atas. Sebagai sebuah kosa kata baru, Tangan Di Atas (TDA) ini menjelaskan banyak hal. Menjadi pengusaha itu tidaklah bebas nilai, tiada sekularisme dalam bisnis, memisahkan bisnis demi bisnis. Ia haruslah menjadi penyebar rahmat. Pembawa kebaikan pada lingkungan sosialnya.

TDA itu senang berbagi.

Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dan, cara yang dipilih oleh TDA untuk menjadi manfaat bagi sesama adalah dengan menjadi Pengusaha. Dengan menjadi Tangan Di Atas.

Jadi, TDA itu artinya sama dengan Pengusaha, tapi Pengusaha belum tentu sama dengan TDA. TDA itu sama dengan character-enterpreneur. Yaitu, Pengusaha yang berkarakter. Yang sukses tidak hanya semata untuk dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat bagi umat. Inilah yang disebut dengan sukses-mulia, yaitu yang menebar rahmat!

Pada akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan memodifikasi ucapannya Bung Karno, “Seribu orangtua hanya bisa bermimpi tapi seorang Pengusaha bisa mengubah dunia!” Ingat, yang saya maksud dengan Pengusaha disini adalah TDA.

Bersama TDA mari kita menebar rahmat.

Read Full Post »

Seminggu menjelang Pesta Wirausaha (Milad TDA ke-5).

Tak sabar rasanya menunggu momen tersebut, berkumpul dan bersilaturahim dengan teman-teman komunitas bisnis Tangan Di Atas (TDA) dari seluruh tanah air. Bertemu dengan pengusaha-pengusaha tangguh, dan selama dua hari diisi dengan materi penuh gizi dari pembicara-pembicara hebat dan tokoh-tokoh terkemukan yang sangat menginspirasi dan memotivasi kita.

Berdebar dada saya. Ya, kenapa berdebar? Empat tahun, dua kali milad TDA dan beberapa kali momen halal bi halal ataupun forum-forum offline TDA saya tidak datang. Selama ini hanya memantau sekilas aktivitas teman-teman melalui milis online. Perjuangan selama empat tahun ini membuat saya tak banyak kesempatan atau ada halangan untuk berinteraksi baik online maupun offline.

Terakhir saya datang di Milad TDA ke-2 tahun 2008 silam, ketika acara milad ini masih sederhana. Sound system dan konten acara yang apa adanya, tapi semangat dan isi acara memberikan nilai plus untuk acara ini. Semua bergembira, para motivatornya hebat-hebat walaupun dari kalangan sendiri. Berbagai penghargaan disampaikan kepada teman-teman yang berhasil mengungkit, mengangkat dan mencapai double, triple dan naik berkali lipat dalam pencapaian bisnisnya.

Dan, biasanya yang paling menyenangkan adalah ketika Pak Haji Alay menyampaikan sensational offer, penawaran-penawaran menggiurkan peluang bisnis ataupun tawaran dagang, maupun penawaran toko-toko gratis sewa yang boleh diisi oleh teman-teman TDA. Ataupun tantangan-tantangan bisnis lainnya.

Apalagi ada acara wisuda untuk teman-teman yang telah berani memajukan diri keluar kerja dan full bisnis mengelola usaha. Panggung penuh, dan Pak Haji Alay mewisuda, menyampaikan  tausiyah dan kemuliaan Tangan Di Atas. Sayang, pada waktu itu saya belum berhak naik panggung bersama teman-teman ini, baru bisa naik pada sesi panggung selanjutnya. Ketika sesi pembacaan tekad untuk tahun atau milad selanjutnya telah full TDA. Panitia memfoto orang-orang yang naik panggung ini dan bertekad untuk full TDA. Direkam dan akan jadi saksi!

Melihat teman-teman hebat yang dipanggil ke panggung diberi penghargaan. Timbul rasa iri positif di hati saya. Saya harus bisa seperti mereka. Dari segi umur, tidak jauh beda dan malah ada yang lebi muda dari saya, tapi mereka telah mencapai kesuksesan dalam hidup dan bisnis mereka. Cuma barangkali starting point-nya saja yang berbeda. Saya terlambat mendapatkan “pencerahan” memilih jalan nabi, yaitu menjadi Pedagang alias berwirausaha. Terlalu lama disibukkan dengan dunia lain yang menguras waktu dan pikiran.

Saya bertekad, tahun depan di milad selanjutnya akan akan tampil di panggung itu nanti.

Berbulan-bulan, bertahun sudah berlalu. Sudah dua kali milad dilewati. Jalan penuh berliku, badai silih berganti. Ketika milad demi milad tiba, saya terpuruk tak bisa datang. Dengan biaya yang “lumayan” untuk ukuran saya waktu itu, terlalu mewah saya harus mengeluarkan uang untuk membayar HTM ikut milad TDA. Saya memilih prioritas lainnya.

Saya hanya membaca keramaian dan kegembiraan pesta. Lalu memilih fokus menyelesaikan beberapa persoalan yang tersisa dengan bisnis saya. Ketika memutuskan resign beberapa tahun lalu, saya tidak membawa uang keluar dari kantor. Tak ada pesangon, tak tabungan dan hanya menyisakan sedikit uang gaji terakhir yang tak utuh lagi karena harus membayar kontrakan dan beberapa pembayaran lainnya. Sementara isteri yang menunggu di rumah, juga tidak bekerja. Tapi senyum dan semangatnya menyambut saya agar kuat memilih jalan berwirausaha. (Kisah saya resign saya baca disini: http://wp.me/p1dJY-41

Sekarang, alhamdulillah walau bisnis belum seindah yang diinginkan. Tapi dengan kebebasan sebagai seorang TDA kami bisa mendaftarkan diri sebagai salah seorang peserta milad TDA yang ke-5. Setidaknya saya bisa menegakkan kepala, karena di kartu nama saya sudah tercetak:
Helsusandra Syam: Owner. Dengan bisnis yang punya brand sendiri: sporte (eFashion) – Fashionable Islamic Swimwear.

Inilah jalanku, jalan TDA: TDA Way!
Dan dengan jalan ini saya ingin berjumpa dengan teman-teman seperjuangan di seluruh tanah air. Orang-orang hebat yang di tangan merekalah Indonesia masa depan ditentukan. Saatnya kekuatan ekonomi berbicara, tidak lagi dibuncahkan oleh politisi yang hanya asal bicara dan mengeruk uang rakyat!

Empat tahun sudah saya tak menjumpai milad TDA. Makanya, kalaupun berdebar dada saya wajarlah. Tak sabar saya melihat kawan-kawan lama dan baru, apa kabar mereka? Dan, “keajaiban” apakah yang akan terjadi dengan saya nanti…?

Read Full Post »

Dua hari berturut-turut kemarin, merupakan pengalaman yang luar biasa bagi kami. Saya dan teman-teman pengurus TDA Tangerang berkesempatan melakukan kunjungan ke dua orang calon narasumber untuk sharing atau diskusi FGD Fashion yang akan diadakan oleh TDA Tangerang yang bertemakan All About Fashion. FGD (Focus Group Discussion) ini adalah diskusi terbatas yang merupakan divisi dan program kerja TDA Tangerang.

Bagaimana tidak saya katakan luarbiasa! Kedua orang ini ternyata adalah Pendekar hebat dalam bidangnya masing-masing (di TDA Tangerang kami biasa menggunakan istilah dunia persilatan). Yang pertama kami berkunjung ke pak Hikmanul Hakim, beliau bergerak di bidang distribusi atau retail (www.rumahmadani.com).  Sedangkan yang kedua adalah pak Firman Al Qohhar, bergerak di bidang produksi dan penjualan jilbab Faira (www.fairadisain.com).

Bergerak tanpa bersuara, pendekar  tanpa bayangan!  Ya, tak banyak yang kita ketahui tentang dua orang yang low profile ini. Mereka berdua hampir tak pernah menulis di milis TDA, tapi ketika kami bertemu langsung dengan mereka ternyata adalah orang yang sangat terbuka dan tanpa segan memberikan ilmu-ilmu dahsyat kepada kami—bahkan sampai ke dapur bisnis mereka.

Di Markas Rumah Madani

Pada kunjungan pertama ke markas Rumah Madani, kami disuguhi sharing menarik oleh pak Hakim. Beliau bercerita banyak tentang dunia per-online-an dan ekspansi beliau ke dunia offline. Yang menarik, beliau malahan tidak terlibat banyak dan langsung dengan bisnis dia ini. Karena ibarat mesin, semua unit sudah bisa jalan sendiri dan setiap sore beliau hanya terima laporan dari anak buahnya. Kerjaan beliau, ya di rumah saja dan melihat-lihat taman. Dan, dahsyatnya omzetnya wah!

Pak Hakim jago dalam soal pengelolaan sistem. Semua bagian sudah ada aturan main (SOP) yang jalan dan diterapkan dengan baik. Ketika diajak berkunjung ke “dapurnya” Rumah Madani, kami melihat kesibukan yang luar biasa dari para pegawainya. Dengan belasan pegawai, semua menjalankan tugas masing-masing, mulai dari purchasing atau pembelian, bagian gudang sampai ke sales dan marketing serta CS terintegrasi dalam satu kegiatan yang terkelola dengan baik.

Saat mengunjungi gudang Rumah Madani, masyaAllah kami semua begitu terpesona. Puluhan rak rapi berjajar dalam dua ruang gudang, berjejer ratusan bahkan mungkin ribuan produk yang tertata dengan baik, tercatat dengan benar masuk dan keluarnya barang. Kemudian tersambung dengan jejeran komputer yang ditangani oleh belasan pegawai beliau yang menangani mulai dari pesanan, pembukuan dan hubungan dengan pelanggan. Sungguh, ini menjadi bahan visualisasi bagi yang kami yang berkunjung yang skala bisnisnya jauh di bawah pak Hakim.

Yang menarik, walau hanya tamatan SMK hampir semua pegawai pak Hakim sekarang ini sedang mengambil kuliah untuk mendapatkan S1 di kuliah ekstensi.

Kemudian pada hari kedua, kami kembali disuguhi pengalaman yang tak kalah hebatnya. Diterima di kantornya Faira di sebuah ruko 2 lantai, pak Firman mengajak kami menyaksikan proses bisnis dan stok Faira. Sekarang ini Faira kewalahan menangani pesanan pelanggan. Para distributor dan agen yang ingin mendapatkan produk Faira malah harus masuk daftar antrian terlebih dahulu. Sekitar 800 bandana dan 400 jilbab yang diproduksi per hari ternyata tidak cukup memenuhi banyaknya pesanan yang datang. (Saya sempat bercerita dalam posting sebelumnya, tentang mindernya saya ketika mengantarkan pesanan pelanggan ke kurir langganan. Menyaksikan berkoli-koli paket pesanan Faira).

Karena sudah masuk waktu Ashar, pak Firman mengajak kami shalat berjamaah di masjid dekat kantor dan pusat produksi Faira. MasyaAllah, kurang lebih separoh dari 4 atau 5 saf jamaah itu adalah para karyawannya pak Firman Faira. Saat waktu shalat tiba, pak Firman mewajibkan para pegawainya untuk shalat berjamaah di masjid.

MasyaAllah, kami ditunjukkan pada praktik syariah dalam bisnisnya pak Firman. Selesai shalat pak Firman bercerita bahwa setiap pagi para pegawainya melakukan shalat dhuha terlebih dahulu sebelum bekerja, mereka melakukan sedekah dan setiap Selasa dan Sabtu ada pengajian untuk seluruh karyawan di masjid dengan mengundang ustad untuk ceramah.

Dengan sekitar 100 orang pegawai, pak Firman melayani mereka dengan sangat baik. Beliau mengajari para pegawainya tentang akhlak dan agama, tidak semata kerja mencari uang saja. “Saya pengen para pegawai saya juga baik hidupnya. Dan tanggung jawab terhadap pegawai tidak semata di dunia saja, tapi juga sampai akhirat”, kurang lebih demikian kata pak Firman. Mereka diajari tentang kejujuran dan tanggungjawab juga. Tidak ada sistem absensi yang diterapkan. Semua pegawai bekerja dengan penuh tanggungjawab.

Terlihat semua pegawai begitu riang dan betah bekerja. Dengan jam kerja yang manusiawi, dari jam 8 pagi sampai 16.30 dan gaji yang di atas UMR. Coba bayangkan, masak hanya pegawai yang kerjanya hanya buang benang saja, mendapatkan gaji Rp 1.300.000 sebulan! Hampir semua pegawainya punya sepeda motor karena fasilitas kemudahan yang diberikan untuk mendapatkannya.

Dan yang lebih dahsyat lagi, kemudian pak Firman mengajak kami mengunjungi rumah mewah yang baru beliau beli. Rumah 2 lantai seharga 1,3 Miliar yang bergaya bangunan masa kini dan ber-AC itu ternyata beliau sediakan untuk menjadi tempat tinggal para pegawainya. “Kapan lagi mereka akan menikmati kamar ber-AC seperti ini, Pak”, demikian alasan pak Firman. Sementara beliau sekeluarga memilih tinggal di rumah yang biasa saja, yang menyatu dengan kebisingan para pekerja konveksi tempat produksi. Luarbiasa pelayanan beliau terhadap pegawainya.

Bersama Pak Firman Faira

Pak Firman juga menawarkan rumah mewah ber-AC ini kepada teman-teman TDA untuk dipergunakan jika ingin kumpul-kumpul atau mengadakan acara.”Silahkan dipergunakan oleh teman-teman TDA, pak”, kata beliau.

Petang itu menjadi kenangan terindah bagi saya dan teman-teman yang datang ke tempat pak Firman. Ratusan pegawai dan konveksi yang tersebar di beberapa tempat, dan pelayanan terhadap pagawai menjadi bahan afirmasi dan visualisasi bagi kami, agar suatu saat bisa mencontoh beliau.

Demikianlah hasil kunjungan kami kepada kedua calon narasumber sharing FGD Fashion TDA Tangerang. Dengan omset lebih dari 6 miliar per tahun, sudah tepatlah kedua orang ini menjadi guru para pebisnis TDA. Dan yang lebih penting, keahlian mereka dalam bisnis yang tidak akan kita dapatkan di kelas-kelas bisnis, cara-cara otak kanan dan anti marketing mereka akan menjadi inspirasi besar bagi kita nanti. Merekalah guru sejati, seperti pendekar tanpa banyangan gerak mereka tak terlihat tapi keperkasaan mereka sungguhlah hebat.

Pastikan anda tidak kehabisan tempat dalam forum terbatas ini!

Wassalam,

Syam

http://hensyam.co.nr

NB:

Hari ini, Kamis adalah hari terakhir pendaftaran dan pembayaran early bird hanya 50 ribu rupiah saja. Setelah itu sampai go show menjadi Rp 75ribu.

Acara berlangsung hari Sabtu, 10 Desember 2011 bertempat di kafe D’Mama, Bintaro sektor 7 (depan CIMB Niaga). Acara mulai pukul 9 – 15.00 WIB.

Silahkan hubungi  0818.0807.1978 utk pendaftaran dan bagi yang sudah mendaftar silahkan transfer pembayaran, dengan menambahkan 3 digit terakhir no HP ke:

  1. Bank BCA No. 4741-071-368 atas nama Ari Asri / Wisnu Widyanti
  2. Bank Mandiri A/C 128-009300-8206 atas nama Ari Asri

Read Full Post »

Selepas pintu tol Serang Timur, perjalanan mulai memasuki pedalaman Banten. Memasuki kawasan Lebak, perjalanan dihadapkan pada jalan yang rusak, berlubang disana-sani dan dan berdebu. Untung musim kemarau, tak terbayangkan jika turuh hujan. Tentu saja Avanza yang kami naiki akan berlepotan oleh mandi lumpur.

Berangkat dari Graha Pillar sekitar pukul setengah delapan pagi, pukul satu kami—Pak Sonny, Pak Anto, mbak Nunu, Saya dan sopir pak Budi—masih saja diguncang jalan yang hancur di perjalanan menuju Malingping, seterusnya ke desa Karangkamulyan, Lebak Banten. Udara yang panas berdebu, sementara sedang menjalankan puasa sedikit menyedot semangat pagi kami tadi. Sempat gentar di hati melihat perjalanan ini, harus berapa lama lagi akan sampai di tujuan? Di kiri-kanan hanyalah hutan, kebun kelapa sawit, karet dan kadang-kadang perkampungan. Sementara di depan, kalau tak hati-hati hanyalah jalan yang bolong-bolong tercabik terlupa oleh Pemda.

Lebih setengah hari dilewatkan belum sampai juga di tujuan. Tubuh yang sedang berpuasa, perut yang kosong dan haus yang mendera bercampur di perut yang terkocok serasa melilit ketika mobil beberapa kali terhantam batu dan berguncang oleh lobang jalan. Terdengar beberapa kali mobil pak Anto berderit oleh guncangan. Avanza, mobil yang cocoknya di kota harus berhadapan dengan rute off road!

Menjelang tigaperempat hari, barulah kami sedikit terhibur ketika mata yang lelah, haus dan lapar dihadapkan dengan pemandangan baru. Jika sebelumnya di kiri-kanan hanya hutan, perkebunan kelapa sawit, karet dan desa-desa pedalaman. Sekarang mata dihadapkan oleh laut lepas samudera. O, rupanya telah sampai di ujung barat selatan pulau Jawa.

Segarnya angin laut Pantai Selatan, dan pemandangan ombak yang memecah pantai menggoda kami sebentar untuk turun menghirup udara laut. Setelah berpose sebentar, perjalanan kembali dilanjutkan karena tugas belum selesai. Menghantarkan sumbangan teman-teman dari komunitas bisnis Indonesian Business Forum, untuk disumbangkan ke Herman, seorang bocah umur 9 tahun dari Desa Karangkamulyan, Banten. Seorang anak kecil dengan semangat luar biasa, dengan kekurangan fisik dan materi ingin menjadi pemain sepakbola terkenal dan bersekolah tinggi. Dalam umur semuda ini, dia juga berjuang membantu menghidupi kedua orangtua dan 2 adik tirinya. Herman sendiri ditinggal ibu kandung ketika melahirkannya. Sekilas tentang Herman bisa dibaca disini:

http://trilogicinta.wordpress.com/2011/06/03/herman-bocah-perkasa-dari-cibogos-banten/

Menjelang Ashar, kami sampai sudah di kampung Karangkamulyan. Di persimpangan pantai Bayah, Pak Tono guru ngaji Herman menunggu kami untuk dihantar ke tujuan. Menanjak naik ke bukit, pantai kami tinggalkan dan perjalanan penuh batu kembali menunggu kami.

Sampai di rumah pak Tono, Herman rupanya sedang menggembala kambing. Herman tiba dengan adiknya yang sedikit terbelakang mental, wajah keduanya ceria bertemu kami.

Pak Anto menanyakan apa cita-cita Herman yang katanya ingin menjadi pemain sepakbola terkenal. Lalu pak Anto mengambil bungkusan berisi bola dan sepatu bola. Kedua bocah ini tampak sumringah bersemangat membuka bungkusan dan mencoba sepatu. Alhamdulillah, ternyata pas. ketika ditantang pak Sonny main bola, tendangan keras Herman sedikit merepotkan Pak Sonny. Padahal dengan kaki kurang sempurna, tendangan Herman mantap menunjukkan bakat alaminya sebagai pemain bola.

Kami menyerahkan paket bantuan kawan-kawan. Ada bahan makanan kami serahkan ke ibu tiri Herman. Sedikit uang kami titip ke Pak Tono untuk dibelikan sepeda dan uang sekolah serta untuk biaya pemasangan listrik. Ini dilakukan karena kedua orang tua Herman ternyata buta huruf dan tidak terlalu mengenal uang. Tercetus oleh kami untuk membantu Herman bisa melanjutkan sekolah nanti sampai SMP, malah sampai ke perguruan tinggi. InsyaAllah, nanti teman-teman IBF akan mengumpulkan dana kembali dan disimpan dalam bentuk logam mulia, sebagai simpanan untuk sekolah Herman nanti.

Sedikit cerita pak Tono tentang Herman dan sekolahnya, begitu menggugah kami. Betapa kekurangan tidaklah membuat kita harus terbelakang. Hak untuk maju ada pada setiap orang.

Setelah menjama’ shalat Ashar dan Zuhur, kami pamit pulang dan berharap bisa kembali.

Mitra, adik Herman dengan wajah lugu bocahnya melepas kami dengan lambaian senyum dan berucap, “Kadieu, nya’!”

“Ya, kadieu dei!”, kata saya tersenyum menjanjikan insyaAllah kami akan kembali lagi.

Menuruni bukit dan menyusuri pantai kembali. Pak Sonny rupanya mulas dengan jalur keberangkatan tadi, lalu kami pulang mencoba jalur yang berbeda. Menyusuri pantai selatan Banten, di kanan sejauh mata memandang hanyalah laut Samudera Selatan dengan ombak besar yang memecah di pantai berkarang. Sesekali kami dihadapan pada teluk yang permai, dengan pantai dan ombaknya yang tenang. Pemandangan alami yang belum tersentuh pariwisata begitu menyegarkan jiwa yang berpuasa. Segala puji hanyalah untuk Allah semata, “Subhanallah, wal hamdulillah!”. Begitu agung dan indah ciptaan-Nya.

Keajaiban Allah SWT ditunjukkan kepada kami. Berkah berbagi ke Herman langsung dibayar tunai oleh Allah. Pak Sonny, yang sebelumnya proposal bisnisnya masuk ke beberapa kampus besar dan disponsori oleh salah satu minuman terkenal telah disetujui. Dan, masyaAllah! Pak Sonny dapat telpon, disuruh minta untuk menyampaikan invoicing, tagihan awal untuk proyek ini. Padahal proposalnya sendiri secara resmi belum ditandatangani.

Saya sendiri hampir tidak percaya, dan pak Sonny geleng-geleng kepala.

MasyaAllah, baru kali ini ada proyek yang proposalnya sendiri belum ditandatangani tapi sudah disuruh minta mengajukan tagihan! ‘Gimana ceritanya ada yang begini?

Itulah dahsyatnya sedekah dan berbagi. Sebelumnya saya mendapatkan telepon juga dari isteri, bahwa ada yang mengorder baju renang kami dengan jumlah lumayanlah untuk bulan puasa ini. Coba bayangkan, di bulan puasa ini siapa yang akan mau berenang? Seperti tahun yang lalu, disaat bisnis pakaian muslim lainnya panen kami di bulan puasa ini biasanya hampir tidak ada penjualan. Lah, siapa yang mau berenang di bulan puasa ini? Ternyata, alhamdulillah dapat rezeki lumayan untuk bulan puasa ini.

Begitu juga Pak  Anto, mendapatkan juga keberkahan berbagi ini.

Senja turun dan petang menjemput kami. Setelah berbuka seadanya di mobil, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kerlap-kerlip lampu nelayan di kejauhan menghias laut lepas. Kami sibuk dengan takjub kemurahan Allah SWT dan pesona alam. Setelah beberapa lama menyusuri pantai, mobil menanjak menjauh dari pantai memasuki pedalaman wilayah Sukabumi, Jawa Barat.

Rupanya lama perjalanan pulang hampir sama lamanya dengan keberangkatan tadi. Tapi dari jalurnya, lumayanlah lebih bagus dibanding keberangkatan. Jalan beraspal dan beberapa kali berbatu dan berlubang lumayan dibanding keberangkatan yang lebih banyak jalan hancurnya.

Lewat tengah malam, akhirnya kami sampai sudah di Graha Pillar. Alhamdulillah, perjalanan hari ini melewati tiga provinsi: Jakarta, Banten dan Jawa Barat berakhir sudah. Sumbangan teman-teman sudah kami sampaikan, semoga Allah SWT membalas para donatur dengan berlimpat ganda dan keberkahan rezeki.

Selamat berpuasa. Semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi kita semua.

Read Full Post »

Selama ini para Motivator sering “mengompori” para TDB (Tangan Di Bawah/Pekerja) untuk memulai berwirausaha. Berbagai seminar dan talkshow sering membicarakan para orang kaya dan sukses yang hidup dari dunia bisnis.

Dan para TDB ini lalu menjadi resah dan terbakar! Baik oleh lingkungan pekerjaan, atau karena ingin menjadikan TDA (Tangan Di Atas/Pengusaha) sebagai  sebuah pilihan hidup.

Lalu, terjun bebaslah para TDB ini ke dunia penuh pesona ini.

Namun, ada yang sering dilupakan oleh para motivator dan acara-acara motivasi bisnis ini. Yaitu “how to”, tahap-tahap dan caranya menjadi Pengusaha. Sehingga yang sering kita lihat, bergelimpanganlah para korban motivasi ini. Ada yang berdarah-darah, lalu menyerah dan kembali menjadi pekerja, para Tangan Di Bawah!

Nah, dalam Seminar Cara Cepat, Mudah dan Aman Jadi Pengusaha yang diadakan oleh TDA Tangerang, yang diorganisir oleh KMM Bintang Selatan akan dibahas langkah-langkah apa saja, dan bagaimana cara yang cepat, mudah dan aman menjadi Pengusaha. Tidak sekedar dimotivasi saja, tapi juga ditunjukkan caranya dan bagaimana pengalaman dari Motivator dan Pelaku yang pernah terjun ke dunia usaha.

Dalam seminar ini peserta juga akan mendengarkan sharing pengalaman dari Pelaku yang pernah jadi karyawan, kemudian keluar pekerjaan dan berbisnis. Lalu… mereka gagal, jatuh, bangun, kemudian bangkit dan mendapatkan kemenangan!

Kemudian, pada akhir seminar para Peserta akan ditantang dalam 90 hari harus dan bisa menjadi Pengusaha!

Menarik bukan?

Jangan sampai Anda tidak mendapatkan tempat dalam seminar dahsyat penuh gizi ini. Sampai hari ini (Jumat 15 Januari) sudah separoh kursi telah terdaftar. Seminar ini dibatasi hanya untuk 100 orang saja! Bagi yang Anda banyak pikir, sudah pasti tidak akan mendapatkan tempat.

Sebagaimana yang menjadi fakta, daya beli masyarakat Indonesia akan naik pada tahun 2011 ini karena naiknya pendapatan atau GDP/kapita menjadi $3000. Coba Anda lihat, mal-mal baru banyak berdiri. Restoran asing dan berbagai franchise semakin menjamur. Kendaraan semakin banyak bersileweran di jalanan. Bandara sudah seperti terminal bis saja.

Jangan sampai hanya orang-orang asing saja yang menikmati lezatnya kue ekonomi ini. Lalu para pribumi hanya menjadi obyek, hanya menjadi para pekerja saja.

Mulai sekarang, ayo bangkit para Pengusaha Indonesia!

Hayo, hubungi panitia sekarang juga. Sekali lagi, ingat tempat terbatas. Hanya untuk 100 orang peserta saja. Dan, sudah separuh orang bergerak cepat mendaftar jadi peserta.

Seminar ini akan diadakan pada:
Hari, tgl: Minggu, 06 Pebruari 2010
Pukul 09.00 – 15.00 WIB
Lokasi di Resto Es Teler 77, Jl. Aditiawarman Blok M, Jakarta Selatan
Investasi hanya Rp 100ribu sampai tgl 15 Januari, setelah itu naik menjadi Rp 150ribu.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik link event ini di http://bit.ly/action2011

Read Full Post »

Pramuka

Pramuka

Hari (14-08) ini Hari Pramuka.

Teringat saya tentang gerakan kepanduan Indonesia ini. Teringat gerakan Pramuka hari ini, teringat pula saya akan masa lalu saya bersama gerakan ini.

Gerakan kepanduan (Inggris: Scouting) adalah sebuah gerakan pembinaan pemuda yang bertujuan melatih fisik, mental dan spritual—membentuk watak, akhlak dan budi pekerti luhur serta mendorong anggotanya untuk melakukan kegiatan positif di masyarakat.

Di Indonesia, gerakan kepanduan ini disebut Pramuka, singkatan dari Praja Muda Kirana. Artinya adalah orangmuda yang berkarya. Gerakan kepanduan sudah berdiri di Tanah Air semenjak zaman pergerakan. Menjadi kegiatan yang melatih kemandirian, kedisiplinan, kerja-sama tim, pembentukan karakter, cinta tanah air, dan hal-hal positif lainnya.

Dalam Pramuka, kita diajarkan cinta tanah air, cinta sesama, cinta alam dan cinta pada Tuhan. Teringat saya pada gerakan baris-berbaris, menyandang tongkat dengan baju yang dipenuhi oleh berbagai emblem penghargaan dan kegiatan. Di pinggang dengan gulungan tali dan pisau belati. Serasa sudah menjadi prajurit kecil, berbaris setia, menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Kegiatan ini mengajarkan kedisiplinan, kerjasama tim, taat komando, kepemimpinan, dan fokus pada tujuan.

Diadakan juga acara kemping. Hidup di alam, membangun tenda, membentuk komunitas kecil—hidup bermasyarakat. Menjunjung alam, tidak merusak dan melindunginya. Diajarkan tali-menali, masak-memasak, membaca jejak, membaca sandi, berpetualang melintasi alam, bertahan hidup, memanjat tebing, menyeberangi sungai. Kerja-sama tim, kekompakan adalah hal pasti untuk mencapai kemenangan. Beradaptasi dengan alam, tidak merusak dan menggunakan apa yang sudah diberikan alam, adalah nilai perjuangan ketika harus bertahan hidup.

Diajarkan juga hidup bermasyarakat. Bagaimana bersosialisasi dan bermanfaat bagi orang banyak. Bukan menjadi benalu, tapi menjadi panutan, berkontribusi kepada kehidupan.

Gerakan Pramuka masih relevan dengan kekinian. Di tengah derasnya globalisasi dan gaya hidup moderen yang menafikan jati diri dan ke-Indonesiaan, Pramuka bisa menjadi salah satu gerakan yang membendung dan beradaptasi di tengah derasnya serbuan nilai-nilai asing. Pramuka menyiapkan generasi kepanduan, generasi muda yang berjati-diri Indonesia yang tahan banting, kuat iman, dan kuat kreatifitasnya.

Nilai dan semangat Pramuka masih membekas di dada dan kepala saya. Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, masih ada rasa haru dan patriotisme di jiwa saya. Tak bisa saya mencuekin ketika Indonesia Raya dan Merah Putih dikibarkan.

Tapi sekarang, sudah saya saksikan banyak anak muda bangsa yang masih tertawa, cuek—masa bodoh ketika Indonesia Raya dinyanyikan, tak hapal lagu Kebangsaan, lupa dengan Pancasila dan UUD 1945 serta masa bodoh ketika Sang Merah Putih terinjak dan terkulai layu.

Hari ini Pramuka seperti masa lalu, romantisme bagi sebagian orang. Anak muda lebih senang dengan kegiatan ekstra kurikuler yang lain dari pada ber-Pramuka. Pramuka tinggal menjadi romantisme saya, Anda atau siapa saja yang dulu pernah beruntung beraktifitas dalam Pramuka.

Saatnya kembali memajukan Pramuka. Menjadi kegiatan wajib ekstrakurikuler di Sekolah-sekolah atau Universitas. Jika negara-negara lain mewajibkan Wajib Militer untuk memaksakan cinta tanah air dan menyiapkan prajurit cadangan, maka seharusnya Indonesia bisa menjadikan Pramuka sebagai kegiatan menumbuhkan kembali nasionalisme, kerakyatan dan cinta alam. Tentu saja Pramuka yang diajarkan sekarang ini harus pula bisa menyesuaikan diri dengan semangat zaman, perkembangan teknologi dan kemajuan zaman. Sehingga nantinya, anak-anak muda yang dihasilkan adalah anak muda yang suka berkarya bisa beradaptasi dan berkreatifitas menyambut zaman baru.

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.646 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: