Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Organisasi/Komunitas’ Category

Usai sudah Pesta Wirausaha TDA 2012. Acara yang berlangsung 28-29 Januari 2012 ini digagas oleh komunitas bisnis Tangan Di Atas adalah dalam rangka milad TDA  yang ke-6. Lebih dari 1800 peserta dan partisipan memenuhi gedung Smesco di Jakarta.

Ruangan utama sebagai pusat acara, sesak dan terasa panas. Pendingin ruangan yang semula dingin tak mampu lagi menyejukkan ruangan dimana sekitar 1400 peserta tumpah dalam antusias, bersemangat, bergembira dan bergelora dalam semangat persaudaraan dan perjuangan. Terbakar oleh inspirasi, motivasi dan gelora enterpreneurship.

Bagaimana tidak, tokoh-tokoh yang berbicara mengisi panggung bukan pula orang sembarangan. Ada Dahlan Iskan, menteri BUMN, Chairul Tanjung, CEO Trans Corporation, Jamil Azzaini, Inspirator Sukses-Mulia, Sandiaga Uno, pengusaha muda sukses, Arief Budiman, CEO Petakumpet, dan banyak lainnya.

Itu baru hari pertama, hari kedua diisi oleh Merry Riana, pengusaha muda sukses yang terkenal dengan Mimpi Sejuta Dollar, Joko Widodo, “ambassador” mobil Esemka, Nukman Luthfie, pegiat social media, Sumardy (pakar marketing), Asep Khairul Gani (pakar HRD) dan ditutup oleh mas Mono “Ayam Bakar” serta ustad Yusuf Mansur. Belum lagi kelihaian pembawa acara Iwel Sastra dan Putri Dwiandari.

Selain dihadiri oleh inspirator TDA Haji Alay, juga tampak para pendiri TDA. Yang terbanyak adalah rombongan peserta dari TDA wilayah yang punya ciri khas masing-masing tampak dari seragam yang digunakan atau penanda lainnya. Ratusan stan penuh dan tentu saja terjadi penjualan dan deal yang signifikan bagi pemiliknya. Dari beberapa kali even dan pameran yang saya datangi di gedung Smesco, baru kali inilah tampak paling ramai.

Selain ruang utama dengan acara besar, beberapa kelas workshop juga dibuka gratis untuk pengunjung acara. Pembicaranya juga top markotop dan pakar di bidang masing-masing. Ada Budi Rachmat, Fauzi Rachmanto, Zaenal “Teroris” Abidin, Bije Wijayanto, Teguh Wibawanto, Hafiz Khairul Rizal, Sonny B Sofyan, Ali Akbar, dan lainnya.

Salut sama teman-teman panitia yang menyiapkan acara ini. Berminggu dan berbulan mereka menyiapkan acara ini. Bahkan kabarnya adalah salah satu panitia yang rela menutup toko/bisnisnya selama satu bulan demi menyukseskan acara ini. Dan, asal tahu saja mereka semua tidak dibayar dalam kepanitiaan ini.

Hebat! Mana ada orang yang rela berkurban seperti ini. Apalagi semua mereka adalah Pengusaha. Ini bisnis bung!

Tapi itulah, semangat dan misi TDA “Bersama Menebar Rahmat” begitu kentara di acara ini. Dari jauh datang dengan ongkos sendiri, peserta begitu bahagia hanya untuk bersilaturahim dan bertatap muka. Sebab selama ini hanya banyak berinteraksi melalui dunia maya saja baik di milis, dan media sosial lainnya.

Dan, juga para pembicara hebat yang menginsiprasi dan memotivasi semua mau berbagi ilmu tanpa dibayar pula! Yah, inilah TDA!

Untuk acara selama dua hari, yang penuh daging dan bergizi semua, begitu murah harga yang harus dibayar. Kalau boleh dikata, paling uang peserta hanya untuk sewa dan petugas gedung, konsumsi dan perangkat acara. Sedangkan kalau yang tidak bayar, ya tidak dapat kartu tanda peserta dan konsumsi. Sedangkan lainnya gratis, dan bisa ikut workshop pula! Acara full dari pagi sampai malam! Gratis!

Merinding saya mengikuti acara ini dan menyaksikan semangat peserta. Teringat kisah lama ketika bergerak mengubah Indonesia dengan cara berbeda.  Jika para politisi ngakunya merubah Indonesia dengan cara perdebatan, wacana, dan ujung-ujungnya malah berbagi kekuasan dan merampok uang negara. Ini para pemuda yang berkumpul, berbicara dan bertindak dengan caranya sendiri. Tanpa banyak bicara, action oriented ternyata telah menggerakkan roda-roda ekonomi dan perubahan di tempatnya masing-masing. Biarkanlah para politisi berdebat, kita bekerja saja!

Saya percaya, bahwa perubahan itu tidak semata dari kekuatan politik. Politik dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang. Dan sesungguhnya dibalik perubahan dunia ada kekuatan tersembunyi ekonomi di belakangnya. Mana bisa beli senjata tanpa uang! Mana bisa mengangkat senjata kalau perut lapar! Para founding father sedari awal sudah menyadari ini. Bahwa kejayaan Indonesia hanya bisa melalui 3 hal: Berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.

Saya melihat ada semangat Beli Indonesia, semangat Bela Indonesia bersatu di acara ini. Saya melihat semangat, bahwa kalau mau sukses maka harus menyukseskan orang lain juga. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Inilah Sukses Mulia yang menjadi semangat Tangan Di Atas.

Dan yang paling membuat saya terharu dan meneteskan airmata, ketika sesi Merry Riana meminta semua peserta berdiri dan semua menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri. Kapan terakhir kita menyanyikan kedua lagu ini? Semua larut dalam nasionalisme Indonesia.

Beruntung saya, telah menjadi bagian dari komunitas ini: Tangan Di Atas, dengan misinya: Bersama menebar rahmat. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Seribu orangtua hanya bisa bermimpi tapi seorang Pengusaha bisa mengubah dunia!

Read Full Post »

Tulisan ini  masuk nominasi Lomba Penulisan Characterpreneur yang diadakan oleh Komunitas Tangan Di Atas dalam rangka acara Pesta Wirausaha 2012
————————————————————————————————–
Pengantar

Characterpreneur, adalah singkatan yang berasal dari 2 suku kata yaitu character dan enterpreneur. Character, menurut kamus Poerwadarminta adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan , akhlak ataupun budi pekerti yang mencirikan seseorang..

Secara bahasa, pengertian enterpreneur secara umum adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan.

Secara sempit enterpreneur dipandang adalah seorang pedagang (businessman). Namun pengertian/pendapat Joseph Schumpeter dipakai oleh banyak kalangan luas. Yaitu, seorang enterpreneur tidak selalu pedagang atau seorang manager; ia adalah orang yang unik yang berpembawaan pengambil resiko dan yang memperkenalkan produk-produk inovatif dan teknologi baru ke dalam perekenomian.

Selain konteks bisnis, kita juga mengenal yang namanya social enterpreneur. Social enterpreneur, dimotivasi oleh keinginan untuk membantu, meningkatkan dan mengubah lingkungan sosial

Secara bebas, menurut saya pengertian character-enterprener, selanjutnya disingkat menjadi characterpreneur adalah seseorang atau kelompok yang mengadakan usaha inovatif yang mempunyai karakter atau watak khusus yang mulia, yang memberikan manfaat perubahaan pada lingkungan atau masyarakatnya.

Pengusaha yang Berkarakter

Mengutip ucapan Nietzsche, “Seni demi seni, ilmu demi ilmu atau puisi demi puisi adalah kedok yang digunakan untuk menutupi watak jahat seniman atau ilmuwan serta memberikan pembenaran atas sikapnya dalam menghindari tanggungjawab sosial.” Kalau saya perluas, “Bisnis demi bisnis adalah kedok jahat yang digunakan oleh pengusaha untuk menutupi sifat jahatnya serta memberikan pembenaran atas sikapnya mencari untung dan menghindari tangungjawab sosial.”

Kalimat di atas memang sedikit keras, tapi hal ini perlu dijelaskan. Karena dalam hidup ini tidak ada yang namanya bebas nilai. Ada kaidah lain yang melekat pada bisnis. Sebab pada sebuah realitas ada motif di belakang penciptaannya. Ekonomi sebagai sebuah ilmu, adalah suatu cabang dari filsafat; sebagai sebuah pencarian manusia atas realitas, lingkungan, penciptaan sesuatu, dan atas “Sesuatu” yang melingkupi segala sesuatu.

Ketika agama datang, sesungguhnya pada prinsipnya filsafat telah selesai. Terjawab sudah pertanyaan mendasar manusia. Para Rasul datang membawa nilai yang melengkapi semua persoalan manusia, memberi nilai atas semua tindak, dan sifat atau karakter manusia. Tidak semata tata ibadah syariah belaka tapi termasuk nilai hidup dalam bermasyarakat dan berdagang dibawanya.

Kegiatan ekonomi atau perdagangan telah ada sebelum zaman kenabian terakhir. Sudah tentu masyarakat zaman itu telah punya karakter atau akhlaknya sendiri. Lalu Nabi Saw yang berlatar pedagang datang membawa misi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Contoh terbaik adalah para Nabi dan Sahabat Nabi. Hampir semua Nabi dan sahabatnya adalah para pedagang. Mereka telah menyontohkan adab dan akhlak berdagang. Tidak semata mencari keuntungan, tapi juga membangun sosial kemasyarakatan. Ada kaidah-kaidah yang dibawa mereka.

Menjadi seorang pengusaha tidaklah semata memikirkan untung-rugi belaka yang hanya dihitung secara matematis ekonomi. Dia haruslah menghitung juga secara matematis sosial. Setiap barang yang diproduksi, tidak dipikirkan semata mencari untung, tapi adakah akibat negatif pada masyarakat yang ditimbulkannya? Pada setiap produk yang dijual, adakah racun atau candu di dalamnya? Pada setiap media yang dikeluarkannya, adakah berdampak pada kerusakan generasi?

Mudah saja mengimpor produk luar dengan harga murah, banyak untung yang akan didapat. Tapi tak terpikirkah bahwa ada sekian banyak petani, nelayan dan pedagang lokal yang akan terkapar kalah? Produksi saja konten yang mengikut selera dasar primitif manusia, tapi terpikirkah bahwa sama saja kita telah merusak sekian generasi?

Pada hari ini kita gampang saja menemukan banyak pengusaha yang sukses dengan bisnisnya. Banyak orang kaya atau konglemerat yang muncul. Sebagai seorang pengusaha pemula, mudah saja kita menjadikan mereka sebagai idola dan menjadikannya model dalam berusaha. Tapi pernahkah kita secara kritis menilai mereka? Sudahkah usaha yang dijalankannya beretika dan bernilai secara sosial serta apa efek jangka panjang yang ditimbulkannya?

Karakter yang mulia haruslah melekat pada diri seorang Pengusaha.

Pengusaha yang berkarakter mulia haruslah visioner, idealis, jujur, amanah, tidak semata mencari untung jangka pendek. Dia tidaklah semata mengikut kepada selera pasar. Kalau perlu dia membentuk pasar (social engineering). Pengusaha yang mulia tidaklah menjadikan manusia sebagai obyek pencari keuntungan. Ia mempunyai misi dalam hidupnya.

Bisnis tidaklah bebas nilai, ia haruslah berpegang pada landasan moral etika. Tidak berprinsp sekuler dalam bisnis. Memisahkan kegiatan ekonomi dari moral-etika, dan lupa pada efek sosial dan kebudayaan.

Tangan Di Atas Sebagai Sebuah Ideologi, eh Gerakan Perubahan

Nabi Muhammad Saw pernah menyatakan bahwa, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Terinspirasi oleh hadis ini tercetuslah sebuah komunitas yang bernama Tangan Di Atas (TDA), sebagai sebuah kelompok yang senang berbagi dan berbagi senang dengan memilih berwirausaha sebagai aktivitas para anggotanya.

Menyambung dengan hadis Nabi Saw yang lainnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. TDA mendefinisikan caranya sendiri menjadi manfaat bagi sesama dengan cara berwirausaha.

TDA didirikan oleh para anak muda atau orang-orang yang berjiwa muda, lahir sebagai bentuk perjuangan dan penyelamatan bangsa. Ciri khas orang muda adalah anti kemapanan dan dinamis. TDA mendefinisikan caranya sendiri melakukan perubahan melalui gerakan ekonomi atau perdagangan. Sebab, kemajuan suatu bangsa sudah tentu ditandai oleh kemakmuran ekonominya.

Semenjak dibentuk tahun 2006 dari puluhan anggota sekarang komunitas ini telah mencapai ribuan anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara. TDA telah menjadi kosa kata baru dalam bahasa Indonesia, yang menggambarkan kaum wirausaha (pedagang), lawan dari kata TDB (Tangan Di Bawah) yang diartikan orang yang masih bekerja (karyawan).

TDA itu adalah sebuah gerakan diam (silent movement). Tanpa gembar-gembor, gegap-gempita berita. Di saat para politisi dan aktivis ramai di media lantang bicara  tentang bagaimana mengubah Indonesia, TDA bergerak dengan caranya sendiri tanpa demonstrasi. Kecuali hanya satu kali demo TDA—yang saya ingatJ, ketika melakukan demo di Bundaran HI dua tahun lalu sebagai bentuk sosialisasi Pesta Wirausaha atau Milad TDA yang ke 4J

Banyak orang hanya bicara, tapi TDA telah bekerja!

Banyak orang memandang bahwa perubahan dunia hanya ditentukan dan direkayasa oleh kekuatan politik belaka. Tapi sesungguhnya ada kekuatan ekonomi di belakangnya. Politik dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pada sejarah perubahan dunia kita melihat bahwa sejatinya ada gerakan ekonomi yang berperan, baik dengan cara baik maupun jahat atau kasar. Pergulatan inilah yang telah melahirkan berbagai macam ideologi, dari kapitalisme—mulai dari klasik sampai kapitalisme moderen yang humanis, sosialisme, sampai marxisme.

Bung Karno mendefinisikan kejayaan Indonesia itu dengan istilah Tri Sakti, yaitu: Berdaulat di bidang politik, kemandirian di bidang ekonomi, dan berkerpribadian di bidang budaya. Bung Hatta malah menekankan pentingnya membangun kekuatan ekonomi kerakyatan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Beberapa tahun terakhir ini, kita melihat banyak fenomena menarik di negeri ini. Wirausaha telah menjadi profesi baru yang sangat menarik. Jika dahulu berdagang dipandang sebagai sebuah pelarian, bentuk kegagalan dari seseorang yang tidak diterima bekerja di kantoran. Atau berdagang adalah profesi para perantau yang mencari penghidupan yang mana tidak bisa mengandalkan ijasahnya. Berdagang juga kebanyakan dijalankan oleh  para orangtua.

Sekarang bisnis atau berwirausaha telah menjadi tren, sebuah gaya hidup baru. Ditampilkan di panggung-panggung, dikonteskan, diberi piala dan penghargaan. Pelakunya banyak para anak muda.

Kita juga melihat betapa kegiatan wirausaha telah menjadi penyokong penyelamat bangsa ini dari krisis. Beberapa negara tumbang oleh resesi politik dan ekonomi, tapi bangsa ini masih berdiri. Berbeda dengan era sebelumnya, sedikit krisis politik maka guncanglah negeri ini. Tapi sekarang, politik dan pemimpin boleh berganti, tapi ekonomi jalan terus! Sekarang pertanyaannya, politik atau ekonomikah yang telah menyelamatkan negeri ini?

Di zaman Orde Baru barangkali banyak yang alergi ketika disebut kata “ideologi”. Tapi mari kita sederhanakan saja, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang sesuatu, menawarkan perubahan untuk kemakmuran masyarakat (weltanschauung). Lalu bagaimana dengan TDA? Bukankah di dalamnya ada kumpulan ide? Tentang bagaimana membentuk masyarakat yang sejahtera? Kekurangannya, barangkali ide TDA ini belum tersusun sebagai sebuah konsep pemikiran yang utuh dan sistematis. Baru dalam tataran idealis, belum diturunkan ke dalam bentuk materialistik (ini menurut istilah filsafat.  Sedikit berat ya istilahnya… :) )

Saya tak mau berdebat soal ideologi. Nanti akan banyak pula yang mengejar saya dengan cara pandang ini. Anggap saja cerita ini hanya ngalor-ngidul kegenitan intelektual. Tapi mari kita pandang saja bahwa Tangan Di Atas adalah sebagai sebuah gerakan perubahan. Ia menawarkan harapan. Misi yang dibawanya adalah “bersama menebar rahmat!”

Menjadi Pengusaha itu Sunnah, Tapi Tangan Di Atas Wajib

Ya, saya katakan bahwa menjadi Pengusaha itu adalah sunnah karena ia adalah profesi dan jalan hidup nabi. Sebagai umatnya sudah tentu kita akan meniru teladan dari nabi. Sunnah, itu baik dan menjadi pahala ketika dilakukan tapi tidak menjadi dosa kalau tidak dijalankan.

Boleh saja seseorang tidak memilih menjadi pengusaha sebagai jalan hidupnya. Tapi menjadi Tangan Di Atas hukumnya adalah wajib, berdosa jika tidak menjalankannyaJ

Apa makna menjadi Tangan Di Atas? Ialah menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebaik-baik manusia adalah yang menjadi manfaat bagi orang lain. Ia membawa harapan, bukan musibah bagi sesamanya. Sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah di atas bumi, ia membawa sifat-sifat Tuhan pada dunia ini, yaitu menyebarkan rahmat.

Prinsip Tangan Di Atas itu adalah, memberi dahulu baru menerima (give and receive).

Characterpreneur = Tangan Di Atas

Semua penjelasan yang saya sampaikan di atas adalah sebagai sebuah pengantar untuk sampai pada sebuah kesimpulan: character-enterpreneur atau Pengusaha yang berkarakter itu adalah Tangan Di Atas. Sebagai sebuah kosa kata baru, Tangan Di Atas (TDA) ini menjelaskan banyak hal. Menjadi pengusaha itu tidaklah bebas nilai, tiada sekularisme dalam bisnis, memisahkan bisnis demi bisnis. Ia haruslah menjadi penyebar rahmat. Pembawa kebaikan pada lingkungan sosialnya.

TDA itu senang berbagi.

Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dan, cara yang dipilih oleh TDA untuk menjadi manfaat bagi sesama adalah dengan menjadi Pengusaha. Dengan menjadi Tangan Di Atas.

Jadi, TDA itu artinya sama dengan Pengusaha, tapi Pengusaha belum tentu sama dengan TDA. TDA itu sama dengan character-enterpreneur. Yaitu, Pengusaha yang berkarakter. Yang sukses tidak hanya semata untuk dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat bagi umat. Inilah yang disebut dengan sukses-mulia, yaitu yang menebar rahmat!

Pada akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan memodifikasi ucapannya Bung Karno, “Seribu orangtua hanya bisa bermimpi tapi seorang Pengusaha bisa mengubah dunia!” Ingat, yang saya maksud dengan Pengusaha disini adalah TDA.

Bersama TDA mari kita menebar rahmat.

Read Full Post »

Seminggu menjelang Pesta Wirausaha (Milad TDA ke-5).

Tak sabar rasanya menunggu momen tersebut, berkumpul dan bersilaturahim dengan teman-teman komunitas bisnis Tangan Di Atas (TDA) dari seluruh tanah air. Bertemu dengan pengusaha-pengusaha tangguh, dan selama dua hari diisi dengan materi penuh gizi dari pembicara-pembicara hebat dan tokoh-tokoh terkemukan yang sangat menginspirasi dan memotivasi kita.

Berdebar dada saya. Ya, kenapa berdebar? Empat tahun, dua kali milad TDA dan beberapa kali momen halal bi halal ataupun forum-forum offline TDA saya tidak datang. Selama ini hanya memantau sekilas aktivitas teman-teman melalui milis online. Perjuangan selama empat tahun ini membuat saya tak banyak kesempatan atau ada halangan untuk berinteraksi baik online maupun offline.

Terakhir saya datang di Milad TDA ke-2 tahun 2008 silam, ketika acara milad ini masih sederhana. Sound system dan konten acara yang apa adanya, tapi semangat dan isi acara memberikan nilai plus untuk acara ini. Semua bergembira, para motivatornya hebat-hebat walaupun dari kalangan sendiri. Berbagai penghargaan disampaikan kepada teman-teman yang berhasil mengungkit, mengangkat dan mencapai double, triple dan naik berkali lipat dalam pencapaian bisnisnya.

Dan, biasanya yang paling menyenangkan adalah ketika Pak Haji Alay menyampaikan sensational offer, penawaran-penawaran menggiurkan peluang bisnis ataupun tawaran dagang, maupun penawaran toko-toko gratis sewa yang boleh diisi oleh teman-teman TDA. Ataupun tantangan-tantangan bisnis lainnya.

Apalagi ada acara wisuda untuk teman-teman yang telah berani memajukan diri keluar kerja dan full bisnis mengelola usaha. Panggung penuh, dan Pak Haji Alay mewisuda, menyampaikan  tausiyah dan kemuliaan Tangan Di Atas. Sayang, pada waktu itu saya belum berhak naik panggung bersama teman-teman ini, baru bisa naik pada sesi panggung selanjutnya. Ketika sesi pembacaan tekad untuk tahun atau milad selanjutnya telah full TDA. Panitia memfoto orang-orang yang naik panggung ini dan bertekad untuk full TDA. Direkam dan akan jadi saksi!

Melihat teman-teman hebat yang dipanggil ke panggung diberi penghargaan. Timbul rasa iri positif di hati saya. Saya harus bisa seperti mereka. Dari segi umur, tidak jauh beda dan malah ada yang lebi muda dari saya, tapi mereka telah mencapai kesuksesan dalam hidup dan bisnis mereka. Cuma barangkali starting point-nya saja yang berbeda. Saya terlambat mendapatkan “pencerahan” memilih jalan nabi, yaitu menjadi Pedagang alias berwirausaha. Terlalu lama disibukkan dengan dunia lain yang menguras waktu dan pikiran.

Saya bertekad, tahun depan di milad selanjutnya akan akan tampil di panggung itu nanti.

Berbulan-bulan, bertahun sudah berlalu. Sudah dua kali milad dilewati. Jalan penuh berliku, badai silih berganti. Ketika milad demi milad tiba, saya terpuruk tak bisa datang. Dengan biaya yang “lumayan” untuk ukuran saya waktu itu, terlalu mewah saya harus mengeluarkan uang untuk membayar HTM ikut milad TDA. Saya memilih prioritas lainnya.

Saya hanya membaca keramaian dan kegembiraan pesta. Lalu memilih fokus menyelesaikan beberapa persoalan yang tersisa dengan bisnis saya. Ketika memutuskan resign beberapa tahun lalu, saya tidak membawa uang keluar dari kantor. Tak ada pesangon, tak tabungan dan hanya menyisakan sedikit uang gaji terakhir yang tak utuh lagi karena harus membayar kontrakan dan beberapa pembayaran lainnya. Sementara isteri yang menunggu di rumah, juga tidak bekerja. Tapi senyum dan semangatnya menyambut saya agar kuat memilih jalan berwirausaha. (Kisah saya resign saya baca disini: http://wp.me/p1dJY-41

Sekarang, alhamdulillah walau bisnis belum seindah yang diinginkan. Tapi dengan kebebasan sebagai seorang TDA kami bisa mendaftarkan diri sebagai salah seorang peserta milad TDA yang ke-5. Setidaknya saya bisa menegakkan kepala, karena di kartu nama saya sudah tercetak:
Helsusandra Syam: Owner. Dengan bisnis yang punya brand sendiri: sporte (eFashion) – Fashionable Islamic Swimwear.

Inilah jalanku, jalan TDA: TDA Way!
Dan dengan jalan ini saya ingin berjumpa dengan teman-teman seperjuangan di seluruh tanah air. Orang-orang hebat yang di tangan merekalah Indonesia masa depan ditentukan. Saatnya kekuatan ekonomi berbicara, tidak lagi dibuncahkan oleh politisi yang hanya asal bicara dan mengeruk uang rakyat!

Empat tahun sudah saya tak menjumpai milad TDA. Makanya, kalaupun berdebar dada saya wajarlah. Tak sabar saya melihat kawan-kawan lama dan baru, apa kabar mereka? Dan, “keajaiban” apakah yang akan terjadi dengan saya nanti…?

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 534 pengikut lainnya.