Arsip Kategori: Religi

Tentang nilai-nilai religi

Doa Malam

Wahai Kekasihku,
BagiMu segala puji, tiada sekutu dan tandingan selain-Mu

Wahai Yang Maha Indah,
Malam ini aku menghadap-Mu dalam kerendahan diri dan dengan hati yang berdebar

Wahai Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu,
Sudah pantaskah aku menghadap-Mu? Oleh diri yang hina dan penuh dosa ini?

Berikanlah aku kemampuan untuk memahami maksud-Mu
Ilmuku masih terbatas, sementara nafsuku begitu menyelimuti
Seandainya tanpa hikmah-Mu, tentu sesat jalan hidupku

Wahai Maha Pemberi,
Aku hanyalah hamba yang tertatih di jalan menuju-Mu
Ilhamkanlah padaku jalan yang lurus, jalan sejati menuju tahta-Mu
Jika tanpa bimbingan-Mu, tentu sesat tujuanku

Wahai Sang Pengasih dan Penyayang,
Barangkali tak pandai kubersyukur kepada-Mu
Jadikanlah aku hamba yang selalu bersabar,
Semoga aku selalu menjadi hamba yang pandai berterimakasih

Wahai Sang Kerinduan,
Tanpa-Mu tentulah hidup ini kelam oleh durjana
Dan Keridhaan-Mu jualah yang kudamba
Sempit rasanya dada ini, jika jauh dari mengenang-Mu
Lapangkanlah dadaku, dan luaskanlah penghidupanku

Wahai Rab Yang Menjadikan segala sesuatu,
Jika yang terjadi pada diriku adalah karena kehendak-Mu
Sudah tentu pastilah aku ikhlas ya Allah
Tapi seandainya itu adalah karena dosa-dosaku, ampunilah aku wahai yang Maha Pengampun
Basuh salahku, ampunilah dosaku

Sesungguhnya, karena Engkaulah amalku, hidup dan matiku
Ilhamkanlah padaku jalan menuju-Mu, dan jauhkanlah aku dari lenaan nafsuku

Ya Allah, sesungguhnya jika Engkau berkehendak
Tidak ada yang tidak mungkin, walau seluruh semesta bersekutu menghalangi
Tak akan kuasa mereka

Kun!
Jadi, maka menjadilah!

Cobaan Memberikan Kekuatan

Terkadang, apa yang kita harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Keindahan yang diharap, kemuraman yang didapat. Kelancaran diminta, tapi perjalanan penuh luka-liku. Hidup ternyata penuh cobaan.

Hati yang penuh harap, kecewa yang dituai. Kenyataan tak seperti angan-angan. Padahal doa sudah dipanjatkan, apakah Tuhan begitu kejam?

Sang Peminta begitu harap, Sang Pendamba sudah begitu hasrat. Apakah maunya Tuhan? Salahkah berharap? Atau masih jauhkah lagi perjalanan?

Tuhan punya kehendak-Nya sendiri. Terkadang kehendak kita tidak sama dengan mau-Nya.

Dalam perjalanan, terkadang tidak kita sadari; bahwa jalan terjal itu adalah latihan diri. Kesusahan ternyata memperkuat daya tahan dan kekuatan. Seorang Petarung tangguh ternyata bangkit dari berbagai kejatuhan, ikan yang kuat karena berani menantang arus dan ombak. Rajawali kuat karena berani menghadang angin dan badai.

Hati yang lemah, ketika berhadangan dengan masalah maka akan mengeluh dan menyerah. Hati hamba yang ber-Tuhan kepada Yang Maha Kuat, menyandarkan hidupnya kepada Sang Pencipta.

Dalam aliran pikiran positif dikatakan, bahwa apa yang Anda pikirkan akan menjadi kenyataan. Tapi bagi seorang yang ber-hati positif, men-sinkronkan kehendaknya kepada keridhaan Tuhannya. Bahwa, kita hanya punya kehendak tapi kuasa ada pada-Nya. Bahwa, berharap yang terbaik saja yang akan didapatkan.

Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa mengubah arah layar kita. Tak harus menentang badai, tapi bagaimana kita bisa menyisirinya. Seperti seorang Pelancar yang unggul, dia tidaklah menentang ombak tapi berayun di sela-sela gelombang besar.

E + R = O : Event + Respond = Outcome

Setiap hasil yang kita dapatkan merupakan hasil cara kita bereaksi terhadap peristiwa yang terjadi. Kita tidak bisa mengontrol peristiwa, tapi kita bisa mengontrol respon kita. Ternyata, fakta membuktikan bahwa semua yang hebat lahir atau berada pada event yang tidak baik.

Ada 3 hal yang bisa kita kendalikan dalam hidup ini:

  1. Pikiran yang kita pikirkan;
  2. Bayangan yang kita visualisasikan;
  3. Tindakan yang kita ambil (perilaku).

Kita bisa mengubah pikiran, mengubah lamunan, mengubah kebiasaan dan ambil tindakan. Lalu, serahkan semunya kepada Tuhan.

Tuhan mengajari kita bagaimana menjadi kuat dan sigap, dari rintangan dan cobaan. Seorang hamba yang beriman, percaya dan berprangka baik pada setiap sisi kehidupannya. Bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, walau kadang kehendak hamba itu berbeda dengan Tuhannya.

Jika takut dilamun ombak, jangan berumah di tepi pantai.

Kepercayaan kepada Allah Swt terkadang bisa menyebabkan terjadinya mukjizat!

Wassalam,

Syam

Blog: http://hensyam.co.nr

FB/Twitter: hensyam

Bisnis: http://sporte.us  & http://efashion.co.id  |  Fashionable Islamic Swimwear

Keberkahan dari Karangkamulyan

Selepas pintu tol Serang Timur, perjalanan mulai memasuki pedalaman Banten. Memasuki kawasan Lebak, perjalanan dihadapkan pada jalan yang rusak, berlubang disana-sani dan dan berdebu. Untung musim kemarau, tak terbayangkan jika turuh hujan. Tentu saja Avanza yang kami naiki akan berlepotan oleh mandi lumpur.

Berangkat dari Graha Pillar sekitar pukul setengah delapan pagi, pukul satu kami—Pak Sonny, Pak Anto, mbak Nunu, Saya dan sopir pak Budi—masih saja diguncang jalan yang hancur di perjalanan menuju Malingping, seterusnya ke desa Karangkamulyan, Lebak Banten. Udara yang panas berdebu, sementara sedang menjalankan puasa sedikit menyedot semangat pagi kami tadi. Sempat gentar di hati melihat perjalanan ini, harus berapa lama lagi akan sampai di tujuan? Di kiri-kanan hanyalah hutan, kebun kelapa sawit, karet dan kadang-kadang perkampungan. Sementara di depan, kalau tak hati-hati hanyalah jalan yang bolong-bolong tercabik terlupa oleh Pemda.

Lebih setengah hari dilewatkan belum sampai juga di tujuan. Tubuh yang sedang berpuasa, perut yang kosong dan haus yang mendera bercampur di perut yang terkocok serasa melilit ketika mobil beberapa kali terhantam batu dan berguncang oleh lobang jalan. Terdengar beberapa kali mobil pak Anto berderit oleh guncangan. Avanza, mobil yang cocoknya di kota harus berhadapan dengan rute off road!

Menjelang tigaperempat hari, barulah kami sedikit terhibur ketika mata yang lelah, haus dan lapar dihadapkan dengan pemandangan baru. Jika sebelumnya di kiri-kanan hanya hutan, perkebunan kelapa sawit, karet dan desa-desa pedalaman. Sekarang mata dihadapkan oleh laut lepas samudera. O, rupanya telah sampai di ujung barat selatan pulau Jawa.

Segarnya angin laut Pantai Selatan, dan pemandangan ombak yang memecah pantai menggoda kami sebentar untuk turun menghirup udara laut. Setelah berpose sebentar, perjalanan kembali dilanjutkan karena tugas belum selesai. Menghantarkan sumbangan teman-teman dari komunitas bisnis Indonesian Business Forum, untuk disumbangkan ke Herman, seorang bocah umur 9 tahun dari Desa Karangkamulyan, Banten. Seorang anak kecil dengan semangat luar biasa, dengan kekurangan fisik dan materi ingin menjadi pemain sepakbola terkenal dan bersekolah tinggi. Dalam umur semuda ini, dia juga berjuang membantu menghidupi kedua orangtua dan 2 adik tirinya. Herman sendiri ditinggal ibu kandung ketika melahirkannya. Sekilas tentang Herman bisa dibaca disini:

http://trilogicinta.wordpress.com/2011/06/03/herman-bocah-perkasa-dari-cibogos-banten/

Menjelang Ashar, kami sampai sudah di kampung Karangkamulyan. Di persimpangan pantai Bayah, Pak Tono guru ngaji Herman menunggu kami untuk dihantar ke tujuan. Menanjak naik ke bukit, pantai kami tinggalkan dan perjalanan penuh batu kembali menunggu kami.

Sampai di rumah pak Tono, Herman rupanya sedang menggembala kambing. Herman tiba dengan adiknya yang sedikit terbelakang mental, wajah keduanya ceria bertemu kami.

Pak Anto menanyakan apa cita-cita Herman yang katanya ingin menjadi pemain sepakbola terkenal. Lalu pak Anto mengambil bungkusan berisi bola dan sepatu bola. Kedua bocah ini tampak sumringah bersemangat membuka bungkusan dan mencoba sepatu. Alhamdulillah, ternyata pas. ketika ditantang pak Sonny main bola, tendangan keras Herman sedikit merepotkan Pak Sonny. Padahal dengan kaki kurang sempurna, tendangan Herman mantap menunjukkan bakat alaminya sebagai pemain bola.

Kami menyerahkan paket bantuan kawan-kawan. Ada bahan makanan kami serahkan ke ibu tiri Herman. Sedikit uang kami titip ke Pak Tono untuk dibelikan sepeda dan uang sekolah serta untuk biaya pemasangan listrik. Ini dilakukan karena kedua orang tua Herman ternyata buta huruf dan tidak terlalu mengenal uang. Tercetus oleh kami untuk membantu Herman bisa melanjutkan sekolah nanti sampai SMP, malah sampai ke perguruan tinggi. InsyaAllah, nanti teman-teman IBF akan mengumpulkan dana kembali dan disimpan dalam bentuk logam mulia, sebagai simpanan untuk sekolah Herman nanti.

Sedikit cerita pak Tono tentang Herman dan sekolahnya, begitu menggugah kami. Betapa kekurangan tidaklah membuat kita harus terbelakang. Hak untuk maju ada pada setiap orang.

Setelah menjama’ shalat Ashar dan Zuhur, kami pamit pulang dan berharap bisa kembali.

Mitra, adik Herman dengan wajah lugu bocahnya melepas kami dengan lambaian senyum dan berucap, “Kadieu, nya’!”

“Ya, kadieu dei!”, kata saya tersenyum menjanjikan insyaAllah kami akan kembali lagi.

Menuruni bukit dan menyusuri pantai kembali. Pak Sonny rupanya mulas dengan jalur keberangkatan tadi, lalu kami pulang mencoba jalur yang berbeda. Menyusuri pantai selatan Banten, di kanan sejauh mata memandang hanyalah laut Samudera Selatan dengan ombak besar yang memecah di pantai berkarang. Sesekali kami dihadapan pada teluk yang permai, dengan pantai dan ombaknya yang tenang. Pemandangan alami yang belum tersentuh pariwisata begitu menyegarkan jiwa yang berpuasa. Segala puji hanyalah untuk Allah semata, “Subhanallah, wal hamdulillah!”. Begitu agung dan indah ciptaan-Nya.

Keajaiban Allah SWT ditunjukkan kepada kami. Berkah berbagi ke Herman langsung dibayar tunai oleh Allah. Pak Sonny, yang sebelumnya proposal bisnisnya masuk ke beberapa kampus besar dan disponsori oleh salah satu minuman terkenal telah disetujui. Dan, masyaAllah! Pak Sonny dapat telpon, disuruh minta untuk menyampaikan invoicing, tagihan awal untuk proyek ini. Padahal proposalnya sendiri secara resmi belum ditandatangani.

Saya sendiri hampir tidak percaya, dan pak Sonny geleng-geleng kepala.

MasyaAllah, baru kali ini ada proyek yang proposalnya sendiri belum ditandatangani tapi sudah disuruh minta mengajukan tagihan! ‘Gimana ceritanya ada yang begini?

Itulah dahsyatnya sedekah dan berbagi. Sebelumnya saya mendapatkan telepon juga dari isteri, bahwa ada yang mengorder baju renang kami dengan jumlah lumayanlah untuk bulan puasa ini. Coba bayangkan, di bulan puasa ini siapa yang akan mau berenang? Seperti tahun yang lalu, disaat bisnis pakaian muslim lainnya panen kami di bulan puasa ini biasanya hampir tidak ada penjualan. Lah, siapa yang mau berenang di bulan puasa ini? Ternyata, alhamdulillah dapat rezeki lumayan untuk bulan puasa ini.

Begitu juga Pak  Anto, mendapatkan juga keberkahan berbagi ini.

Senja turun dan petang menjemput kami. Setelah berbuka seadanya di mobil, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kerlap-kerlip lampu nelayan di kejauhan menghias laut lepas. Kami sibuk dengan takjub kemurahan Allah SWT dan pesona alam. Setelah beberapa lama menyusuri pantai, mobil menanjak menjauh dari pantai memasuki pedalaman wilayah Sukabumi, Jawa Barat.

Rupanya lama perjalanan pulang hampir sama lamanya dengan keberangkatan tadi. Tapi dari jalurnya, lumayanlah lebih bagus dibanding keberangkatan. Jalan beraspal dan beberapa kali berbatu dan berlubang lumayan dibanding keberangkatan yang lebih banyak jalan hancurnya.

Lewat tengah malam, akhirnya kami sampai sudah di Graha Pillar. Alhamdulillah, perjalanan hari ini melewati tiga provinsi: Jakarta, Banten dan Jawa Barat berakhir sudah. Sumbangan teman-teman sudah kami sampaikan, semoga Allah SWT membalas para donatur dengan berlimpat ganda dan keberkahan rezeki.

Selamat berpuasa. Semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi kita semua.