Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sisi Lain’ Category

http://hensyam.wordpress.com/2010/06/02/belanja-di-pasar-tradisional-atau-super-market/

Pagi ini sang isteri mengajak belanja ke pasar tradisional di Ulujami, Jakarta Selatan.

Setelah memarkir sepeda motor, kami pun memasuki pasar yang berdiri secara semi permanen. Sehabis hujan petang hari kemarin, menyisakan jalanan yang becek berlumpur memasuki sampai dalam pasar. Kalaulah tak hati-hati, tentulah berlepotan sandal dan celana oleh lumpur.

Dari berbagai kios beragam pilihan tersedia. Buah-buahan, aneka sayuran, lauk-pauk, bumbu dan sebagainya. Setelah terbiasa dengan berbelanja di super market, yang rapih dan ber-AC, belanja di pasar tradisional ini memberikan nuansa dan sensasi tersendiri. Jika berbelanja di super market atau swalayan, dengan harga yang fix dan swalayan (melayani diri sendiri), maka di pasar ini kita bisa berinteraksi dengan penjual. Menawar harga, bergurau dan membincangkan seputar kenaikan harga, terkendalanya pasokan barang dari petani, sampai serbuan produk impor.

Sang isteri ingin memasak ikan, disini kami menemukan ikan air tawar yang segar, masih hidup. Ada ayam yang dipotong di tempat. Beda dengan super market yang dibekukan dan lebih mahal pula. Selanjutnya tinggal beli sayur, cabe keriting, bawang merah, bawang putih, dan bumbu-bumbu yang lain.

Dari pasar ini kami mendapatkan informasi dan pembicaran-pembicaraan yang tidak akan didapatkan dari super market. Tentang harga cabe dan bawang merah yang naik—berubah kalau istilahnya pedagang—oleh sulitnya mendapatkan pasokan dari petani karena musim penghujan sekarang ini. Saya membayangkan sulitnya kehidupan petani, belum lagi oleh serbuan produk impor. Rupanya tidak sekedar barang keras saja—berupa mesin, elektronik, pakaian, dll—yang masuk ke pasar lokal. Sayuran, dan buah-buahan pun masuk ke pasar lokal—dan itu kebanyakan berasal dari Cina.

Dari satu kios ke kios lainnya, kami beranjak dengan waspada oleh jalan yang becek penuh lumpur dan sampah. Tak habis berpikir saya, bagaimanakah pemerintah bisa membiarkan hampir semua pasar-pasar tradisional tanpa perhatian. Pasar tradisional, identik dengan kekumuhan, becek dan ketidaknyamanan. Sementara pasar moderen (super market, super mall) terus berdiri dan mendapatkan izin baru. Bukankan pada pasar tradisional terdapat hajat hidup orang banyak? Disinilah real, sejatinya kehidupan mayoritas rakyat terjadi. Mulai dari hulu para petani yang memasok barang, sampai ke rumahtangga yang mengolah menjadi makanan yang lezat tersaji.

Berbeda terbalik dengan pasar tradisional, pasar moderen penuh kenyamanan dan ber-AC. Sudah tentu saja orang yang berbelanja lebih memilih ke super market daripada ke pasar tradisional. Setiap waktu awal gajian, selalu penuh antrian orang yang berbelanja ke super market, menghabiskan uang berbelanja mingguan atau bulanan. Dan ketika akhir bulan menjelang, di saat bulan tua barulah mereka mampir ke pasar tradisional, menghabiskan uang yang tersisa untuk belanja.

Semenjak pindah ke Petukangan, jarang kami berbelanja ke pasar tradisional. Kami memilih ke super market atau toko swalayan. Alasannya sederhana saja, yang lebih dekat memang ke super market. Ada Giant, atau Carefour. Dulu, sewaktu tinggal di Cipulir, dekat Kebayoran Lama hampir setiap pagi kami berbelanja ke pasar tradisional. Waktu itu kami baru nikah, karena belum punya kulkas jadi kami tidak bisa menyimpan lama sayuran dan buah. Sudah pasti, hampir setiap pagi kami berbelanja ke pasar. Karena letak rumah yang tidak jauh dari pasar, tinggal berjalan kaki saja kami sudah sampai ke para pedagang yang berjualan di sepanjang jalan menuju Kebayoran.

Sekarang ini pasar-pasar tradisional telah terpinggirkan oleh pasar moderen. Pemerintah punya caranya sendiri menyingkirkan mereka. Pasar-pasar tradisional, bukannya dibenahi malah dibuang jauh. Seperti di Cileduk, pasar digusur dengan berbagai alasan. Lalu, kemudian yang berdiri malah mal dan super market. Pasar tradisional di pindah ke lokasi yang jauh dan tidak strategis. Jika dahulu orang kalau berbelanja, kalau naik angkutan umum cukup sekali naik saja, sekarang harus dua kali berganti angkutan, dan jauh pula. Pasar pengganti yang ditujukan untuk menampung pedagang yang digusur, bukannya ditempati oleh para pedagang malah terbengkalai begitu saja. Siapa yang mau berdagang di tempat—istilah orang—di tempat jin buang anak?….

Pasar pengganti dibangun sia-sia. Betapa uang negara terbuang begitu saja.

Perlahan dan pasti, pasar tradisional tersingkirkan diganti oleh mal dan super market. Para pedagang kecil kalah dan yang menang adalah para konglomerat—dan pejabat yang makin kaya. Para petani semakin bersedih, oleh panen yang sering gagal dan sulitnya memasarkan produk. Sementara serbuan produk impor terus meraja.

Setelah dirasa cukup berbelanja, kami pun menyudahi belanja pagi ini. Beringsut kami menghindari becek oleh bekas hujan kemarin sore. Langit mulai mendung. Kalaulah hujan turun sore ini, sudah barang tentu pasar ini akan menjadi kubangan lumpur. Dan sudah pasti tentulah semakin malas orang-orang datang berbelanja ke pasar ini. Dan terbayangkan, bagaimalah rusuhnya hati orang-orang kecil yang hidup disini.

Matahari semakin tertutup awan. Seorang pedagang bercoletoh, “Hujan lagi…..”. Tentu dengan kegundahan dikandung dalam suaranya….

Read Full Post »

Silahkan klik tanda “Play” pada tampilan youtube di bawah untuk mendengarkan lagu. Untuk mendownload lagu, silahkan menuju link ini: http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Read Full Post »

Teman yang Masih Misteri

who

“Assalammu alaikum Wr. Wb
lama tak jumpa dan tak ada kunjung kabar dari kita masing2. Alhamdulillah akhirnya bisa silahturahim di blog ini.sepertinya Alloh SWT mempertemukan kawan lama ane yang udah lama ga ada info tentang ente ( wah jadi nostalgia ke jaman pas lagi sama2 aksi di lapangan tahun 98 nih. tapi ketika 2001 kita beda cara perjuangan kita, hiks, hiks, hiks teganya kau bilang kau kalo kami yang turun aksi pada saat itu sebagai mahasiswa2 titipan dan mahasiswa kampus kita tercinta yang turun ke jalan tidak kau akui sebagai kawan2 perjuanganmu juga. ) memang kita pernah bersilang pendapat dengan permasalahan kampus kita tercinta almamater yang membesarkan kita dan dengan permasalahan bangsa kita. Tapi ya sudahlah itu merupakan masa lalu kita. Dan ane fikir permasalahannya saat itu adalah tentang komunikasi dan egoisme kita sebagai orang2 muda yang penuh semangat keyakinan perjuangan kita masing2….
Alhamdulillah kini bang syam sudah menggenapkan separuh agamanya dengan menikahi seorang wanita yang sholehah, semoga Alloh SWT menberikan keberkahan kepada kalian berdua dan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Dan ane pun sekarang Alhamdulillah sudah menikah dan di karuniai satu orang mujahid, yang besar harapanku kelak kepadanya adalah agar tentara kecilku itu menjadi pejuang kebenaran…
oke kawan…sampai jumpa lagi di lain kesempatan dan yang terpenting adalah semoga Alloh SWT memberikan jalan yang lurus kepada kita…amiin ( Abu Jundi 97 )”

Guestbook saya di Multiply tertulis seperti di atas. Penasaran, siapa ya yang menulis dengan nama samaran dan tanpa foto asli.

Kemudian, cahayahidayah wrote on Aug 3:

“Ass.apa kabar bang syam. mampir lagi nich ane. Gimana utk pilkada DKI sdh tentukan calon belom?. kalo ga salah calon ente sdh ke pilihan yang paling tepat yaitu no 1.adang dani…..Ayo Benahi Jakarta…seluruh orang minang juga dukung adang dani…begitu pesan ninik mamak….”

Kembali dia menulis lagi. Dia tahu tentang diri saya. Rupanya teman seperjuangan ketika zaman pergerakan dahulu. Tapi siapa dia, masih misteri. Tanpa nama dan wajah asli.

Lalu saya membalas, hensyam wrote on Aug 3:

“Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
Alhamdulillah baik. Gmn kabar ente? Ente masih misteri nih sama saya. Siapa sih nama sebenarnya? Kok masih menyembunyikan identitas?
Untuk pemilu kali ini saya nggak ikutan, tidak terdaftar..:D Tapi untuk selera saya sih lebih sreg dengan Adang-Dani daripada Fauzi-Prijanto. Walau mereka ngaku ahli Jakarta, tapi sudah puluhan tidak terbukti kerja nyatanya. Bagi saya, program sih nomor dua, yang penting amanah terlebih dahulu. Semoga Adang-Dani bisa memegang amanah.”

Di kampus, saya punya banyak teman seperjuangan. Pertemanan saya dalam perjuangan adalah dalam kesamaan cita-cita. Tanpa ada tendensi apa, siapa danbagaimana latar belakangnya. Zaman pergerakan, yang satu cita-cita untuk membebaskan rakyat dan negeri dari penindasan adalah teman saya. Tapi siapa orang ini?

Kembali dia menulis, cahayahidayah wrote today at 12:24 PM

“Assalamu alaikum Wr. Wb. apa kabar bang Syam. mohon maaf, saya kunjungan lagi ke MP ente. mohon maaf kalo saya masih jadi misteri buat bang Syam. ada kerinduan memang untuk bertatap wajah secara langsung dan berdiskusi tentang kehidupan yang fana ini dengan bang Syam. walaupun saya sdh cukup lama kehilangan kontak dengan bang syam tetapi Alhamdulillah Alloh SWT mempertemukan kita di dunia maya ini ( thanks for MP ). tapi saya sedikit banyak, saya masih mengikuti perkembangan tentang diri bang Syam, termasuk kini bang Syam jauh lebih religius, penuh dengan nuansa yang Islami. Walaupun sosok bang Syam tidak berbeda jauh dengan yang saya kenal pada saat berjuang sama-sama di kampus kita. Dahulu pun saya mengenal bang Syam sebagai sosok yang cukup kharismatik. dan ini terbukti pada saat perjuangan di kampus pun baik lawan atau kawan cukup memperhitungkan bang Syam sebagai salah satu tokoh pergerakan di kampus ( pernah kami mendukung penuh perjuangan bang Syam saat akan maju menjadi orang no. 1 di kampus kita. akan tetapi kami sempat pula berbeda pandangan dengan bang Syam pada saat bang syam masih menjabat sebagai BL 1) dan tidak berlebihan kiranya bahwa bang Syam adalah ikon tentang pergerakan mahasiswa di tahun 98 di dalam dan diluar kampus. Pada awal saya mengenal pergerakan mahasiswa di kampus kita, jujur saya melihat pada diri bang Syam adalah sosok orang memiliki karakter cukup kuat, penuh dengan ambisi dan semangat untuk melakukan perubahan demi bangsa, negara dan agama. Dan sekali lagi ini terbukti dengan karir politik Bang Syam di kampus dan di luar kampus yang cukup cemerlang. Dan yang cukup saya kagum terhadap bang Syam adalah walaupun bang Syam tergabung dengan komunitas yang warna-warni dan beraneka ragam, bang Syam tidak ikut larut dalam warna-warni tersebut dan bahkan bang Syam cukup berhasil memberikan warna bang Syam bagi yang lainnya. Oke bang Syam mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan kenangan saya bersama Bang Syam di kampus Budi Luhur. oh iya ….hampir terlewat. salam untuk keluarga, semoga Alloh SWT senantiasa melindungi keluarga ente…Salam…:) ( Abu Jundi 97 )”

Saya bergaul di mana-mana dan siapa saja, dari teman-teman yang beraliran Kiri, Kanan sampai Garis Tengah. Jujur, sewaktu kenaikan saya menjadi orang nomor 1 di kampus dahulu kala, basis massa saya adalah teman-teman Rohis (Kerohanian Islam), mereka basis massa solid saya ketika saya dihadang oleh cecaran Unit-unit Kegiatan mahasiswa (UKM), organisasi mahasiswa atau kelompok-kelompok massa lain di kampus. Mereka juga penjaga saya ketika saya harus berhadapan dengan elit kampus, ketika saya harus mengatakan “tidak!” atas kebijakan yang mereka buat.

Saya juga dekat dengan kelompok-kelompok preman di dalam dan luar kampus. Kelompok ini kami sebut UK-PR, singkatan dari Unit Kegiatan Preman. Ketika ada benturan politik atau kepentingan dan saya diintimidasi, kelompok inilah yang jadi backing saya. Bergaul dengan orang-orang ini, tanpa perlu pula saya menjadi seperti mereka. Saya ingin menjadi nilai kebaikan yang saya pegang sedari kecil.

Angin politik pergerakan akhir ’90-an memaksa mahasisa dan pemuda untuk memilih mainstream gerakan masing-masing. Beberapa gerakan mahasiswa beraliansi dengan gerakan tertentu atau memang mereka ada yang menjadi under bow partai politik atau gerakan tertentu. Saya dan teman-teman kelompok saya lebih memilih jalur independen. Kami lebih merdeka menyuarakan suara kami. Hal ini memaksa saya terkadang berhadapan dengan kelompok-kelompok pendukung saya yang memajukan saya menjadi orang nomor 1 di kampus.

Terkadang isu-isu politik nasional kekinian memaksa mahasiswa untuk menyikapinya. Memaksa harus memilih, anda siapa? Kawan atau lawan? Gerakan mahasiswa pun masuk pada gerakan politik praktis. Ini yang saya tidak mau.

Kebencian saya pada suatu kelompok, tidak membuat saya kehilangan obyektifitas terhadapnya. Janganlah kebencian kalian pada suatu kaum membuat kalian berlaku tidak adil. Ketika ada gerakan mahasiswa yang masuk wilayah dukung-mendukung figur, demo anti Megawati, demo anti Gus Dur, saya dan teman-teman memilih tidak masuk pada wilayah ini. Kami lebih memilih gerakan moral: POTONG SATU GENERASI! Sebuah gerakan kebudayaan, moral dan politik untuk memangkas nilai-nilai lama yang bobrok, mengganti dengan nilai baru yang lebih baik. Kita tentu tidak bisa memelihara penyakit yang tak terobati. Pangkas, amputasi tentu saja diperlukan. Mungkin Anda pernah dengar istilah ini, jujur saja kamilah yang menginisiasi dan mempopulerkan istilah ini. Sebuah gerakan yang bisa satu buku untuk menjabarkannya.

Ketika ada teman, atau kelompok memilih kebencian atau antipati pada seseorang atau kelompok, saya pribadi lebih memilih sisi baik mana yang akan saya pilih. Kebencian saya pada sesuatu, tidak membawa saya membabi-buta menghilangkan kebaikan daripadanya.

Ah, rindu pada masa-masa dahulu. Tapi hari ini adalah kenyataan. Banyak kawan datang dan pergi. Banyak pula kawan yang berahasia.

Kembali kepada isi guestbook saya di Multiply tadi. Saya percaya, beliau yang menulis di atas adalah salah satu teman seperjuangan saya dahulu. Pilihan cara, atau kendaraan dan model cita-cita yang kita inginkan tentu saja berdasarkan latar belakang dan keyakinan masing-masing. cahayahidayah, siapa pun dirimu, engkau tetap temanku seperti engkau menganggapku. Walau ku tak tahu siapa ada dirimu. Jika misteri adalah pilihanmu, biarlah masa yang akan menceritakan siapa dan apa dirimu nanti.

NB:
Masuk lagi comment di guestbook saya, cahayahidayah wrote today at 4:04 PM:

“Ass.Wr. Wb. Insya Alloh yang saya sampaikan tentangmu adalah benar saudaraku. Dan saya berharap bahwa yang saya sampaikan ini bukanlah prasangka atau sebuah mimpi dari seorang saudara seperjuanganmu. Jujur memang saya harus mengakui bahwa saya banyak belajar dari engkau saudaraku tentang idealisme. Semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi perjuangan kita.”

Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Siapakah dirimu?

Read Full Post »

“Dapatkan tiket gratis menonton F1 …. dengan mengirim SMS ke ….”

“Dapatkan ringtone keren …. dengan ….”

Handphone (HP) saya berbunyi, ada sms dari operator kartu saya: Indosat IM3. Saya menggunakan kartu IM3, hampir setiap hari ada saja kiriman SMS dari operator IM3 ini. Saya tak tahu, apakah ini program promosi atau bentuk perhatian IM3 kepada pelanggan dengan mengirimkan SMS setiap hari. Kalau promosi itu sudah pasti, lalu kenapa saya mengatakan ini bentuk perhatian kepada pelanggan?

Ya, misal kalau Si Pemilik nomor HP jarang ada yang menghubungi dan sudah pasti HP-nya tak berbunyi seharian. Gengsi ‘kan, punya HP—apalagi kalau HP-nya keren dan tampang okeh punya—tapi nggak ada yang menghubungi. Nah, dengan masuknya sms dari operator ‘kan bisa jadi hiburan buat dia. Apalagi kalau HP-nya berbunyi ketika Si Pemilik tengah berada di kumpulan orang-orang, atau di tengah lingkungan elit. Si Pemilik lalu membuka SMS dan terserah deh apa ekpresinya. Pura-pura serius, kaget, sok ngedumel,  atau sok atraktif. Lalu orang sekeliling menganggap Si Pemilik orang penting, masih punya teman toh dia, atau ada yang perhatian atau ada yang punya keperluan dengannya.

Terlepas apa rasionalisasi dari IM3 mengirim SMS hampir setiap hari, karena promosi ataukah menunjukkan atensi kepada pelanggan, saya memandang ini sangat bagus buat ide bisnis. Apa itu? Yaitu kepedulian terhadap pelanggan!

Pada prakteknya sering para pebisnis, setelah barang laku lalu masa bodoh dengan pembeli atau pelanggan. Apalagi bagi kita pelaku bisnis online, setelah pembeli mentransfer uang ke rekening kita, kirim barang lalu setelah itu masa bodoh mau sampai atau tidak kek barangnya.

Dalam praktek bisnis online saya, setelah mengirimkan barang, beberapa hari kemudian saya menghubungi pembeli untuk memastikan apakah kiriman barang sudah sampai atau belum. Hal ini menunjukkan perhatian kita terhadap kepentingan pembeli, tidak untuk kepentingan kita saja di sisi penjual.

Selain itu, saat-saat momen tertentu kita juga bisa mengirim SMS, untuk menjaga silaturahmi dengan pembeli. Siapa tahu dengan cara ini Pembeli berubah menjadi Pelanggan (berlangganan) dengan kita. Tidak putus hubungan. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Silaturahmi membawa rezeki.”

‘Ngomong-ngomong tentang bunyi HP saya punya cerita sendiri.

Saya pernah ada meeting dengan seseorang kenalan yang menawarkan produk MLM ke saya. Saya kurang antusias dan ingin segera mengakhiri pertemuan itu, tapi kalau meng-cut pembicaraannya nggak enak juga. Si Kenalan ini terus cuap-cuap dan memancing respon saya. Selagi ia prensentasi lalu saya kirim SMS ke teman agar menelopon saya. Sang Teman lalu menelepon dan saya ‘ngarang-ngarang omongan dengan dia. Setelah mengakhiri pembicaraan telepon, lalu saya bilang ke kenalan MLM tadi bahwa saya sudah ditunggu oleh teman saya dalam pertemuan yang lainnya. So, saya punya alasan untuk pergi secepatnya meninggalkan si MLM.. he.he..

Dahulu semasa aktif di dunia gerakan atau organisasi, ketika kita lagi seru-serunya rapat tiba-tiba ada yang mendapat telepon dan bicara serius sekali. Seakan-akan—atau barangkali benar—dia mendapat telepon penting dari orang penting. Suaranya kadang-kadang dikeraskan untuk menunjukkan kepada peserta bahwa dia orang penting juga. Tiap sebentar telepon berbunyi, apakah itu pembicaraan atau bunyi SMS.

Lalu ada teman saya yang merekayasa HP-nya agar berdering pada waktu yang diinginkan. Ia menyetel HP-nya, lalu pada saat berdering ia mengangkat telepon dan bicara: “Halo?! Ya, saya lagi ada meeting nih sama kawan-kawan… Oke! Saya akan kirim anggota saya kesana… Butuh berapa massa? Oke! Besok saya akan kirim massa dari kampus saya seribu orang!” Orang-oarng yang mendengar takjub, “Wow… hebat nih orang. Gampang saja ia menyebut jumlah orang yang dikirim seribu orang. Solid juga nih massanya. Hebat juga dia!”

He.he… Tau ‘nggak kenapa HP-nya berbunyi? Dia telah setel alarm untuk berdering beberapa menit kemudian. Dan ketika HP-nya berbunyi, ia pun berlagak seakan telah mendapat telepon penting…

Barangkali Anda juga punya pengalaman yang sama…?

Read Full Post »

Alhamdulillah, Sabtu-Minggu (9-10 Juni) saya berada di Bandung.

Awalnya, saya berkenalan dengan Kang Komar (Ustad Komarudin Chalil, manajer pelatihan DT Bandung). Saya tertarik dengan ceramah beliau di Mesjid Daarut Tauhid Jakarta. Materi yang disampaikan begitu luar biasa. Saya menemukan benang merah yang saya cari-cari setelah menonton filem The Secret. Saya sempat diskusi kecil dengan beliau, dan memperkenalkan fenomena The Secret. Beliau belum pernah menontonnya, dan tertarik untuk menonton. Lalu saya tawarkan untuk nonton bareng dalam acara yang digagas teman-teman TDA Bandung.

Ingin melanjutkan diskusi, dan memperkenalkan beliau dengan teman-teman TDA Bandung maka saya berencana ingin pula ikut serta nonton bareng di Bandung.

Selain itu sudah lama saya dan isteri berniat pergi ke Bandung, mewujudkan rencana lama. Khususnya kami ingin melihat suasana Daarut TauhidBandung.

Ternyata Kang Komar berhalangan datang karena ada acara mengisi materi pelatihan di Jakarta. Namun saya tetap pergi. Selain memang karena ingin nonton dan melihat dinamika TDA Bandung, saya juga mengantarkan pesanan baju renang koleksi toko online kami (efashion.co.nr) ke Pak Fauzi buat isterinya.

Dan ternyata beberapa member TDA Jakarta ada juga yang berangkat kesana.

Jadilah Sabtu pagi saya dan isteri nebeng dengan Pak Roni ke Bandung. Janjian jam 7 pagi di ITC Permata Hijau. Pak Roni dan isteri selain atas undangan Pak Fauzi juga ada acara bisnis di Bandung.

Jam 8 dari sana kami menjemput Pak Iim, Pak Indra dan Pak Muslih (Tim TDA IT) di Mangga Dua Square. Bertujuh kami pergi ke Bandung. Sepanjang perjalanan, banyak canda yang dibuat. Apalagi kalau bukan mencandai Pak Indra yang masih jomblo (Pengumuman: Pak Indra masih single dan ingin cari isteri nih..he.he. . jangan marah ya Pak.. )

Law of Attraction Bekerja-Terbukti!

Sampai di tempat acara Gedung Pos Indonesia Bandung, sekitar pukul 12. Sesi pertama pemutaran filem sudah selesai. Kami tak dapat ikutan nonton bareng.

Saya menyiapkan barang bawaan, nebeng stan salah satu peserta expo mengeluarkan koleksi baju renang kami. Sayang, pesanan baju renang untuk isteri Pak Fauzi yang ukuran M habis, namun puteri beliau akhirnya yang berminat membeli dengan ukuran lain.

yusefSementara itu terlihat Pak Yusef dan Pak Try sedang menunggui stan TDA-Book Club. Koleksi dan alat-alat permainan yang dibawa membuat para pengunjungan begitu antusias

Sungguh dahsyat melihat semangat teman-teman Bandung dalam sesi kedua acara diskusi. Beda semangat Jakarta, beda pula semangat Bandung. Sesi diskusi disampaikan oleh Pak Eddy Djoti dari rahasiahidup.com. Pak Roni juga ikut sharing. Acara dipandu oleh Pak Fauzi. Luar biasa, ternyata acara ini tidak hanya diikuti oleh peserta dari Bandung saja, ada dari Jakarta, Surabaya, Wonosobo, dan dari Duri, Riau.

giftvcdmr_yusefSesi kedua ini begitu seru. Pak Eddy menyampaikan sharing-nya. Beliau juga memberikan kejutan hadiah VCD The Secret yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Apalagi di akhir acara Pak Yusef “Mr. Fire” Hilmi membakar penonton dengan materi dan praktik motivasi-inspirasinya. Luar biasa, sharing peserta juga membuat acara ini bergemuruh.

Sudah lama saya mencari-cari ingin mendapatkan filem The Secret. Selesai nonton bareng The Secret yang pertama di Jakarta Design Center, Jakarta beberapa waktu lalu saya mencoba hubungi panitia untuk mengkopi filemnya. Rupanya panitia tidak bersedia karena terikat dengan perjanjian untuk tidak memperbanyak filem. Saya terobsesi terus. Lalu di kantor saya searching di Internet. Dapat! Tapi dalam bahasa asli non-teks. Tapi tak apalah, bisa ngerti dikiti-dikit juga ‘kan…?

Pencarian dan usaha tak pernah berhenti. Ada teman TDA yang punya VCD-nya dalam teks Inggris. Saya ingin mengkopi dari beliau. Syaratnya saya transfer uang untuk sekedar pengganti burning CD. Karena lagi bokek waktu itu, tak jadi saya mendapatkannya. Dari Pak Zaidi saya mendapatkan free VCD The Secret, tapi non-teks. Akhirnya, ketika lagi nge-lapak di Karawaci saya mendapatkan versi bukunya yang baru beredar.

Saya yakin, insyaAllah suatu saat saya akan mendapatkan VCD The Secret dengan teks Bahasa Indonesia. Kenapa saya menganggap ini penting dan ingin sekali? Karena saya ingin juga mengajak orang-orang kenalan saya untuk ikut pula menonton filem ini. Diantara mereka tentu ada yang tidak fasih bahasa Inggrisnya.

Lalu, law of attraction bekerja! Kehendak adalah energi yang terkirim ke semesta. Saya telah berhasrat dan meminta, dan keajaiban pun tercipta. Allah telah merespon keinginan saya.

Selesai acara diskusi di gedung Pos Bandung, para pembicara dan peserta mulai meninggalkan tempat. Pak Eddy saya hampiri. Saya nanya bagaimana beliau bisa membuat The Secret dengan teks Bahasa Indonesia. Maksud saya, ingin medapatkan kopian VCD-nya dan berapa yang mesti saya bayar sebagai pengganti usaha dan VCD. Ternyata apa yang saya dapatkan?

“Untung bapak sekarang menemui saya, nih saya kasih VCD-nya”, Pak Eddy memberikan VCD ke tangan saya. “Tinggal satu saja.”

” Hah!?” Di tangan saya sudah ada VCD The Secret dengan bahasa Indonesia. Sesuatu yang sudah lama saya cari-cari, sekarang sudah berada di telapak tangan. Berapa nih harganya Pak?”

“Ambil aja, buat bapak.”

Sungguh, saya surprise sekali! Terimakasih Pak Eddy, semoga kebaikan bapak menjadi ladang amal dan dibalas pula dengan kebaikan berganda.

Saya berpikir, bagaimana ya caranya agar VCD ini pun dapat diedarkan terbatas di lingkungan teman-teman TDA. Karena dalam pengantar teks filem ini tertulis, “alih bahasa khusus buat komunitas TDA.” Barangkali teman-teman TDA-Book Club, TDA-Media atau TDA-Manajemen bisa membuat solusi atas ini.

Ternyata my dream telah menjadi nyata. Ke Bandung pun adalah salah satu dream saya. Sudah lama saya tak mengunjungi dan wisata ke daerah ini.

Nginap di DT Bandung

Setelah selesai acara, kami bertujuh yang bareng dari Jakarta jalan-jalan ke sebuah factory outlet/FO (saya lupa namanya). Bagus sekali rancang-bangun lokasi FO ini. Memadukan lokasi belanja busana dan makanan. Terpadu dalam suatu lokasi dan taman yang indah. Bandung memang oke punya dalam hal wisata belanja busana.

Setelah mengantarkan Pak Iim cs ke travel (mereka mesti balik ke Jakarta malam itu juga), kami–Pak Roni-isteri dan saya-isteri menuju ke Geger Kalong, tempat DT (Daarut Tauhid-Aa Gym) berada. Kami merencanakan menginap disana. Kami memilih menginap di cottage DT.

Bagus sekali penginapannya, sayang saya lupa memotret cottage-nya. Model cottage berupa rumah papan yang terdiri 2 tingkat. Suasana islami kental di sekitar DT.

Setelah shalat Isya di Mesjid DT (ternyata Aa Gym ada persis di depan saf shalat saya), kami jalan-jalan melihat sekitar lokasi DT. Luar biasa konsep DT ini. Dalam pikiran saya, lokasi DT Bandung adalah suatu wilayah terpadu pesantren, kegiatan bisnis dalam satu lokasi tertentu atau suatu komplek bangunan pesantren. Tapi bayangan saya meleset. Wilayah DT ternyata menyatu dengan perumahan/wilayah penduduk. Tak ada sekat tembok atau pagar pesantren, atau wilayah eksklusif pesantren disana. Yang ada hanyalah keterpaduan wilayah. Dari satu titik berkembang ke lingkungannya. Ternyata, perubahan itu bisa kita mulai dari diri sendiri, dan berkembang ke lingkungan, tanpa mesti menunggu atau mengawalinya dari hal yang ideal terlebih dahulu.

Sambil berjalan-jalan (duh, mesra sekali kali ya, dua pasangan suami isteri jalan-jalan malam), kami melihat-lihat ke sekitarnya. Banyak santri di sekeliling. Banyak unit-unit bisnis yang hidup di sekitarnya. Tanpa sengaja, kami melihat Aa Gym hendak pergi. Beliau tengah menyiapkan sepdea motornya.

aagym“Mau foto nggak?”, beliau menawarkan ke kami.

“Apa kabar A’?”, kami menyapa beliau.

“Mau nyoba motor baru nih”, kata Aa.

“Mau foto nggak?”, sekali lagi beliau menawarkan. Yah, tentu saja kami tak akan menolak. Jadilah kami-Pak Roni dengan isteri, saya dan isteri -masing-masing bergantian berfoto dengan Aa Gym.

Setelah berfoto dengan Aa Gym, kami makan malam di warung/restoran sederhana di depan mesjid DT. Saya mendapat telpon dari teman lama di kampus dulu (www.bl.ac.id). Namanya Ikhsan. Kami janjian di DT malam itu untuk ketemuan. Teman saya ini sekarang punya usaha memproduksi kaos dengan label SIX Clothing dan punya toko di Parahyangan Plaza.

Selesai makan malam, kami balik ke cottange. Saya dan Ikhsan melanjutkan pembicaraan di penginapan.

Malam semakin larut, Ikhsan mesti balik.

Dingin malam di Bandung mengantar saya jatuh ke peraduan (eh, pelukan…..:D)

Lembang is Beautiful Land

Yah, kami memutuskan Minggu pagi ini akan kesana. Kapan lagi kalau ke Bandung nggak berwisata. Bisnis boleh, tapi memanjakan diri dengan plesiran mesti jugalah. Jangan nyari duit aja bisa, tapi memanjakan diri lupa…

Selesai shalat Shubuh yang diimani oleh Aa Gym, lalu beliau sebentar memberikan pengantar ceramah yang disiarkan langsung oleh MQ-FM dan Radio PRO 2 FM Jakarta serta dipancar-luarkan oleh radio lainnya secara nasional. Aa Gym mesti ke Tangerang pagi ini untuk mengisi acara dan dilanjutkan siangnya di Masjid Istiqlal dalam pengajian bulanan MQ.

Sarapan pagi masih lama disiapkan oleh pihak penginapan, yaitu pukul 7.

me_mylove3Pagi itu kami berjalan-jalan sekitar lokasi DT. Sempat berfoto mesra dengan pasangan masing-masing di teras rumah Aa Gym (suiit..suit…. ;)). Lalu kami melanjutkan meninjau lokasi-lokasi unit usaha DT. Ada Radio MQ-FM dan MQ-TV. Dari papan nama korporasi MQ (Manajemen Qolbu) ternyata terdapat banyak unit-unit atau grup bisnis MQ (mirip dengan unit-unit yang ada di TDA ya? Ada TDA-Manajemen, TDA-QS, TDA-Media, dll :) ). Bisa dilihat pada foto yang terdapat disini.

mq

Setelah selesai sarapan pagi yang diisi diskusi kecil dengan Pak Roni tentang The Founding Father Indonesia, diskusi kebangsaan lalu merembet ke hal lain, kami bersiap diri untuk menuju ke Lembang. Daerah dataran tinggi di sebelah utara Bandung.

Sepanjang perjalanan, panorama alam begitu mempesona. Semilir angin Lembang, sejuk membelai masuk dari jendela mobil. Kami memutuskan ingin ke Observatorium Boscha, lokasi romantis dengan teropong bintangya. Tapi hari Minggu ternyata Boscha tutup. Kecewa juga, masa’ tempat wisata hari Minggu tutup? Bukankah pada hari libur itu sebenarnya pengunjung paling banyak? Ada-ada saja ini kebijakan pengelolanya.

Yah sudah, lalu kami memutuskan ke Rumah Stroberi. Dalam bayangan kami, tempat ini adalah kebun stroberi yang mana pengunjung bebas memetik buah stroberi.

Cukup sulit juga kami mencari lokasi Rumah Stroberi. Tak banyak petunjuk yang terdapat di jalanan. Sempat nyasar ke utara Lembang, nanya sana-sini. Kata orang, “malu bertanya maka.. mari jalan-jalan….”, he.he.. dengan perjuangan tidak malu bertanya, akhirnya kami dapati juga lokasinya.

me_mylove1Rumah Strobery memadukan konsep wisata agro dengan restoran. Akhirnya, orang-orang yang datang kesana bukannya ke kebun stroberi tapi malah makan-makan. Memang, sangat bagus lokasi makan disini. Terperdaya juga kami, niat awal ingin melihat kebun stroberi dan memetiknya, malah makan siang disini. View dataran tinggi, meja-meja makan yang bertebaran di lereng bukit, dengan payung-payung menjadikan makan siang terasa nikmat.

me_bdg1Harus saya akui, menu makan siang yang disajikan oleh rumah makan stroberi ini (saya tak menyebut Rumah Stroberi lagi, karena bisnis utamanya yang saya lihat ternyata adalah restoran. Kebun strobery yang dijual dalam namanya ternyata hanyalah sekedar penarik saja).

Sebagai penunggu pesanan nasi liwet, kami memesan jus stoberi campur susu. Duh nikmaat..!! Segar, jus yang kami minum mampu memijit urat-urat syaraf kelelahan siang ini. Pak Roni sampai megap-megap oleh kejuatan rasa asam-manisnya stroberi. Lumayan, buat obat ngantuk…:)

nasiPaket nasi liwetnya teryata luar biasa! Nasi yang disajikan unik sekali. Ditanak dengan periuk dan disajikan langsung dengan periuknyadi atas meja. Dimasak dengan campuran teri, dan beberapa bumbu yang unik, harum nasi yang berbumbu sungguh memancing selera makan. Paduan ikan asin, ayam goreng, tahu-tempe goreng, lalapan, dan tentu saja sambalnya (wuissh.. saat menulis tak terasa air liur saya tertelan) nikmat. Nggak percaya? Liat aja di foto Pak Roni dan isteri begitu lahap makannya. Tentu saja saya juga dong.. nggak terasa sampai 2 kali saya nambah makan. Kalau tak diingatkan isteri, bisa-bisa tak kehitung berapa nambah nasinya. Untung aja nggak ada petai, bisa-bisa gelagapan saya nggak bisa ‘nahan selera…he.h.eh.

nikmatMakan besar siang ini adalah salah satu makan terenak dalam hidup saya. Tak rugi rasanya paket nasi liwet untuk ukuran 4 orang seharga Rp 75 ribu rupiah. Jus stroberi per gelas seharga Rp 10ribu. Makan ber-tambuah (‘nambah maksudnya) sampai 2,5 kali. Pak Roni aja juga nambah (kalau gak salah 3 kali ya Pak nambahnya?). Wah, gawat nih! Kemungkinan besar kantuk akan menyusul siang ini…:D

Kami berfoto-foto di lokasi Rumah, eh restoran stroberi. Jepret, sana jepret sini. Pokoknya, acara wisata kami di Bandung ini bisa bikin iri teman-teman yang nggak ikutan, atau malah yang pulang duluan ke Jakarta.

tergiurSelesai makan, Pak Roni rupanya masih tertarik dengan kue stroberi (apa ya, nama kuenya? Saya lupa nanya tuh). Roti bakar dengan isi stroberi di dalamnya, dimasak dalam cetakan bulat, sehingga roti ini hasilnya berbentuk bola. Walau sudah makan besar kekenyangan, tetap saja kami memesan dan menikmati roti ini….

Perut sudah kenyang. Kami mesti meninggalkan tempat ini. Selesai shalat Zhuhur yang dijamak-qasar dengan Ashar, lalu kami beranjak pergi.

Pukul 3 sore saya dan isteri meninggalkan Bandung dengan travel. Pak Roni dan isteri masih tetap disana, karena masih ada urusan bisnis hari Senin.

Kenangan Bandung tak terlupakan. Suasana ketenangan yang tidak seribut di Jakarta. Udaranya yang sejuk begitu menyegarkan. Pemandangan alam dan suasana kota Bandung menjadi idaman buat saya.

Suatu saat, terniat di hati kami, kami mesti ke Bandung lagi. Kalau tidak untuk kunjungan wisata paling tidak untuk kunjungan lainnya. Barangkali, suatu saat kami akan tinggal di Bandung…???

Entahlah, oh Jakarta, dikau masih memelukku….

Read Full Post »

SAMBAL LADO ENAK SEKALI

sambalAlhamdulillah, saya termasuk orang yang tidak pilih-pilih dalam selera. Perut lapar, apa saja bisa masuk ke perut. Tidak seperti banyak orang, mesti makan inilah, nggak mau itulah. Berpantang makan ini-itulah….

Semalam, perut lapar sekali. Sudah setengah delapan,tapi belum makan malam juga. T ak ada lauk yang bisa dimakan. Isteri kecapaian pulang dari program apprentice di toko Pak Haji di Tanah Abang. Nasi ada, tinggal lauknya yang nggak ada.

Mau beli lauk di warung makan, sayang duit. Itu pun cuma bisa untuk dimakan sekali. Mending masak aja kali ya, bisa buat beberapa kali makan. Sekalian bisa masa buat makan sahur (rencana besoknya mau puasa Kamis). Pergi ke warung si mbah langganan yang jual bahan-bahan masak, udah pada habis. Lauk kosong, yang ada tinggal tempe, tahu dan sayur Sawi. Okeh, ini pun jadilah…. Sebagai tambahan dibeli pula ikan Teri.

Beli cabe seperempat. Rencananya selain buat digoreng juga ingin buat sambal lado.

Ingat masa lalu, masa-masa kecil di Ranah Minang, sambal lado. Okeh punya tuh…. Orang Minang (Padang) terkenal dengan variasi sambal ladonya.

Masak nasi. Cabe, bawang merah beberapa siung, bawang putih satu siung, tomat, tambah ikan Teri. Semua ditaruh di atas rebusan beras/nasi. Dimasak dengan cara diuapin nasi. Sampai nasi matang, lalu bahan-bahan sambal lado tadi dikeluarin. Digiling (biar lebih cepat karena dah kemalaman diblender aja), woww.. wangi sekali. Mantab (pakai “b” tidak “p” biar yahud) sekali.

Sementara itu, tahu, tempe digoreng. Cabe pun digoreng dengan sedikit diberi air jeruk-sebagai pengganti jeruk nipis. Sayur telah selesai ditumis oleh isteri tercinta.

Sekitar setengah sembilan malam, semua sudah selesai.

Nasi terhidang, lauk dan sayur juga. Tentu saja sambal lado buatanku tersaji menantang. Wessshh… merah oi… mantab… menyala menunggu, menantang… Aroma ikan teri yang tercampur dalam sambol lado sungguh menerbitkan selera. Sudah berapa tahun ya, saya tak mencicipi sambal lado ini. Ingat dengan variasi sambal lado yang lain, yang dinamakan sambal lado uap, sama-sama diuapin… tapi lebih encer seperti kuah… Sama-sama dicampur ikan teri….

Nyap, nyap…. Lahap sekali makanku malam tadi. Habis satu piring, tambah lagi (tambuah ciek ‘da, itu istilah orang Minang). Ikan Teri yang rencananya juga digoreng campuran Tahu dan Tempe, kelupaan digoreng. Jadilah goreng balado tempe dan tahu saja. Peluh membasahi kening. Isteriku ketawa melihatnya. Adik ipar yang menemani, sudah megap-megap mulutnya karena kepedasan. Aku lanjut terus, makan sambal lado seperti sayur saja. Kalau orang lain, sambal lado sekedar variasi makan, tapi bagi saya jadi menu utama. Makan sambal seperti makan nasi, lauk atau sayur saja.

Kalau tak mengingat perut yang membuncit, mungkin sudah ingin ‘nambah lagi saya untuk yang kedua piring. Ingat masa umur belasan atau 20-an dulu. Kalau makan pasti nambah, bahkan kalau makannya enak sekali bisa dua kali tambuahnya…. Tapi sekarang…? Sudah kepala tiga euy… Apalagi ini makan malam…:D

Yah, nikmat mana lagi yang tak patut disukuri…? Nikmat yang terbesar setelah iman, yalah kesehatan. Alhamdulillah badan sehat, makan nikmat, tidur pulas…. Luaarrr biasa….

Ini nikmat yang saya syukuri dari dulu. Saya tak pernah berpantangan untuk makan. Bahkan hanya dengan sambal lado pun saya nikmat. Ini yang membuat saya jadi kesayangan isteri, tak pernah mengeluh atas masakan isteri. Malah pujian yang sering ia dapat, sebab memang masakan isteri saya enak….:)

Perut telah kenyang, dan saatnya bersyukur….

Read Full Post »

orasi

(Mengenang 9 Tahun Reformasi)

Tak terasa, 9 tahun sudah gebrak reformasi berlalu. Ditandai dengan demonstari yang marak dimana-mana, kerusuhan yang berdarah-darah, lalu beberapa mahasiswa pun menjadi martil untuk perubahan. Puncak dari perubahan yang diinginkan adalah minta turunnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia kala itu.

Masa berganti, musim telah sekian berubah. Sudah sekian pula pemilu berlangsung dan para pemimpin baru terpilih. Sudahkah tercapai keinginan para mahasiswa dan seluruh bangsa ini menjadi lebih baik….?
Sesuai takdirnya dimana-mana, para mahasiswa hanyalah sekedar menjadi pendobrak saja, para petualang juga yang mengambil kemenangan dan keuntungan. Elit baru muncul, partai-partai baru euforia menyatakan diri sebagai yang terbaik dalam menyuarakan dan membela rakyat. Sementara para mahasiswa, kembali ke dunia kampusnya masing-masing. Yang idealis masih berkutat dalam grup-grup diskusi, sesekali melakukan aksi untuk menyuarakan hasil kajian-kajian mereka. Sementara sebagian besar lain asik dalam dunia anak muda yang hura-hura, hedonisme semu dari racun sinetron serta bujuk rayu layar kaca.

9 tahun berlalu sudah. Yang mati pun mulai terlupa. Sekian mahasiswa korban penembakan oleh aparat negara ini, serta perkosaan dan kerusuhan yang direkayasa dimana-mana, telah distempel oleh para wakil rakyat terhormat—hasil pemilu yang katanya paling demokratis di dunia—bukan merupakan pelanggaran HAM (hak asasi manusia) berat. Lembaga-lembaga keadilan negeri ini tak berdaya—atau tak punya niat untuk menuntaskan tragedi ini.

Begitu sulitnyakah mencari pemimpin yang berhati nurani di negeri ini?

dkkReformasi hanyalah menjadi pintu gerbang dalam persaingan demokrasi. Bangsa ini hilang jati diri. Barat berkata, demokrasilah yang terbaik buatmu, wahai Indonesia! Dan semua sepakat, ya, demokrasilah jalan keluar persoalan bangsa ini. Tanpa periksa, tanpa tawar-menawar lalu demokrasi di copy and paste dari Amerika! Hasilnya? Partai-partai baru bermunculan, awalnya ratusan dan semua mendeklarasikan diri sebagai yang terbaik. Zaman persaingan pun dimulai! Lalu diusunglah idiom-idiom nasioalisme, agama, demokrasi dan sebagainya. Ternyata demokrasi tak lebih dari persoalan sektarian, kelompok, golongan yang diusung sebagai motor untuk persaingan. Hilang sudah kearifan bangsa ini…. Musyawarah untuk mufakat letaknya entah dimana saat ini. Burung Garuda patah sayap, Pancasila hilang makna….

Dari pemilu ke pemilu, dari pemilihan presiden sampai kepala daerah, hanyalah saat-saat kita bisa menyaksikan dengan mata telanjang sebuah ironi. Betapa partai-partai, baik yang mengusung demokrasi, nasionalis ataupun agama tak lebih seperti kucing lapar yang memperebutkan daging. Berlomba-lomba curi start, kampanye tanpa mengindahkan kaidah-kaidah demokrasi yang mereka usung sendiri. Jika hanya persoalan, lho, yang lain saja sudah curi start, masa’ kita tidak boleh juga..?
Lhah! Sudah jelas salah, kok malah ikut-ikutan berbuat salah….????

Lalu dimana doktrin keadilan yang mereka usung masing-masing…? Kalau pun dianggap tidak ada aturan yang melarang kampanye dan curi start duluan, tapi bukankah aturan hukum juga berbicara, ada saatnya baru halal untuk memulai kampanye…? Kaidahnya, sebelum dibuka masa untuk kampenye maka tidak boleh melakukan kampanye…. Atau pun kalau tidak bicara aturan hukum, tapi sebagai sebuah kekuatan politik, atau seorang politikus, bukankah mereka mengenal yang namanya etika dalam berpolitik…??? Jangan-jangan nurani dan etika yang sudah hilang pada mereka. Yang penting gua menang, masa bodohlah yang lain, habis perkara!

Ah, malas saya menggambarkan negeri ini. Sudah beberapa pemilu saya tak menyuarakan pilihan saya! Alias golput! Hidup ini memang harus memilih. Tapi bukankah tidak memilih juga adalah sebuah pilihan…??

Untuk pemilu nanti ada niat saya harus juga menyuarakan pilihan. Yang paling dekat adalah meramaikan pemilihan Gubernur Jakarta. Tapi lihat-lihat dulu siapa yang akan dipilih…. Dari calon yang tampak naik sekarang ini, belum ada yang masuk dalam kriteria saya. Ikatan emosional, kelompok atau masalah sektarian tak bisa membuat mata saya menjadi buta dalam memilih. Track record masa lalu seseorang juga menjadi penilaian saya. Belum lagi nilai-nilai yang dianut oleh seseorang. Apakah dia punya karakter atau tidak. Sebab yang kita butuhkan sekarang ini adalah pemimpin yang punya nurani, berkarakter dan menjunjung nilai-nilai ideal.

Saat ini memang dibutuhkan pemimpin baru yang berani untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini. Korupsi, kolusi dan nepotisme telah menjadi budaya negeri ini.

Kembali ke persoalan reformasi, jangan sampai kita kualat karena melupakan sejarah dan perubahan. Keadilan harus ditegakkan. Para pahlawan harus kita tempatkan dalam tempat yang sebaik-baiknya. Para korban harus dibela, jangan sampai mati sia-sia.

9 tahun reformasi, banyak hal lagi yang perlu untuk kita renungkan!

13 Mei 2007

(Untuk para sahabat-pejuang yang telah menyerahkan nyawanya untuk negeri ini. Terimakasih, semoga Allah menyambut kalian dengan terhormat)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 535 pengikut lainnya.