Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tokoh’ Category

Namanya, Sarbini saja. Satu kata, seperti nama-nama orang besar atau yang pernah tercatat di sejarah. Saya yakin, beliau pun juga akan mencatatkan namanya sebagai salah satu orang besar. Coba perhatikan: Ibrahim, Muhammad, Sukarno, Syailendra, Suharto (yang ini kontroversi), hanya satu kata nama saja. Profil beliau, selain di http://sarbini.net, bisa juga dilihat di Facebook pada link ini atau link ini.

Anak Banten, yang lahir dari kampung Onyam, Tangerang ini melewatkan masa kecilnya di kampung. Menamatkan SMP di pondok pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI), Bangil-Jawa Timur. Lalu dia menghabiskan masa remajanya di pondok pesantren Daar el-Qalam, Tangerang yang dilanjutkan dengan menamatkan pendidikan S1 di Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) 1945 Jakarta.

Saya mengenalnya sejak perjuangan tahun ’98. Mantan Ketua Senat Mahasiswa dan Presiden Mahasiswa UNTAG ’45 Jakarta ini adalah aktivis dan pejuang tulen. Koordinator FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahaiswa se-Jakarta) tahun 1998 ini adalah motor, inspirator dan motivator perjuangan mahasiswa. Sosoknya yang low profile acap kali hilang dari liputan dan wawancara media massa.

Saya ingat, ketika Jakarta membara pada medio Mei ’98. Konstalasi politik tidak menentu pasca resesi ekonomi dan penembakan (pembunuhan?) mahasiswa serta bumi hangus Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat ingin menyampaikan aspirasi ke gedung DPR/MPR, tapi terhalang oleh pagar duri dan hadangan tentara bersenjata lengkap. Tak ada celah untuk bisa masuk kesana. Demo-demo mahasiswa hanya bisa terjadi di dalam kampus saja, tak bisa keluar karena dijaga aparat bersenjata.

Saya ingat, kami para pentolan pimpinan berbagai kampus Jakarta. Para Ketua-ketua Senat Mahasiswa atau perwakilannya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) berkumpul di IKIP Jakarta, lalu menyusup dalam rombongan rektor IKIP Jakarta masuk ke Gedung DPR/MPR. Saat itulah kepemimpinan dan ketokohan Sarbini terlihat. Bertindak sebagai juru bicara FKSMJ, beliau dan kami mendesak pimpinan DPR/MPR meminta agar Suharto mundur dari Presiden Republik Indonesia dan diadakan Sidang Istimewa segera!

Saya menyaksikan, betapa pucat dan gugup muka Harmoko dan pimpinan Dewan yang lain, atas desakan mahasiswa menyampaikan agar Suharto mundur dari Presiden. Hasilnya, reaksi hebat para elit pemerintah dan aparat terhadap seruan ini. Wiranto sebagai Pangliman ABRI waktu itu langsung bereaksi bahwa seruan itu adalah seruan pribadi dan siap melindungi keluarga Suharto.

Kami memutuskan menginap di gedung DPR/MPR, dalam kepungan tentara bersenjata dan sniper yang mengincar di malam hari. Saking mencekamnya disana, sampai Syarwan Hamid dari Fraksi ABRI di DPR/MPR tidak berani keluar dari sana.

Ah, betapa mencekam malam itu. Bayangan peristiwa 27 Juli masih saja terbayang di mata. Apakah kami akan berakhir seperti ini?

Nostalgia, ya kenangan itu begitu melekat pada diri saya dengan Sarbini sebagai salah satu tokoh sentral dalam aksi ini.

Singkat cerita, akhirnya Suharto pun tumbang digantikan Habibie yang penuh kontoversi. Mahasiswa terpecah dukung-mendukung dan menentang dengan meminta sidang istimewa MPR atau membentuk pemerintahan transisi atau pemerintahan rakyat. Isu berkembang menjadi fitnah, bahwa yang menentang Habibie adalah kelompok komunis. Kami pun dipetakan dalam grup komunis ini.

Tapi mana mungkin Sarbini, jebolan pesantren murid kesayangan kiyai bisa menjadi komunis? Dalam forum-forum diskusi dan seminar, lugas dan cerdas Sarbini menjawab fitnah dan tuduhan ini.

Kami menyebut Sarbini dengan istilah Buldozer. Ya, beliau adalah jagonya dalam retorika dan berorasi. Dalam setiap forum, beliau mampu melabrak para elit yang pasca runtuh Suharto mengklaim sebagai pihak yang paling berjasa dalam menjatuhkan Orde Baru, dan mengklaim sebagai “orang” dibalik gerakan mahasiswa. Sebagai pelaku langsung di lapangan, Sarbini tentu saja perlu meluruskan hal ini. Gerakan mahasiswa bersih dari kepentingan elit!

Kami menyebut dia si Buldozer! Argumentasinya jelas dan logikanya benar. Tentu saja para oportunis yang main di forum-forum mati kutu olehnya.

Pasca jatuhnya Suharto, gerakan mahasiswa masih melakukan reli-reli aksi. Sarbini masih saja berada di garis terdepan. Beliau mempelopori pertemuan-pertemuan ketua senat mahasiswa dan perwakilan mahasiswa secara nasional untuk menghasilkan sinergi perjuangan.

Ketika pemerintah tak lagi legitimate maka perlu dicari pemimpin alternatif, yang bisa menyatukan semua perbedaan dan menghindarkan Indonesia dari perpecahan dan kehancuran. Sarbini adalah salah satu orang yang menjadi otak dari pertemuan para tokoh bangsa dan mendorong mereka untuk bertemu. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Deklarasi Ciganjur. Dimana, dari pertemuan inilah naiknya popularitas Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Sri Sultan HB IX.

Sayang, tak banyak diharap dari pertemuan tokoh ini. Mereka masih takut untuk maju memimpin alih kepemimpinan nasional. Semenjak itulah kami menyatakan tidak lagi percaya kepada para elit, dan menyerukan POTONG SATU GENERASI!.

Sarbini adalah sahabat saya, yang lahir dari kancah perjuangan. Ketika mahasiswa terpecah dalam isu dukung-mendukung Habibie, menentang dan mendukung Sidang Istimewa, beliau tampil beda dengan argumentasi yang cerdas logis. Beliau belajar dari guru terbaik, dan tentu saja semua apa yang disampaikannya tak terbantahkan!

Pasca reformasi ’98, sebagian mahasiswa balik ke kampus dan sebagian lagi sibuk dengan perjuangan. Ada juga yang masuk ke gelanggang politik praktis. Berbeda dengan Sarbini, ketika berbagai tawaran datang masuk afiliasi politik, sampai tawaran beasiswa dan dukungan dana dari berbagai funding. Beliau masih tetap dalam jalur independen dan bersih dari kepentingan praktis.

Ketika beberapa teman bergabung dengan berbagai partai politik, atau melanjutkan kuliah di luar negeri, Sarbini memilih mematangkan dan menyiapkan diri. Beliau belajar dari guru terbaik, dari aktivis angkatan ’60an, ’70an sampai ’80an. Mahasiswa kesayangan dari Prof. Sri Soemantri, guru besar ilmu hukum tata negara ini kuat dalam landasan ilmiah. Murid kesayangan kiyai di pondok pesantren ini, kuat dalam dalam argumentasi agama dan ilmiah. Sehingga ketika pertentangan mahasiswa membelok ke isu politik, ekonomi sampai agama, maka Sarbini bisa selamat dan menang dalam hal ini.

Kematangan politik dan basis massa Sarbini teruji dalam perjuangan. Beliau adalah tokoh yang menjadi tangan kanan Sarwono Kusumaatmadja yang berhasil memenangkan dan mengantarkan Sarwono maju sebagai wakil DKI Jakarta pada DPR MPR RI periode 2004-2009. Sampai akhirnya dipercaya menjadi staf ahli parlemen di DPD bidang politik mendampingi Ir. Sarwono Kusumaatmadja.

Sekarang, setelah merasa saatnya tiba dan matang, beliau maju membawa aspirasi rakyat Jakarta sebagai calon legislatif DPR RI dari Partai Hanura. Dengan dukungan penuh dari KH. Drs, Ahmad Syahiduddin selaku pimpinan Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Sarbini bertekad akan membawa dan membela kepentingan rakyat.

Tak diragukan lagi, saya percaya dengan latar belakang perjuangan yang teruji maka Sarbini akan mampu membawa aspirasi rakyat ke DPR MPR RI.

Selamat berjuang sahabat, kami para sahabatmu akan mendukungmu!

Wassalam,
Helsusandra Syam

http://hensyam.com

Koordinator FKSJM (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta) tahun 2000.

Read Full Post »

Beberapa hari yang lalu, di rumah kami ada acara kumpul-kumpul ibu mertua dengan teman-teman semasa sekolahnya dulu di PGA (Pendidikan Guru Agama) di Payakumbuh. Ibu mertua yang baru datang liburan dari kampung, ingin reunian dengan teman-teman sekolahnya dulu yang saat ini berada di Jakarta dan sekitarnya.

Bapak-bapak dan ibu-ibu umur 50-an pun berdatangan, dan rumah kecil kami alhamdulillah cukup menyambut mereka dengan hidangan ala kadarnya.

Rumah kami pun ramai di datangi oleh teman-teman ibu yang kebanyakan mereka adalah para guru. Ada satu bapak yang menarik perhatian saya. Seorang guru di salah satu SMA Jakarta. Datang dengan mobil Land Cruiser Cygnus. Wow! Seorang guru dengan mobil mahal dan dengan supir pula!

Sebelumnya, saya sudah mendengar beliau dari cerita ibu mertua. Tentang temannya ini yang guru dan juga seorang Pebisnis sukses. Juga cerita kedermawan beliau di kampungnya.

Dalam bayangan saya, beliau itu pastilah seseorang dengan tampilan tertentu layaknya orang kaya kebanyakan. Dengan wibawa dan gayanya tersendiri. Tapi yang saya lihat kali ini adalah seorang lelaki yang tenang, bersahaja, dan biasa saja. Selain tentu saja aura tertentu yang melekat padanya.

Ketika para orangtua paruh baya ini berkumpul di ruang tengah, bercanda, bercerita nostalgia karena sudah puluhan tahun tidak berjumpa, saya mendengar saja sekilas suara mereka dari teras rumah. Dalam bayangan saya si pak Guru ini sudah pasti akan mendominasi pembicaraan, atau pertemuan akan terfokus pada kekuatan-kekuasaannya. Sebagaimana biasanya kalau dalam satu pertemuan, saya perhatikan biasanya orang-orang kaya dan hebat selalu mendominasi pembicaraan atau terfokus ke dia. Tapi, saya hampir tidak mendengar suaranya.

Yang dominan dan banyak heboh ternyata teman-temannya yang lain. Suara beliau kalaupun sekali-kali terdengar biasa-biasa saja dan tenang.

“Saya harus berguru kepada orang ini”, batin saya bersuara.

Selagi mereka berbincang dan bercanda di dalam, saya sempatkan untuk mengabadikan diri berfoto di depan mobil pak guru. Lumayan, saya mendapatkan bahan afirmasi dengan berfoto di mobilnya:). Apalagi nomor plat mobil ini, B XX HSB sesuai pula dengan inisial atau singkatan nama saya: Helsusandra Syam. Lalu, “B” di belakang “HS”, artinya apa kak?, tanya isteri saya. Yaa… ‘kan diawali dengan “B” dan diakhiri juga dengan “B”, kilah saya ‘maksain. He.he… Seolah alam memberi pertanda, akan hadirnya Triliuner Baru:).

Ketika saat makan siang, saya berkesempatan ngobrol dengan pak Guru dan teman-temannya. Di bagian rumah yang juga merupakan tempat produksi pakaian renang muslim—bisnis saya dan isteri, saya menceritakan bisnis saya karena ditanyakan oleh mereka. Saya bercerita agak banyak berharap dapat atensi dari pak Guru, karena saya memang berniat untuk mendapatkan ilmu dari beliau.

Sekali lagi, saya pikir beliau akan seperti pebisnis lainnya akan bercerita banyak menimpali saya. Lalu memberikan nasehat, masukan, sharing atau segala macamnyalah. Ternyata saya salah, beliau benar-benar low profile. Lebih banyak mendengar.  Yang banyak tanya-tanya dan berkomentar malah teman-temannya yang lain.

Selepas kami shalat Ashar berjamaah di mushola dekat rumah saya baru bisa ngobrol sedikit langsung dengan beliau. Lalu, ketika acara selesai dan beliau akan pulang memesan satu stel pakaian renang kami, “Untuk ngajak isteri berenang”, kata pak Guru sambil tertawa ditanya oleh teman-temannya untuk siapa.

Ketika saya minta kartu namanya, saya sampaikan ke beliau, “Pak, kapan-kapan saya boleh main ke rumah ya. Saya ingin berguru ke bapak mengenai bisnis. Mau jadikan mentor”.

“Ah, sudah bagus bisnis ini. Tak perlu lagi belajar ke saya”, kilah beliau merendah. Beliau bersedia, kapan-kapan saya bisa datang bersilaturahim ke tempatnya. Semoga saya bisa belajar banyak dari pak Guru ini. Sedikit saya dapat cerita dari ibu mertua, tentang bisnis yang berkah dari pak guru ini, sesuai pula dengan nama perusahaanya: Berkah Group.

Ternyata kita temukan banyak orang-orang hebat yanglow profile, luput dari media dan publikasi. Tanpa panggung dan sensasi, mereka berbuat untuk negeri.

Mengenai bisnis, perjuangan dan kisah hidupnya yang lain, lain waktu akan saya ceritakan kembali. Semoga suatu saat nanti saya dapat bertemu kembali dengan pak Guru ini. Ingin berguru langsung dan mendapatkan ilmu dan pengalamannya, dan bisa pula membagikannya kepada teman-teman.

Read Full Post »

Suatu ketika Rasullah Saw diundang makan oleh salah seorang sahabat. Makanan itu cuma cukup utk beberapa orang sj. Tapi Rasul membaginya dg sahabat yang lain, yg kalau secara logika tdk akan cukup. Tapi masyaAllah ternyata cukup dan mengenyangkan.

Ternyata keberkahannyalah yg menyebabkan hal ini.

Baginda Rasul sangat menyukai jamaah.

Read Full Post »

‘… Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,’ tegas Roy Suryo kepada detikNET, Kamis 27/3/2008.

Apa pendapat, komentar Anda para penggiat menulis (blogger) melalui media internet? Sudah tentu, beberapa orang blogger yang merasa tertohok oleh pernyataan Roy Suryo (RS) ini menjadi gundah, gelisah dan geram. Tidak tahu, apakah pernyataan RS di atas adalah benar atau “pelintiran wartawan”, maka Riyogarta, seorang blogger menginisiasi mengadakan dialog terbuka dengan RS dalam forum khusus.


Maka, Jumat 11/04/2008 bertempat di kampus Universitas Budi Luhur dan disiarkan langsung (live streaming) oleh Universitas Bina Nusantara berlangsunglah dialog antara blogger dengan Roy Suryo. Dialog yang bertema “Membuat Blogger Positif untuk Indonesia” sempat diprotes oleh Riyogarta sebagai pemrakarsa acara. Sebab awalnya bukan judul ini yang diajukannya, tapi malah usulan tema dari Roy Suryo sebagai undangan yang diterima.

Dengan dimoderatori Abimanyu, acara ini diberi kata sambutan oleh Rektor UBL Prof. Ronny Rahman Nitibaskara, seorang ahli kriminologi. Sebagai seorang ahli kriminologi, beliau bisa memprediksi akhir dari dialog ini, ada 2 kemungkinan:

  1. Roy akan mengakui kalau dia melakukan penyimpangan, kemudian memperbaikinya dengan tidak melakukan penyimpangan;
  2. Roy akan bertahan, dengan segala penyimpangannya, karena sudah terlanjur basah.

Kemudian dialog ini dibuka dengan pernyataan Riyogarta yang menyatakan landasan dialog ini adalah ingin mengkonfirmasi langsung ke RS dengan beberapa pernyataannya yang sering menyinggung para blogger dengan menyatakan blogger adalah negatif. Sebagaimana kita ketahui, RS seringkali menyampaikan pernyataannya yang negatif tentang para blogger, hacker dan praktisi IT di Indonesia.

RS menyatakan bahwa ada bias dalam pernyataannya yang dikutip oleh media massa. Hanya sekilas saja ucapan dia yang dikutip dan menghilangkan bagian lain pernyataannya.

Para insan media adalah penyampai berita. Sudah tentu, agar berita yang diusung oleh medianya bisa menjadi daya tarik buat pembaca, pemilihan judul yang sensasional dan konten berita biasanya hanya mengambil nilai tertentu saja, tidak mungkin semua pernyataan, wawancara akan dimuat dalam konten yang terbatas.

Ketika sesi tanya-jawab dibuka oleh moderator, langsung saya mengacungkan tangan meminta kesempatan bicara. Saya nyatakan, saya mengapresiasi atas keberanian RS datang pada forum terbuka ini. Dan saya akui bahwa, RS ahli dalam berkomunikasi. Dengan ratusan massa yang mengunjungi dialog ini, saya pikir beliau akan dihakimi. Tapi itulah jagonya dia, malah tepukan tangan yang dia dapatkan. Dapat massa juga dia rupanya.

Mengenai pernyataan RS bahwa ucapannya dipelintir oleh wartawan, saya nyatakan bahwa RS rupanya punya mainan baru lagi. Setelah sebelumnya berkonfrontir dengan para blogger dan hacker, sekarang malah dengan wartawan. Saya pikir, untuk sekelas Detik dan Kompas (yang memuat pernyataan RS), dengan track record yang lama dalam media tentu mereka tidak akan mau main-main dengan isi berita. Sebab, kalau salah yang disampaikan ini akan mempengaruhi kredibilitas mereka.

Boleh saja RS menyatakan bahwa pernyataan dia yang benar adalah “ada beberapa blogger” yang bertindak negatif yang diucapkannya.Tapi kalau kita compare dengan pernyataan beliau yang saya kutip di atas, sangatlah berbeda. Tertulis jelas, “Kelompok blogger dan hacker“, ini sudah bicara komunitas, kelompok, dan mengeneralisir blogger, bukan lagi bicara individual-individual.

Belum lagi pada penggunaan istilah bahasa, para orang IT tentu sudah paham apa arti istilah hacker. Hacker tidaklah pernah membuat kerusakan, hanya sekedar mengingatkan dan malah menjadi partner pada beberapa orang untuk menguji kehandalan sistem atau software yang mereka buat. Barangkali maksudnya RS adalah cracker yang melakukan pengrusakan pada beberapa website. Tapi, ya… masa’ RS ‘nggak tahu apa arti dan perbedaan hacker dengan cracker.

Pada kesempatan bicara ini, saya melanjutkan dengan menyarankan RS agar menulis. Sebab, pada khasanah intelektual dunia, itu diwariskan dalam bentuk tulisan. Selama ini, barangkali saya kurang baca saya tidak menemukan tulisan-tulisan RS baik dalam bentuk buku, koran ataupun blog. Supaya pernyataannya jangan dianggap lagi dipelintir oleh media, hendaknya RS menuliskan pikiran-pikirannya itu dalam tulisan atau di blog. Dengan adanya tulisan-tulisan ini, orang bisa membaca siapa itu Roy Suryo. Sehingga ketika ada hal yang kontroversial, orang tinggal membaca atau sudah mengerti siapa dia dari tulisan-tulisannya.

Riyogarta sepakat dengan pernyataan saya, dan malahan beliau menawarkan domain gratis untuk Roy Suryo dan menantang untuk ‘ngeblok. Silahkan diisi dan tulislah. Jika RS menyatakan blogger negatif, dan menyarakan para blogger ini bisa menjadi positif maka dia harus bisa memberi contoh bagaimana menjadi blogger yang positif.

Tapi… Roy Suryo menolak. Beliau menyatakan tiap orang punya alasan untuk berkomunikasi. Setiap orang punya pilihan layer apa yang dipilih. RS tidak memilih dalam bentuk blog atau tulisan.

Akhir acara ini tidak ada kesepakan yang dibuat, atau konklusi konkrit yang didapat. Acara berakhir dengan tanda-tanya, apa sih motif Roy Suryo dengan pernyataan-pernyataannya dan kebenarannya. Sebab setiap jawaban dan pernyataan yang disampaikan Roy Suryo pada sesi ini selalu saja panjang lebar dan bias dari fokus masalah.

Read Full Post »

Diambil dari Detik.com, 15 Agustus 2007

Anak-anak muda sekarang pasti tidak banyak yang mengenal nama Tan Malaka. Padahal jika dipelajari sejarahnya, tak kalah besar dari pahlawan legendaris Kuba, Che Guevara.

Tan Malaka lahir 2 Juni 1887 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dengan nama Ibrahim. Setelah menghabiskan sekolah dasar dan menengah di Bukittinggi, Ibrahim kemudian mendapat gelar Datuk Tan Malaka sebagai tanda orang yang dituakan di kaumnya.

Tahun 1912, Tan Malaka yang kemudian hari mendirikan Partai Murba itu kemudian melanjutkan sekolah ke Belanda. Tan Malaka pun dikenang kawan-kawan sekolahnya di Harlem, Belanda, sebagai seorang yang cerdas.

Tahun 1919, Tan Malaka kembali ke Indonesia. Pada awalnya Tan Malaka menjadi guru mengajar tulis menulis di sebuah perkebunan di Deli, Sumatera Utara.

Di perkebunan itulah semangat radikal dan anti kolonialisme Tan Malaka bersemi. Ketimpangan nasib buruh perkebunan yang didominasi warga pribumi dengan tuan tanah yang warga asing menghibakan hatinya.

“Pergilah ia ke Yogyakarta menemui sahabatnya Ki Hadjar Dewantara. Mereka berdua berpikir bagaimana melakukan pendidikan kepada rakyat,” ungkap Ketua Umum Partai Murba Hadidjojo Nitimihardja dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (14/8/2007).

Berdua Bapak Pendidikan Nasional itu, Tan Malaka membuat semacam proposal sekolah bagi pribumi. Rancangan sekolah itu dikirimkan ke berbagai tokoh-tokoh pribumi termasuk Semaun yang kemudian hari mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Semaun bilang Tan Malaka untuk pindah ke Semarang saja. Berangkatlah Tan Malaka ke Semarang untuk mendirikan sekolah rakyat bersama Semaun,” kata Hadidjojo.

“Jadi awalnya Tan Malaka itu seorang pendidik, bukan politisi,” imbuh Hadidjojo.

Ketika PKI berkongres 24-25 Desember 1921 di Semarang, Tan Malaka terpilih menjadi pimpinan partai. Sepak terjangnya mulai diperhatikan pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Tak butuh waktu lama, Januari 1922, Tan Malaka ditangkap dan dibuang ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Maret tahun yang sama, Tan Malaka diusir ke luar Indonesia.

Mulailah petualangan Tan Malaka dari satu negara ke negara lain. Dari Berlin (Jerman), Moskow (Uni Soviet), Belanda, Shanghai (Cina), Thailand, dan Filipina.

Tan Malaka ditunjuk Komunis Internasional (Komintern) untuk menjadi wakil khusus yang bertugas menjelaskan strategi-taktik Komintern ke berbagai negara termasuk Indonesia. Sebuah jabatan yang bahkan Bapak Revolusi Cina sendiri, Mao Tse Tung, tak pernah mendapatkannya.

Tahun 1925, keluarlah sebuah buku putih revolusi Indonesia yang ditulis Tan Malaka. Judulnya ‘Naar de Republiek Indonesia’ atau ‘Menuju Republik Indonesia.

Dari judulnya saja sudah menunjukkan sikap politik Tan Malaka untuk membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan mendirikan sebuah negara republik, negara yang bersendi pada kedaulatan rakyat.

“Kalau anda baca ‘Naar de Republiek’, lalu baca teks Indonesia Raya, anda bisa lihat benang merahnya. Wage Rudolf Supratman terinspirasi dari buku itu saat membuat ‘Indonesia Raya’,” jelas Hadidjojo.

Tahun 1926, pecahlah pemberontakan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda di berbagai daerah. Tan Malaka yang sedang berada di luar negeri menilai pemberontakan ini terlalu dini dikobarkan oleh PKI. Mulailah Tan Malaka pecah dengan PKI.

Tahun 1927, Tan Malaka terang-terangan keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari). Komintern yang sebelumnya sudah gerah dengan Tan Malaka yang lunak terhadap gerakan Islam segera memecat Tan Malaka.

Sejak itu, mulailah Tan Malaka dikejar-kejar bukan hanya oleh pemerintah kolonial Belanda tapi juga oleh mantan sekutunya di Komintern dan PKI. Tan Malaka seakan menjadi revolusioner yang sendirian, bersembunyi dan menyamar sembari terus menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, barulah Tan Malaka diperkirakan kembali ke Indonesia. Antara tahun 1942 sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 itulah, sembari menyamar, Tan Malaka menyelesaikan magnum opus-nya ‘Madilog’ yang merupakan singkatan dari ‘Materialisme, Dialektika dan Logika’.

Bahkan dikabarkan juga, beberapa tokoh muda yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok merupakan orang-orang suruhan Tan Malaka. Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok untuk didesak segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah proklamasi, sempat dikabarkan Tan Malaka bertemu dengan beberapa tokoh nasional termasuk Soekarno. Soekarno pun kabarnya sampai kaget bertemu dengan tokoh yang sudah menjadi legenda itu.

Namun proklamasi kemerdekaan itu belum cukup bagi Tan Malaka karena Belanda masih berusaha bercokol di luar Jawa dan Madura melalui jalur-jalur diplomasi. Kabinet saat itu yang dikuasai Sjahrir menerima diplomasi itu.

Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan yang digalangnya kemudian terus bergerilya menuntut kemerdekaan penuh. Bersama beberapa tokoh Persatuan Perjuangan, Tan Malaka dipenjarakan oleh Sjahrir.

Tahun 1948 pecahlah peristiwa Madiun yang menyeret PKI sebagai biang kekacauan. Tan Malaka dilepaskan dan kemudian pada 7 November 1948 mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba).

Murba kemudian menjalankan Gerpolek (Gerilya Politik dan Ekonomi). Nah, Jenderal Sudirman merupakan salah satu orang yang sepakat melakukan gerilya ini untuk melawan invasi militer Belanda kedua.

Namun, perpecahan di tingkat elit politik membuat Tan Malaka dikejar-kejar bukan hanya oleh Belanda tapi juga oleh militer Indonesia yang pro Sjahrir dan Hatta.

21 Februari 1949, Tan Malaka pun lenyap untuk selamanya di kaki gunung Wilis, Kediri. Tan Malaka tewas dalam kesendirian, tanpa nisan, tanpa kuburan yang layak. Tan Malaka, pejuang yang kesepian. (aba/bal)

Read Full Post »

Take Double Action NOW!

Words Can Inspire, Thoughts Can Provoke, But Only “Action” Brings You Closer To Your Dreams. Take Action Miracle Happen, No Action Nothing Happen. - Roni

Saya baru saja me-launching sebuah blog yang menampilkan orang-orang yang menjadi inspirator, motivator bagi orang lain melalui tulisan-tulisan di blognya. Orang-orang ini adalah individu-individu yang memiliki semangat berbagi dan senang membuat orang lain menjadi lebih baik. Blog saya ini saya beri nama: Inspiring Blogger, bisa dilihat di alamat berikut ini: http://inspiringblogger.blogspot.com.

Kriteria yang saya gunakan untuk memilih The inspiring blogger ini adalah dari tulisan-tulisan dan frekuensinya. Kemudian tulisan-tulisan mereka ternyata telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ada hal-hal yang baru atau terbarukan dalam tulisan mereka. Tulisan-tulisannya memotivasi orang untuk action, mereka adalah orang-orang yang tidak NATO (Not Action Talk Only), mereka telah terbukti secara empirik dengan prestasi, karyanya. Mereka punya bisnis atau karya yang diapresiasi orang lain. Punya kapabilitas, bisa dipercaya, konsisten, komit dengan ide-idenya. Orang-orang ini punya visi dan misi yang membangun hidup menjadi lebih baik, punya komitmen sosial yang tinggi dan tidak butuh pujian atau sekedar dihargai eksistensinya.

Untuk The Inspiring Blogger pertama saya memilih Pak Roni Yuzirman. Kenapa saya menempatkan beliau sebagai yang pertama? Ya, karena beliau layak dapat bintang. Bukan semata karena saya member dari TDA (komunitas Tangan Di Atas) lalu menempatkan beliau pada yang pertama. Tidak, karena karya, prestasi dan apa yang telah beliau perbuat selama inilah yang mengapresiasi saya untuk menjadikannya yang pertama.

Perkenalan saya dengan beliau dan Komunitas Tangan Di Atas bermula dari keaktifan saya mengikuti milis Rantaunet, sebuah milis kedaerahan para perantau Minangkabau dari seluruh dunia. Sebagaimana kita ketahui, orang Minang suka berdiskusi, berdebat dan adu pemikiran. Terkadang adu debat ini lama-lama menajam dan mengobok-obok emosi dan isi kepala kita. Maklum, banyak orang pintar disana. Nah, perdebatan panjang ini menimbulkan kritik dari salah seorang membernya (saya lupa namanya, kalau tak salah juga member dari TDA, mungkin Pak Darul barangkali ya…?) Member ini mengkritik perdebatan panjang yang terkadang not action, talk only ini dan mengkomparasikannya dengan Pak Roni yang urang awak juga yang tak banyak bicara-berdebat, tapi kongkrit action-nya. Beliau urang awak yang masih muda tapi sudah kaya. Omset beliau dalam bisnis sudah milyaran, dan beliau berhasil membentuk suatu komunitas hebat yang bernama Tangan Di Atas.

Wah, saya sangat surprise sekali! Saya sangat suka dengan orang seperti ini! Tak banyak koar-koar tapi kongkrit, nyata kerjanya. Orang-orang yang mendedikasikan diri pada kerja, hidup yang lebih baik dan kemajuan sesama. Sudah lama saya lelah dengan perdebatan-perdebatan. Latar belakang organisasi dan aktivis membuat saya bosan dengan perdebatan. Banyak orang pintar bicara, ahli argumentasi, ahli debat tapi kerja dan kontribusinya hampir dikatakan nol!

Akhirnya saya searching di internet, susah juga mendapatkan alamat milis Tangan Di Atas yang ada di yahoogroups, karena milis ini tidak dibuka untuk umum. Hanya member yang bisa mengakses milis ini. Untuk masuk menjadi anggotanya harus di-invite terlebih dahulu oleh moderator. Saya cari blog Pak Roni, saya kirim email dan saya kirim sms. Saya sangat antusias sekali ingin kenal jauh dengan orang ini dan menjadi bagian dari komunitas Tangan Di Atas. Alhamdulillah, setahun sudah saya bergabung di komunitas ini. Sungguh sangat jauh berbeda saya hari ini dibanding setahun yang lalu. Saya pun telah menjadi manusia baru!

Terimakasih Pak Roni, atas semangat Anda yang telah masuk pada diri saya.

Untuk The Inspiring Blogger berikutnya saya minta masukan ke teman-teman siapa yang pantas selanjutnya. Saya juga minta teman-teman yang sudah punya blog agar membuat dan melengkapi data diri agar saya atau orang lain bisa mengetahui lebih jauh siapa Anda. Ya, seperti biodata singkatlah.. panjang juga nggak apa-apa… :) Sekalian perkenalan diri lah.. :)

Read Full Post »

(Tulisan ini juga di-publish di Spirit Indonesia)

Tan Malaka, lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka. Tokoh revolusioner Republik Indonesia.

‘Ntah kenapa, setiap mengenang dan melihat foto tokoh ini dada saya serasa bergetar. Terbayang seorang anak manusia yang menjadi legenda—hampir-hampir menjadi mitos. Bertualang dari satu negeri ke negeri lainya, menjadi buronan polisi rahasia internasional. Seorang pejuang revolusioner yang kesepian….

Seperti apakah tokoh kita ini? Sehingga menjadi pelarian sepanjang hidupnya dan mengakhiri hidup dengan tragis ditembak oleh bangsanya sendiri?

Bergetar dada saya, sebab saya begitu akrab dengan tokoh ini. Walau tak berjumpa fisik, tapi karya-karyanya: Menuju Indonesia Merdeka, Gerpolek, Dari Penjara Ke Penjara, sampai Madilog meninggalkan kesan yang sangat mendalam buat saya. Bahkan kisah hidupnya dalam Dari Penjara Ke Penjara membuat saya terobsesi. Bahwa, kecintaannya terhadap tanah air begitu melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Ketika masih menjadi aktivis mahasiswa dahulu, saya bahkan berikrar tidak akan kawin sebelum reformasi selesai! Wah!

Satu lagi, karyanya Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika) membongkar cara berpikir saya menjadi lebih kritis dan ilmiah dan banyak mempengaruhi saya dalam memandang sesuatu. Tak ada tidak tidak mungkin (mustahil). Sesuatu yang dianggap mustahil hari ini akan menjadi biasa di masa mendatang. Demikian kira-kira salah satu pokok pikiran dalam Madilog.

Tan Malaka, anak Minangkabau yang terlahir 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang –Sumatra Barat. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.

Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjaungan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris.

Beliaulah yang pertama kali mencetuskan kata “Republik Indonesia” dan mengucapkan kata “Indonesia Merdeka 100%”, tanpa konpromi sama sekali dengan penjajah.

Tokoh ini begitu berbahayanya kah hingga banyak sekali negara-negara yang mencekalnya dan mengejar-ngejar untuk ditahan bahkan dibunuh jika sulit menangkap? Sejumlah tokoh besar seperti: Lenin, Stalin, Trotsky, Chiang Kai Sek, sampai Mao Tsu Teng menganggap tokoh ini adalah orang paling berbahaya dan terlarang! Tan Malaka dilarang memasuki Prancis, Sovyet, Baltik, Balkan, Britania, China Daratan apalagi Belanda. Tokoh ini adalah guru imajiner buat Ho Chi Minh (bapak bangsa Vietnam), Aung San (ayah dari Aung San Syu Ki) dan Joseph B. Tito (bapak bangsa Yugoslavia, yang sudah sejarah) dll.

Tan Malaka ‘belajar’ di bawah kharismatik legenda yang juga “dihilangkan” dari sejarah bangsa, R.M Tirto Adhi Soeryo. Awalnya adalah SP, SDI kemudian menjadi SI terus pecah dan salah satunya PKI. Ia ‘dibesarkan’ dalam suasana semangat gerakan modern Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat. Tahun 1913 belajar ke Belanda, penyesalan bagi Belanda, karena merasa “membesarkan” anak harimau.

Tahun 1919 kembali ke Indonesia bekerja sebagai guru di Deli. Ketimpangan sosial di lingkungan perkebunan antara buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Pemuda cerdas ini banyak berdiskusi dengan Semaoen mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda, juga merencanakan suatu pengorganisasian bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem kader, gerakan-gerakan aksi, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang hingga mengambil tindakan tegas.

Pemikiran-pemikiran beliau menjadi inspirasi dan motivasi bagi para pejuang kemerdekaan dahulunya. Pada masa awal kemerdekaan, Bung Karno pernah menunjuk tokoh ini sebagai penggantinya–pengemban amanat pemimpin bangsa untuk meneruskan perjuangan apabila beliau tertangkap atau tidak bisa melanjutkan perjuangan.

Di masa revolusi nasional, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Sebagian orang malah menyebutnya sebagai filosof Indonesia yang paling awal.

Banyak hal yang tidak terjelaskan dalam sejarah bangsa ini. Dalam buku-buku sejarah dinyatakan atau dituduh bahwa beliau adalah tokoh komunis, dan yang namanya komunis maka akan ditenggelamkan dalam sejarah dan hidup bangsa ini. Padahal juga diketahui, bahwa beliau adalah orang yang dimusuhi oleh tokoh-tokoh komunis masa lalu. Beliau melarikan diri kemana-kemana negeri, salah satu sebab juga diburu oleh orang-orang komunis.

Banyak sejarah yang mesti diungkap kebenarannya. Tulisan ini cuma sebagai pengantar kritis kita terhadap para pejuang dan pahlawan kita. Sudah saatnya kita tempatkan pejuang dalam deretan pahlawan dan para pengkhianat dalam daftar para pecundang. Referensi mendalam tentang tokoh ini bisa didapat dari internet atau buku-buku. Silahkan cari sendiri.

Saya referensikan Anda untuk membaca karya beliau: Dari Penjara Ke Penjara dan Madilog. Inilah buku wajib para pencari kesadaran baru dan ingin merubah pola pikir. Selamat membaca dan menghargai pahlawan.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 534 pengikut lainnya.