Konser Lagu Kebangsaan Terbesar

Saya selalu bergetar ketika menyanyikan Indonesia Raya. Saya pernah menangis ketika tahun 98 menyanyikan lagu ini di jalanan, di tengah ribuan orang. Dan kali ini….saya merinding dan menangis lagi menyaksikan Indonesia Raya dinyanyikan oleh lebih dari 3 juta orang! Bayangkan: lebih dari 3 juta orang. Dan suaranya menggelora ke langit!

Sejarah menyanyikan lagu kebangsaan terbesar di dunia yang serempak oleh lebih dari 3 juta manusia yang menyanyikannya penuh cinta. Dan lagu kebangsaan-kebanggaan ini ditutup gegap gempita takbir Allahu Akbar!

Jangan kau tusuk lagi kami dengan tuduhan tidak cinta Indonesia, kawan….

Karena Amputasi adalah Revolusi

Setiap terapi yg dilakukan bisa menimbulkan perih yang akan ditanggung. Ada yang lebih peduli pada sakit dan takut itu sendiri hingga tak peduli pada penyakit yang makin mengkronis sehingga akhirnya menganggap sakit itu jadi ilusi nikmat…
Yang lebih parah, adalah ketika klimaks kronisnya sehingga mengharuskan amputasi… Dan kita semua tidak menginginkan hal ini terjadi… Karena amputasi adalah pilihan revolusioner!

Hidup adalah pilihan, kawan!

Selamat pagi…..;)

Keseruan Menyusuri Sungai Cisadane

KESERUAN MENYUSURI SUNGAI CISADANE

Cisadane berasal dari kata ci dan sadane. Sadane berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti istana kerajaan. Sedangkan Ci dalam bahasa Sunda berarti sungai. Jadi Cisadane berarti sungai yang berasal dari istana kerajaan. Kemungkinan istana kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan, Bogor.

Cisadane adalah sungai besar yang melintasi Tangerang. Sungai ini berhulu di lereng Gunung Pangrango dan Gunung Gede di Bogor, bahkan sampai berhulu ke Sukabumi. Sungai ini memasuki wilayah kerajaan Pajajaran, melintasi Tangerang lalu bermuara di Tanjung Burung selanjutnya menuju Laut Jawa.

Panjang sungai Cisadane dari hulu ke hilir sekitar 125 kilometer. Menurut sejarah pada abad 16 banyak kapal dagang lalu lalang di aliran sungai ini. Sungai ini menjadi sarana transportasi masyarakat yang membawa  dan membentuk kisah dan peradaban mereka. Banyak cerita dan mitos yang terbentuk sepanjang kehidupan sekitar sungai ini. Tentang Pendekar Cisadane yang berhasil menaklukkan kerajaan Ratu Siluman Buaya. Tentang misteri buaya putih yang menjadi pertanda akan datangnya banjir besar, kisah heroik para pejuang Islam mengusir penjajah, sampai masuknya orang-orang Tionghoa ke wilayah Tangerang.

Cisadane menyimpan kisah penyebaran Islam dan pusat perlawanan kepada penjajah Belanda. Tepian Cisadane menjadi pusat-pusat keagaaman dan pusat perlawanan. Tentang Aria Wangsakara yang merupakan ulama yang berjuang bersama rakyat bertempur selama tujuh bulan berturut-turut  dan berhasil mempertahankan wilayah Tangerang dari serangan penjajah Belanda.

Peradaban lahir di pinggir Sungai. Kebudayaan, kerajaan dan kehidupan bermula dan berkembang dekat kehidupan air. Sejarah membuktikan banyak peradaban dan kerajaan bermula dari sini.

Cisadane memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakatnya. Sebagai sarana transportasi, mandi, mencuci dan tempat mengambil air. Cisadane adalah bagian kehidupan masyarakat sekitarnya.

Ironisnya sekarang, sekarang Cisadane menjadi tempat pembuangan sampah dan polusi baik dari rumah tangga sepanjang sungai maupun pabrik-pabrik atau limbah industri.

Sabtu lalu, saya dan teman-teman pengurus TDA Tangerang Raya berkesempatan berkunjung markas perjuangan kawan lama saya Uyus Setia Bhakti yang menjadi pejuang lingkungan Cisadane. Beliau menjadi Ketua Komunitas Bangsasuci (Bank Sampah Sungai Cisadane). Bersama teman-temannya dan masyarakat sekitar tepian Cisadane berupaya menjaga kelestarian sungai Cisadane.

Kami dibawa menyusuri aliran sungai Cisadane. Sepanjang perjalanan aliran sungai membawa berbagai sampah baik limbah rumahtangga, pabrik dan berbagai limbah industri. Air sungai keruh coklat. Namun masih ada beberapa masyarakat sepanjang sungai yang memanfaatkan air sungai ini untuk mandi dan mencuci.

Sungai ini besar dan selama berabad-abad telah menjadi jalur transportasi. Perahu hilir mudik membawa kehidupan masyarakatnya. Miris membayangkan, tak lama lagi sepanjang bantaran sungai ini akan berdiri real estate megah dengan pelabuhan privat yang menambatkan speadboat, kapal-kapal mewah langsung ke masing-masing rumah mewah. Seperti pantai-pantai utara Jakarta, rumah-rumah mewah dengan kapal yang langsung mempunyai akses ke laut, demikian juga bisa jadi bantaran sungai Cisadane akan seperti itu. Dari hilir orang-orang kaya akan naik terus ke hulu. Apalagi bagian hulu sudah dikepung oleh perumahan mewah milik orang-orang kaya. Dan kaum kecil akan semakin terpinggirkan. Termajinalkan di bantaran sungai kemudian digusur atas nama kerapihan dan kemajuan kota.

Demikian Jakarta dan Tangerang yang semakin macet jalur daratnya, orang-orang kaya ini tentu akan beralih menjadikan Cisadane sebagai sarana transportasi mereka. Pesisir Utara sudah mereka kuasai, tentu saja bisa menjadi mudah untuk masuk ke Selatan ke pusat daratan melalui Cisadane.

Filem Hebat Wonderful Life

film-wonderful-life

Sempat under estimate ketika diajak istri nonton filem Wonderful Life. Saya pikir ini seperti kebanyakan filem Indonesia yang ngarang dan ngasal habis. Ternyata saya salah, filem ini kereen banggets! Jempol 5 untuk filem ini.

Banyak orang tua memberikan “perhatian”, “cinta” dan “mengasihi” anaknya. Tapi sejatinya ia hanya perhatian dan mengasihi dirinya sendiri. Dianggap ketika semua itu telah diberikan semua akan baik-baik saja. Dan mereka pun akhirnya lalu sibuk dengan dunianya pula.

Setiap anak terlahir sempurna, itulah pesan filem ini. Setiap anak punya dunia dan kelebihan tersendiri yang diturunkan oleh Tuhan. Mari jaga anak-anak kita.

Sebuah kisah sederhana dan menjadi sempurna difilemkan. Filem Wonderful Life adalah filem drama keluarga yang diangkat dari novel karya Amalia Prabowo.

Filem ini bercerita tentang Amalia sebagai orangtua yang merasa dapat mengatasi semuanya. Ketika ananda Aqil “bermasalah” di sekolah dan lingkungannya, baru ia mulai disadari ada yang tidak beres. Aqil kesulitan dalam membaca dan menulis, dianggap anak yang bodoh dan tidak berkembang. Ia memiliki disleksia.

Berbagai upaya dilakukan demi mencari pengobatan sang anak. Amelia dan Aqil melakukan perjalanan panjang nan seru mencari “orang pintar” yang dianggap bisa mengobati ananda. Ternyata sia-sia tak menemukan obatnya.

Perjalanan-petualangan berdua ini ternyata melahirkan makna baru bagi hubungan keluarga. Yang dibutuhkan oleh seorang anak adalah kehadiran dan perhatian sepenuh dan sejujurnya orangtua.

Saya tak akan bercerita panjang tentang filem ini. Silahkan tonton aja…;) Saya merekomendasikan filem ini sebagai filem untuk keluarga.

Jaga Lisan Jagalah Hati

Sporte - Islamic Swimwear

Dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati tak ada yang tahu.

Orang menghukumi karena zahir—dikarenakan apa yang diucapkan, apa yang dilakukan. Apakah ini adil? Bisa jadi batinnya tidak seperti yang ditampakkan, tidak bermaksud seperti apa yang dilahirkan.

Tapi begitulah hukum kehidupan sosial. Soal motif, soal isi hati atau batin orang tak bisa mendakwa. Kebebasan pribadi mesti tunduk pada kebebasan dan kemaslahatan orang banyak. “Mulutmu harimaumu”, demikian para leluhur menyampaikan. Mulut ibarat pedang, jika tak hati-hati menyampaikan maka akan melukai diri sendiri. Jangan sampai pula menyakiti orang banyak. Walau harimau dalam perut hendaklah kambing jua yang dikeluarkan.

Berbicara merupakan media utama dalam proses interaksi sosial. Jangan sampai pembicaraan menjadi bumerang bagi diri. Berbicara haruslah melalui proses berpikir dan merasa. Hendaklah mengerti apa yang diucapkan dan konsekuensinya, sebab bila tidak maka akan seperti orang kerasukan. Janganlah sampai menyampaikan apa yang tidak dimengerti.

Orang menghukum pada yang tampak. Yang tampak biasanya merefleksikan apa yang di dalam. Hati dan pikiran yang tenang akan melahirkan ketentraman pada lingkungannya. Hati yang gundah, gelisah, marah, stress akan menampakkan ketidaknyamanan bagi sekelilingnya.

Ali RA berkata: “Hati yang jahat terletak pada mulutnya, dan mulut yang baik terletak pada hatinya.”

Kualitas ucapan juga menampakkan kualitas diri seseorang. Apa yang diucapkan itulah yang dipegang oleh orang. “Kerbau dipegang talinya, manusia dipegang ucapannya.”

Dalam konteks orang beriman, apa yang diucapkan itulah yang akan dicatat malaikat, yang akhirnya akan menjadi nasib yang akan menentukan takdir hidup kita.

SUATU hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.” Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, “Sungguh ia termasuk ahli neraka.”

Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW berkata, “Sungguh ia termasuk ahli surga.” (HR.Muslim)

Maka, jagalah hati…. karena ia akan menjadi lentera hidup ini…(kayak lagu Aa Gym, ya…🙂 ).

Aku Mengejar Suaraku

Ketika Hodja sedang mengumandangkan azan waktu zuhur, beberapa tetangganya justru asik mengobrol di depan rumah dan mereka bertingkah seolah-seolah mereka tidak mendengar azan tersebut. Memang para tetangga itu jarang pergi ke masjid.

Hodja mengeraskan lagi suaranya, tapi tidak ada yang berubah. Ia kemudian lari ke arah para tetangga itu sambil terus mengumandangkan azan. Beberapa tetangga mulai mengira ada sesuatu yang terjadi padanya. Maka mereka pun bertanya:

“Ada apa, Efendi Hodja? Kenapa kau azan sambil berlari?”

“Aku penasaran seberapa jauh jangkauan suaraku jadi aku berlari untuk mengejarnya.”