KEMANDIRIAN INDONESIA DALAM TEKNOLOGI INFORMASI

Teknologi berkembang pesat dan merubah banyak hal pada dunia. Peradaban baru muncul, manusia dan dunia berkembang. Perkembangan dan kemajuan dunia mau tidak mau harus pula kita mengikutinya. Jika tidak, maka akan tertinggal dan barangkali akan tersingkir dalam kemajuan dan persaingan dunia. Dengan dukungan teknologi, pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan manual, banyak memakan biaya dan sumber daya menjadi semakin mudah, efektif dan lebih efisien. Yang lebih jelas, pekerjaan semakin lebih cepat dengan hasil yang lebih maksimal. Khusus perkembangan komputer atau teknologi informasi terasa begitu cepat majunya jika dihitung dalam bilangan tahun. Setiap tahun, malahan hampir tiap bulan muncul produk-produk perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Berbagai perusahaan TI berlomba menyatakan bahwa produk mereka adalah yang terbaik. Tentu saja perlombaan ini membuat masyarakat dunia bisa memilih dan menentukan mana yang terbaik buat mereka gunakan. Tapi sayang, tak banyak yang menguasai pasar. Hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang leading dalam menguasai pasar dunia. Dan monopoli adalah hal yang menjadi wajar dalam persaingan seperti ini.

Betapa banyak negara-negara menjadikan kemajuan teknologi sebagai bagian komponen penting dalam perlombaan dan penguasaan dunia. Produk teknologi yang dibuat juga mampu meberikan masukan kekayaan bagi suatu negara atau korporat dengan dilakukannya ekspansi pasar ke negara-negara lain. Negara-negara yang belum maju dalam hal teknologi dan mempunyai jumlah penduduk yang sangat banya menjadi incaran dalam perlombaan penguasaan pasar ini. Apalagi bila kebijakan pemerintahan dari suatu negara tidak mampu memproteksi diri dalam kebjikan perdagangan dan terknologi. Tak heran negara-negara seperti ini menjadi tempat pelemparan dari produk-produk yang dikeluarkan dari insdustri luar.

Dalam skenario kapitalisme, perkembangan ini juga sejalan dengan mencipta dan merekayasa keharusan butuh dan ketergantungan terhadap teknologi. Karena memang pada dasarnya terknologi sangat membantu manusia, apalagi nalurinya manusia cenderung kepada hal-hal yang baru. Diciptakanlah trend, need dan value pada suatu produk. Sehingga ukuran moderen selalu disangkutkan pada konsumsi teknologi belaka tidak pada etos dan paradigmanya.

Tapi sayang, ekspor suatu teknologi dari bangsa-bangsa maju hanyalah sekedar dalam bentuk produk barang (technoware) saja. Sementara pengetahuan atau informasi (infoware) tidaklah diikutsertakan, apalagi kemajuan manusia dalam hal alih teknologi tidaklah menjadi perhatian—karena memang pada dasarnya kapitalisme selalu berusaha bagaimana kita terus tergantung dan tidak mandiri. Sehingga semakin lama bangsa atau negara yang sudah terbiasa konsumtif tidak berdaya dan tidak mandiri. Teknologi telah menjadi candu! Hal ini menjadi “tali tambatan” bagi mereka dan “senjata” negara-negara maju untuk men-“dikte” negara yang tadi sudah mencandu dan tak punya kekuatan teknologi. “Boikot” adalah senjata pamungkasnya. Hal ini menjadi kenyataan yang menyakitkan jika kita berkaca pada bangsa dan negara kita tercinta: Indonesia. Banyak teknologi canggih yang dibeli dari luar ternyata tidak bisa maksimal kita gunakan—malahan kelamaan hanya menjadi barang rongsokan belaka…

Senjata, pesawat, kapal dan teknologi canggih yang kita punya seharusnya bisa digunakan untuk mempertahankan negara kesatuan kita, dan memakmurkan rakyat. Betapa mahal kita membeli teknologi ini. Betapa banya dana negara yang tersedot ke luar negeri—malah menjadi sia-sia belaka. Alangkah sayang biaya yang begitu besar tidak maksimal kita gunakan untuk kemakmuran bangsa kita, padahal kita tahu masyarakat kita masih tertinggal jauh dalam kemakmuran dan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan bangsa-bangsa luar.

Hal ini tidaklah akan menjadi persoalan jika mampu mandiri dalam hal teknologi. Kita bisa mencipta dan berkarya! Dana yang seharusnya keluar, yang hanya memperkaya negara luar bisa kita manfaatkan untuk kemakmuran dan kejayaan bangsa dan negara kita. Tak akan ada lagi krisis ekonomo dan teknologi! Negara bisa berdaulat dan mandiri. Negara hanya menggunakan produk dalam negeri. Anak-anak Negeri bangga dengan karyanya sendiri. Malahan dari karya anak bangsa kita bisa melakukan ekspor ke luar negeri untuk disumbangkan untuk kemajuan umat manusia!

Khusus pada perkembangan teknologi informasi, sanat disayangkan masih saja dikuasai oleh negara-negara besar. Kemajuan teknologi informasi menjadi salah satu konsentrasi dalam kebijakan nasional mereka. Bukankah ada postulat yang menyatakan: Bangsa/negara yang menuasai informasi maka akan menguasai dunia. Bisa kita lihat, dalam konstalasi dunia sekarang ini, negara-negara yang menguasai informasi menjadi penguasa dunia dan malahan bisa semena-mena meng-“obok-obok” negara lain. Kecanggihan teknologi juga digunakan untuk menginfiltrasi dan mengintip “isi rumahtangga” suatu bangsa atau negara. Kebudayaan atau gaya hidup, tata nilai dan pemikiran bebas diekspor kemana saja tanpa perlu lagi melewati prosedur birokrasi suatu negara. Sekarang ini adalah abadnya globalisasi. Tidak ada lagi sekat-sekat antar bangsa/negara (borderless). Apa yang terjadi di luar sana, bisa juga kita saksikan pada saat yang sama (real time). Ada kecenderungan munculnya keseragaman nilai dari hasil suatu rekayasa besar (grand strategy).

Wilayah negara kita menjadi pangsa pasar yang sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan raksasa dunia. Karena luas dan sebaran wilayahnya. Apalagi jumlah penduduk Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia; menjanjikan pasar yang sangat menggiurkan bagi mereka. Hampir semua bidang pekerjaan sekarang ini sudah bersentuhan dengan teknologi informasi. Tapi sekali lagi, sangat disayangkan ketergantungan kita sangatlah besar pada produk dari luar. Kebijakan pemerintah yang dibuat kadang cenderung mendukung penguasaan dan ketergantungan kita dengan buatan luar. Malahan belum lama ini, untuk mengadakan ajang Pemilu kita harus mengeluarkan dana sangat besar untuk menyediakan perangkat untuk pelaksanaanya. Apalagi kalau e-government nanti jadi diterapkan, senandainya software yang digunakan harus beli/bayar, maka betapa besar dana dalam negeri yang harus dikeluarkan untuk membelinya. Belum lagi perguruan tinggi—yang seharusnya menjadi tempat riset—juga menggunakan produk yang dibeli dari luar. Ironis sekali, bukan…?!

Coba bayangkan, ketika e-government, e-business, e-learning, dan “e” yang lainnya juga mulai diterapkan di negeri kita. Lalu semua transaksi bisnis dan komunikasi melewati media elektronik ini. Lalu, ketika semua hal ini terjadi, tiba-tiba dengan seenaknya pihak penyedia dan penguasa teknologi ini—oleh karena suatu sebab—berkata: Boikot! Stop pengunaan hardware, software dan fasilitas internet di Indonesia. Matilah kita! Akan muncullah suasana chaotic di negeri ini. Semua transaksi bisnis dan komunikasi pemerintahan akan amburadul. Muncullah kekacauan dan kerugian yang sangat besar!

Jakarta, 2004

Satu pemikiran pada “KEMANDIRIAN INDONESIA DALAM TEKNOLOGI INFORMASI

  1. Saya sependapat dengan Sdr. yang terhormat. tapi kita janganlah hanya saling membaca situasi baiknya, kita bersama-sama satukan pikiran satukan jiwa kita. Tunjukan solusi-solusi yang tepat untuk kemajuan negri ini. Trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s