Yang Pertama Kali Mendukung Kemerdekaan Republik Indonesia 1945

merahputih.jpg Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah menunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.
Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan.Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya.Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh salah satu organisasi di sana, yaitu Ikhwanul Muslimin, yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir.Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Ikhwanul Muslimin telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.

Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir.

Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam.

Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat.

Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan.

Di sejumlah kota, Ikhwanul Muslimin segera menggelar munashoroh (demonstrasi) besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.

Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.

Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Ikhwanul Muslimin, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.

Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia.

“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.

Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan seakidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.

Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.

Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid.

Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.

Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.

Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.

Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.

“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.

Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Ikhwanul Muslimin tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.

Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.

Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.

Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.

Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Ikhwanul Muslimin, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.

Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.

Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah.

Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.

Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Ikhwanul Muslimin Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.

Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.

Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.

Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.

Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.

Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.

Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.

Oleh Rizki Ridyasmara, dari Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004, dengan perubahan seperlunya…

17 pemikiran pada “Yang Pertama Kali Mendukung Kemerdekaan Republik Indonesia 1945

  1. Faham Yang Mengerikan
    Kemerdekaan , Kebebasan dan Persamaan

    Assalamualaikum Wr ……Wb …..
    Saudara-saudari se-Bangsa, Se-Bahasa, Se-Aksara, Se-Iman, Se-Perjuangan, dari dan demi ALLAH Maha Pengatur antara siang dan bergantiya malam serta Maha Pengasih dan maha Penyayang. Saudara – saudara dalam tulisan ini saya akan mencoba menarik benang merah dari beberapa kejadian dengan beberapa kata – kata dan Faham yang membahayakan kehidupan umat manusia khususnya terhadap cita- cita pembentukan Kebangsaan Nusantara Tunggallistik di masa – masa yang akan datang
    Kiranya dapat kita saksikan bersama pada saat sekarang ini manusia pada umumnya didunia ini mempunyai beberapa kecenderungan sifat – sifat dan prilaku buruk yang sangat menjijikan, memalukan dan kurang menghargai diri sendiri sebagai Mahluk yang paling mulia, Bahkan manusia cederung lebih biadab yang lebih dari binatang yang paling buas di Alam semesta ini yaitu Tak bermoral dan tak beretika antara lain Sebagai Berikut :

    1. Sabar sampai mati karena takut dan bodoh mengahdapi penguasa yang dzolim dan kafir serta tak berperasaan karena system pemerintahan yang super sentrallistik.
    2. Tahan menghadapi pelecehan, dan penghinaan yang menimpa dirinya ,merangkak dan merunduk jika ditekan dan diinjak–injak/dijajah oleh sesamanya.
    3. Tidak mampu memanfaatkan sebuah kesalahan dan kegagalan guna memperbaiki diri dan keadaan.
    4. Gemar dan merasa bangga melangar hukum ( Al-Qur’an dan Al-Hadist ) bahkan, manusia bangga dengan dosa – dosa yang telah mereka perbuat.
    5. Senang dan bangga berbuat Kriminal/kajahatan baik terang – terang maupun sembuyi – sembunyi.
    6. Suka hidup pura – pura dan akting fantasi sok tahu padahal bodoh tak ber-Ilmu
    7. Suka meniru / plagiatisme dan hafalan belaka karena malas berfikir dan tak mau kreatif.
    8. Tega mengorbakan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan diri sendiri bahkan rela mengorbanan umat dan Kehidupan akhiratnya demi Sepotong Kue/ indomi.
    9. Sok berkuasa, sok kuat, sok paling kaya padahal diriya lemah dan miskin ilmu dan amal.
    10. Berkeinginan bebas tak mau diatur dan memuja nafsu dan Uang serta Emas terbiasa mepersekutukan ALLAH SWT.
    Dengan adanya sifat-sifat kepengecutan dan kebiadabannya manusia yang sok tahu dan sok pinter serta megangap partai adalah jalan penyelesian yang terbaik dan demokratis ini akan menjadi kesempatan emas bagi para politikus busuk untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan cara memerintahkan agen-agen rahasia mereka/Antek–anteknya agar membisikan kepada sekelompok manusia bodoh tersebut bahwa peleceha, penghancuran, kekerasan, kekejaman dan penghiantan yang dilakukan adalah :
    1. Semata – mata demi kesejahteraan dan demi kemenangan bersama.
    2. Demi kebersamaan, kekompakan, kebersamaan, kesamaan hak, kemerdekaan, kelompok kita .
    3. Untuk menunjukkan bahwa kelompok kita adalah yang paling bener, paling mampu, paling kuat dan paling baik di atas segala – galanya.
    4. Demi menjujung tinggi demokrasi dan kemerdekaan 1000%
    5. Dan bermacam-macam alasan.
    Padahal sesungguhnya apa yang dikerjakan para politkus tersebut adalah sebuah kesesatan yang benar – benar nyata serta tak berdasar pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Juga beberapa akibat yang ditimbulkan dari tindakan para politikus yang busuk dan kafir serta Fasik tersebut adalah keaadaan sebagai berikut :
    · Manusia akan menjadi lebih buas dan tak bermoral serta siap melawan orang–orang yang lurus/kebenaran yang datang apabila kedatanganya akan menghalang – halangi niat jahat mereka .
    · Manusia akan membiarkan politikus tersebut/partai berbuat jahat dan buruk asalkan mereka dapat memberikan kebahagian dan kesejahtetraan berupa roti, indomi, uang, emas dan kedudukan.
    · Manusia agar dirinya tetap makan dan hidup serta agar dapat mengikuti hawa nafsunya akan membela mati-matian majikannya, partainya, si kafir dengan tetap melakukan teror, kekacauan, menebarkan rasa takut di sana sini guna mendapatkan order dan keuntungan materi yang besar dari situasi kacau balau tersebut.

    Dan para politkus busuk tersebut tetap akan mempersenjatai diri mereka dengan tipu daya, acting kepura-puraan sok social, dermawan seolah–olah sebagai dewa penolong padahal dialah otak dari segala kejahatan yang paling kejam di alam ini dengan menjajikan “ Kebebasan , Kesamaan Hak , Sama rasa, sama rata, Kesenangan duniawi, Kemerdekaan dll Senjata Kepura–puraan tersebut guna bertempur melawan dan mengahancurkan segala bentuk kebenaran dan kebaikan yang menghalang– halangi cita–cita busuk sang politikus walaupn harus melawan ALLAH Swt Sekalipun ( Al-Qur’an dan Hadist yaitu Hukum – Hukum ALLAH Swt ) Serta siap menhancurkan seluruh nilai–nilai, norma–norma serta adat istiadat yang baik dengan tetap menerapkan peradapan kejahiliyahan yang dimapan-mapankan selama ini.
    Maka dari itu di dalam peradaban kebangsaan Nusantara Tungallistik meniadakan, menolak segala faham yang berdasarkan Metreialisme dan Kapitalsmme Yaitu: Kemerdekaan, Kebebasan. Persamaan, Komonisme, Premanisme, Sosialisme, Anarkisme dll .Karena sesuai isi kandungan Al-Qur’an dan Al-Hadist Sesunguhnya Kemerdekaan, Kebebasan adalah hak ALLAH Yang Maha Kuasa sebagai Maha Pencipta yang bebas berbuat apa saja, kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja yang beliau kehendaki.
    Dan daripada itu melihat begitu jahatnya dan sangat mengerikan sekali bahaya yang diakibatkan dan ditimbulkan oleh faham / istilah tersebut antara lain manusia menjadi seperti gerombolan binatang buas yang kejam tak berperasaan yang haus akan kekuasaan, harta, benda, dan sabagian yang lainya di ninabobokan sehinga mereka tertidur pulas tak bersemangat yang ada hanya mimpi–mimpi panjang yang tak terealisasikan.
    Maka di dalam peredaban bangsa Nusantara yang berfaham Tunggalistik melarang faham-faham di atas untuk dijadikan slogan, acuan dan pedoman hidup dalam arti harus ditinggalkan untuk segera digantikan dengan falsafah Tri Falaq Kreatifitas Tunggallistik agar hidupnya tidak tersesat dan jahiliyah.
    Kita juga harus tahu bahwa di dalam perjalanan umat manusia sekarang ini, sebaik apapun Azas yang kita akan anut dan fahami semuanya tidak akan dapat terwujud dengan baik. Jikalau kita sendiri dalam pelaksanaanya tidak didasari dengan keiklasan, ketulusan, kejujuran kita, untuk benar-benar ingin melaksanakanya dengan sebaik – baiknya dan harus merasa memiliki serta bersedia mempertahankanya dengan cara tetap mewariskan faham tersebut kepada anak cucu Bangsa Nusantara dengan harapan sedikit demi sedikit mereka akan melupakan dan meninggalkan budaya kebiadaban.
    Agar Bangsa Nusantara dimasa–masa yang akan datang insya-ALLAH menjadi bangsa yang terunggul / bangsa pemimpin di antara bangsa-bangsa dunia. Sekalipun harus bersaing dengan kecerdasan dan kehebatan bangsa Yahudi, Amerika, Cina, Arab, Eropa, Rusia, bangsa jin bahkan bangsa Syetan sekalipun. Karena anak cucu bangsa Nusantara sudah memiliki jatidiri kembali Seperti kakek moyangnya di masa lalu.
    Demikianlah penjelasan yang bisa saya sampaikan, semoga apa yang saya sampaikan ini bisa dipahami dengan benar dan meyadarkan kita semua dari segala macam kesalahan–kesalahan yang kita perbuat selama ini serta mau memperbaiki diri ke arah yang lebih ber-adab, ber-moral dengan memperhatikan dan memikirkan setiap ucapan dan perbuatan yang akan kita kerjakan, agar apa yang kita cita-citakan bersama berjalan sesuai dengan rencana yaitu Bangsa Nusantara menjadi bangsa yang lebih ber-Adab, ber-Moral, ber-Budi luhur, dari bangsa manapun di dunia dan meninggalkan istilah-istilah\paham-paham sesat sebagai mana yang sudah saya jelaskan di atas.
    Sebagai kata penutup dari penjelasan ini, saya selaku pemimpin tertinggi peradaban Bangsa Nusantara berpesan kepada seluruh warga Bangsa Nusantara dimana saja anda berada agar selalu mengahayati, mengamalkan dan mempertahankan jatidiri kita sebagai Bangsa Nusantara dan selalu mentaati Azas yang sudah ada.
    Semoga Allah menjadikan Bangsa Nusantara sebagai Bangsa yang di Ridhoi dan di Rahmati. sampai ke anak cucu kita nanti di masa – masa yang akan datang.
    Amin Ya Rabbal Alamin …………………..
    Ass………Wr……….Wb……….

    DARI
    LEMBAGA PERADABAN BANGSA NUSANTARA
    (L.P.B.N.)
    TLP(021-70108374)

  2. Terima kasih kepada negara-negara timur-tengah telah mendukung kemerdekaan Indonesia.Semoga tali silaturrahminya tetap terjaga.Dan menjadi Panutan negara-negara lain.

  3. kepada pemeluk blog ini: tolong publikasikan ulang kisah ini kepada kawan2 kita di negeri ini. biarkan mereka sadar bahwa seorang pemimpin palestina mendukung kedaulatan Indonesia. maka ketika palestina sekarang diinjak-injak israel, masih adakah semangat yang serupa dari rakyat indonesia????

  4. atas berkat rohmat alloh yang maha kuasa bangsa indonesia bisa lepas dari penjajahan,…. tetapi untuk kata-kata “kemerdekaan republik indonesia” sebetulnya itu salah,… yang benar adalah “kemerdekaan bangsa indonesia”,.. karena pada waktu itu yang di jajah bukan republik indonesia, akan tetapi bangsa indonesia,….. dan sudah tertuliskan di teks proklamasi

    PROKLAMASI

    Kami BANGSA Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
    Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
    dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
    Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45
    Atas nama BANGSA Indonesia.
    Soekarno/Hatta

    coba di lihat huruf besarnya,…. bukan “REPUBLIK” akan tetapi “BANGSA”,…. dan juga sudah tertuliskan di pembukaan UUD tahun 1945,..

    Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala BANGSA dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaandan peri-keadilan.

    ingat, bukan REPUBLIK, akan tetapi bangsa,…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s