Dicari Pemimpin Yang Punya Hati Nurani

orasi

(Mengenang 9 Tahun Reformasi)

Tak terasa, 9 tahun sudah gebrak reformasi berlalu. Ditandai dengan demonstari yang marak dimana-mana, kerusuhan yang berdarah-darah, lalu beberapa mahasiswa pun menjadi martil untuk perubahan. Puncak dari perubahan yang diinginkan adalah minta turunnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia kala itu.

Masa berganti, musim telah sekian berubah. Sudah sekian pula pemilu berlangsung dan para pemimpin baru terpilih. Sudahkah tercapai keinginan para mahasiswa dan seluruh bangsa ini menjadi lebih baik….?
Sesuai takdirnya dimana-mana, para mahasiswa hanyalah sekedar menjadi pendobrak saja, para petualang juga yang mengambil kemenangan dan keuntungan. Elit baru muncul, partai-partai baru euforia menyatakan diri sebagai yang terbaik dalam menyuarakan dan membela rakyat. Sementara para mahasiswa, kembali ke dunia kampusnya masing-masing. Yang idealis masih berkutat dalam grup-grup diskusi, sesekali melakukan aksi untuk menyuarakan hasil kajian-kajian mereka. Sementara sebagian besar lain asik dalam dunia anak muda yang hura-hura, hedonisme semu dari racun sinetron serta bujuk rayu layar kaca.

9 tahun berlalu sudah. Yang mati pun mulai terlupa. Sekian mahasiswa korban penembakan oleh aparat negara ini, serta perkosaan dan kerusuhan yang direkayasa dimana-mana, telah distempel oleh para wakil rakyat terhormat—hasil pemilu yang katanya paling demokratis di dunia—bukan merupakan pelanggaran HAM (hak asasi manusia) berat. Lembaga-lembaga keadilan negeri ini tak berdaya—atau tak punya niat untuk menuntaskan tragedi ini.

Begitu sulitnyakah mencari pemimpin yang berhati nurani di negeri ini?

dkkReformasi hanyalah menjadi pintu gerbang dalam persaingan demokrasi. Bangsa ini hilang jati diri. Barat berkata, demokrasilah yang terbaik buatmu, wahai Indonesia! Dan semua sepakat, ya, demokrasilah jalan keluar persoalan bangsa ini. Tanpa periksa, tanpa tawar-menawar lalu demokrasi di copy and paste dari Amerika! Hasilnya? Partai-partai baru bermunculan, awalnya ratusan dan semua mendeklarasikan diri sebagai yang terbaik. Zaman persaingan pun dimulai! Lalu diusunglah idiom-idiom nasioalisme, agama, demokrasi dan sebagainya. Ternyata demokrasi tak lebih dari persoalan sektarian, kelompok, golongan yang diusung sebagai motor untuk persaingan. Hilang sudah kearifan bangsa ini…. Musyawarah untuk mufakat letaknya entah dimana saat ini. Burung Garuda patah sayap, Pancasila hilang makna….

Dari pemilu ke pemilu, dari pemilihan presiden sampai kepala daerah, hanyalah saat-saat kita bisa menyaksikan dengan mata telanjang sebuah ironi. Betapa partai-partai, baik yang mengusung demokrasi, nasionalis ataupun agama tak lebih seperti kucing lapar yang memperebutkan daging. Berlomba-lomba curi start, kampanye tanpa mengindahkan kaidah-kaidah demokrasi yang mereka usung sendiri. Jika hanya persoalan, lho, yang lain saja sudah curi start, masa’ kita tidak boleh juga..?
Lhah! Sudah jelas salah, kok malah ikut-ikutan berbuat salah….????

Lalu dimana doktrin keadilan yang mereka usung masing-masing…? Kalau pun dianggap tidak ada aturan yang melarang kampanye dan curi start duluan, tapi bukankah aturan hukum juga berbicara, ada saatnya baru halal untuk memulai kampanye…? Kaidahnya, sebelum dibuka masa untuk kampenye maka tidak boleh melakukan kampanye…. Atau pun kalau tidak bicara aturan hukum, tapi sebagai sebuah kekuatan politik, atau seorang politikus, bukankah mereka mengenal yang namanya etika dalam berpolitik…??? Jangan-jangan nurani dan etika yang sudah hilang pada mereka. Yang penting gua menang, masa bodohlah yang lain, habis perkara!

Ah, malas saya menggambarkan negeri ini. Sudah beberapa pemilu saya tak menyuarakan pilihan saya! Alias golput! Hidup ini memang harus memilih. Tapi bukankah tidak memilih juga adalah sebuah pilihan…??

Untuk pemilu nanti ada niat saya harus juga menyuarakan pilihan. Yang paling dekat adalah meramaikan pemilihan Gubernur Jakarta. Tapi lihat-lihat dulu siapa yang akan dipilih…. Dari calon yang tampak naik sekarang ini, belum ada yang masuk dalam kriteria saya. Ikatan emosional, kelompok atau masalah sektarian tak bisa membuat mata saya menjadi buta dalam memilih. Track record masa lalu seseorang juga menjadi penilaian saya. Belum lagi nilai-nilai yang dianut oleh seseorang. Apakah dia punya karakter atau tidak. Sebab yang kita butuhkan sekarang ini adalah pemimpin yang punya nurani, berkarakter dan menjunjung nilai-nilai ideal.

Saat ini memang dibutuhkan pemimpin baru yang berani untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini. Korupsi, kolusi dan nepotisme telah menjadi budaya negeri ini.

Kembali ke persoalan reformasi, jangan sampai kita kualat karena melupakan sejarah dan perubahan. Keadilan harus ditegakkan. Para pahlawan harus kita tempatkan dalam tempat yang sebaik-baiknya. Para korban harus dibela, jangan sampai mati sia-sia.

9 tahun reformasi, banyak hal lagi yang perlu untuk kita renungkan!

13 Mei 2007

(Untuk para sahabat-pejuang yang telah menyerahkan nyawanya untuk negeri ini. Terimakasih, semoga Allah menyambut kalian dengan terhormat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s