sambalAlhamdulillah, saya termasuk orang yang tidak pilih-pilih dalam selera. Perut lapar, apa saja bisa masuk ke perut. Tidak seperti banyak orang, mesti makan inilah, nggak mau itulah. Berpantang makan ini-itulah….

Semalam, perut lapar sekali. Sudah setengah delapan,tapi belum makan malam juga. T ak ada lauk yang bisa dimakan. Isteri kecapaian pulang dari program apprentice di toko Pak Haji di Tanah Abang. Nasi ada, tinggal lauknya yang nggak ada.

Mau beli lauk di warung makan, sayang duit. Itu pun cuma bisa untuk dimakan sekali. Mending masak aja kali ya, bisa buat beberapa kali makan. Sekalian bisa masa buat makan sahur (rencana besoknya mau puasa Kamis). Pergi ke warung si mbah langganan yang jual bahan-bahan masak, udah pada habis. Lauk kosong, yang ada tinggal tempe, tahu dan sayur Sawi. Okeh, ini pun jadilah…. Sebagai tambahan dibeli pula ikan Teri.

Beli cabe seperempat. Rencananya selain buat digoreng juga ingin buat sambal lado.

Ingat masa lalu, masa-masa kecil di Ranah Minang, sambal lado. Okeh punya tuh…. Orang Minang (Padang) terkenal dengan variasi sambal ladonya.

Masak nasi. Cabe, bawang merah beberapa siung, bawang putih satu siung, tomat, tambah ikan Teri. Semua ditaruh di atas rebusan beras/nasi. Dimasak dengan cara diuapin nasi. Sampai nasi matang, lalu bahan-bahan sambal lado tadi dikeluarin. Digiling (biar lebih cepat karena dah kemalaman diblender aja), woww.. wangi sekali. Mantab (pakai “b” tidak “p” biar yahud) sekali.

Sementara itu, tahu, tempe digoreng. Cabe pun digoreng dengan sedikit diberi air jeruk-sebagai pengganti jeruk nipis. Sayur telah selesai ditumis oleh isteri tercinta.

Sekitar setengah sembilan malam, semua sudah selesai.

Nasi terhidang, lauk dan sayur juga. Tentu saja sambal lado buatanku tersaji menantang. Wessshh… merah oi… mantab… menyala menunggu, menantang… Aroma ikan teri yang tercampur dalam sambol lado sungguh menerbitkan selera. Sudah berapa tahun ya, saya tak mencicipi sambal lado ini. Ingat dengan variasi sambal lado yang lain, yang dinamakan sambal lado uap, sama-sama diuapin… tapi lebih encer seperti kuah… Sama-sama dicampur ikan teri….

Nyap, nyap…. Lahap sekali makanku malam tadi. Habis satu piring, tambah lagi (tambuah ciek ‘da, itu istilah orang Minang). Ikan Teri yang rencananya juga digoreng campuran Tahu dan Tempe, kelupaan digoreng. Jadilah goreng balado tempe dan tahu saja. Peluh membasahi kening. Isteriku ketawa melihatnya. Adik ipar yang menemani, sudah megap-megap mulutnya karena kepedasan. Aku lanjut terus, makan sambal lado seperti sayur saja. Kalau orang lain, sambal lado sekedar variasi makan, tapi bagi saya jadi menu utama. Makan sambal seperti makan nasi, lauk atau sayur saja.

Kalau tak mengingat perut yang membuncit, mungkin sudah ingin ‘nambah lagi saya untuk yang kedua piring. Ingat masa umur belasan atau 20-an dulu. Kalau makan pasti nambah, bahkan kalau makannya enak sekali bisa dua kali tambuahnya…. Tapi sekarang…? Sudah kepala tiga euy… Apalagi ini makan malam…:D

Yah, nikmat mana lagi yang tak patut disukuri…? Nikmat yang terbesar setelah iman, yalah kesehatan. Alhamdulillah badan sehat, makan nikmat, tidur pulas…. Luaarrr biasa….

Ini nikmat yang saya syukuri dari dulu. Saya tak pernah berpantangan untuk makan. Bahkan hanya dengan sambal lado pun saya nikmat. Ini yang membuat saya jadi kesayangan isteri, tak pernah mengeluh atas masakan isteri. Malah pujian yang sering ia dapat, sebab memang masakan isteri saya enak….:)

Perut telah kenyang, dan saatnya bersyukur….

Iklan

2 tanggapan untuk “SAMBAL LADO ENAK SEKALI

  1. Salam kena Pak Syam.

    Nama boleh sama, tapi selera juga harus sama…:)
    Keluar juga air liur saya membayangkan sambal cabe teri yang di-uap-in dengan masaknya nasi. Sudah berapa tahun ya.. gak ngerasain enaknya sambal ini.
    Nanti kalau masak lagi, undang saya untuk bisa dimakan bersama. 🙂

    Wassalam,
    Syamsul
    http://www.wsyakinah.com
    wsyakinah.blogspot.com

  2. Hm… nyam.. nyam.. Selera kita sama juga ya Pak Syamsul…
    Boleh juga, kapan-kapan kita adain acara, kita masak sambal lado yang pedas dan nikmat sekali.
    Kalau perlu, terpancar air ingus kita..he… sori agak jorok dikit omongnya. Tapi emang, kalau kepedasan dan kenikmatan biasanya akan begini kita… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s