adang-daniHari Minggu (29/07) kemarin saya sedang baca buku di teras rumah. Dua orang perempuan akhwat datang menghampiri. Mereka menanyakan apakah saya tahu akan ada pemilu gubernur sebentar lagi. Lalu mereka menanyakan apakah saya sudah tahu siapa yang akan saya pilih.
Saya menjawab saya tidak ikut ‘milih. Mereka heran dan bertanya kenapa? Saya bilang saya tidak terdaftar, dan terus ditanya kok bisa tahu saya tidak terdaftar. Lalu saya jelaskan saya tidak terdata.

Sebenarnya bukan alasan itu saja yang membuat saya tidak memilih. Ada persoalan prinsip, saya kurang sreg dengan prinsip demokrasi Indonesia saat ini, yang copy-paste begitu saja dari Barat tanpa menyesuaikan dengan kondisi Sosial-Budaya bangsa Indonesia. Sudah beberapa kali pemilu saya tidak ikut, sudah tentu saya tidak terdaftar sebagai pemilih.

Tidak memilih ‘kan juga hak, sama dengan memilih juga adalah hak. Saya tidak suka dengan konsep demokrasi Indonesia sekarang ini. Euforia reformasi, lalu memilih demokrasi sebagai jawaban atas persoalan bangsa. Latah mengambil konsep demokrasi yang di-import dari Amerika. Mereka mengajarkan: Wahai orang Indonesia yang bodoh, kalian tidak tahu cara berbangsa dan bernegara. Ini ada konsep kami tawarkan kepada kalian. Ayo, demokrasi kalian terapkan!

Maaf, saya memang terkesan kasar dalam membahasakannya. Tapi inilah kegeraman saya atas persoalan bangsa ini. Saya tahu, ketika reformasi sedang hangat-hangatnya, berapa banyak LSM atau pun lembaga-lembaga luar negeri menawarkan konsep ini kepada kita. Saya mendapatkan banyak brosur, makalah atau buku-buku yang mengajarkan bagaimana berdemokrasi ala Amerika. Seakan kita adalah bangsa bodoh yang tak tahu mengurus negara dan mesti diajarkan bernegara. Berapa banyak pula negara yang tidak suka konsep demokrasi ala Amerika. Yang tidak suka cara ini akhirnya dikucilkan, dimusuhi malah diserang oleh Amerika.

Bukan saya tidak setuju dengan demokrasi, tapi apapun konsep, nilai dari luar yang akan diterapkan ke bangsa-negara kita mestilah disesuaikan dengan kondisi budaya dan nilai bangsa kita. Dia harus mendukung dan didukung oleh natur-nya bangsa Indonesia. Sama seperti tanaman, bagus tumbuh di pantai belum tentu subur tumbuh di gunung. Apa karakter dan nilai bangsa ini dalam bermasyarakat? Gotong-royong, musyarawarah-mufakat! Itulah ciri khas bangsa ini. Dan ini sudah bisa kita buktikan, ratusan tahun suku bangsa ini telah mempraktekkannya! Bangsa ini punya nilai adat dan religi yang mendasari hidup bermasyarakat. Tidak mesti begitu saja ditukar dengan gaya hidup individualisme dan persaingan ala demokrasi Barat. Dalam demokrasi, yang kuatlah yang menang!

Ah, berceramah pula saya.

Kembali ke awal cerita. Yang saya inginkan cerita adalah semangat gerakan, tentang dua orang perempuan akhwat tadi yang berjalan dari rumah ke rumah untuk menyiapkan kemenangan pemilu. Saya tahu kemana ujung ceritanya mereka. Ujung-ujungnya ini adalah cara dalam memenangkan Adang-Dani.

Setelah meyakini saya tidak akan memilih lalu mereka menanyakan: Sudah tahukan siapa saja calon gubernur?

“Ya”, saya menjawab.

“Ini ada sedikit brosur untuk dibaca-baca. Jangan sampai kita salah pilih. Calon ini bisa dipercaya”. Lalu mereka mengeluarkan brosur kampanye Adang-Dani: Benahi Jakarta.

Salut saya. Dua orang akhwat yang berani gerilya door to door masuk kampung melakukan kampanye terselubung. Untung mereka ketemu dengan saya, bagaimana kalau mereka ketemu dengan orangnya Fauzi-Prijanto? Wah, bisa-bisa ribut nih perkaranya.

Kalau tidak ada sebuah doktrin yang kuat, ideologi yang mendasari tak akan mungkinlah ada perempuan yang berani seperti ini. Hanyalah ideologi yang membuat seseorang atau pun suatu organisasi mampu radikal dalam bergerak.

Saya terima dan baca brosur dari mereka. Adang-Dani memilih berkoalisi dengan rakyat daripada berkoalisi dengan elit. Oke juga nih isi brosurnya. Memang, kalau berkoalisi dengan elit atau banyak partai banyak pula tagihan yang mesti dibayar nantinya. Tapi kalau berkoalisi dengan rakyat, gampang menagihnya.

Terus terang, dari isi program kerja yang ditawarkan tak ada yang istimewa yang saya lihat. Bagaimana mengatasi persoalan ekonomi, banjir, pendidikan, transportasi, kesehatan dan sebagainya saya baca biasa-biasa saja. Tak ada yang sensasional atau menyelesaikan masalah. Tapi bila dibanding dengan Fauzi-Prijanto saya lebih sreg dengan Adang-Dani.

Kepada masyarakat Jakarta yang “terpaksa” memilih, saya lebih menyarankan pilihlah Adang-Dani. Kenapa? Mengutip ucapan Biem Benjamin, wakil masyarakat Jakarta di DPD-MPR RI: Orang Betawi itu jawara. Yang namanya jawara nggak main keroyokan. Ya, kalau berani berhadapan satu lawan satu. Ini nggak, satu dikeroyok rame-rame. Ketakutan apa sih yang membuat sekian banyak elit dan partai politik mengeroyok PKS dengan Adang-Dani? Malahan ketakutan yang mengada-ada, persoalan SARA yang diangkat. Seakan kalau Adang-Dani dengan PKS dibelakangnya maka syari’at Islam akan dijalankan di semua bidang… Ck..ck.. bodoh sekali ketakutan ini…

Kalau saya sih sederhana saja melihat politik ini. Kepentingan! Ya, politik itu ‘kan kepentingan. Ada perbedaan kepentingan yang berlaku. Kalau PKS menang maka banyak kepentingan elit dan partai yang tak akan terpenuhi. Bukan melebihkan, dibandingkan dengan partai dan elit lain, PKS lumayan bersihlah buat saya. Mereka lebih amanah dibandingkan dengan yang lain.. Ini penting buat saya, amanah lebih penting dari pada program.

Soal Fauzi Bowo, saya melihat dia tidak sukses selama menjabat wakil gubernur. Sudah terbukti 5 tahun dia menjabat gubernur dan sekian puluh tahun berkarir di pemerintahan saya tak mendengar ada programnya yang sensasional. Tak ada program yang istimewa selama kepemimpinannya. Kalau dia menang, maka dia akan sibuk mengakomodir kepentingan para pendukung daripada memikirkan dan menjalankan program kerja nantinya. Dan satu lagi, saya tidak percaya dengan para partai pendukungnya. Terbukti selama ini mereka banyak mengecewakan rakyat.

Begitulah pengalaman demokrasi Indonesia. Semua berlomba menyatakan yang terbaik. Setelah rakyat percaya, lalu mereka lupa dan menjalankan kepentingannya saja. Berkali-kali pula akhirnya rakyat jadi kecewa.

Gunakan hati nurani. Jangan salah pilih. Pilihlah yang terbaik menurut Anda. Yang tidak memilih, juga nggak apa-apa. Masing-masing punya alasan tersendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s