Sebuah renungan kemerdekaan 62 Tahun Negara Indonesia

Merah PutihIndahnya kemerdekaan, ketika tiada tali kekang yang menambat atau pasungan yang membelenggu.

Terpasung, mata lepas tapi kaki tertahan balok kayu. Terkekang, kaki lepas melangkah tapi leher terjerat oleh tali ikatan. Semua orang sudah pasti tidak ingin seperti itu. Berbagai upaya dilakukan agar lepas dan merdeka.

Berbagai kisah, baik individu, masyarakat atau bangsa berjuang keras agar mendapatkan kemerdekaannya. Harta, raga dan jiwa dikorbankan untuk menebusnya. Berprinsip, kalau tidak diri sendiri yang menikmatinya biarlah anak-cucu yang mendapatkan kemerdekaanya.

Berjuang, untuk mendapatkan kemerdekaan. Tapi aneh, di satu sisi ada yang berjuang dan berkorban untuk mendapatkan kemerdekaan tapi ada juga yang malah menikmati keterpasungan dan keterikatannya. Barangkali mereka sadar, atau malah tidak sadar atas ketidakbebasannya ini, dan malah menganggap dia sebenarnya sangat bebas. Orang-orang seperti bisa jadi telah terbius, mabok atau terpesona oleh jebakan dan tipudaya penjajahan.

Apa makna kemerdekaan bagi Anda?

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kemerdekaan dimaknai oleh Bung Karno dengan istilah Tri Sakti, yaitu: 1. Berdaulat di bidang politik; 2. Mandiri dalam bidang ekonomi; 3. Berkepribadian dalam bidang budaya. Dalam bidang politik, boleh saja kita telah berdaulat. Proklamasi kemerdekaan telah dideklarasikan. Merdeka! Dipekikkan untuk lepas dari penjajah. Tapi kenapa masih saja dalam soal tata berbangsa dan bernegara malah Barat masih saja bisa mendikte kita? Dipaksakan berdemokrasi ala mereka.

Dalam bidang ekonomi. Aset-aset penting negara yang seharusnya dikuasai oleh negara untuk dimanfaatkan buat kesejahteraan rakyat berguguran satu demi satu dipetik oleh pihak asing. Entah karena kebodohan, atau terlalu banyaknya kaum komprador di negeri ini, aset-aset tersebut dijual ke pihak asing. Sekali badai ekonomi/moneter datang, bergelimpangan kenestapaan melanda negeri ini.

Dalam bidang budaya, entah apa wajah dan karakternya bangsa ini. Di bilang Orang Timur, tapi berperilaku lebih Barat dari Orang Barat itu sendiri. Budaya hedonisme, gaya hidup moderen salah kaprah jadi tingkah laku, sifat dan sikap. Moderen lebih dipandang sebagai gaya hidup dan konsumsi belaka, bukan pada nilai etosnya. Coba lihat, bagaimana anak-anak bangsa ini berperilaku. Globalisasi telah merusak anak-anak bangsa, mediamassa, musik, filem dan sinetron membongkar nilai-nilai asli dan memolesnya dengan nilai baru. Rekayasa sosial (social engineering) sangat canggih diciptakan oleh para kapitalisme global.

Tolong menolong, gotong-royong—berat sama dipikul ringan sama dijinjing menjadi budaya individual. Musyawarah dan mufakat telah berganti dengan demokrasi ala Amerika. Kekeluargaan, adat dan tradisi telah berubah menjadi egoisme dan nilai gaya hidup ringan dan metropolis.

Sudah pasti, setiap nilai apapun dia mesti sesuai dengan alam yang mendukungnya. Mendukung dan didukung natur, itu istilah para founding father kita. Gaya hidup atau nilai yang subur Di Luar sana belum tentu cocok diterapkan Di Sini. Apa yang subur di laut belum tentu subur tumbuh di gunung. Maka bisa kita lihat, muncullah para mutan yang berjalan kemana-mana mengusung nilai yang tak terdukung oleh dia.

Setiap bangsa punya karakternya tersendiri. Ada bangsa yang lahir dari semangat perjuangan, dan mereka berani menghadang ketidakadilan dan penindasan yang datang ke negeri mereka. Biasanya bangsa-bangsa ini di-cap fundamentalis atau negara ancaman oleh pihak kapitalisme/kolonialisme. Maka kembali terjadi kisah klasik, gaya perang serang habis adalah perilaku yang diterapkan untuk menjatuhkan bangsa/negara yang kuat karakter perjuangannya.

Bagaimana dengan bangsa kita? Amerika tak perlu mengirimkan kapal induk dan pesawat siluman untuk menjatuhkan negeri ini. Cukup kirim MTV, narkoba, selubung mediamassa atau produk kapitalisme lainnya maka sudah teler para anak bangsa ini. Gaya hidup ringan telah melunturkan semangat bangsa ini, telah merubah warna rambut yang semula hitam menjadi kepirang-pirangan. Berbahasa sudah tak benar, berbudaya pun sudah hilang nilai.

Bukan bermaksud menyampaikan pesimisme, atau nilai negatif dari cerita ini. Tapi kita mesti tahu diri, mesti sadar apa yang terjadi. Diharap dengan kejadian yang ada membuat kita insyaf untuk perlunya membangun negeri ini. Menyampaikan kemerdekaan itu mudah, tapi bagaimana menjaga dan memajukan kemerdekaan itu yang lebih sulit.

Ayo para pemuda, sinsingkan lengan baju kita. Kuatkan kuda-kuda, kita dukung negeri ini hidup merdeka dan wariskan sampai akhir dunia ini(HS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s