Sehari menjelang bulan puasa.

Teringat aku akan kampung halaman. Sehari menjelang Ramadhan, orang kampung saya punya tradisi. Potang Balimau, itu sebutannya. Sebuah tradisi turun-temurun untuk mensucikan diri dalam rangka menyambut datangnya bulan puasa. Tradisi mandi-mandi di sungai dan berbagai perayaan anak nagari yang dilangsungkan di tepi sungai Batang Mahat, Kec. Pangkalan Koto Baru Kab. 50 Kota Sumatera Barat.

Tradisi ini sekarang sudah menjadi agenda wisata pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Dimulai setelah shalat Zhuhur di Mesjid Raya yang tepat berada di tepi sungai. Selain mensucikan diri, acara ini juga sebagai tempat bersilaturahmi anak-anak negeri, baik yang berada di kampung atau pun yang pulang dari perantauan. Tak afdhol rasanya kalau para orang kampung atau yang berada di perantauan kalau tak ikut acara ini. Para perantau yang tersebar di berbagai negeri biasanya menyempatkan diri untuk pulang untuk mengikuti tradisi ini.

Para pemuda-pemudi, anak-anak, orang dewasa maupun tua turun tumpah ke sungai. Ada Maimbau, sebuah kapal kecil atau gabungan beberapa sampan dibuat menyerupai kendaraan, pesawat, rumah adat atau replika lain yang dibuat dan diarak di tengah sungai.


Lalu ada pacu sampan, para pemuda perkasa berlomba-lomba memacu sampan yang ditingkahi sorak-sorai para penonton. Bunyi talempong (musik tradisional) meningkahi teriakan orang-orang. Para pemuda tanggung menghambur ke tengah sungai berenang sekuat tenaga untuk menunjukkan kelihaiannya berenang.

Di tengah sungai membelah sebuah jembatan puluhan meter yang menghubungkan daerah paling ujung Provinsi Sumatera Barat ini dengan Provinsi Riau. Teringat aku, dahulu kami sering meloncat terjun ke sungai dari atas jembatan yang berketinggian belasan meter ini. Lalu, byuuaarr!! Semburat air memecah ketika tubuh-tubuh kecil kami menyeruak ke dalam air. Ketika para sampan yang berpacu dari hulu ke hilir lewat di bawah jembatan, anak-anak yang terjun bebas seperti menjadi pemandangan tersendiri yang memecah buih bekas sampan yang berpacu.


Sorak-sorai para penonton di tepi sungai. Kecipak air orang ramai yang menghambur ke dalam air, alunan Talempong, teriakan berbagai suara, para gadis yang melirik manja, kerling nakal para pemuda, para penjual balon atau yang menjajakan berbagai dagangan, ramai sekali semua tumpah-ruah dari atas jembatan, pinggir sungai sampai ke tengahnya. Biasanya, kendaraan yang melewati jalur lintas Sumatera Barat-Riau akan berhenti sejenak untuk menyaksikan keramaian ini.

Sebelum acara dimulai, aku dan beberapa teman masa kecilku biasanya akan menyusuri pinggir sungai naik ke hulu yang berada nun jauh di atas sana, melintasi rimba. Dengan benen (ban dalam mobil yang dipompa) kami menghiliri sungai seperti yang dilakukan oleh para penikmat arung jeram.

Melewati arus deras, lalu satu ketika sampai di lubuk yang dalam. Air seperti mati, dasar sungai yang gelap karena tidak kelihatan dasarnya, di tengah rimba raya terkadang membuat bulu kudukku merinding. Seandainya ada ikan besar, ular atau hantu rimba yang menarikku ke dalam air.. Hiiii… angan-angan anak kecil kadang menggoda ketika melewati jalur sungai ini.

Dan ketika benen kami hampir sampai ke tempat perayaan potang balimau, gembira pun memenuhi dada kami. Perjalanan menegangkan menempuh liarnya sungai menghiliri dengan kendaraan benen kami pun usai. Bersama dengan orang banyak lalu kami lebur dalam kegembiraan acara potang balimau.

Senja segera menjemput. Acara mulai usai. Anak-anak negeri mulai bergerak meninggalkan lokasi. Masing-masing pulang, sesampai di rumah melakukan ritual lain yaitu yang disebut mandi balimau. Yaitu tradisi membersihkan diri dengan rempah-rempah jeruk nipis, dan beberapa kembang.

Setelah selesai mandi balimau, tubuh pun semerbak mewangi oleh bau rempah-rempah. Menandakan diri sudah siap memasuki bulan suci. Lalu berniat bahwa esok sebulan penuh akan menjalankan ibadah bulan puasa.

Ah, rindu masa lalu. Tahun 1993, itulah terakhir aku menjalankan tradisi ini. Agustus 1993, aku pun merantau ke Jakarta. Negeri yang punya tradisi berbeda.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Menjemput Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s