knowledge

Ketika membaca koran beberapa hari yang lalu (Kompas, 26 September 2007), tulisan yang mengupas tentang orang terkaya di Amerika versi majalan Forbes saya terpana, bahwa orang terkaya saat ini bukanlah orang yang bergerak dalam usaha pertambangan, otomotif, atau usaha konvensional lainnya.

Selama ini sudah tercitra, untuk menjadi terkaya adalah dengan menguasai sumber daya alam saja. Tapi kenyataan saat ini sudah berbeda.

Coba perhatikan, dari daftar orang terkaya di Amerika, ditempati oleh orang-orang yang mengelola knowledge dalam kegiatan usahanya. Urutan teratas masih—selama 14 tahun—ditempati oleh Bill Gates dari Microsoft Corp, dengan harta sekitar 59 miliar dollar AS (sekitar Rp 560 triliun). Pada urutan ke-4 ada Larry Ellison, pendiri dan CEO Oracle, dengan kekayaan 26 milliar dollar AS.

Tahun ini masuk daftar baru, urutan ke-5 yaitu pendiri Google Inc, yakni Sergey Brin dan Larry Page. Kekayaan kedua anak muda berusia 34 tahun ini senilai 18,5 milliar dollar AS.

Sementara untuk daftar lainnya berasal dari kalangan investor, juragan minyak dan lain-lain.

Yang menarik dari daftar di atas, tampilnya sosok-sosok yang bergerak di bidang teknologi informasi (IT), seperti dari Microsoft, Oracle, dan Google. Hal ini seperti memperlihatkan bahwa peluang ekonomi telah berubah dari berbasis sumber daya (resource-based economy) ke ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-bases economy).

Selama ini sejarah kekayaan umat manusia adalah berbasis pada sumber daya alam, seperti, minyak, mineral, hutan, dan lain-lain. Tapi kini sumber daya alam bukanlah faktor utama lagi. Mengutip ucapan Peter Drucker, dari Management Challenges for the 21st Century:

“Aset paling berharga bagi perusahaan pada abad ke-21 adalah pengetahuan dan pekerja terdidik. Pengetahuan telah menjadi modal bagi pembangunan ekonomi, menggantikan sumber daya alam yang tidak dapat menjadi andalan lantaran dapat terdepresiasi, bahkan memunculkan perusakan lingkungan yang ujungnya merugikan umat manusia”.

Sumber daya alam tidak dapat lagi diandalkan karena dapat terdepresiasi. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan justru terus berkembang.

Orang kini telah menemukan kekuatan baru nonfisik yang selalu terbarukan, itulah yang disebut knowledge atau ilmu pengetahuan.

Paparan lebih lanjut Kompas menyampaikan, nilai semua logam emas yang pernah ditambang dari zaman sebelum Mesir kuno sampai penambangan moderen, seperti di Freeport, termasuk cadangan negara Amerika Serikat di Fort Knox, bernilai hanya kurang dari nilai enam perusahaan komputer/TI, yakni Microsoft, Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Dan pasti jauh lebih besar lagi kalau Google dan Oracle dimasukkan.

Luar biasa!

Dalam konteks Indonesia, hal ini menimbulkan tantangan baru bagi kita dalam merespon perkembangan zaman. Perlu dikembangkan usaha yang bergerak dalam bidang teknologi. Kita tidak bisa lagi menyandarkan diri pada ekonomi yang bersumber daya alam semata, tapi perlu mendorong munculnya gerakan-gerakan inovasi, pemanfaatan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan.

Peran technopreneur sangat penting dalam menjawab perkembangan ekonomi baru.

Sekarang adalah zamannya kedigjayaan knowledge. Knowledge is Power!

Hotel Matahari 2, Jambi 29 September 2007 – 22.07 WIB


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s