Pengaruh Lingkungan

Masjid1Ada sebuah contoh yang bagus yang disampaikan oleh Andrew Matthews dalam bukunya Bahagia Sekarang (Terjemahan dari judul asli Happiness Now).

Pernahkah anda memasuki WC umum yang sangat bau sehingga anda ingin muntah? Akan tetapi, anda perlu menggunakannya sehingga masuk juga akhirnya.

Anda perhatikan, apa yang terjadi?

Ketika lima menit kemudian baunya tidak lagi menyengat seperti semula.

Ada prinsip yang berlaku disini, kita terbiasa dengan lingkungan kita.

Lingkungan mempengaruhi kita. Bergaullah dengan orang yang menderita, maka kita pun akhirnya menderita. Dan kita pun akhirnya menganggap penderitaan itu normal! Jika ingin berbahagia, maka bergaullah dengan orang-orang yang berbahagia.

Ketika kita masuk ke lingkungan orang-orang pembohong dan korup, pada awalnya mungkin akan merasa tidak nyaman. Tapi lama-lama kita akan menganggap itu sebagai hal yang normal dan pada akhirnya kita pun akan menjadi seperti mereka.

Kenapa bangsa ini dipandang berbudaya korup dan tidak efektif? Karena lingkungan atau sistem telah membiasakan orang-orang baik menjadi korup. Orang-orang yang pada awalnya kritis dan bersih, karena lingkungan akhirnya terkontaminasi, terinfeksi juga. Sikap ini lama-lama menjadi budaya dan dianggap sebagai hal yang biasa.

Jika bergaul dengan Pandai Besi, maka kita pasti akan mendapatkan asap. Contoh bagus lain disampaikan oleh Baginda Muhammad SAW, Jika bergaul dengan tukang minyak wangi maka kita pun akan mendapatkan bau wangi. Bergaullah dengan orang-orang sholeh maka kita pun akan terpengaruh kesholehannya.

Seringkali orang ingin merubah nasibnya—ingin hidup lebih baik—tapi masih hidup dalam lingkungan yang tidak mendukungnya untuk menjadi lebih baik. Kita perlu keluar dari lingkungan yang tidak mendukung dan masuk pada lingkungan yang mendukung kita menjadi yang kita inginkan.

Jika ingin menjadi orang yang kritis, maka kita perlu masuk ke lingkungan orang-orang kritis. Pada awalnya mungkin asing, tapi kelamaan kita akan terbiasa dan menjadi normal.

Jika ingin menjadi pebisnis, maka masuklah ke lingkungan pergaulan pebisnis, jangan masuk lingkungan orang-orang pekerja. Pada awalnya mungkin akan kagok dengan pikiran-pikiran, sikap dan gaya hidup mereka, tapi pada akhirnya kita akan menganggap normal dan beradaptasi dengannya.

Kita semua terpengaruh—terinfeksi—oleh orang-orang dan sikap-sikap di sekeliling kita.

Mulai sekarang, pilihlah lingkungan yang mendukung kita ingin menjadi seperti yang diinginkan.

Hotel Gemilang, Muara Bulian Jambi, 28 September 2007 – 15:38 WIB


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s