Andai Jakarta Terus Seperti Saat Ini

Beberapa hari setelah lebaran.

Jalanan terasa menyenangkan, dibandingkan hari-hari biasa Jakarta. Tak terlalu ramai, dan juga tidak terlalu lengang. Kendaraan melaju lancar membelah jalanan Jakarta.

Saya masuk kantor pukul setengah sembilan pagi. Pukul delapan masih sarapan di rumah. 8.15 berangkat, sekitar 15 menit sudah sampai di kantor—tergantung kendaraan apakah dapat langsung naik atau menunggu dahulu. Maklum, saya masih naik kendaraan umum untuk berangkat kerja.

Lalu kendaraan masih lancar. Tak ada kemacetan, tak ada asap kendaraan dan riuh-rendah mobil dan motor yang seenaknya mengambil jalanan dan mengentutin para penumpang seperti saya yang berkepul asap menyesakkan pernapasan dan membuat baju yang awalnya wangi menjadi sumpek!

Suasana beberapa hari setelah lebaran masih menyenangkan di Jakarta.

Beberapa tahun terakhir ini lalu-lalang jalanan Jakarta sudah sangat sumpek sekali. Kemacetan terjadi dimana-mana dan tidak bisa diprediksi. Kalau dahulu kita masih bisa memprediksi, jam segini dan di wilayah ini terjadi kemacetan. Tapi sekarang, tidak bisa lagi. Bisa jadi pagi hari, siang, sore, atau tengah malam masih terjadi kemacetan.

Tahun lalu, saya berangkat dari kantor masih bisa pukul 8 pagi, atau paling lama pukul 8.15. Saya masih bisa masuk kantor tanpa telat dari pukul 8.30, ataupun paling telat beberapa menit. Memang rumah saya tidak terlalu jauh dari kantor. Saya tinggal di daerah Cipulir tak jauh dari pasar Kebayoran Lama, sedang kantor di daerah Gandaria, Mayestik. Walau dekat, tapi mesti naik berganti 2 kali kendaraan.

Tapi sekarang ini, jangan coba-coba berangkat lebih dari pukul 8. Bisa-bisa terlambat masuk kantor. Setengah jam lebih dihabiskan waktu untuk berangkat ke kantor, yang mana dahulu cuma sekitar 15 menit saja. Coba bayangkan, dalam satu tahun saja sudah sekitar setengah jam bertambah waktu tempuh jalan di Jakarta, bagaimana beberapa tahun lagi? Berdasarkan data dari Pusat Data & Analisa TEMPO waktu tempuh dahulu 29,5 menit pada tahun 2000 saja telah menjadi 51,7 menit atau meningkat 75%. Bagaimana dengan sekarang? Wah, tentu saja semakin parah.

Saya masih ingat, ketika lebaran pertengahan tahun 90-an di Jakarta, serasa masih bisa tidur-tiduran di jalan saking lengangnya hari raya di Jakarta. Benar-benar sendu di Jakarta, karena sepi dan tak bisa pulang kampung. Tapi sekarang ini, lebaran kita tidak bisa lagi leha-leha di jalan. Betapa banyaknya pertambahan kendaraan di Jakarta, baik sepeda motor ataupun mobil pribadi.

Pertambahan paling fantastis terjadi pada sepeda motor yang pertumbuhannya mencapai ratusan ribu setiap tahunnya (tahun 2001 sepeda motor bertambah 333.510 unit, tahun 2002 bertambah 223.896 unit, tahun 2003 bertambah 365.811 unit).

Belum lagi pertumbuhan kendaraan pribadi. Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dengan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi dan 2% kendaraan umum. Padahal yang diangkut kendaraan umum lebih banyak dari kendaraan pribadi.

Penelitian yang dilakukan oleh Japan International Corporation Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) memprediksi, jika tidak ada pembenahan dalam sistem transportasi umum maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun 2014. Perkiraan ini berdasar pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata mecapai 11% per tahun sedangkan pertumbuhan panjang jalan tidak mencapai 1%. Wah! Tercatat setiap hari ada 138 pengajuan STNK baru, yang berarti dibutuhkan penambahan jalan sepanjang 800 meter. Sementara kenyataannya jalanan di Jakarta setiap saat semakin sempit, baik oleh galian lobang tutup lobang, jalanan rusak, diambil oleh jatah Busway, atau diserobot oleh para pedagang kaki lima.

Oh Jakarta, semakin hari kau semakin sumpek saja! Padahal aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu…

Satu pemikiran pada “Andai Jakarta Terus Seperti Saat Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s