TEMPE, OH TEMPE!

Pagi ini saya menemukan kembali Tempe ada pada sarapan pagi.

Tumben nih, kata saya pada isteri.

Ya, udah pada jualan lagi, sang isteri tercinta menjawab.

Sudah beberapa hari ini saya kehilangan Tempe. Ada kerinduan juga pada makanan sehat ini.

Tempe menghilang.

Dalam perjalanan menuju kantor, di pinggir jalan saya melihat seorang tukang jualan tempe keliling dikerubungi oleh ibu-ibu. Mereka “mengeroyok” si abang, dan berebutan tempe. Ternyata tempe sudah muncul lagi.

Ni berapa nih, bang?

Tiga setengah.

Dua setengah aja ya?

Saya nggak tahu, harga tiga setengah (Rp 3.500) yang dijual si abang seukuran apa. Tapi, sang pembeli menawar harga di bawahnya.

Sudah beberapa hari ini tempe menghilang di pasaran. Para produsen—yang notabene adalah pengusaha kecil ngambek menghentikan produksi karena harga kacang kedelai sebagai bahan baku melonjak harganya. Sebagai bentuk protes, mereka menghentikan produksi dan berharap pemerintah memperhatikan hal ini dan mencari jalan keluarnya.

Jadilah tempe menghilang di pasaran. Rakyat kecil menjerit, makanan favorit murah-meriah tak ada lagi. Warung makan langganan saya, ketika saya memesan gado-gado tak ada terdapat lagi tempe. Jadilah saya hanya makan gado-gado cuma dengan sayur-sayuran saja—tanpa ada tempe lagi.

Heran, negeri ini yang berbasis pertanian tapi untuk beberapa hal masih melakukan impor. Beras impor, kacang kedelai impor. Masa’ sih, kacang kedelai saja sepertinya tak bisa menyelesaikannya. Masa’ sih, beras dan kacang kedelai saja harus impor. Dan ketika pihak luar menekan harga, jadilah rakyat juga yang menjerit!

Wahai penguasa, kemana orientasimu? Sudahlah, hentikan keberpihakan pada kapitalisme internasional. Jangan jajah lagi negeri ini. Sudahlah aset-aset penting negeri ini dijual, kekayaaaan tanah, air, bumi ini ikut pula dipindahtangankan. Sekarang, untuk bahan makan sehari-hari saja harus pula dari Luar.

Barangkali para elit tak merasa pedih, sebab bahan makan mereka selalu tercukupi. Mana suka mereka dengan tempe, daging dan susu mencukupi dan penuh di lemari dan meja makan mereka. Ah, rakyat kecil. Sudahlah kecil, makan kecil dah semakin kecil pula.

2 pemikiran pada “TEMPE, OH TEMPE!

  1. Iya nih bung … saya juga dah kangen sama tempe goreng buatan bini ….

    Btw, info terbaru yg saya terima bahwa, tempe yang kita import dari amerika itu … ternyata hasil proses mutasi .. hmmm saya lupa namanya. But yang jelas, di Eropa, produk seperti itu dilarang karena berbahaya bagi kesehatan.

    So, saya sih berharap supaya muncul lagi petani2x kedelai di indonesia. Supaya petani kita makmur, kita nda pernah kehilangan tempe lagi, dan sekaligus aman dikonsumsi.

  2. langsung dong bilang sama istrinya bilang..
    “Uni, tambuah ciek tempek nyok…”
    heheheh…

    mo gmn juga petani indonesia memproduksi, klo sistem nya jelek spt sekarang.. ya susah juga..
    negara agraris kok import bahan dari luar…
    bangundongkendonesiaku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s