Konsep Perancangan Sistem Informasi

proyekSeringkali saya temukan, rendahnya—atau kurang maksimalnya para developer dalam melakukan langkah-langkah dalam perancangan sistem. Dalam metodologi pembangunan atau pengembangan sistem, langkah-langkah yang dilakukan berupa identifikasi kebutuhan, analisa, pembuatan model rancangan sampai pembangunan sistem aplikasi dan seterusnya. Semua langkah-langkah pekerjaan ini haruslah didokumentasikan dengan baik dan benar.

Para developer terjebak pada batasan waktu, sehingga meremehkan langkah-langkah awal dan fokus pada pembangunan sistem aplikasi. Yang penting proyek segera selesai!

Pada pembangunan atau pengembangan sistem aplikasi, sering saya temukan program aplikasi yang dibuat tidak dibangun atas desain atau arsitektur yang matang. Seperti membuat bangunan, seringkali kita lebih menghargai para tukang dan memfokuskan pada pekerjaan yang dilakukannya. Pokoknya, bagaimana semen segera diaduk, batu dan bata terpasang secepatnya. Pasang sana-pasang sini. Programer merangkap sebagai perancang-bangun sistem aplikasi. Sehigga yang berlaku adalah improvisasi kerja. Contoh nyata, adalah ditemukannya duplikasi data, aplikasi yang tumpang-tindih dan tidak adanya pemisahan antara antarmuka, business process, dan hubungan ke database (layering). Ibarat rumah, hasil akhir pekerjaan adalah bercampur-baurnya ruang tamu, kamar tidur, dan dapur pada satu tempat. Ibarat bisnis, tidak ada bagian khusus etalase atau front office, ruang bisnis, ruang meeting, dan ruang penyimpanan atau gudang.

Dalam pembangunan sistem yang ideal, pekerjaan yang dilakukan haruslah berdasarkan hasil analisa yang mendalam dan merancang sistem yang baik. Memang langkah-langkah awal ini memakan waktu yang lama, tapi meremehkan hal ini akan menyebabkan hal yang fatal di belakang hari. Kita akan sulit melakukan pengembangan sistem, penelurusan masalah apabila ditemukan hal-hal yang tidak diinginkan nantinya. Seandainya perancangan sistem dilakukan dengan baik dan didokumentasikan, maka ketika akan melakukan pengembangan sistem, kita tinggal membuka blue print, model rancang sistem, membuka dokumentasi, lalu tentukan apa yang akan dilakukan.

Dalam pembagian kerja, hal yang ideal ini mungkin akan memakan resource yang berlebih. Tentu akan ada yang akan bertindak sebagai analis, system designer (arsitek), programmer, implementator, dan sebagainya. Tapi jika menyediakan modal hanya untuk programmer saja dengan alasan efisiensi dan sebagainya, maka biaya mahal akan dikeluarkan di kemudian hari jika klien kita ingin mengembangkan sistem aplikasi yang dibuat. Barangkali bisa masa bodoh, toh pekerjaan selesai dan nanti itu tugasnya konsultan lain di belakang hari. Terserah pekerjaan mau diselesaikan atau tidak. Tapi, kalau seandainya track record kita bagus dan klien mempercayakan kita untuk mengembangkan pekerjaan yang dibuat, maka alangkah repot dan rumitnya seandainya hal ini akan dilakukan. Ya, kalau programer yang mengerjakannya masih ada, tapi kalau sudah pindah kerja atau keluar maka kasihan orang yang mendapatkan tugas untuk mengembangkan pekerjaan. Dia mesti menelusuri masalah, mendapatkan gambaran sistem dan sebagainya.

Jadi kesimpulannya? Serahkan pekerjaan pada ahlinya. Hehe.he..he.. ‘Nggak nyambung ya?😉


4 pemikiran pada “Konsep Perancangan Sistem Informasi

  1. nie artikel hasil analisis ke perusahaan ato penulisnya ngalamin sendiri..?
    ha ha ha
    sharsnya inti dari artikel ini:”hargain hasil kerjaan para programer dengan tidak bikin crack n bli bajakan..”
    *_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s