garuda2Pagi ini (26/01/08) saya tercenung setelah membaca tulisan harian Kompas. Sebuah tulisan dari Profesor Koh Young Hun. Bercerita tentang kemajuan dan etos bangsa Korea dan komparasinya dengan Indonesia.

Beberapa tahun ini orang sangat kagum dengan kemajuan Korea. Bagaimana sih bangsa ini bisa maju dan masuk dalam jajaran elit dunia? Betapa etos bangsa ini telah memajukan Korea.

Sejak tahun ’70-an pemerintah Korea telah membangun dan mengembangkan kualitas bangsa Korea, dengan membentuk empat sikap, yaitu: pertama, sikap rajin bekerja tanpa banyak bicara. Menyelesaikan pekerjaan betapapun kecilnya. Kedua, sikap hemat, sebagai bentuk dari rajin bekerja dan menghargai hasil yang didapat. Ketiga, sikap self-help, yaitu sikap mandiri dan sebagai bentuk kepercayaan diri. Kelima, sikap kooperasi, saling bekerjasama. Keempat sikap inilah yang menjadi etos bangsa Korea dan berperan besar dalam memajukan Korea menjadi bangsa yang moderen terdepan.

Profesor Koh Young Hun mengkomparasikannya dengan bangsa Indonesia. Berawal dari kekaguman beliau dan keyakinannya Indonesia pun bisa seperti Korea. Bukankah empat kualitas sikap tersebut di atas sebenarnya sudah menjadi milik dan budaya bangsa Indonesia?

Tercenung saya; benar! Bukankah sifat-sifat di atas telah menjadi budaya bangsa kita? Rakyat kita adalah bekerja keras. Etos kita, kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Mulai dari hal yang kecil. Petani kita adalah pejuang ulet, nelayan kita adalah nelayan yang tangguh. Allah sendiri melalui Al-Quran telah menjelaskan, bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau tidak mereka sendiri yang mengusahakannya. Kerja bukan semata persoalan kerja belaka, tapi adalah menjadi bagian dari ibadah. Karya besar masa lalu, menunjukkan hasil kerja besar bangsa ini.

Sifat hemat; bukankah telah menjadi peribahasa bangsa ini? Hemat pangkal kaya! Lalu sifat mandiri, sudah pasti dan terus didengung-dengungkah oleh Bung Karno. Berdikari! Berdiri di kaki sendiri, itu ucapan terkenal beliau ketika mengawali berdirinya negara Indonesia. Sikap kooperasi, apalagi itu. Sifat gotong-royong, berat sama dipikul ringan sama dijinjing telah menjadi ucapan-ucapan orangtua yang diwariskan ke anak-cucu. Di kampung-kampung, pembangunan rumah dan pembukaan ladang dikerjakan bersama-sama antar warga.

Sepertinya ada yang salah, atau bermasalah dengan bangsa ini. Sifat dan etos bangsa ini sekarang entah kemana berada. Berganti dengan pemalas, boros, egoisme, individualistik dan sebagainya.

Sebuah Ilustrasi bagus disampaikan oleh sang Profesor. Ada sebuah kisah. Seorang pemburu telah menangkap seekor anak burung garuda dan mengurungnya bersama anak-anak ayam di sangkar ayam. Dikurung lama sampai ia menjadi jinak. Pada suatu hari datanglah seorang peneliti unggas. Beliau heran melihat ada anak garuda di sangkar ayam. Beliau menyatakan ke pemburu bahwa itu adalah anak garuda, tapi sang pemburu tertawa menyatakan bukan dan itu adalah anak unggas. Sang peneliti ngotot dan ingin membuktikannya. Sang pemburu mempersilahkan. Lalu anak garuda dikeluarkan dari kandang, dan disuruh terbang. Ternyata tidak bisa!

Sang pemburu menegaskan, benarkan itu anak unggas bukan anak garuda. Tapi sang peneliti tetap yakin bahwa itu adalah anak garuda. Lalu, anak garuda dihampiri, dia belai kepalanya sambil membisikkan kata-kata: “Wahai anak burung, sesungguhnya engkau adalah anak garuda. Orangtua dan bangsamu adalah jago terbang dan raja angkasa. Cobalah belajar kepakkan sayapmu, engkau akan bisa terbang tinggi.” Sang peneliti membisikkan kata-kata sambil membelai kepala anak garuda.

Lalu sang anak burung dilepas dan mulai mengepakkan sayapnya. Pertama sungguh berat dan menyakitkan. Tapi lama-lama mulai lancar dan semakin jauh dan semakin tinggi.

Kurang lebih, walau saya tambahkan sedikit cerita di atas tapi memang demikianlah kira-kira ilustrasi tentang bangsa ini yang disampaikan oleh Sang Profesor.

Selama ini kita terlalu dibesarkan oleh mitos, tapi lupa pada etos. Bangga pada cerita, kejayaan dan warisan masa lalu. Betapa hebatnya Borobudur, warisan-warisan hebat lainnya. Tentang para pahlawan yang berani, tapi kehilangan etos pada hari ini. Seperti Garuda yang lupa terbang. Menjadi anak ayam saja yang hanya bisa melamun dan menonton kehebatan orang lain.

Rupanya kita butuh Para Pembisik pada hari ini. Para provokator dan penyemangat yang menyadarkan dan membangkitkan. Makanya saya tak heran, betapa menjamurnya para motivator pada hari ini. Bangsa ini rupanya perlu Penyadar rupanya. Yang akan menyadarkan bahwa bangsa ini adalah Burung Garuda, bukan burung pipit, apalagi anak ayam!

Ayo, sadar dan bangkit bangsaku. Kita bisa seperti mereka! Jayakan bangsa ini!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s