Kecewa dengan Filem Ayat-ayat Cinta

Sabtu, Malam minggu (01/03) kemarin saya dan isteri berkesempatan menonton filem Ayat-ayat Cinta (AAC) di bioskop di daerah Blok M. Rencana mau mononton yang main sekitar jam 7-an malam.

Bioskop yang berada di lantai 6 Blok M Plaza dipenuhi oleh orang-orang yang antri dan lesehan menunggu jadwal tayang. Hal ini mengingatkan saya saat ikut mengikuti histeria filem Ada Apa dengan Cinta beberapa tahun lalu. Gegap-gempita orang-orang yang penasaran oleh bujuk-rayu iklan.

Kami ikut mengantri, ternyata tiket sudah habis untuk 2 jadwal tayang ke depan. Hanya tersisa untuk main jam 21.45. Okelah, karena penasaran jadilah kami memesan tiket untuk 2 jam ke depan.

Ternyata, filem AAC tidaklah sehebat novelnya. Sangat disayangkan, kedahsyatan dan misi yang dikandung oleh Kang Habib dalam novelnya hancur oleh kepentingan lain! Tulisan ini adalah sebagai bentuk kekecewaan saya terhadap hasil filem mini.

Novel aslinya, bolehlah dikatakan sebagai novel islami. Tapi menonton filem ini saya sungguh kecewa. Tak saya temukan kekuatan Islam dan idealisme seperti novelnya.

Separoh filem ini yang saya temukan adalah kegagapan, atau barangkali kegagalan sutradara dalam menterjemahkan tulisan ke bentuk visual. Sepertinya sutradara gagap dalam menerjemahkan isi novel ke dalam bentuk gambar. Potongan-potongan cerita yang tidak utuh dan ganjil. Seakan memaksakan jalan cerita seperti alur novel. Barangkali alasan klise, kalau ingin mengikuti alur cerita mungkin waktu 2 jam tidak akan cukup. Tapi yang saya temukan, alur cerita yang tidak utuh. Seakan yang kita lihat hanyalah penggalan-penggalan cerita yangtidak bersinergi.

Pemilihan peran yang tidak pas, lucu melihat tokoh-tokoh yang diusung tidak mewakili figur novel. Wajah-wajah Mesir yang digantikan oleh wajah melayu. Visualisasi yang tidak berhasil mengangkat alam dan jiwa Mesir sungguh sangat disayangkan karena memang lokasi shooting tidak dilakukan di Mesir. Dalam pendahuluan novel Kang Habib, digambarkan Mesir yang panas luar biasa, betapa sulitnya Fahri menjalani masa-masa disana, kurang berhasil diangkat oleh filem ini.

Memang tidak mudah untuk mengangkat cerita yang bertemakan dakwah, berlabelkan Islam ke dunia filem. Apalagi bagi seorang yang tidak berkecimpung dalam dakwah dah kurang mendalami agama. Seorang sutradara senior saja, Charul Umam ketika pertama kali ditawari untuk menggarap filem ini memerlukan berkonsultasi terlebih dahulu ke seorang ustad. Sang ustad menyarankan, kalau ingin menggarap filem ini maka dia mesti nyantri terlebih dahulu. “Mas, kalau memang jadi membuat film itu, mbok sampeyan nyantri dulu di Mesir barang tiga bulan, biar bisa tahu persis bagaimana khas kehidupan di sana.” (Baca eramuslim.com). Akhirnya Hanung yang menggarap filem ini. 

Bisa kita bayangkan, filem ini jauh dari alam dan budaya Mesir, apalagi jauh dari Islam.

Tapi yang paling mengecewakan dan mengkuatirkan saya adalah rusaknya akidah dan runtuhnya nilai-nilai Islam oleh filem ini. Hebatnya kekuatan gambar atau filem adalah secara halus membuat masyarakat menjadi permisif, dan lupa pada idealisme. Bayangan Fahri yang ahli agama dan menjaga akhlak, digambarkan suka berduaan dengan Maria. Padahal dalam Islam dilarang berduaan dengan yang bukan muhrim. Gambaran Aisha yang seorang akhwat, menundukkan pandangan dan sejuk dipandang, berganti dengan seorang wanita yang mau beradu-pandang dengan Fahri. Dan yang paling parah adalah betapa beraninya sutradara menggambarkan adegan perciuman, dan suasana malam pertama antara Fahri dan Aisha. Apa sih maksud yang ingin diangkat oleh adegan ini? Ingin menunjukkan malam pertama? ‘Kan tidak mesti dengan berciuman, cukup masuk kamar lalu matikan lampu, penonton akan mengerti kok…

Dalam Islam, membicarakan atau membawa suasana kamar tidur, hubungan suami-isteri ke luar rumah dan menceritakan ke orang lain adalah tabu. Ini berani sang sutradara, dan betapa naifnya. Dalam bayangan kita, seorang ikhwan dan ikhwat itu lugu, tidak berani beradu pandang. Tapi dalam filem ini, kesan yang kita tangkap, betapa tingginya jam terbang antara Fahri dan Aisha dalam hubungan dengan lawan jenis. Dimulai dengan adu pandang, lalu tahu-tahu mereka berdua sudah nyosor berciuman dan langsung rebahan. Saya tidak melihat ini filem dakwah, seakan saya melihat filem barat atau sinetron murahan.

Belum lagi, cerita poligami Fahri dengan dua isteri. Dalam Islam, mana boleh itu isteri-isteri tinggal dalam satu atap. Ini yang kita lihat, Fahri dan isteri pertamanya membawa isteri keduanya tinggal bersama, di rumah isteri pertamanya pula. Digambarkan, kedua isterinya bersebelahan kamar. Jadi, Fahri harus bergiliran menyambangi kedua isterinya yang bersebelahan kamar. Wah…wah… kacau ini…

Ah, pokoknya banyak kekurangan filem ini. Kalau mau diteruskan akan banyak kritik saya lainnya terhadap filem ini. Jadinya, sepanjang menonton filem ini, saya berdua dengan isteri bukannya menikmati, malah berdiskusi dan mengkritisi….

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan Habirurahman, pengarang AAC. Sejauhmana dia terlibat dalam pembuatan filem ini. Semestinya beliau harus mengklarifikasi filem ini. Dan Hanung, sebagai seorang sutradara ternyata tidaklah seideal tulisan yang beliau tulis di blognya untuk mengantarkan filem ini. Seorang Sutradara, kalau dia seorang seniman sejati, maka dia akan teguh memegang idealismenya. Tidak mau tunduk pada kepentingan pemilik modal. Dia terus berjuang menyampaikan idealismenya.

Akhirnya, saya hanya melihat ada pertarungan dua kepentingan dalam filem ini: antara idelalisme dan kapitalisme. Ada kepentingan pemilik modal, kepentingan ekonomi dan motif terselubung dalam filem ini. Apalagi setelah saya tahu produser dan perusahaan yang mengusung filem ini sama dengan yang memproduksi sinetron-sinetron murahan dan merusak generai muda dan anak-anak Indonesia.

20 pemikiran pada “Kecewa dengan Filem Ayat-ayat Cinta

  1. Kelatahan akibat perbuatan Promosi dan iklan itu sangat dahsyat terkadang tanpa kita sadari kita terseret arus yang kencang untuk membuktikanya apalagi kalo datangnya bersamaan dengan banyak manusia yang terjebak,yo wis mas kita jadikan itu sebagai pengalaman kedepan agar kita selalu waspada dengan sepak terjang periklanan n sukss selalu

    Regard
    Chintya
    http://peloporsewabeli.blogspot.com

  2. hahahaha hampir semua orang bilang Ayat – Ayat Cinta itu jelek….

    Emang sih, tapi membaca kesusahan mas Hanung yang mencoba menjembatani antara kemauan produser sama novel susah, apa lagi ada unsur komersialisasi disini …

  3. ass
    bagiku bagus, alhamdullilah masih ada film bertemakan islam kayak gitu dari pada filem2 yang bertemakan kehidupan anak muda yang bebas seperti film2 yang sebelumnya hadir…

    kalo aku sih mending nonton aja yang penting kan nonton ga berdosa dan melanggar hukum

  4. Saya belum menonton karena antrian yang panjang. Rencananya nonton bareng isteri. Saya sudah baca novelnya (padahal saya tidak suka baca buku novel, ini exception). Menurut saya dari sudut pandang “Bisnis buku”, film AAC itu nggak sejalan/sebagus bukunya, tetapi dari sudut pandang “Bisnis film” OK banget, terbukti dengan berjubelnya orang yang hendak nonton. Idealisme di “bisnis film” itu adalah barang yang amat langka sekali (cfm diskusi sama tetangga yang pemain sinetron yang punya idealisme di dunia film).
    Pembuat film AAC dengan membeli “hak cipta” untuk film itu tidak murah…. kalau tidak salah Rp.800 juta. Itu belum biaya-biaya produksi ….. Saya perhatikan penayangan film nya pun sempat ditunda….. hmmm strategi pemasaran biar orang penasaran….. belum lagi masuk ke “acara” nya Islamic Book Fair yang sedang diselenggarakan….. hmmmmm strategi pemasaran yang cerdas juga…..
    Jadi lain dunia buku dan dunia film …. bisnisnya beda. Dunia buku bisa “disisipi” idealisme lain dunia film, masih enggan “disisipi” idealisme….. Mudah-mudahan dalam beberapa tahun lagi bisa….. Bukankan sekarang dunia sinetron sudah mulai melempem…. masyarakat sudah mulai jenuh sama sinetron…. Wait & see…..

  5. Resensi yang bagus, Da Syam. Saya juga males nonton setelah membaca beberapa resensi. Baik yang gak bermutu seperti di blognya tanfidz yang di jadikan bahan pertanyaan di eramuslim, di koran, dan terakhir yang bikin penasaran adalah cara mas Hanung menjual filemnya di blognya, yang dia sudah berusaha maksimal untuk menjadikan film tentang agamanya. Tapi membaca resensi Uda, saya jadi jelas, kayak apa film ini.

    Sekarang tinggal Kang Abik, yang pasti sedang dirundung malang setelah menjual karyanya untuk di film-kan.
    (Apalagi memang ada pengakuan Hanung meninggalkan Kang Abik pada beberapa hal, demi kelancaran produksi film AAC ini)

  6. Assalamualaikum…

    karena keterbatasan jarak dan waktu saya belum bisa menikmati film ini.. namun novelnya sudah saya baca berulang kali.. dan saya amat menyukai ayat-ayat cinta.
    Dalam membahas filmnya, dari awal saya sudah tau jika suatu film yang diambil dari cerita novel pasti akan banyak ditemui kekurangan. hal tersebut dikarenakan imajinasi pembaca dan keterbatasan dalam pembuatan film.. banyak contoh seperti para penggemar novel harry potter bilang bahwa filmnya tidak sebagus novelnya.
    Namun keinginan saya untuk melihat film itu (insyaallah), dikarenakan saya ingin melihat hasil kringat seorang hanung brahmantio dalam suatu karyanya yang menurut catatan harian dia banyak menemui hambatan-hambatan saat pembuatan film ini. Selain itu saya ingin melihat sautu karya seorang anak yang dipersembahkan kepada seorang ibu. Itu mungkin suatu apresiasi penghargaan saya untuk seorang hanung brahmantio sang sutradara… moga amal ibadahnya dan dakwahnya melalui film diterima oleh allah… amin..

  7. assalamualaikum..

    pertama kali nih berkunjung ke blog ini.. salam kenal..
    bicara ttg pro kontra AAC memang ga ada habisnya.
    sy cuma bisa memberi sedikit pandangan saja. saya sudah menonton AAC 1 minggu yang lalu, ketika film selesai dan lampu studio dinyalakan, saya merasa kagum dan terheran-heran, selama ini (setahu saya) belum pernah ada film Indonesia yg ditonton berbagai kalangan, mulai dari aktivis dakwah, ustadz, ABG, nenek-nenek, bahkan non muslim pun menonton film ini. sampai hari Minggu kemarin, film ini ditonton lebih dari 1,5 juta orang, mungkin AAC akan mencetak rekor baru film Indonesia yg plg banyak ditonton (selama ini masih dipegang Eiffel Im In Love, CMIIW).
    dan saya amati, seiring dgn semakin banyaknya org yg menonton film ini, ternyata makin banyak komen negatif terhadap film ini. kecewa krn tidak sesuai dgn novelnya, kecewa krn nilai Islam yg tereduksi dsb… yg kecewa krn alasan kedua rata2 diucapkan oleh mereka2 para aktivis dakwah atau yg sudah tersentuh dakwah.. saya pikir wajar2 saja (wong saya juga kecewa kok), tapi coba kita lihat film ini dari kacamata para ABG dan org2 yg belum tersentuh dakwah. sambutannya WOW, bahkan ada yg rela antri untuk menonton kesekian kalinya. bahkan ada sepasang suami istri yg menitikkan air mata ketika Fahri menikahi Maria. saya pikir banyak nilai yg bisa diambil dari film ini, sebuah keajaiban bisa menampilkan proses taaruf di layar lebar plus wanita bercadar yg di negeri kita masih dianggap sesuatu yg asing. masalah adegan ciuman dll, what do u expect dari seorang produser Punjabi yg money oriented? malah saya masih bisa bersyukur dgn hasil akhir film ini, tadinya saya sudah pesimis duluan lho dgn MD Entertainment.
    kalo mau bener2 sesuai, bikinlah PH sendiri dan jangan sampe seperti sebuah PH muslim yg gagal mengangkat cerpen Ketika Mas Gagah Pergi. =)

    wassalam

  8. Merendahlah…
    Kau kan seperti bintang gemintang
    Tinggi mengatas galaksi

    Janganlah laiknya asap
    Yang membumbung tinggi ke langit
    Padahal dirinya hina dina

    Untuk apa kata tanpa makna
    Lebih baik makna tanpa kata
    Bila kata tiada
    Tingkah
    Dan prilaku akan berkata

  9. saya kecewa sama novelnya jadi saya ragu untuk nonton filmnya. fahri sangat berpotensi untuk menjadi nabi baru saking sempurnanya. ceritanya terlalu utopis dan dipaksakan.

  10. Assalamualaikum wbt
    Saya orang Malaysia yang pernah beberapa kali ke Mesir dan menonton filem Ayat-ayat Cinta pada hari kedua tayangannya di Jakarta. Saya begitu ingin menonton filem tersebut kerana saya telah membaca novel tersebut yang saya beli di Soekarno Hatta. Semasa menontonnya dengan teman yang studi di AlAzhar, memang kami komen yang pemandangan dalam filem bukan Cairo. Teman saya terus membuka mulut berkata ” Mana ada sih begitu anak2 Indonesia di Cairo.” saya pun setuju sebab saya selalu ke Cairo dan selalu ke tempat anak2 Indonesia. Tapi “to be fair” percobaan ini baik kerna filem bertemakan Islam begitu kurang. Memang betul, sepatutnya Bpk Habiburrahman perlu menasihati sebab beliau pernah di Al Azhar. Saya tidak sabar untuk ianya ditayangkan di Malaysia. Apa mungkin kata org Malaysia……………

  11. assalamualaikum… Aku diperkenalkan kepada novel Ayat-Ayat cinta oleh pensyarahku… dan emangnya aku minat sangat sama karya dan juga pembacaanku begitu lancar terhadap mana-mana karya… Percubaan terhadap adaptasi novel ini seharusnya dipuji ya… bukan dikritik hebat sedemikian… Mungkin percubaan kali ini akan bisa membangkitkan semangat saudara sutradara untuk lebih memajukan diri bagi menghasilkan karya yang lebih bermutu tinggi pada masa akan datang kelak… seharusnya sebagai penonton kita emangnya melihat perspektif baik dan buruknya sesuatu filem itu… nah mungkin kini ada yang buruk telah kelihatan namun tidak seharusnya kita meneliti yang buruk semata-mata… Oh ya aku emangnya tidak lagi menonton filem AAC ini… Aku berharap sangat dapat menonton filem ini yang kukirakan hebat sekali penulisan dari penulis asalnya.. Tahniah kepada mereka yang pergi menonton kerana sekurang-kurangnya kalian telah dapat kelainan baru dari pemaparan filem yang telah dihasilkan tersebut.. Aku bangga sama kalian

  12. Assalamualaikum wbt

    Saya dari KL dan telah diperkenalkan dengan novel AAC oleh seorang teman dari Jakarta. Saya harus mengakui saya teramat jarang membaca novel berbahasa melayu tetapi telah jatuh cinta dengan novel ini setelah membacanya. Pada pandangan saya novel ini amat berlainan benar kerana tebal dengan unsur2 dakwah dan pada masa yang sama menyajikan kisah cinta yang cukup menarik. Bila dikhabarkan yang novel ini akan diadaptasi kepada filem, I become very excited.
    Alah, setelah menonton filemnya saya agak kecewa kerana hasilnya tidak seperti diharapkan. Unsur2 komersial melebihi intipati sebenar novel nukilan Pak Habib ini. Membaca novel ini membuatkan saya berasa seolah-olah berada di Mesir sedangkan filem ini tidak mengambarkan situasi disana.
    Walaubagaimanapun, pujian perlu juga diberikan kepada pengarah dan penerbit kerana berusaha mengangkat cerita dakwah seperti kini ke layar perak. Moga lebih banyak cerita cerita sebegini pada masa hadapan.

    Wassalam.

  13. Assalamualaikum!

    Saya juga dari Kuala lumpur. Teruja saya mahu menonton filem AAC. tapi memang novelnya lebih best dari filemnya. Namun begitu saya tetap enjoy menonton.

  14. aku sokong bangat dengan kritikan pak Helsusandra Syam

    aku dari malaysia..aku baru nak start baca buku tu, tapi aku dan tonton filem dulu. aku sakit ati btol tengok filem Ayat-Ayat Cinta …aku rasa nak bakar wayang tau tak..patutla tak best, tak seperti buku yg digarap oleh luahan hati penulis.

    Fahri dlm filem, bila dah kawin dengan pompuan secantik Aisya tu, boleh plak sakitkan hati dia, pegi kawin lagi…lainla kalo dia tak cintakan Aisya tu…mustahil tak cintakan Aisya, ditonjolkan muka cantik, lembut, warak, alim, beriman, isteri solehah…
    aku pantang btol tengok orang yg kawin bukan dipaksa tapi kerana cinta sanggup tak setia, pegi kawin lagi satu…

    kalo btol2 cintakan Aisya tu sepatutnya dia tak perlula kawin lagi ngan Maria si kapir tu. Tak semestinya dia kena hukuman gantung kalo Maria tu tak tolong dia jadi saksi!…
    tawakallah pada Allah demi cinta…satu hari mesti Noura tu bercakap benar di mahkamah…

    the other point, dlm filem ayat2 cinta ni, lakonan fahri seolah olah menunjukkan yg dia lebih sayangkan Maria… dari layanan setelah berkahwin dgn maria hingga melupakan isterinya Aisya. Sepatutnya filem akan lebih menarik jika ditonjolkan Fahri lebih cintakan Aisya…

    Sebab tu aku lebih suka tengok citer Hindustan…sangat setia pada kekasih …sanggup terbakar cam dlm cite Om Shanti Om lakonan Shah Rukh Khan tu..

    Ini tak, sanggup kawin lagi, konon bila dah Aisya suruh, mulala nak ingat zaman perkenalan…mana satu hati dia yg tetap? Cinta sepatutnya utuh, pada seorang saja!nasib baik si Maria tu mampos!..

    Pastu ada ker si Maria tu belom masuk Islam lagi , dah lafaz akad nikah. Mana sah!! nama jer belajar sampai Al Azhar tapi tak tau hukum..kalo ye pon kemaruk, tunggula sampai Maria tu mengucap/masuk Islam dulu..

    cerita akan lebih menarik jika tiada pernikahan antara fahri dan maria… dan menonjolkan fahri deep in love with Aisya…
    deep in love …barula macam kena dgn citer buku tu…ye la..dah musafir sorang2 sepatutnya tangkap cintan dgn sorang jela…barula kaw cerita…baru ummmphhh
    ini tak, perasaan cinta dlm hati fahri bertebarai macam taik kambing…..jadi cerita ini pon jadik lintang pukang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s