Menuju Full TDA Bag. 1: Isteriku Bertanya: Kak, Kapan Full TDA?

tangan_di_atasSenin lagi? Ya, Senin menjadi momok yang tidak menyenangkan buat kami. Dan pada Senin pagi, aku menemukan kecemberutan pada wajah isteriku. Setelah melewati Sabtu dan Minggu bersama, apakah sekedar untuk jalan-jalan, menjalani bisnis atau apapun, yang jelas hari libur adalah hari untuk selalu berdua. Maka, ketika Senin menjelang adalah hari-hari perpisahan dan penantian seharian buat dia—isteriku. Dan itu berlangsung dari Senin sampai Jumat.

Maka, ketika Sabtu menjelang, ataupun hari libur nasional lainnya adalah hari yang menyenangkan. Dan ketika pihak kantor memintaku untuk lembur ataupun menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, maka itu adalah hari yang menyedihakan buat dia. Sebab, “Ini ‘kan hari Efa”, demikian protes isteriku. Maka, bersusah payahlah aku memberi pengertian kepada dirinya. Yaa… ‘gimana lagi, yang namanya TDB, mesti ikut aturan ataupun permintaan perusahaan.

Kalau pun ada tugas ke daerah, sendu kulihat pada matanya. Sedang ditinggal pada hari-hari biasa saja begitu berat buat dirinya, apalagi ditinggal pergi selama beberapa hari. Kasihan dia. Kami jauh dari keluarga, mengarungi hidup berdua saja. Isteriku telah memutuskan mengabdi sepenuhnya buat suami, dia memutuskan keluar kerja. Lulusan IPB yang bekerja dari rumah saja. Sehari-hari kebanyakan dialah yang mengeksekusi bisnis kami. Sehari-sehari di rumah saja, kalau ada keperluan bisnis atau yang penting lainnya maka cuma itu saat-saat dia meninggalkan rumah. Tentu saja, kehadiran teman, apalagi suami diperlukannya .

I hate Sunday!

Lalu, ketika Senin menjelang maka hari-hari kesendirian dan penantian pun dimulai buat isteriku. Selesai sarapan, berkemas dan mulai membuka pintu menyongsong hari-hari sebagai karyawan. Saat selesai cium tangan dan cium pipi, sesaat sebelum kaki kanan dilangkahkan meninggalkan rumah, isteriku bertanya, “Kak, kapan full TDA?”

Glek! Tercekat tenggorokanku. Itu pertanyaan bagai sembilu meremas hatiku.

“Tenang aja, ‘Yang. Bulan depan kita akan selalu bersama terus”, cuma itu yang bisa kujawab.

“Bulan depan ‘mulu”, dia dengan senyum penuh arti yang dalam dan harap.

Dengan langkah sedih, ku melangkah menyeret kegundahan, menyongsong hari-hari bekerja sebagai karyawan. Istilah lain dari teman-teman adalah TDB, walau tidak sepenuhnya sebab ada juga bisnis yang kami jalankan berdua.

Kapan full TDA? Itulah pertanyaan yang mengusikku.

3 pemikiran pada “Menuju Full TDA Bag. 1: Isteriku Bertanya: Kak, Kapan Full TDA?

  1. waaah mas…. saya jadi ikutan sediih nih bacanya… hiks hiks.., kesian mbakyunya. dulu saya juga ngerasa gitu kok.. feel bad setiap minggu apalagi klo dah menjelang malam,… bete beraaat.

    bedanya klo saya dulu yg ditinggal adalah anak2 saya yang masih balita.

    tapi syukur alhamdulilah sekarang tidak lagi.

    InysaAllah pasti ada jalannya mas…. kan lagi merintis toh? Ayo mas full TDA..full TDA hehehe

    sharah
    si api biru mode ON😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s