Ternyata Kita Butuh “Teguran”

Pagi ini hari begitu cerah. Langit begitu bersih, matahari bersinar mulai memanaskan, seakan melupakan orang bahwa beberapa minggu, atau beberapa bulan yang lalu betapa matahari seakan enggan hinggap di Jakarta, sebentar-bentar saja lalu hujan menggantikannya.

Hari ini adalah hari-hari terakhir saya bekerja di kantor. Serasa semangat orang bebas telah meliputi diri, baru sadar ternyata saya harus menggenapkan hari-hari penghabisan di tempat kerja. Setelah pamit sama isteri, dengan langkah terburu menuju jalan raya untuk mendapatkan bus metromini berangkat kerja. Menegur tetangga, tersenyum dan ramah-tamah sedikit sambil melanjutkan perjalanan.

Sampai di jalan raya, stop metromini, buru-buru naik lewat pintu belakang. Harus sigap, bila tidak mau tersungkur karena kebiasan bus tak mau benar-benar berhenti untuk menaikkan penumpang. Jadi penumpang harus cekatan.

Saya mendengar kondektur menegur, lalu saya bertanya, “Kenapa?”

“Risletingnya Pak”, jawab kondektur sambil tersenyum melirik ke bawahku. Saya melirik ke bawah, “Astaga!”, saya kaget sekali! Reflek tas yang saya sandang menutupi bagian “itu”, lalu tangan sigap memasang risluiting celana yang menganga.

Malunya minta ampun. Ternyata sepanjang perjalanan dari rumah, sekitar 300 meter bagian tengahku menganga, barangkali berkibar tak tahu aku! Coba bayangkan, berapa orang yang kupapasi sepanjang perjalanan. Nyengir, malunya bukan main!

Untunglah mood saya lagi baik pagi ini. Coba bayangkan, kalau mood saya tidak baik, atau penerimaan saya kurang baik terhadap teguran kondektur ini, “‘Ngapain nih kondektur sok akrab, atau ‘negur-negur segala!?” Sambil berprasangka yang bukan-bukan saya malah mencuekin dia.

Tentu bisa dibayangkan sepanjang perjalanan ke kantor, bagian tengahku menganga dan orang-orang sudah pasti melirik, ada yang menyengir, ada yang melotot, ada yang tertawa. Walah! Sudah pasti seharian ini saya penuh dalam prasangka, “Kenapa ya orang-orang pada ‘nyengir, pada tersenyum, pada ketawa di depan, atau di belakangku. Tentu saja sehari ini saya penuh dengan curiga dan prasangka yang macam-macam.

Terimakasih bang kondektur. Tak terkira betapa berterimakasihnya saya kepadamu. Coba banyangkan, seandainya dikau tak menegurku, atau sungkan, atau takut, tentu seharian ini diriku penuh dengan ledekan, bahan gosipan orang-orang se Jakarta!

Tegurlah saya, jika saya punya kekhilafan atau kesalahan!

2 pemikiran pada “Ternyata Kita Butuh “Teguran”

  1. Halloo Bang Syam,
    wah masih untung orang jawa bilang (sori ya yang wong jowo) cuma kejadian resletingnya yg kebuka, saya pernah kejadian lupa memakai Kolor/CD waktu SMA…bayangin tuh malunya gmn dan gmn nyembunyiin “nya” ampe pulang sekolah…tp bedanya saya gak ada yg menegur seperti Bang Syam, cuma kesadaran dan perasaan aja yg negur. Memang kejadian kyk gitu sangat amat memalukan banget sih tapi takkan pernah terlupa dan takkan ingin terulang lagi….😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s