Refleksi Kebangkitan Nasional dan Reformasi

Kenali dan Cintai

(Gambar diambil dari KDRI.WEB.ID)

Apa ukuran nasionalisme, jika Pancasila saja tidak hapal oleh warga bangsa? Apa ukuran nasionalisme, jika hanya dilihat pada tepuk tangan, sorak gempita pada pertandingan olahraga, atau pada adu tarik suara?

Silahkan ukur nasionalisme Anda, dengan parameter apa saja. Bila masih ada anak bangsa yang kelaparan, warga yang antre untuk mendapatkan beras murah, pedagang kecil yang menjerit oleh naiknya harga minyak tanah, dan keluhan banyak orang karena subsidi yang telah dicabut oleh para pengelola negara.

Salahkah warga negara mendapatkan subsidi, akan menjadi manjakah mereka karena subsidi? Sehingga dengan alasan ini subsidi yang men-sejahterakan mereka akhirnya dicabut! Bukankah suatu negara terbentuk dengan asumsi dasar untuk mensejahterakan warganya?

Jangan ukur kesejahteraan dan ukuran-ukuran lainya bagi warga negara ini dengan negara lain.

Sudah satu abad-100 tahun ditandai dengan Kebangkitan Bangsa ini. Terlepas dari kontreversi penanda awal ini, saat ini semarak merayakannya terasa dalam seremoni dan berbagai acara. Bangsa ini sudah merdeka, cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur masih jauh dirasa. Berbagai rezim berganti, berbagai kabinet telah bekerja dengan caranya masing-masing, sungguh jauh panggang dari api. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja terasa, sampai saat ini yang disebut era reformasi.

8 tahun sudah reformasi bergulir. Terlepas dari kontroversi apakah reformasi sudah dimulai, atau bagaimana jalannya, toh hari ini masih saja kita saksikan pertengkaran demi pertengkaran masih terjadi. Demokrasi, kebebasan tak lebih dari kedok jahat yang digunakan oleh para politisi, seniman dan para aktivis demi menyurukkan niat mereka dalam memaksakan kebebasan nilai, hasrat kebebasan dan meniadakan nilai suci, cita-cita bangsa dan kemaslahatan bersama. Demi isu kebebasan, ego, hasrat individual menegasikan kepentingan bersama.

Semua orang sekarang bebas bersuara, bicara dan berpendapat. Dengan alasan kebebasan ini pula seakan norma-norma spritual atau religi seolah mati!

Bangsaku, apa yang kau cari. Apa yang kau tuju? Sudah 100 tahun era kebangkitan berlalu, sudah 63 tahun kemerdekaan diproklamirkan, dan sudah 8 tahun pula reformasi kami kumandangkan. Tapi masih seolah berjalan di tempat? Para kapitalis-pemilik modal seakan berpesta pora dalam mencari laba, lalu merusak bangsa. Para media, artis atau seniman seolah masa bodoh dengan keselamatan bangsa. Para politisi dan pemain zaman bermain dengan pola sendiri. Lupa pada blue print, nilai dasar yang dibuat para Pendiri Bangsa, lupa pada Tuhan. Seolah hubungan dengan Tuhan hanya persoalan pribadi, dan cukup ditandai dengan formalitas ibadah saja.

Apa yang bisa diharap pada warga yang tak hapal Pancasila, yang ketawa-ketiwi, cengengesan dan bercanda ria sementara Indonesia Raya tengah dikumandangkan? Ooo.. tak bisa kita mengukur nasionalisme dan komitmen kebangsaan seseorang hanya dari ukuran itu semata, mungkin seseorang akan berkata seperti ini.

Ya.. terlepas dari bantahan atau sinisme kebangsaan saya, saatnya sekarang kita bertanya pada diri sendiri: Sudah berbuat apakah kita untuk bangsa ini?

4 pemikiran pada “Refleksi Kebangkitan Nasional dan Reformasi

  1. yg dilakukan untuk negara? gak banyak, tapi semoga berarti. Dengan membuka lapangan pekerjaan, dengan menggerakkan perekonomian dengan meramaikan UKM. Insya allah, moz5 salon muslimah juga akan go international, masuk ke negara2 ASEAN dan seluruh dunia🙂
    sbg individu saya juga mau bangkit, memperbaiki nasib dan masa depan🙂

  2. Berbuat sesuatu untuk bangasa walau dimulai dari hal2 kecil dan dari diri sendiri setidaknya….
    Sungguh2 menuntut ilmu salah satunya, berusaha menggali kemampuan diri dengan berbagai keterampilan, misalnya menjahit, salon, menekuni olah ragal, oya termasuk ngeblog loh… krna dari sini kita bisa banyak baca tulisan2 hasil pemikiran cemerlang dari para bogger, tahu tentang kehidupan dll…..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s