Semoga Indonesia Terus Merdeka

63 tahun tak terasa kita sudah merdeka. Merdeka dalam pengertian sudah terlepas dari penjajahan fisik.

Apakah benar sudah merdeka sepenuhnya, dalam pengertian yang sebenarnya?

Mengutip “Tri Sakti” yang disampaikan oleh Bung Karno, kemerdekaan yang ingin dicapai adalah:

  1. Berdaulat di bidang politik;
  2. Mandiri dalam bidang ekonomo;
  3. Berkepribadian dalam bidang budaya.

Pertama, apakah kita sudah berdaulat dalam bidang politik? Bukankah saat ini masih ada kita temukan campur tangan asing (Barat) dalam kebijakan-kebijakan politik dan dalam negeri kita? Belum lama ini, anggota Kongres Amerika menyurati pemerintah untuk membebaskan para tokoh OPM (Organisasi Papua Merdeka). Ada apa dengan Amerika? Sehingga lancang mengurus urusan dalam negeri Indonesia? Belum lagi hal-hal lain, sampai pemilu dan cara berdemokrasi pun kita diajari dan meniru gaya Amerika. Bukankah sudah terbukti ratusan tahun, nilai bermasyarakat bangsa kita, yaitu musyawarah dan mufakat serta prinsip gotong-royong manjur dalam menjaga dan membentuk Indonesia?

Yang kedua, kemandirian dalam bidang ekonomi. Ah, jauh rasanya. Bukankah aset penting negara yang menguasai hajat hidup orang banyak ternyata telah banyak dikuasai oleh bangsa asing? Tanah, air, emas, minyak, mineral dan kandungan bumi lainnya ternyata bukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia? Tapi malah memperkaya kapitalisme asing?

Apalagi yang ketiga, berkepribadian dalam bidang budaya.

Sulit rasanya sekarang ini mencari budaya Indonesia. Tengang-rasa, saling menolong, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat, seciap bak ayam, sedencing bak besi sudah berganti one man one vote. Yang kuatlah akhirnya yang menang. Berganti dengan individualistik dan pendekatan kekuasaan serta yang terkuat.

Tingkah laku hedonisme, gaya hidup materialisme dan menghamba Barat. Anak muda yang berlaku lebih barat dari Barat. Sinetron, filem dan gaya hidup yang melakukan rekayasa sosial (social engineering) tak terasa menyuntikkan perubahan nilai pada anak bangsa. Jadilah mutan-mutan yang berjalan tanpa jati diri.

Bung Karno juga menyatakan: Kemerdekaan itu adalah jembatan emas. Dimana di seberangnya jalan terbelah dua. Yang satu menuju kesejahteraan sama rasa sama rata. Yang satu lagi menuju bencana nasional yang disebut dengan istilah sama ratap sama tangis.

Tinggal kita mau memilih jalan mana yang akan ditempuh. Sesungguhnya mempertahankan kemerdekaan lebih sulit dari merebutnya.

Saat ini, yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin teraniaya. Saatnya untuk berbuat apa saja untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Berbuat sesuai bidang masing-masing. Para politikus bertobatlah dari mengkorupsi harta rakyat. Para pebisnis berjuanglah untuk memakmurkan orang banyak, keuntungan bukanlah semata mengejar pemuasan diri semata. Para pendidik, didiklah generasi baru bangsa dengan nilai sejati bangsa ini. Janganlah biarkan kami lupa dengan warisan nilai nenek moyang.

Selamat merdeka negeriku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s