Ramadhan di Kampung

Seperempat hari-hari bulan puasa telah dijalani. Bulan ibadah, bulan melatih diri dan menimba pahala. Berbagai cara dan aktivitas yang dilakukan untuk menyambut dan mengisi bulan suci ini.

Teringat saya ketika masih remaja, menjalani bulan puasa di kampung halaman nun jauh di perut pulau Sumatera. Masa-masa gembira dan berkawan dengan teman seusia maupun yang tua. Ya, selain dengan teman sebaya saya juga suka berteman dengan orang yang usianya lebih tuda dari saya.

Hari-hari bulan puasa penuh kegembiraan dan penuh kenangan bagi saya. Ketika sore telah meninggi, kami berkawanan akan menuju sungai-sungai yang ada di kampung kami. Ya, siang terasa panas di Pangkalan Koto Baru, sebuah daerah yang panas berada di penghujung Sumatera Barat mengarah Propinsi Riau. Kampung saya adalah daerah lintasan garis khatulistiwa yang membelah bola bumi,

Berenang di arus sungai, berkecipak-kecipuk, bercanda kami lewati petang hari. Ada juga diantara kami yang membawa senapan ikan, terbuat dari kayu dengan mata tembak dari jeruji besi ban sepeda. Ujungnya diruncingi, lalu ditarik dan ditahan dengan ban karet. Sambil menyelam, picu senapan dilepaskan maka melesatlah ia menembus air, menuju tubuh ikan yang meregang terpanah besi.

Air sungai yang sejuk dan segar meredam panasnya tubuh kami. Setelah puas bersabun dan berendam, lalu kami menghanduki badan dan bersiap pulang. Terkadang dalam perjalanan pulang, melewati kebun-kebun petani, tak urung ada juga diantara kami yang nekat mencuri buah limau (jeruk) untuk buka puasa. Buah yang ranum begitu menggoda. Wah, bulan puasa kok mencuri ya?😀

Berlari, Bergembira
Berlari, Bergembira

Dalam perjalanan pulang, terkadang kami berpacu lari. Rambut kucel, mata merah dan kulit kusam dan kering karena kelamaan berendam dalam air adalah rupa kami anak-anak yang pulang mandi. Senja menjelang ketika kami sampai di rumah masing-masing. Ganti baju, lalu bersiap berbuka puasa.

Setelah berbuka puasa saya menuju Masjid yang ada di dekat pasar untuk bersiap melaksanakan shalat Isya dan Tarawih. O ya, rumah saya ada di pinggir pasar. Lebih tepatnya terpencil jauh di belakang pasar, menembus hutan karet maka bertemulah rumah saya. Dan untuk melaksanakan tarawih saya dan keluarga perlu berjalan beberapa ratus meter untuk sampai di pasar dan menuju Masjid Taqwa, nama mesjid kami.

Malam-malam bulan puasa mesjid kami penuh sekali. Semua orang, tua-muda, anak-anak dan remaja tumpah di dalam mesjid. Menjelang mendekati hari raya maka kita akan lihat orang-orang perantauan yang sudah pulang kampung nampak bergabung shalat Isya dan bertarawih di Masjid. Bagi yang muda-muda yang baru terkena virus puber, kesempatan ini adalah untuk cuci mata. Lirik-lirik pandang, menemukan yang mencerahkan mata. Terkadang tertampak gadis-gadis cantik perantauan, yang selama ini jarang dilihat. Sudah tentu wajah-wajah kota begitu berbeda dan menawan dibandingkan wajah-wajah gadis kampung kami. Bukan berarti gadis-gadis kampung kami tidak menawan, tapi ya.. terkadang gadis kota terkadang menggoda juga. Rumput tetangga nampaknya lebih bagus dari rumput di halaman sendiri… Lebih terawat gitu… he.he….

Selesai tarawih lalu diisi dengan ceramah agama. Pengurus masjid sengaja mengundang buya/ustad dari luar daerah. Kami tekun mendengarnya. Semua ucapan kami simak, yang penting kami catat di buku catatan yang merupakan tugas dari guru di sekolah. Dan catatan ceramah ini haruslah nanti diparaf oleh sang ustad. Selesai ceramah barulah ditutup dengan shalat witir.

Selesai tarawih dan witir, maka ramailah jamaah yang menuju pasar. Berbagai makanan pemuas selera telah menunggu. Biasanya yang paling ramai adalah tukang penjual bakso. Saya ingat, bakso si abang dari Jawa ini begitu istimewa. Rasanya enak sekali. Biasanya saya, mencampuri kuahnya dengan sambal, cabe, kecap dan sedikit cuka. Yang pertama kali habis dimakan tidaklah mie atau baksonya, tapi kuahnyalah yang pertama kali ludes. Kuah bercampur gomok/lemak ini begitu enak sekali, sehingga saya perlu meminta tambahan kuah kepada si abang lalu mengaduk kembali dengan bumbu-bumbu yang ada.

Malam semakin tinggi. Pasar pun kembali sepi. Orang-orang pulang ke rumah. Kami para remaja, tidak ikut pulang. Kami lalu menuju mesjid untuk bermukim (iktikaf). Terkadang yang anak-anak biasanya bermain petak umpet, kejar-kejaran atau berbagai permainan terlebih dahulu.

Masjid adalah tempat tidur bagi kami kaum laki-laki. Bagi orang Minang pantang lelaki yang sudah remaja untuk tidur di rumah. Rumah adalah tempat bagi kaum perempuan kami. Di masjid kami melakukan berbagai aktivitas. Sebelum tidur, kami bergantian membaca Al-Quran (bertadarus). Berbagai irama ngaji melantun membelah malam di kampung kami. Berbeda dengan cara orang mengaji di pulau Jawa, di kami berusaha melantunkan kaji dengan irama dan lantunan terbaik. Kami sudah belajar irama ngaji dari kecil.

Kami jarang tidur pada malam-malam puasa. Kalau selesai mengaji biasanya kami bergurau, main silat-silatan, tendangan-tendangan yang kami contoh dari filem kungfu yang kami tonton dari tempat pemutaran video. Selagi kami main silat dan kungfu-kungfuan, yang tua-tua masih asik meneruskan mengaji sampai sahur tiba.

Suara-suara merdu dan sumbang kami membelah malam. Speaker TOA dari menara masjid memancarkan alunan terbaik dari kami. Terkadang membumbung tinggi, lalu menukik menembus kabut-kabut malam. Demikian terus mengantarkan lelap para penduduk kampung. Dan ketika saat sahur hampir tiba, lalu suara-suara kami membangunkan para penduduk untuk bangun dan melakukan makan sahur. “Sahuurr.. sahur.. Bangun ibu-ibu, saatnya sahur….”

Sekitar pukul setengah empat kami pulang ke rumah masing-masing. Saat sampai di rumah, biasanya orangtua kami masih menyiapkan makanan untuk sahur. Atau kalau orangtua belum bangun kamilah yang membangunkan mereka. Sudah tentu dalam perjalanan pulang dari masjid menuju rumah, kami terus berteriak membangun para tetanngga agar bangun untuk sahur.

Selesai sahur, lalu saya kembali ke Masjid yang ada di pasar untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Masjid kembali penuh dan kami pun kembali berkumpul dengan teman-teman. Selesai shalat subuh biasanya ada ceramah agama.

Selesai shalat subuh, para jamaah pun berpencar pulang. Tapi ada yang kegiatan yang tidak bagus rupanya, dan itu sudah menjadi tradisi. Asmara subuh, itulah istilahnya yang disebut oleh orang-orang. Kesempatan untuk jalan pagi dan curi pandang mencari lawan jenis.

Ah, apapun itu. Ramadhan di kampung begitu berkesan buat saya. Kenangan masa lalu, yang tak terulang lagi di Jakarta.

(Gambar:  Rarindra Prakarsa)

4 pemikiran pada “Ramadhan di Kampung

  1. Wuiiii … ceritanya detil banged bung. Gw iri banged sama kenangan yg loe punya waktu kecil / remaja dulu. Gw nda punya kenangan yg begitu terperinci soal masa kecil gw😦 inilah nasib jadi pelupa. :p

    Btw bung, menurut gw yang tak bisa tergantikan itu bukan cuma lokasi dikampungnya. But menurut gw yang paling nda bisa tergantikan itu adalah waktu…masa kecil kita bung. Duh kalo sadar soal ini, sayang banged yg masa kecilnya nda bandel :))

    Ngomongin soal bakso yang tadi loe ceritain, gw jadi mo buka puasa pake bakso neh ….. kayanya enak banged ya

  2. Seperempat Bulan di bulan yang suci ini. Setelah membaca semua, jadi ingat masa lalu. Waktu masih belum ke Jakarta, persis banget sama yang aku alamin.
    Setiap malam di bulan Ramadhan, tidak pernah di rumah. selain bertadarusan di mushola deket rumah, terkadang klo penuh kita jalan – jalan dari masjid ke masjid. Mencari yang kosong agar bisa bertadarusan. Dengan target Minimal 1 Malam 1 Jus. terkadang dalam 1 bulan itu, ada yang sampai khatam 2 atau 3 kali.😉
    Bersaing untuk hal yang bagus buat semuanya, nggak ada salahnya toh…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s