Bila Waktu Berjalan Mundur

daylight-savings-timePernahkah Anda menyaksikan, jam yang menjadi patokan waktu anda berjalan mundur? Jika selama ini kita menyaksikan arah putaran jam adalah bergerak dari kiri ke kanan. Sehingga arah ini menjadi patokan gerak juga bagi orang-orang, “Bergerak searah jarum jam.”

Lalu, bagaimana kalau seandainya gerak putaran jarum jam tidak mengarah ke kanan, tapi ke kiri? Nah lho! Iya, bagaimana kalau seandainya gerak jarum jam anda tidak lagi ke kanan tapi ke kiri, alias mundur?!

Sudah beberapa hari ini jam meja di rumah bergerak mundur, alis bergerak dari kanan ke kiri. Berbalik arah dari kebiasaan jarum jam biasa. Bermula dari suatu malam, tiba-tiba gerak jarum jam mati. Hari sudah menjelang larut tapi saya melihat jarum jam masih menunjukkan pukul setengah 9 malam. Saya pikir baterenya mungkin sudah habis.

Lalu saya ganti batere jam, setel jarum ke posisi yang normal sesuai waktu saat itu. Mesin jam mulai berdetak kembali. Saya pikir selesailah sudah.

Pagi hari, saya melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Saya tak terlalu memperhatikan apakah sesuai jam dengan posisi waktu saat itu. Tapi saya mulai merasakan keanehan. Lalu beberapa waktu kemudian saya melihat jarum jam setengah delapan, wah ada yang nggak benar nih. Saya pikir mungkin jamnya mati, lalu saya ambil jam tapi masih mendengar detak mesin. Waduh! Ada apa ini?

Saya diamkan saja. Lalu beberapa saat kemudia saya melihat kembali ke jarum jam, nah lho, kok posisi jarum jam semakin jam mundur? Sementara waktu tidak lagi sesuai. Masa’ hari masih pagi tapi jam menunjukkan jam malam?

Walah! Jamku ternyata berjalan mundur!

Lalu pikiranku berkelana. Seadainya waktu—perjalanan hidupku bisa berjalan mundur pula, seperti gerak jamku tentu akan banyak cerita dan perancangan hidup yang berubah. Seandainya waktu bisa diulang kembali, tentu akan beda cerita hidupku hari ini.

Pada usia yang sudah kepala tiga, berlainan sekali pilihan jalan hidup yang kutempuh hari ini dibandingkan cita-cita masa laluku. Perjalanan hidup yang berkelok-kelok, jalan nasib yang berliku mencari arah tuju. Beragam jalur telah ditempuh, akhirnya sekarang masuk pada pilihan yang realistis dan yakin: Bahwa pilihan sebagai saudagar adalah pilihan hidup yang kupilih saat ini!

Sudah hampir setahun, tepatnya April 2009 aku sudah memutuskan enterpreneur sebagai jalan hidupku. Setelah sekitar 3 tahun bekerja sebagai karyawan pada salah satu perusahaan IT, aku memutuskan mundur keluar kerja tanpa tabungan dan persiapan material. Dengan Bismillah aku memutuskan berhenti, dunia kerja bukanlah duniaku. Dunia wirausaha—Tangan Di Atas adalah sesungguhnya jalan hidupku.

Terlambat memang, pada usia kepala 3 dan setelah berumah tangga kenapa aku baru menemukan jalan ini? Kemana saja aku berkelana selama ini? Pencarian jati diri, jatuh-bangun terantuk cobaan hidup. Kuliah yang tak selancar orang kebanyakan, terlambat tamatnya. Pencarian jalur hidup, jalan politik pun pernah kumasuki. Tapi itu bukanlah duniaku. Terlalu banyak yang harus dikorbankan pada dunia politik, dunia kerja dan sebagainya. Harus berani dan tega untuk membunuh atau menindas nurani sendiri.

Tahun 1993 merantau ke Jakarta, berharap pada perubahan hidup tidak dengan cara berdagang. Kebanyakan orang kampungku merantau ke Jakarta adalah ingin mencari kerja atau berusaha (berdagang). Tapi aku ingin melanjutkan pendidikan, kuliah. Tapi nasib dan pengharapan di Jakarta tidaklah seindah bayangan. Perjalanan dan pencarian menempuh berbagai liku dan kisah. Tak terbayang dan tak terniat sedikit pun untuk menjadi pengusaha atau berdagang (berbisnis).

Tapi apa yang terjadi hari ini? Hampir setahun sudah aku memutuskan full bisnis, full TDA. Banyak harapan dan gairah yang aku rasakan, bahwa dunia wirausaha, dunia tangan di atas adalah sebenarnya pilihanku. Tak lagi mencari gaji, tapi menjemput dan menerima rezeki Allah SWT yang tak berbatas!

Memang terlambat gairah dan jalan hidup ini kutemukan. Seandainya waktu bisa berjalan mundur, beberapa tahun atau puluh belasan tahun yang lalu, tentu akan kurancang nasib dan jalan hidupku. Tentu akan berlainan cerita hari ini. Aku hari ini tentulah tidak lagi masih berjuang mandiri.

Terkadang iri pada anak-anak muda yang masih belia atau muda usia, tapi sudah mandiri dalam ekonomi. Kalau saja kesadaran hidup ini kuperoleh saat masih usia belasan, atau paling tidak katakanlah aku sudah mulai bisnis pada usia dua puluhan tentu sudah banyak pencapaian diri.

Seandainya waktu bisa berjalan mundur, seperti jam mejaku sekarang ini. Tentu saja banyak cerita dan akan berlainan diriku saat ini. Tapi hidup adalah rahasia, sekarang ini yang bisa lakukan saja yang terbaik. Berbuat, bekerja, berusaha, berdoa, bekerja dan ikhlas pada apa yang diperoleh. Sabar, tawakal dan bersyukur pada apa saja yang didapatkan. Tentu Allah SWT akan mengerti, bahwa tidak ada usaha yang tidak akan mendapatkan hasil.

5 pemikiran pada “Bila Waktu Berjalan Mundur

  1. Tidak apa apa Maz..

    Semuanya itu masih belum terlambat kok…

    Yang terlambat adalah mereka yang tidak berfikir sama sekali untuk bisa berwirausaha..

    Saya yang masih muda ini malah semakin tercerahkan dan sangat bersemangat sekali..

    Salam Bocahbancar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s