https://hensyam.wordpress.com/2010/06/02/belanja-di-pasar-tradisional-atau-super-market/

Pagi ini sang isteri mengajak belanja ke pasar tradisional di Ulujami, Jakarta Selatan.

Setelah memarkir sepeda motor, kami pun memasuki pasar yang berdiri secara semi permanen. Sehabis hujan petang hari kemarin, menyisakan jalanan yang becek berlumpur memasuki sampai dalam pasar. Kalaulah tak hati-hati, tentulah berlepotan sandal dan celana oleh lumpur.

Dari berbagai kios beragam pilihan tersedia. Buah-buahan, aneka sayuran, lauk-pauk, bumbu dan sebagainya. Setelah terbiasa dengan berbelanja di super market, yang rapih dan ber-AC, belanja di pasar tradisional ini memberikan nuansa dan sensasi tersendiri. Jika berbelanja di super market atau swalayan, dengan harga yang fix dan swalayan (melayani diri sendiri), maka di pasar ini kita bisa berinteraksi dengan penjual. Menawar harga, bergurau dan membincangkan seputar kenaikan harga, terkendalanya pasokan barang dari petani, sampai serbuan produk impor.

Sang isteri ingin memasak ikan, disini kami menemukan ikan air tawar yang segar, masih hidup. Ada ayam yang dipotong di tempat. Beda dengan super market yang dibekukan dan lebih mahal pula. Selanjutnya tinggal beli sayur, cabe keriting, bawang merah, bawang putih, dan bumbu-bumbu yang lain.

Dari pasar ini kami mendapatkan informasi dan pembicaran-pembicaraan yang tidak akan didapatkan dari super market. Tentang harga cabe dan bawang merah yang naik—berubah kalau istilahnya pedagang—oleh sulitnya mendapatkan pasokan dari petani karena musim penghujan sekarang ini. Saya membayangkan sulitnya kehidupan petani, belum lagi oleh serbuan produk impor. Rupanya tidak sekedar barang keras saja—berupa mesin, elektronik, pakaian, dll—yang masuk ke pasar lokal. Sayuran, dan buah-buahan pun masuk ke pasar lokal—dan itu kebanyakan berasal dari Cina.

Dari satu kios ke kios lainnya, kami beranjak dengan waspada oleh jalan yang becek penuh lumpur dan sampah. Tak habis berpikir saya, bagaimanakah pemerintah bisa membiarkan hampir semua pasar-pasar tradisional tanpa perhatian. Pasar tradisional, identik dengan kekumuhan, becek dan ketidaknyamanan. Sementara pasar moderen (super market, super mall) terus berdiri dan mendapatkan izin baru. Bukankan pada pasar tradisional terdapat hajat hidup orang banyak? Disinilah real, sejatinya kehidupan mayoritas rakyat terjadi. Mulai dari hulu para petani yang memasok barang, sampai ke rumahtangga yang mengolah menjadi makanan yang lezat tersaji.

Berbeda terbalik dengan pasar tradisional, pasar moderen penuh kenyamanan dan ber-AC. Sudah tentu saja orang yang berbelanja lebih memilih ke super market daripada ke pasar tradisional. Setiap waktu awal gajian, selalu penuh antrian orang yang berbelanja ke super market, menghabiskan uang berbelanja mingguan atau bulanan. Dan ketika akhir bulan menjelang, di saat bulan tua barulah mereka mampir ke pasar tradisional, menghabiskan uang yang tersisa untuk belanja.

Semenjak pindah ke Petukangan, jarang kami berbelanja ke pasar tradisional. Kami memilih ke super market atau toko swalayan. Alasannya sederhana saja, yang lebih dekat memang ke super market. Ada Giant, atau Carefour. Dulu, sewaktu tinggal di Cipulir, dekat Kebayoran Lama hampir setiap pagi kami berbelanja ke pasar tradisional. Waktu itu kami baru nikah, karena belum punya kulkas jadi kami tidak bisa menyimpan lama sayuran dan buah. Sudah pasti, hampir setiap pagi kami berbelanja ke pasar. Karena letak rumah yang tidak jauh dari pasar, tinggal berjalan kaki saja kami sudah sampai ke para pedagang yang berjualan di sepanjang jalan menuju Kebayoran.

Sekarang ini pasar-pasar tradisional telah terpinggirkan oleh pasar moderen. Pemerintah punya caranya sendiri menyingkirkan mereka. Pasar-pasar tradisional, bukannya dibenahi malah dibuang jauh. Seperti di Cileduk, pasar digusur dengan berbagai alasan. Lalu, kemudian yang berdiri malah mal dan super market. Pasar tradisional di pindah ke lokasi yang jauh dan tidak strategis. Jika dahulu orang kalau berbelanja, kalau naik angkutan umum cukup sekali naik saja, sekarang harus dua kali berganti angkutan, dan jauh pula. Pasar pengganti yang ditujukan untuk menampung pedagang yang digusur, bukannya ditempati oleh para pedagang malah terbengkalai begitu saja. Siapa yang mau berdagang di tempat—istilah orang—di tempat jin buang anak?….

Pasar pengganti dibangun sia-sia. Betapa uang negara terbuang begitu saja.

Perlahan dan pasti, pasar tradisional tersingkirkan diganti oleh mal dan super market. Para pedagang kecil kalah dan yang menang adalah para konglomerat—dan pejabat yang makin kaya. Para petani semakin bersedih, oleh panen yang sering gagal dan sulitnya memasarkan produk. Sementara serbuan produk impor terus meraja.

Setelah dirasa cukup berbelanja, kami pun menyudahi belanja pagi ini. Beringsut kami menghindari becek oleh bekas hujan kemarin sore. Langit mulai mendung. Kalaulah hujan turun sore ini, sudah barang tentu pasar ini akan menjadi kubangan lumpur. Dan sudah pasti tentulah semakin malas orang-orang datang berbelanja ke pasar ini. Dan terbayangkan, bagaimalah rusuhnya hati orang-orang kecil yang hidup disini.

Matahari semakin tertutup awan. Seorang pedagang bercoletoh, “Hujan lagi…..”. Tentu dengan kegundahan dikandung dalam suaranya….

Iklan

4 tanggapan untuk “Belanja di Pasar Tradisional, atau Super Market?

  1. Bagus bung Syam…
    Semoga ada perhatian yang lebih dari sisi Pemerintah kita. Jangan hanya orang-orang dari negara asing saja yang di beri peluang menanamkan modal dan mengeruk keuntungan pribadi mereka. Tapi, Nasib orang Indonesia(pribumi) sendiri harusnya lebih ditekankan. Supaya Orang” kita mendapatkan penghidupan yang layak dan lebih dari mereka yang Non Pribumi.
    Bagaimana negara ini maju kalau nasib orang sebangsa dan setanah airnya justeru di nomor sekian-kan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s