Serbuan produk asing membanjiri pasar Indonesia. Mulai dari produk mesin, elektronik, seluler, garmen, fashion, mainan, sayur-sayuran sampai buah-buahan. Barang-barang ini murah dan mudah mendapatkannya, masuk seperti air bah yang merendam, menghanyutkan dan akhirnya mematikan industri dalam negeri.

Sudah berapa lama ini saya tidak lagi mendengar deru mesin konveksi tetangga sebelah berputar. Jika dahulu dari pagi sampai malam para anak jahit berlomba menyelesaikan jahitan. Saat ini mesin-mesin sudah mati suaranya. Tak terdengar lagi alunan musik dangdut pagi-siang-malam melantunkan hiburan untuk para anak jahit. Para bos konveksi sudah gulung tikar, kalau pun ada yang masih bertahan, pindah haluan dari produsen menjadi pedagang produk-produk garmen dari Cina.

Apa mau dikata, Pemerintah yang seharusnya membela kepentingan rakyatnya telah terlanjur memasukkan rakyatnya ke arena pertarungan perdagangan bebas. Subsidi untuk rakyat dicabut, sistem birokrasi masih saja sulit. Lalu, rakyat dijorokin bertarung dalam arena tarung bebas. Sudahlah tidak dibela, babak belur dalam sistem perdagangan bebas.

Seharusnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi hampir tak ada lagi yang bisa diproduksi. Hendak menanam padi, tapi pupuk begitu mahal, bibit susah didapat, belum lagi iklim yang tidak menentu? Bagaimana hendak menjual, jika beras dari luar begitu murah dan mudah mendapatkannya?

Bagaimana mungkin hendak menjahit baju, jika bahan baku begitu mahal, ditambah ongkos jahit, dan biaya produksi lainnya tidak sebanding dengan murahnya produk dari luar?

Ahh… daripada menanam dan memproduksi, bukankah lebih baik membeli barang impor, lebih mudah dan murah dibanding menanam dan memproduksi sendiri? Pragmatisme terjadi disini. Prinsip bisnis, tentu saja yang mudah dan murah yang akan didapatkan.

Pemerintah terdahulu telah terlanjur menjorokkan bangsa ini ke arena tarung bebas, tanpa menyiapkan rakyatnya dan menilai apakah mereka sudah siap? Bagaimana mungkin bertarung melawan gajah, jika tenaga hanya sekuat kancil? Bagaimana mungkin melawan kelas bantam, apalagi kelas berat jika rakyatnya baru sekelas bulu? Bagaimana mungkin baru sekelas liga kampung, disuruh masuk ke dalam liga dunia?….

Sawah-sawah pun mulai mengering diganti ilalang. Ladang-ladang menyemak dan menjadi terbengkalai. Pabrik-pabrik tak lagi beroperasi, menyisakan gedung-gedung kosong yang mulai melapuk, dan mesin-mesin pun akhirnya berkarat!

Petani sedih, apa yang hendak diperbuat. Para buruh bingung, hendak melangkah kemana lagi?

Iklan

2 tanggapan untuk “Terhenyak Dalam Pertarungan (Perdagangan) Bebas

  1. sorry to say, tulisan ini kurang baik untuk dibaca.

    Ayo semangat….
    Ayo bangun dan bangkit.
    Mari berpikir dan berbuat bagaimana bisa lebih produktif, bisa lebih efisien. Mari cari jalan keluarnya, kondisi ini harusnya memicu kita untuk bangkit dan loncat lebih cepat lebih jauh lebih tinggi.

    1. Trmkasih Pak ahmad yg baik.
      Dalam semua teori motivasi yg saya tahu, utk melangkah maju kita hrs berdasar fakta terlebih dahulu. Bahkan sampai SEFT & quantum ikhlas. Kita harus merasakan merasakan n empati terlebih dahulu. Lalu, barulah kita melskukan perubahan.
      Tidak bisa kita melupakan kenyataan begitu saja.
      Dari fakta inilah baru kita melakukan perubahan.

      Kita tdk bisa begitu saja mengajak orang melakukan kebaikan Dan melangkah maju. Sampaikan kenyataan, berikan kesadaran barulah kita Sama2 menyelamatkan bangsa ini.

      Gerakan Beli Indonesia jg berawal dari fakta2. Tidak ujug2 langsung mengajak orang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s