Belajar Kebaikan dari Bu Riana

Saya lupa kapan pertama kali mengenal bu Riana Chaidir. Tapi yang paling saya ingat beliau adalah sosok yang enerjik dan suka melayani. Dengan tubuh kurusnya, energi dan kepedulian beliau sungguh luar biasa!

Terakhir bertemu dengan beliau, ketika acara TDA di BSD Junction. Bu Riana bercerita ingin keluar kerja dan mengurus bisnis sendiri. Setelah itu saya tidak tahu banyak perkembangannya, sampai mendapat kabar bu Riana sakit dan akhirnya dirawat di RS Dharmais karena penyakit kanker yang semakin parah.

Dari bu Riana saya belajar tentang pelayanan dan ketulusan. Saya dan isteri, serta teman-teman TDA beberapa kali ikut acara Mario Teguh Golden Ways (MTGW) dan Kick Andy di MetroTV atas undangan bu Riana. Sebagai salah seorang tim MTGW, bu Riana telah menyiapkan daftar undangan dan sibuk menyiapkan (mengetek) tempat duduk buat kami. Sebagaimana diketahui, untuk ikut acara ini harus mendapat undangan.  Kami bisa ikut karena rekomendasi bu Riana.

Dari melayani saat penerimaan tamu, sampai beliau langsung masuk ke ruangan studio menyediakan tempat duduk khusus buat kami. Saat bu Riana menyuruh duduk di deretan depan panggung, dimana ini untuk tamu khusus, saya jadi tidak enak hati dan malu. Demikian seterusnya beberapa kali bu Riana masih mengundang saya untuk datang di acara ini.

Cerita lain tentang ketulusan dan pelayanan bu Riana saya dapatkan dari pak Hantiar. Tentang keterlibatan bu Riana dengan teman-teman TDA yang ngelapak di Taman Mini setiap Minggu pagi.

Sebagaimana kita ketahui, di area Taman Mini setiap pagi ramai orang berolahraga pagi. Dan di pinggir jalan ramai orang berjualan dan cepat-cepat  mengambil tempat.

Pagi subuh bu Riana sudah datang ke lokasi. Bayangkan seorang perempuan kurus jauh-jauh datang dari Cileduk dengan motor, khusus “mengetek” tempat lapak dengan menyilangkan motornya. Lalu setelah teman-teman datang, beliau ikut membantu mengangkat barang. Jauh datang padahal beliau sendiri tidak ikut berjualan disana. Hanya memberi semangat kepada teman-temannya.

Setiap pagi, ketika menyalakan komputer dan pertama kali menyalakan Yahoo Messenger, yang saya dapati setiap pagi muncullah pesan-pesan motivasi dari bu Riana. Terkadang, di saat pagi yang kurang bergairah pesan motivasi bu Riana seolah sebagai penyemangat bagi saya.

Setelah beberapa lama saya tidak mendapatkan lagi kiriman-kiriman pesan motivasi dari bu Riana, sampai akhirnya saya mendapat kabar kalau beliau sakit terbaring di rumah. Lalu karena semakin parah, pihak keluarga membawanya ke rumahsakit.

Ketika saya dan beberapa teman memposting ke milis kabar sakitnya bu Riana dan masuk rumahsakit, subhanallah, sungguh luar biasa responnya teman-teman TDA. Sampai-sampai saya keteteran mencatat sms dan email yang masuk dari teman-teman mengkonfirmasi telah mengirimkan sumbangan ke rekening saya.

Dalam waktu sehari saja, terkumpul 8 juta! Begitu antusiasnya teman-teman mengirimkan bantuan, sampai salah seorang teman salah mengirimkan uang ke rekening saya. Maksudnya mentransfer 1juta, eh terkirim 10juta! Setelah saya konfirmasi balik, mungkin karena tidak enak hati si teman tadi meralat  menaikkan sumbangannya menjadi 2juta.

Ketika menjenguk bu Riana di rumahsakit, serasa tak tega dan kuasa saya melihat beliau. Beliau sudah tidak sadar dan kesulitan bernafas dengan lilitan selang infus di tubuhnya. Tak kuasa saya berkata-kata dan menyampaikan pesan ke anaknya yang setia menunggu.

Tapi rupanya anak-anak bu Riana adalah anak-anak yang luarbiasa. Beliau sepertinya berhasil mendidik anak-anaknya menjadi sosok yang tegar dan tabah. Seharusnya mereka yang sedih dan saya menyemangati anaknya, tapi malah anaknya yang memberikan senyuman dan tegar! Tidak terlihat kemuraman dan kesedihan yang mendalam di wajah anaknya, walaupun mungkin di belakang kita tidak tahu.

“Mah, bangun mah”, Ketty anak bu Riana sambil mengelus rambut mamanya yang tidak sadarkan diri. “ Tuh, lihat teman-teman mama datang menjenguk mama. Mama harus kuat dan cepat sembuh ya. Banyak yang mencintai mama….”

Rupanya sakit yang luarbiasa telah menghilangkan kesadaran bu Riana. Kanker telah menyebar dari dada sampai ke otak. Ketika isteri saya membisikkan kata-kata kenangan dengan bu Riana, dimana dulu bu Riana ingin sekali ke salah satu ustad dan ingin mengembangkan bisnis brownies panggangnya. Terlihat beliau meneteskan airmata dan terceguk,sepertinya ingin merespon, tapi susah.

Sampai akhirnya ketika Yang Maha Kuasa memanggil beliau, sosok bu Riana begitu membekas di hati saya.

Ketika beliau meninggal bu Riana disemayamkan di rumah orangtuanya di daerah Tomang. Karena berbeda adat, maka anak-anaknya membawa orangtuanya ke rumah mereka di daerah Cileduk. Disaat mereka sampai di rumah, semuanya sudah disiapkan oleh para tetangga. Mulai dari pemasangan tenda, sampai mengurus jenazah. Menurut Ketty, semua tetangga dari ujung ke ujung mengenal bu Riana.

Ketty menyampaikan banyak terimakasih kepada teman-teman TDA atas ketulusannya. Sumbangan dari TDA banyak membantu meringankan biaya perawatan bu Riana di Rumahsakit. Semoga amal bapak dan ibu sekalian dibalas Allah SWT.

Orang baik telah pergi, dan kebaikannya meninggalkan jejak. Dari bu Riana saya belajar, bahwa: Jika kita menanam kebaikan maka kebaikan pulalah yang akan dituai. InsyaAllah kami akan bisa meneladani Anda, bu Riana.

Semoga kebaikan yang telah bu Riana tinggalkan, dibalas Allah SWT dan diberi tempat yang sebaik-baiknya disana. Doa kami menyertaimu.

Satu pemikiran pada “Belajar Kebaikan dari Bu Riana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s