https://hensyam.wordpress.com

Jika seseorang Pemimpin begitu dicintai rakyat atau pengikutnya, maka kesalahannya akan dimaklumi dan dibenarkan oleh rakyat. Tapi ketika cinta telah hilang maka semua kebenarannya akan dicari-cari kesalahannya.

http://www.leadership-toolbox.com/

Menjadi Pemimpin itu adalah sebuah amanah yang berat. Pada pundaknya terpikul harapan-harapan pengikutnya. Tak perlu sempurna memang, untuk menjadi pemimpin. Yang diperlukannya hanyalah menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya.

Banyak juga Pemimpin yang punya kekurangan, baik fisik atau materi lainnya. Tapi ketika cinta telah menjadi nilai dari seorang Pemimpin, maka cinta pulalah yang akan dia dapatkan dari rakyatnya.

Terlepas dari berbagai kelemahan lainnya dari seorang Gus Dur. Bagaimana pun beliau punya pengikut atau loyalis sejati. Saya teringat dulu, ketika beliau sering nyeleneh dan bertingkah macam-macam maka para Pecinta Gus Dur akan memaklumi, membenarkan apa yang beliau lakukan. Bahkan sampai pada pemahaman, bahwa seorang Gus Dur sudah sampai pada tingkat wali atau sufi. Bahwa bisa jadi apa yang dilakukan oleh Gus Dur punya hikmah yang tinggi yang tidak bisa dipahami oleh orang awam. Bahwa Gus Dur ingin melawan arus dan ingin memberikan pelajaran tingkat tinggi ke masyarakat.

Saya ingat, ketika beliau dilengserkan oleh demo mahasiswa dan elite dari kursi kepresidenan. Dengan santai beliau keluar dari pintu istana, menyapa para pendemo dengan—hanya bercelana pendek saja! Mana ada Presiden manapun di dunia, menyapa dari istana hanya bercelana pendek saja! Menyalahi semua etika.

Tapi itulah, bagi para pecinta Gus Dur maka tingkah ini dianggap sebagai sebuah seni perilaku baru. Bahwa Gus Dur telah menghilangkan tabu istana dan mengajarkan ke masyarakat betapa hebatnya Gus Dur.

Sampai hari ini kita masih melihat banyak Pemimpin yang sudah pergi masih tetap dicintai oleh masyarakat atau pengikutnya. Walau puluhan atau ratusan tahun mereka sudah meninggal, fotonya masih dipajang  dan ajarannya masih terus dipelajari dan dianut oleh orang-orang setelahnya. Namanya disebut-sebut setiap saat. (shalawat untuk baginda Nabi Muhammad SAW).

Berlainan dengan Presiden kita yang sekarang. Dahulu begitu dicintai oleh masyarakatnya. Dimana-mana partai beliau menang mutlak dan wajah tampannya menjadi euforia para ibu-ibu. “Bersama kita bisa!”, menjadi tagline massal dimana-mana. Nyanyian beliau digemari oleh masyarakat, ingat lagu Pelangi Di Matamu, yang dipopulerkan oleh Jamrud? Ada yang lain, di senyummu yang membuat lidahku gugup tak bergerak…. Anda masih ingat lagu ini kan….?:)

Tapi coba lihat sekarang. Apapun yang beliau lakukan menjadi sasaran kontroversi saja. Sudah jelas beliau hobi menyanyi karena dulunya adalah anak band. Tapi sekarang, ketika beliau mengeluarkan album rekaman kembali, maka berbagai cemooh datang bertubi-tubi. Dianggap tidak punya sense of crisis-lah, tidak punya empati-lah. Tidak punya kepedulian sosiallah, banyak persoalan bangsa yang penting lain tapi kok malah bikin lagu dan sebagainya.

Begitulah, sama seperti kekasih. Ketika cinta sudah mendalam kepada pujaan hati maka semua perilaku dia dibenarkan dan dianggap indah. Tapi ketika cinta sudah tercerabut dan benci sudah datang, maka apapun yang dia lakukan menjadi jelek saja dan dicari-cari kesalahannya. Seolah tiada lagi kebaikan ada padanya. Sirna sudah keindahan masa lalu.

Iklan

3 tanggapan untuk “Pemimpin dan Cinta

  1. Salam kenal Pak Syam,
    Saya termasuk salah satu dari sekian banyak yang dulu menaruh harapan besar akan datangnya perubahan besar dan menyeluruh di negeri ini namun kini kuciwa berat. Tapi c’est la vie ya…yang penting kita pribadi berusaha terus untuk menyebar kebaikan. Entah itu akan berdampak orang mencintai kita atau tidak.

    Salam
    Ali N R

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s