Memaknai Kekayaan

Ada satu tulisan menarik yang saya baca di salah satu kolom harian Kompas beberapa hari lalu. Judul tulisan ini saya tulisa sama dengan dengan tulisan tersebut.

Sang penulis bercerita tentang tabiat atau kebiasaan orang-orang kaya. Pada sebuah kegiatan di Amerika Serikat, sewaktu menginap di salah satu hotel di Washington DC, seorang lelaki usahawan besar dan pejabat tinggi Indonesia mengajak beliau makan di luar.

Seusai makan, sang usahawan mengungkapkan bahwa makan tadi hanya menghabiskan uang 18 dollar AS. Ia berterus terang, bahwa uang makan tadi berasal dari anggaran laundry yang tak jadi ia gunakan. “Bayangkanlah, masak sih, hanya cuci sepasang pakaian dalam dan kaus kaki kena biaya 60 dollar AS. Daripada tidak ridho, mending saya cuci sendiri semalam dan pagi-pagi sudah kering,” ujarnya sambil tergelak.

Daripada menyerahkan uang 60 dollar hanya untuk sepasang pakaian dan kaus kaki, ia lebih memilih mengajak temannya makan di luar, yang hanya menghabiskan 18 dollar saja. Dan sisanya 42 dollar ia cadangkan untuk makan siang.

Gaya pejabat tadi tidaklah mencerminkan dia seorang pelit. Dia sudah membangun lebih dari 200 masjid dan menyantuni kaum fakir dan orang sakit. Dia mendirikan banyak sekolah. Uang 60 dollar bagi dia bukanlah apa-apa, tapi dia telah mencontohkan sebuah kebiasaan yang unik dan inspiratif.

Dia mengajarkan tentang hidup sederhana. Kekayaan seseorang tidaklah ditunjukkan dengan pakaian, fasilitas dan kendaraan yang dia miliki. Selain menunjukkan gaya hidup bersahaja, beliau juga menunjukkan makna berbagi. Bagi beliau uang 60 dollar tidak berarti apa-apa, tapi dengan uang itu dia bisa memaksimalkan manfaatnya dengan berbagi.

Untuk apa mencuci pakaian seharga 60 dollar? Lebih baik menyuci sendiri dan uangnya digunakan untuk hal yang bermanfaat. “Kalau bisa hidup sederhana, mengapa harus hidup mewah?”, katanya.

Sering kita melihat, betapa banyak orang yang malahan dia belum punya kemampuan tapi sudah meninggikan gaya hidupnya. Bisnis masih level rendah tapi sudah memikirkan dan menjalankan standar yang tinggi. Meeting-nya harus di kafe, di restoran atau harus punya kantor yang ideal. Gadget-nya pun model dan teknologi terkini. Istilah orang pasaran, nafsu besar tapi tenaga kurang. Lebih besar pasak daripada tiang.

Banyak di antara kita terpengaruh aliran pemikiran, “Kalau kita ingin kaya maka kita harus memantaskan diri untuk kaya. Berlagaklah seperti orang-orang kaya….” Saya ingat ketika menjadi aktivis mahasiswa ketika era reformasi tempo hari. Seringkali kami diundang meeting dan makan malam oleh para politisi, pejabat dan pengusaha di restoran elit dan di hotel. Untuk pergi kesana kami naik taksi dan berlagak elit. Dan ketika diwawancara oleh media massa berlagak sok orang hebat. Kalau mau rapat dan diskusi maunya di tempat yang wah. Padahal, ongkos minta sana-sini dan hidup miskin ala anak kostan serta kuliah masih berantakan!:)

Pertanyaannya, apakah kita sudah pantas untuk seolah-olah seperti orang kaya…?

Persoalan kaya dan miskin adalah persoalan mental. Sungguh menarik perilaku orang-orang yang bermental dan sejatinya kaya. Mereka berani menunda kenikmatan. Terbalik dengan orang yang bermental sok kaya, kenikmatan yang lebih dahulu dikedepankan.

Kalau kita perhatikan, orang-orang bermental kaya bahkan ketika mereka sudah mencapai kekayaan perilaku hidup sederhana dan bersahaja masih saja mereka lakukan. Tabiat orang-orang Indonesia yang benar-benar kaya justru terkesan unik. Perilaku mereka, seperti Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaja, Sukanta dan lainnya sangat bersahaja. Bayangkan, sekaya Sudono, Eka dan Triatma malah jarang makan di restoran mahal. Mereka lebih suka menyantap masakan isterinya atau makan di kantin kantor. Begitu juga orang-orang kaya dunia lainnya. kendaraan dan gadget mereka sederhana. Orang-orang kaya ini jauh dari kemewahan dan hidup bersahaja.

Sejatinya orang kaya itu adalah kalau bisa berbagi dan bersahaja. Daripada menghabiskan puluhan atau ratusan dollar, daripada menghabiskan jutaan rupiah—yang bagi mereka tidak ada apa-apanya—mereka lebih memilih berbagi manfaat dengan orang lain. Bahkan sering kita ketahui para orang kaya ini malah menyumbangkan sebagian besar penghasilan mereka hanya demi berbagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s