Kisah Inspiratif dari The Billionaire

Never Too Young to Become A Billionaire

https://hensyam.wordpress.com

ImageSaya melihat poster filem ini beberapa pekan lalu di Blitzmegaplex Teras Kota BSD. Dari posternya terbaca: The Billionaire: Never Too Young to Become A Billionaire, kisah nyata seorang anak muda Thailand yang memulai bisnisnya dari umur 17 tahun dan akhirnya menjadi jutawan. Hmm… menarik juga filem ini, berbeda sendiri dari kebanyakan filem yang beredar yang kebanyakan bercerita tentang cinta, dunia anak muda dan pergaulan.

Tapi sayang, kami belum berkesempatan karena filemnya sudah mulai dan sesi berikutnya masih lama. Saking penasarannya, saya cari di toko buku apakah ada bukunya tapi tidak ditemukan.

Akhirnya kemarin saya dan isteri berkesempatan juga menonontonya, terobati juga penasaran dan mendapatkan inspirasi luar biasa dari filem ini, funtastik!

Filem ini adalah kisah nyata Top Ittipat seorang anak muda Thailand yang punya hobi main game online dan Play Station 2. Dari hobinya ini dia mendapatkan uang yang sangat besar hingga bisa membeli mobil dari menjual senjata-senjata di game tersebut. Namun sayang dari hobinya ini membuat dia tertinggal dalam pelajaran sekolahnya. Pikiran mudanya hanya  terisi mengenai game dan bagaimana menghasilkan uang dari bisnis.

Saat umur 17 tahun dia memutuskan membeli banyak PS2 ingin dijual kembali. Sayang, ketika mencoba mendemokan alat ini ke orangtuanya yang kaget dan protes oleh banyaknya PS2 yang dibeli, alat ini tiba-tiba rusak pada saat dicoba. Top komplain keras ke suplier, ternyata barang yang dijual adalah barang impor abal-abal yang hanya sekali pakai dan tidak awet.

Tertipu pada bisnis ini yang telah menghabiskan banyak uang tabungannya, tidak membuat Top kapok memulai bisnis lagi. Ketika lapar dalam perjalan pulang dari sekolah, Top melihat iklan pameran makanan. Lalu dia menonton pameran tersebut dan ingin mendapatkan makanan gratis dari produk tester yang ditawarkan oleh penjaga stand. Pada salah satu stand dia mendapatkan inspirasi bisnis dan memutuskan menyewa alat pemasak kacang untuk memulai bisnis barunya.

Top adalah tipe pebisnis sejati jalanan. Sebelum memulai bisnis, dia melakukan riset ke pasar-pasar, memperhatikan dan mencatat bagaimana orang lain berjualan, cara pemilihan bahan dan cara memasak kacang. Setelah menemukan cara memasak kacang yang enak, dan mempraktekkan strategi penjualan di outletnya yang dibuka di mall, ternyata malah tidak laku! Akhirnya, setelah mengamati lagi ternyata beliau mendapatkan pelajaran bahwa lokasi adalah penentu lakunya produk yang dijual.

Top melakukan nego ulang dengan pengelola mall dan minta pindah ke pintu masuk mall. Jualan kacang Top laku keras dan mulai membuka banyak cabang. Sayang, dia mendapatkan komplain dari pedagang lain dan pengelola mall karena asap kompornya mengotori langit-langit mall. Dia diminta membenahi proses memasak kacangnya dan mempebaiki mall yang kotor oleh asap, atau diminta menutup outletnya!

Meskipun telah mengecat langit-langit mall, akhirnya dia tetap harus keluar dari mall tersebut karena komplain pedagang lain dan pengelola mall karena catnya mengotori tempat pedagang lain.

Sekolah Top berantakan karena dia bukannya sekolah malah sibuk berdagang. Top gagal masuk perguruan tinggi negeri dan hanya bisa kuliah di kampus swasta. Disisi lain walaupun mengalami masalah finansial dan terlilit hutang sangat banyak namun orangtuanya masih berusaha agar Top bisa kuliah. Namun Top menolak tawaran orangtuanya, dan mengatakan dia bisa membiayai kuliahnya sendiri. Akhirnya Top bisa kuliah dari menggadaikan jimat orangtuanya yang ia curi.

ImageSetelah gagal dengan bisnis kacang, kemudian Top memulai bisnis barunya yaitu menjual kerupuk rumput laut. Namun sekali lagi, karena tidak punya pengalaman dan hanya belajar sendiri, Top harus menghabiskan lebih dari 100.000 bath (sekitar Rp 29juta) untuk mencoba menemukan cara memasak yang pas agar mendapatkan kerupuk lumput yang renyah. Akhirnya gagal dan menghabis semua stok bahan. Sampai pamannya yang membantu Top memasak dan berjualan putus asa dan akhirnya mengalami kecelakaan terjatuh di dapur rumah.

Pada titik nadir keputusasaan—sementara paman yang biasa membantu berada di rumahsakit, Top akhirnya menemukan cara memasak rumput laut yang pas dari sisa bahan yang tercecer di lantai. Ini membangkitkan kembali semangatnya untuk berjualan kembali.

Top mulai berdagang kembali dan dibantu oleh pamannya yang telah sembuh. Hari-hari selanjutnya Top disibukkan oleh outletnya. Dagangannya mulai laku dan diserbu pembeli. Dalam hitungannya dia bisa mendapatkan keuntungan 1juta bath, tapi ternyata hutang orangtua yang ingin dia bayar 40juta bath! Kalau begitu, berapa lama dia bisa membayar hutang ini?

Top memutar otak bagaimana bisa menduplikasi atau me-leverage­ penjualannya. Akhirnya dia memutuskan mengajukan penawaran ke Seven-Eleven. Perlu proses panjang, melelahkan dan kesabaran agar dia bisa mendapatkan perhatian pihak manajemen 7-11. Ketika pihak 7-11 ingin meninjau pabrik makanannya, Top dan pamannya harus pontang-panting menyiapkan tempat produksi. Sementara rumahnya telah disita oleh pihak bank. Top dan pamannya terpaksa pindah ke ruko yang merupakan sisa kekayaan orangtuanya yang tertinggal.

Karena tidak punya modal, Top harus mengajukan pinjaman ke bank, namun ditolak karena belum cukup umur. Top baru berumur 19 tahun ketika mulai mendirikan “pabrik” makanan. Akhirnya Top terpaksa menjual mobil kesayangannya yang didapat dari bisnis jualan “senjata” game online.

Walau tempat dan proses produksi kurang memenuhi standar, namun akhirnya Seven-Eleven menyetujui juga Top memasukkan produknya kesana. Ini menjadi titik balik bagi Top. Dia telah mendapatkan bayaran dari kerja keras dia selama ini. Produk rumput lautnya telah menyuplai semua cabang Seven-Eleven di semua negara.

Saat ini Top telah berusia 26 tahun. Produknya telah diekspor ke 27 negara dan memiliki pabrik rumput laut di Korea Selatan serta memiliki penghasilan 800 juta bath per tahun (coba aja hitung berapa rupiahnya). Masih muda tapi telah menjadi miliarder, atau triliuner!

Pada satu tengah malam, ketika Top terbangun di rukonya Top berbicara dengan pamannya yang juga terbangun. Top merenung betapa dia ceroboh selama ini dan berbisnis tanpa banyak pikir. Pamannya menjawab, bahwa kalau dia terlalu banyak mikir mungkin dia tidak akan sampai sejauh ini.

Kisah Top Ittipat sangat menginspirasi kita. Tentang kerja keras pantang menyerah. Di saat anak muda seumur dia asik bermain di mall, mengoleksi gadget terbaru dan sibuk dengan dunia muda, Top memikirkan peluang bisnis dan bagaimana mendapatkan kekayaan. Berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Dia belajar dari pengalaman, tanpa guru, bacaan apalagi mentor. Amati bagaimana orang berjualan, tiru kemudia modifikasi.

Ada satu sesi dalam filem ini yang menarik perhatian saya. Ketika Top tertidur karena kelamaan menunggu bisa bertemu dengan direksi 7-11, Top langsung berdiri ketika mendengar lagu kebangsan Thailand dinyanyikan sebagai penanda akhir jam kerja. Dia berdiri dan menyimak sampai selesai! Begitu tinggi nasionalisme orang Thailand. Berbeda dengan bangsa kita, ketika Indonesia Raya dinyanyikan cuek saja!

4 pemikiran pada “Kisah Inspiratif dari The Billionaire

  1. kemarin malam sy sudah nonton film ini di blitz megaplex jakarta… iyaa.. bener” inspiratif film ini walau ada beberapa ‘catatan’ tapi secara keseluruhan ada banyak hikmah yang bisa dijadikan inspirasi untuk jadi aksi… ;o)

  2. saya uga pernah nonton film nie… dan kbetulan saya uga sdang berwira usaha.. dan buat saya film nie adalah inspirator dalam menjalani usaha yang saya teekuni saat nie,,, smoga suatu saat atas sizin ALLAH SWT produk saya bisa anda nikmati suatu saat nanti…!@!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s