Ada kultwit (kuliah twitter) yang menarik dari kang Abik tentang toleransi di Indonesia. Ini menjawab kritikan Barat terhadap Indonesia. Ini menarik, maka perlu saya share disini.

Di bawahnya juga saya tulis ulang juga jawaban KH Hasyim Musyadi terhadap isu ini:

KULWIT KANG ABIK @h_elshirazy tentang TOLERANSI DI INDONESIA

1. Pertumbuhan rumah ibadah di Indonesia 1997-2004: Gereja Katolik ,dari 4.934 menjadi 12.473 (153%) -Republika 4/6/12 #toleransi

2. Pertumbuhan rumah ibadah di Indonesia 1997-2004: Gereja Protestan ,dari 18.977 menjadi 43.909 (131%) -Republika 4/6/12 #toleransi

3. Pertumbuhan rumah ibadah di Indonesia 1997-2004: Wihara ,dari 1.523 menjadi 7.129 (368%) -Republika 4/6/12 #toleransi
 
4. Pertumbuhan rumah ibadah di Indonesia 1997-2004: Pura Hindu ,dari 4.247 menjadi 24.431 (475,25%) -Republika 4/6/12 #toleransi
 
5. Pertumbuhan rumah ibadah di Indonesia 1997-2004: Masjid ,dari 392.044 menjadi 643.843 (64%) -Republika 4/6/12 #toleransi
 
6. Dilihat prosentase, jelas paling rendah adalah prosentase pertumbuhan rumah ibadah umat Islam. Non-Islam tumbuh diatas 100% . #toleransi
 
7. Masih kurang #toleransi apa ummat Islam di Indonesia? Apkh Eropa, Amerika mengizinkan masjid tumbuh diatas 100%? Di New York aja diprotes
 
8. Di Swiss, masjid pasang menara sj di larang! Di Indonesia kalau hari besar agama non-Islam, Mall2 penuh lambang non-Islam, gpp.#toleransi
 
9. Lihat kabinet pemerintahan di Indonesia, silakan di hitung berapa menteri yg bukan muslim. Lihat Perancis/Jerman, adakah menteri muslim?
 
10. Mohon kpd seluruh elemen bangsa mnggunakan akal sehat. Jangan karena kpentingan segelintir org/gol. yg sempit, citra bangsa dikorbankan.
 salam kopi pagi……, slalu semangat menggapai ridho ilahi….~o)

Pernyataan KH Hasyim Muzadi:

“Selaku Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP) dan Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), saya sangat menyayangkan tuduhan intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia,” ujarnya.

Hasyim menyatakan, kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi politik Barat. “Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam,” katanya.

“Kalau yang jadi ukuran adalah GKI Yasmin Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai,” imbuhnya.

Kalau ukurannya pendirian gereja, kata Hasyim, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. “ICIS selalu melakukan mediasi,” katanya.

“Kalau ukurannya Lady Gaga dan Irshad Manji, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan intelektualisme kosong? Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI/Polri/imam masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM?” ujarnya.

Hasyim menilai, Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan menara masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama karena di sana ada UU Perkawiman Sejenis. “Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis?” tanyanya

“Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekadar Westernisme,” kata Hasyim.

Iklan

2 tanggapan untuk “Toleransi di Indonesia Seperti Apa?

  1. Saya ingin mempertanyakan artikel anda.
    1. Apakah orang dari agama selain agama Islam tidak boleh membuat rumah ibadah?
    2. Apakah orang yang beragama selain agama Islam tidak boleh menjadi anggota pemerintahan (yaitu: pns, menteri,dsb) ?
    3. Apakah semua orang harus beragama Islam kalau ingin diakui prestasinya?
    4. Apakah negara Indonesia yang telah dibangun oleh darah para pejuang yang bermacam agamanya harus menjadi negara Islam?

    Kebetulah saya adalah beragama selain Islam tapi mempunyai banyak teman yang berpendidikan Islam pesantren, bahkan sekolah di Mekkah, saya kalau mengobrol dengan mereka sangat terbuka, mereka juga toleran sama saya dan kadang saya menanyakan hal-hal seperti ini pada mereka.
    Mereka meanggap bahwa sah – sah saja berbagai agama di Indonesia, katanya agar Indonesia lebih berwarna tapi tetap satu seperti pelangi.
    Saya mohon jawaban agar saya bisa membandingkannya.

  2. Pak Dewa Jaya yang baik,
    Terimakasih sudah mampir ke blog saya ini dan salam kenal:)

    Saya berpikir, pertanyaan Anda tentu di luar teks tulisan saya bukan? Sebab, kalau berdasar pertanyaan Anda tidak ada saya menulis yang sesuai dengan pertanyaannya.

    Saya menulis ulang tulisan di atas, berdasar 2 tulisan dari 2 orang. Tulisan ini bermula dari keprihatinan atas buruknya citra Indonesia di mata “Barat”. Belum lama ini badan dunia mengeluarkan penilaian yang tidak obyektif tentang negeri kita. Sudah tentu, penilaian ini berasal dari segelintir orang di dalam negeri kita yang suka menjelekkan bangsanya sendiri di hadapan orang luar. Atas hal ini, makanya keluarlah tulisan di atas.

    Mengenai pertanyaan pak Dewa Jaya, saya jawab:
    – Untuk pembangunan rumah ibadah untuk non Islam, bapak bisa lihat prosentasenya di atas:). Malahan perkembangan rumah ibadah Islam sendiri yang paling rendah, padahal pemeluknya paling banyak.
    – Mengenai pembangunan rumah ibadah, ada aturannya sendiri yang telah disepakati oleh semua agama. Melihat komposisi penduduk di suatu daerah, komunikasi, izin, dsbnya.
    – Mengenai negara Islam, saya pikir sudah tuntas oleh para founding father kita. Kalau menurutkan asas mayoritas dan kesepakatan awal founding father, dasar negara kita awalnya berdasarkan syariat Islam. Tapi, atas toleransi dsbnya kata ini dihapus. Dan Pancasila menjadi dasar negara kita.
    – Indonesia bukan negara agama, tapi negara yang beragama. Tidak boleh anti Tuhan! Sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi apapun dalam bernegara dasar pertamanya adalah ada nilai Tuhan di dalamnya.

    Demikian sekilas penjelasan saya. Mohon maaf kalau ada yang kurang:)

    Syam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s