Rumah dengan 97 Anak

Kami mengenalnya dari salah seorang pegawai Rumah Sehat Tasnim. Suatu ketika, kami melakukan terapi bekam disana, isteri saya ngobrol dan nanya-nanya ke pegawai tersebut. Dia bercerita tinggal di rumah asuh atau pesantren yang diasuh oleh sepasang suami isteri, dan dengan jumlah 97 orang anak yatim dan dhuafa! Karena sudah selesai sekolah, dia bekerja tapi tetap tinggal disana.

Maka pada suatu kesempatan saya dan isteri berkesempatan bersilaturahim kesana. Berkenalan dan ingin melihat langsung kehidupan sehari-hari pesantren. Kami berkenalan dengan yang mengasuh anak-anak ini. Sepasang suami isteri yang bersahaja, Pak Subur adalah seorang PNS di kantor KUA dan sang isteri—bu Tuti adalah seorang ibu rumah tangga dan juga seorang ustadzah.

Rumah asuh ini, yang telah dijadikan pesantren didirikan di atas rumah pak Subur dan bu Tuti. Kemudian ditambah rumah keluarga di samping dan depannya yang telah diwakafkan untuk pesantren.

Tempat tinggal seadanya, untuk 97 anak asuh tentu terbayang betapa sumpeknya. Rumah tinggal mereka jadikan rumah asuh untuk anak-anak ini. Tentu tidak ada lagi suasana privasi untuk mereka. Terbayang rumah saya, walau kecil tapi kami bebas mau ngapain aja di rumah. Ini rumah dengan 97 anak, benar-benar mereka telah menyerahkan hidup mereka untuk pengabdian!

Selain rumah tinggal, pesantren ini juga mengadakan kegiatan mengajar-belajar mulai dari TK sampai SMA. Konsep sekolahnya adalah home schooling dan pengajar swadaya dari kalangan sendiri. Kegiatan para santri begitu padat dari pagi sampai malam. Selain diajarkan pendidikan formal dan agama, mereka juga diajarkan keterampilan dan kesenian.

Dari lorong dan serambi rumah, tampak beberapa kelompok anak tengah mengaji. Salah seorang dari mereka yang senior, tengah menyimak hafalan bacaan ayat-ayat Alquran dari adik-adiknya. Rumah asuh yang telah menjadi pesantren ini adalah pesantren tahfidz Alquran. Setiap hari anak-anak menyetor hafalan kepada pembimbingnya.

Satu Ruang Kelas yang Juga Berfungsi Pustaka, Mushalla dan Tempat Tidur

Ketika Ashar tiba, kami melakukan shalat berjamaah disana. Dari salah satu ruangan yang difungsikan ruang belajar, merangkap juga perpustakaan, merangkap juga tempat shalat. Dan merangkap juga sebagai tempat tidur santri laki. Sang bapak—yang dipanggil Buya oleh para santri mengimami shalat Ashar. Selesai shalat dilanjutkan dengan zikir dan doa.

Setelah shalat, zikir dan doa, isteri buya yang dipanggil Bunda menyebutkan sumbangan-sumbangan yang masuk ke pesantren dan mengajak para santri untuk mendoakan para donatur. Alhamdulillah, ada beberapa sumbangan yang mengalir sehingga mereka sudah mulai bisa membangun gedung yang tengah berjalan pembangunannya.

Pesantren Kebanjiran

Lalu hujan turun di petang itu. Begitu derasnya! Kamar-kamar tidur santri pria  yang berada di bagian depan rumah—tepatnya lebih mirip bedeng rupanya kebanjiran. Santri pria kelimpungan menyelamatkan alas tidur mereka di lantai ke tempat aman. Para santri pria yang tengah berpuasa sunnah—Senin dan Kamis—bergotong-royong membuang air. Hujan tak kompromi, masih saja menumpahkan isi langit. Dan, kamar santri semakin kebanjiran.

Kamar (Bedeng) Tempat Tidur Santri di Lantai Sehabis Kebanjiran

Terbayang oleh saya, nanti malam tentu saja para santri tak akan bisa menempati kamar mereka. Akhirnya, pastilah mereka akan mengungsi tidur ke ruangan kelas, yang merangkap perpustakaan, mushalla dan merangkap pula jadi tempat tidur.

Suasana kamar santri yang kebanjiran ini saya foto dengan BB dan saya kirimkan ke grup BBM saya (grup Taushiyah). Beberapa teman terketuk hatinya, alhamdulillah dalam sehari terkumpul uang tujuh juta rupiah untuk diserahkan ke pesantren ini!

Magrib menjelang, para santri perempuan menyiapkan hidangan buka puasa. Selepas magrib berjamaah, kami pamit untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, masih terbayang betapa luar biasa pengabdian suami isteri yang telah menyediakan rumah dan pendidikan untuk 97 anak ini. Tentu berat, menyediakan makan, pakaian, pendidikan, jajan dan sebagainya untuk mereka. Hitung aja, kalaulah minimal makan satu orang santri 15.000 per orang  per hari, dikali 97.  Sama dengan 1.455.000/hari, kali sebulan Rp 43.650.000! Itu baru makan saja, belum yang lainnya dan gedung yang harus didirikan untuk ruangan belajar dan asrama yang tengah dibangun.

Keajaiban mengasuh anak yatim begitu hebat saya dengar dan saksikan dari mereka. Kalaulah mengikut akal sehat, bagaimana mungkin seorang PNS biasa dan seorang ustazah bisa membiayai semua ini.

Tanggung jawab anak yatim ada pada umat. Barangkali ada diantara anda yang terketuk hatinya untuk membantu pesantren ini silahkan hubungi:

Buya Subur
Pesantren Tahfizhul Quran Amanatul Huda
Jl. H. Bacek no. 29 Rt02/02, Kel. Tajur, Kec. Cileduk, Tangerang
Telp. (021) 7322757, 0813 11333572

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s