Bosan Jadi Konsultan IT, Syam Beralih Dagang Pakaian Renang

Tulisan ini diambil dari website bisnis:

http://www.ciputraentrepreneurship.com/perdagangan/17881-bosan-jadi-konsultan-it-syam-beralih-dagang-pakaian-renang.html

Bosan Jadi Konsultan IT, Syam Beralih Dagang Pakaian Renang

Dengan modal pas-pasan, Helsusandra Syam nekat membuang kariernya sebagai konsultan IT untuk meraih impiannya, menjadi seorang entrepreneur. Saat ini Syam, panggilan akrabnya, bersama sang istri telah sukses membesarkan bisnis pakaian renang muslim mereka dengan bendera Sporte.

Saat ditemui Ciputra Entrepreneurship di kawasan Tangerang Selatan beberapa waktu lalu, Syam menuturkan bahwa kenekatan untuk meninggalkan status karyawannya didasari oleh panggilan jiwa. Ia merasa kurang mantap menapaki hidup dengan hanya menjadi karyawan.

“Jiwa saya tidak nyaman kalau kerja. Belum lagi kalau kejar target harus begadang, pulang sampai malam, padahal kita punya keluarga. Makanya kemudian saya nekat resign,” ceritanya.

Sebelum menjual pakaian renang ini, Syam bersama sang istri, Efa di tahun 2006 sudah menjual berbagai macam produk fashion, mulai dari blazer, selimut, hingga mukena lewat blog yang dibuatnya. Di sinilah Syam memulai perjuangannya menjadi seorang entrepreneur.

“Pernah ada yang minta lihat selimut, sepertinya dia mau beli banyak. Kita datangi kantornya, kita bawa banyak selimut naik bis, eh ternyata cuma beli 1. Kejadian begitu sudah sering kita alami,” kenang Efa.

Cerita berlanjut saat ada salah seorang teman Syam yang memproduksi pakaian renang muslim. Temannya ini merasa kesulitan untuk menjual produknya. Ia kemudian meminta Syam dan Efa untuk mempromosikan lewat blog yang telah Syam buat. Ternyata responnya sangat baik. “Waktu itu belum banyak yang buat pakaian renang ini,” tambah Syam.

Seiring berjalannya waktu permintaan akan pakaian renang muslim ini pun meningkat. Namun sang teman merasa tak sanggup lagi memproduksi sehingga Syam harus memutar otak untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

“Kita pernah mengembalikan uang pelanggan. Gara-garanya mereka sudah kirim uang, ternyata kita tidak bisa memenuhi pesanannya,” ujar Efa.

Syam menyiasati kendala ini dengan mencari konveksi yang dapat dijadikan rekanan. Sistemnya, Syam dan Efa membuat desain, para customer yang ingin memesan dapat membayar uang muka 50% lebih dulu dan sisanya dibayar setelah pesanan diantar. Cara ini diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk menekan budget.

Ternyata tidak mudah mencari rekanan yang dapat memenuhi permintaan Syam.  Ia dan istrinya perlu mondar-mandir, bertanya kanan-kiri, bahkan hingga mencari ke Bandung, Jawa Barat untuk mendapatkan konveksi yang bisa memenuhi kebutuhan produksinya.

Sudah tenang kah mereka setelah mendapat rekanan? Sama sekali belum. Kendala datang silih berganti saat menjalin rekanan dengan beberapa konveksi. Dari sulitnya mengontrol konsistensi kualitas, keterlambatan produksi, hingga  tertipu oleh salah satu rekanan.

“Kami diminta membayar di muka untuk keperluan membeli bahan, namun setelah sekian lama bahan tersebut tak kunjung dibeli. Akhirnya kami pasrah saja dan jadikan itu pelajaran,” kenang Efa.

Kendala-kendala tersebut membuat pasokan produk ke para customer menjadi tersendat. Akhirnya Syam pelan-pelan membeli alat jahit dan berproduksi sendiri. Syam pun sangat percaya diri walau ia tak paham betul bagaimana cara menjahit sebuah bahan hingga menjadi sebuah pakaian renang.

“Mensiasatinya gampang, pegang saja orang yang sudah lama kerja dikonveksi. Dari situ kita bisa produksi sendiri seperti sekarang ini,” jelas mantan presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Budi Luhur ini.

Buahnya, saat ini Syam berhasil meluaskan pasar Sporte hingga mancanegara. Beberapa Negara seperti Kanada, Dubai, dan Malaysia telah menjadi pelanggan tetapnya. Penjualan Sporte sekarang sudah menembus angka 500 potong per hari.

Semuanya ia dapatkan tanpa membuka toko, 100% penjualan hasil dari online shop lewat website www.sporte.co.id yang dibuat sendiri oleh Syam. Selain pakaian renang, Sporte pun menyediakan pakaian senam muslim.

Membesarkan Sporte seperti saat ini Syam bisa dibilang hanya bermodal nol rupiah. “Kami awalnya,  kan mengandalkan relasi saja. Setelah ada hasil baru kami putar uangnya,” jawab Syam.

Syam pun membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mereguk untung dari bisnis ini. Ia memberikan 3 pilihan, menjadi distributor, agen, atau reseller bagi mereka yang ingin berjualan produk Sporte.

Untuk tingkat reseller Syam memberi target penjualan Rp 15 juta per bulan, jika tercapai Syam akan memberi diskon 40%. Mereka yang memilih menjadi agen diwajibkan menjual minimal Rp 7 juta rupiah untuk bisa mendapatkan diskon 30%. Sedangkan untuk reseller akan mendapatkan diskon 20% jika penjualannya mencapai Rp 3,5 juta.

Menurut Efa, semua pencapaian Sporte saat ini adalah berkat restu kedua orang tuanya. “Dulu saya tidak direstui orang tua kalau jualan. Tapi setelah saya memohon dan restu didapat, ternyata benar, usaha ini semakin besar,” ungkap alumni Institut Pertanian Bogor ini.

Ke depan, Syam dan Efa berharap agar Sporte dapat dikenal lebih luas di mata masyarakat. Lebih dari itu, harapan terbesar Syam, Sporte bisa menjadi pilihan utama kaum muslimah untuk melakukan aktifitas renang. (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s