Rantau dan Kampung

Pulang kampung adalah panggilan jiwa. Fitrahnya manusia setelah perjalanan panjang.

Setelah lama hidup di rantau, suatu saat akan datang rasa seperti nada minor yang merayu jiwa manusia. Ia seperti musik sahdu, yang membawa kembali jiwa setelah terbang tinggi. Mendengar berita dan melihat gambaran kampung halaman, melihat satu demi satu kawan kerabat pulang, semuanya adalah seperti kumpulan simponi orkestra, semuanya seperti dentingan piano, gesekan biola, dentuman dram, yang menghantam kalbu rindu hendak pulang.

Setinggi-tinggi bangau terbang, rindu ia pulang ke kubangan. Sejauh-jauh badan pergi, rindu jiwa hendak pulang.

Dan ketika masanya tiba-tiba kampung halaman penuh dengan para Perantau. Beragam gaya, harta, kemewahan, kendaraan dan hasil perantauan dibawa pulang dan dipertunjukkan.

Sang kaya dengan kebanggaan dan kebahagiaan pulang dengan rasa puas. Membawa bekal dari hasil perantauan, menikmati jerih payah perjuangan. Penuh percaya diri dan bahagia. Bisa berbagi dengan sanak saudara.

Sementara si Miskin pulang dengan kepala kuyu dan dada hampa. Hasil perantauan tak kuasa membahagiakan dan tak bisa dinikmati. Tak terbeli apa yang menggoda, tak akan terbayar apa yang merajuk. Bekal sedikit dan tak membanggakan. Sementara hutang tak lunas dibayar! Sementara kalaulah bertemu kawan kerabat, hanyalah mengingatkan hutang yang akan dilunasi. Kalaulah kuasa diri, tak ingin rasanya pulang. Tapi panggilan telah tiba, dan mesti pulang!

Hakikat hidup di dunia pun seperti ini pula. Sesungguhnya hidup ini di dunia ini adalah negeri rantau. Pada saatnya kita akan pulang ke Negeri Abadi. Suka atau tidak suka, rela atau tidak rela panggilan pulang akan tiba, dan semua orang akan pergi pulang.

Jika banyak bekal pencarian yang didapat di dunia, maka ketika sampai masa penghadapan penuh percaya diri dan aman menghadap Illahi. Tapi jika sedikit amal, atau malahan tidak ada sama sekali, apalah daya penyelamat diri di Kampung Sejati?

Celakalah insan yang pulang dengan pundi-pundi kosong dan hanya membawa sebatang diri. Apa yang akan dikatakan ketika datang pertanyaan, apa yang telah engkau kerjakan selama perantauan, amal apa yang telah kau amalkan dan kejahatan apa yang telah engkau lakukan? Sanggupkah pundi kosongmu, dada hampamu menyelamatkan diri dari melewati Jembatan Penentuan? Sanggupkah selamat dari gelincir dan menyampaikan ke seberang Kebahagiaan?

Hasil kerja atau bisnis selama perantauan, didapat dengan cara apakah? Benarkah timbangan perniagaan, atau cara culas yang dilakukan? Jujurkah cara-cara pekerjaan? Semua akan dipertanggung-jawabkan di kampung akhirat.

Bahagialah insan yang pulang dengan banyak bekal dan penuh pundi-pundi. Banyak amal yang menyelematkan diri di hari akhir nanti. Bekal yang dibawa cukup membayar tunai harga Surga dan menyelamatkan dari neraka. Pundi-pundi yang penuh cukup untuk pembayar hutang selama perantauan. Bahkan kelebihan amal sanggup pula menyelamatkan orangtua, isteri/suami, anak dan handai taulan.

Beruntunglah mereka yang nanti disambut di Jannati, para Malaikat dan Bidadari mengelu-elukannya. Dan hidup bersama Nabi berdampingan bercengkrama dalam keabadiaan Surga, dan bahagia selamanya karena bertemu dengan Sang Khaliknya.

Berbeda dengan pulang kampung di dunia, walaupun melarat pulang tapi masih ada kesempatan balik ke rantau memperbaiki diri. Tapi pada pulang sejati ke kampung akhirat nanti, sekali pulang tak akan bisa kembali lagi. Jika penuh amal dan bekal dibawa, bahagialah kembali. Tapi jika tak cukup bekal kembali, maka celakalah penyesalan selamanya mendera diri.

(Renungan si Fakir di kampung halaman)
Payakumbuh, 22-08-2012 (Hari Raya Idul Fitri hari ke-4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s