Saat pulang kampung kemarin ke Sumatera Barat, saya melihat ada pemandangan menarik di kampung saya. Di pinggir jalan raya, tepatnya di Kecamatan Pangkalan Koto Baru saya melihat berdiri megah sebuah restoran dengan plang besar: Masakan Padang. Di pelintasan jalan raya antar Provinsi Sumbar – Riau, rumah makan ini ramai oleh para pengunjung yang mudik atau melintas antar provinsi.

Hmm… seumur-seumur baru kali inilah saya melihat ada restoran (rumah makan) dengan tulisan Masakan Padang, di kampung asalnya sendiri. Saya pikir, mungkin cuma satu ini saja ada rumah makan Masakan Padang di Sumatera Barat di jalan perbatasan provinsi jauh dari kota Padang. Keheranan saya bertambah ketika saat saya main ke kota Padang, saya menemukan pandangan yang serupa: Ada rumah makan dengan tulisan Masakan Padang, malahan di pusat kota Padang sendiri. Hal yang selama ini belum pernah saya lihat.

Apa maksud saya, bukankah dimana-mana di kota-kota pulau Jawa, bahkan sampai mancanegara berdiri rumah makan Padang, istilah orang tinggal di bulan aja yang belum ada rumah makan Padang. Dari gambar yang beredar, malahan keliatannya sudah ada cabang rumah makan Padang di bulan:), kok sekarang saya heran ada rumah makan Padang di kota Padang sendiri?

Sama dengan Warung/Masakan Tegal (warteg), tentu kita tidak akan menemukannya di Tegal sendiri. Atau Pempek Palembang tidak ada di Palembang, disana disebut pempek saja. Nama Padang, Tegal, atau Palembang adalah penanda yang menciri-khaskan makanan yang dijual.

Tapi kenapa sekarang ada “Restoran Masakan Padang” di kota Padang sendiri?

Dalam konteks bisnis, kita bisa melihat bahwa ini adalah sebuah fenomena kekinian. Bagi seorang Pebisnis tentu ia ingin menanamkan modalnya ke bisnis yang teruji. Ada 2 tipe Pebisnis, investor dan enterpreneur. Bagi seorang enterpreneur, dia akan terlibat dalam menjalankan bisnisnya. Sementara bagi seorang investor, dia hanya menanamkan modal dan berharap mendapatkan keuntungan, dimana bisnisnya itu akan menjadi mesin uang yang akan mengalirkan laba.

Kembali ke awal cerita, kenapa si Investor mau membeli hak waralaba (franchise) Restoran Masakan Padang tadi? Kalau secara rasa, bukankah lebih banyak lagi rumah makan lain yang lebih enak masakannya dari rumah makan Padang tadi. Apalagi Padang—lebih tepatnya Minang—terkenal dengan surganya makanan enak. Coba main ke Bukittinggi, Payakumbuh, Pariaman, Padang, Padang Panjang, Solok dan banyak lagi daerah di Sumatera Barat yang suaangaat enaak masakannya.

Bisa saja si Pemilik modal menarik tukang masak yang hebat, atau merger atau membeli salah satu rumah makan yang terkenal atau yang enak-enak disana. Kenapa si pemilik modal mau menjadi investor dengan membeli franchise daripada mengelola rumah makan Padang sendiri?

Francshise sudah terbukti dengan sistemnya, manajemen, aturan baku (SOP), pelayanan dan lainnya. Bagi seorang investor dia ingin main aman dengan mengeluarkan uang ke sistem bisnis yang sudah teruji. Tidak kepada suatu bisnis yang masih mulai atau coba-coba. Makanya sekarang kita lihat dimana-mana marak atau bertebaran franchise baik itu rumah makan, swalayan, bengkel dan sebagainya. Si Pemilik uang tidak mau dipusingkan lagi dengan tetek-bengek bisnis, bisnis jalan dia bisa jalan-jalan, he.he.he…

Ini membuktikan, ketika suatu bisnis sudah teruji barulah ia mempunyai daya jual. Bagi seorang Pelanggan, terkadang kenyamanan menjadi nilai lebih dari sekedar rasa. Walaupun banyak rumah makan Padang yang enak-enak berdiri di Sumatera Barat, rumah makan Padang yang saya sebutkan tadi tetap punya pelanggan sendiri dan kadang penuh. Karena rumah makan ini menawarkan kenyamanan, tempat yang bersih dan suasana yang lebih disukai. Berbeda dengan kebanyakan rumah makan yang lain, tentu saja masih banyak yang suka makan disitu karena soal rasa—nyaman urusan kesekian.

Bagi kita seorang Pebisnis, cerita ini bisa memberikan kita sebuah pembelajaran. Bahwa, ketika bisnis kita sudah teruji, maka kita bisa menjualnya atau menarik investor. Harus ada keunggulan produk atau bisnis yang kita jual. Di era kekinian, sesuai dengan gaya hidup masyarakat yang semakin meningkat, Pelanggan dalam berbelanja terkadang lebih mementingkan kenyamanan daripada rasa atau harga. Tidak hanya soal rumah makan Padang, di pasar-pasar moderen orang lebih suka berbelanja disana daripada pasar-pasar tradisional padahal harga di pasar tradisional lebih murah.

Dalam kasus cerita ini, bahkan bisnis makanan rumah makan Padang yang kantor pusatnya berada di Jakarta berhasil menganeksasi—masuk ke kampung halamannya sendiri dimana disitulah berkuasanya—pusat masakan yang enak-enak!

Iklan

3 tanggapan untuk “Ada Rumah Makan Padang di Kota Padang

  1. aneh bin nyata juga ya,,,knapa diranah minang(padang) sendiri ada rmah makan padang,,dimana2 org dah tw kali,klo rendang yg bisa bikin enak itu cuma ada dipadang,,mna bisa warteg bikin rendang,,
    lagian rmah makan padang adanya cuma dirantau bukan dikampung sendiri,,klo dikampung namanya ya rumah makan aja,,,ga ada nama padangnya,,coz emg posisinya dipadang,,,,anehhhh bin ajaibbbb,,hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s