BBMTadi pagi saya belanja ke pasar, isteri nitip belanja beberapa item untuk masak. Ketika hendak membayar belanja ke kedai belanja, saya kaget ternyata uang 50 ribu tidak cukup lagi untuk belanja beberapa bumbu seperti cabe, bawang, daun bawang, sayuran,  sedikit kentang , dan petai:). Cuma belanja itu saja, tidak termasuk lauk-pauknya karena sebelumnya isteri sudah belanja lauk-pauk di swalayan.

Jika beberapa waktu lalu uang 30ribuan sudah cukup banyak untuk belanja beberapa tambahan pelengkap masak, sekarang uang 50 ribu minimal untuk hal ini. Harga-harga naik tinggi, rakyat semakin sulit untuk membeli.

Saya membayangkan, bagaimana kalau masyarakat yang berpenghasilan lebih kurang 50 ribu perhari. Bahkan masih banyak yang penghasilan kurang dari itu. Apa yang bisa mereka beli? Belum lagi beras, minyak, gas, serta kebutuhan keluarga seperti uang jajan anak, uang sekolah, kontrakan dan sebagainya.

Pemerintah telah menaikkan harga BBM. Maka harga-harga lainnya membubung ikut tinggi.

Bagi kelas menengah, atau karyawan yang bergaji tinggi sebagian mereka no problem dengan kenaikan harga BBM ini. Bagi mereka, kalau pun toh BBM naik tinggal minta sama bos kenaikan gaji. Beres masalah. Tapi bagi rakyat berserak yang gajinya di bawah 100.000 atau lebih kurang 50.000 perhari, ini adalah cekikan yang pelan-pelan menghabiskan napas mereka. Belum lagi masih banyak yang pendapatannya di bawah 50ribuan perhari.

Pemerintah berdalih bahwa kenaikan BBM ini untuk rakyat kecil juga. Subsidi selama ini ke BBM dialihkan ke bantuan tunai ke masyarakat. Tapi, bukankah dengan begitu telah mengajarkan masyarakat untuk jadi mengemis dan merendahkan diri mereka dengan ikut mengantri beramai-ramai dan berjam-jam demi hanya mendapatkan uang tunai yang tidak seberapa?

Yang dibutuhkan rakyat bukan bagi-bagi uang, tapi daya beli dan stabilitas ekonomi. Apalah arti uang yang hanya beberapa ratus ribu saja, jika selepas dari loket mereka ke pasar mendapati harga-harga barang malah semakin tinggi? Kenaikan BBM adalah pemicu, menjadi lokomotif bagi kenaikan harga-harga lainnya. Otomatis harga-harga lain juga ikut naik.

Kembali ke masalah subsidi BBM. Saya tidak perlu beragumentasi dengan cara para intelektual yang memainkan data demi membenarkan atau menentang kenaikan harga BBM.

Bukankah rakyat berhak atas harga BBM yang murah? Jika di beberapa negara maju dan beradab harga BBM murah lalu kenapa di negeri ini malah mahal? Bukankan fungsi  adanya negara demi menjamin kesejahteraaan buat rakyatnya? Jika negara atau pemerintah tidak bisa lagi menyejahterakan rakyatnya, maka jangan disalahkan jika beberapa warganya pindah warga negara dan kuatirnya nanti beberapa wilayah terluar lebih memilih bergabung dengan negara tetangga.

Jika alasannya selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran dan hanya dinikmati oleh segelintir orang, lah itu bukan alasan untuk memahalkan harga BBM. Bukankah itu masalah pemerintah yang tidak bisa mengatur distribusi, hanya orang-orang mampu yang menikmati, dan mengapa sampai bocor diperjual-belikan dan disalahgunakan oleh beberapa gelintir orang/mafia dengan memperdagangkan BBM subsidi? Bukankan ini seperti peribahasa orang-orang dulu, buruk muka, lalu cermin dibelah? Pemerintah tidak bisa urus dirinya lalu kenapa rakyat berserak yang disalahkan dan menanggung  derita?

Toh,  kalau pun BBM subsidi selama ini dinikmati oleh orang-orang mampu berkendaraan bagus. Boleh-boleh saja ‘kan? Jangan salahkan mereka jika membeli BBM murah itu ‘kan hak mereka sebagai rakyat? Bagaimana tidak mereka akan beli BBM murah, sebab dengan kondisi jalan raya yang macet parah akan memakan boros BBM? Orang-orang tentu akan berhitung dalam pembelian dan pemakaian BBM. Bagaimana rakyat tidak akan berlomba-lomba naik kendaraan pribadi, jika transportasi umum tidak memadai dan malah menyengsarakan? Sudah tentu orang akan nyaman naik kendaraan pribadi dibanding naik kendaraan umum yang mana penumpang di dalamnya ditumpuk seperti ikan di kaleng sardine? Belum lagi kejahatan dan gangguan lainnya?

Seandainya negeri kita seperti negara tetangga atau pun negeri-negeri beradab lainnya. Dimana transportasi umum begitu menyenangkan dan murah. Tentu saja rakyat akan dengan senang hati menaruh mobil-mobil pribadi di rumah dan naik kendaraan umum.

Seharusnya transportasi umum dibenahi dulu, jalan-jalan diperbaiki dan layak dipakai, daya beli kuat dulu, baru bicara kenaikan harga BBM.

Boleh saja pemerintah beralasan bahwa kenaikan BBM ini adalah warisan pemerintah sebelumnya dan karena ada kesepakatan dengan pihak internasional untuk menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi. Lalu pertanyaan terakhirnya, pemerintah ini sebenarnya berpihak kepada siapa sih? Rakyat atau kapitalisme internasional?

Lalu dimana jargon Trisakti yang selalu didengung-dengungkan: berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya.

Pada akhirnya, untuk memahami derita rakyat, memang kita harus terjun langsung ke bawah.  Main dan ikut belanja ke pasar-pasar, pergi ke sekolah-sekolah dan tempat lainnya rakyat berkumpul. Bukan semata sekedar lewat, senyum-senyum dan pencitraan belaka.

Dengan blusukan singkat ke pasar pagi ini, setidaknya saya jadi mengerti dan berempati, betapa tangguhnya para ibu rumahtangga kita dalam menyiasati belanja sehari-hari di tengah keterbatasan uang belanja dari suami….

Bagi para suami, mari semangat terus bekerja! 😉

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Harga-harga Naik Tinggi, Beberapa Tidak Lagi Terbeli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s