Kopi, Hujan, dan Banjir

Hujan dari semalam, basah dan dingin dimana-mana. Malas keluar, membuat saya cuma berdiam diri saja di rumah. Sambil menyelesaikan beberapa kerjaan, multitasking melihat status teman-teman di media sosial.

Kopi, macet, banjir dimana-mana. Itulah update paling banyak yang terbaca di media sosial. Selain kopi, tentu saja status-status tadi ujung-ujungnya mengerucut ke pimpinan Jakarta dan Republik ini.

Mengenai kopi, tentu saja hujan-hujan dan dingin-dingin begini merangsang sekali begitu melihat kopi hitam kental terhidang di secangkir kopi. Walau bukan maniak kopi, tapi saya terbiasa minum kopi dari kecil. Sudah tentu kopi asli, bukan jenis sachetan atau instan. Beberapa varian kopi jadi koleksi saya, bahkan sampai membeli alat french press untuk menghidangkan kopi serta membeli alat grinder untuk mengiling kopi agar bisa mendapatkan rasa kopi yang segar dan mantap.

Kopi, satu teman yang asik menemani hujan begini.

banji-jktLalu, status banjir mengepung Jakarta. Di beberapa titik banjir melanda Jakarta. Sampai-sampai istana negara pun tak luput dari banjir ini. Sempurna sudah alam atau Tuhan menguji pemimpin yang dipilih rakyat untuk memimpin Jakarta. Seolah sebagai pembuktian, bahwa mereka yang dulunya berkata begitu mudah menyelesaikan persoalan Jakarta dan persoalan Indonesia.

Dulu, ketika masih menjadi pemimpin lokal para pemimpin ini begitu mudahnya bilang: mudah dan gampang itu menyelesaikan persoalan Jakarta. Beri saja kami kesempatan maka akan selesai! Lalu, rakyat jelata begitu saja percaya dan lalu memberikan mandat Jakarta. Kalau nggak percaya baca aja beritanya di link ini. Kemudian ketika berhasil mempimpin Jakarta, tapi ternyata tidak berhasil juga. Malah bilang lagi, masalah ini akan bisa diatasi kalau beliau bisa jadi presiden, baca link ini.

Dan ketika macet semakin parah di Jakarta. Banyak kritik dan komentar bertebaran, pemimpin ini dan para pendukungnya berciloteh, persoalan Jakarta tak bisa diselesaikan hanya dengan kekuasaan Jakarta. Harus menjadi orang nomor satu di republik ini agar mudah menyelaikan carut-marut Jakarta. (Baca link ini: Jokowi: Macet dan Banjir Lebih Mudah Diatasi jika Jadi Presiden). Lalu, kembali rakyat jelata ini terpesona dan menyerahkan kursi nomor satu negeri ini.

Dan ketika Jakarta dan republik ini sudah dikuasai, seolah sang waktu semakin membuktikan kualitas orang-orang yang terpilih ini. Baik yang di parlemen maupun pemerintah seolah sama saja. Konflik parlemen, pertikaian Polri-KPK, dan sekarang banjir malah melanda.

Boleh-boleh saja kita tidak serta-merta menyalahkan para pemimpin ini atas musibah atau gejolak krisis negeri ini. Tapi rakyat tentu saja ada yang tidak lupa, bahwa mereka ini dulu jumawa pernah berkata, beri saya kesempatan maka saya dengan mudah menyelesaikan persoalan Jakarta—dan Indonesia.

Sebuah kesombongan dijawab oleh alam. Katanya mudah mengataasi Jakarta, lalu dijawab oleh Alam (mungkin oleh Tuhan) dengan hujan lebat dan banjir dimana-mana. Lalu, sang Gubernur mudah saja menjelaskan bahwa ini adalah sabotase.

Kebohongan mobil Esemka dan niat memajukan mobil nasional, lalu tekad kuat untuk mengatasi krisis macet Jakarta dan sumpeknya jalanan Indonesia oleh mobil-mobil non mobnas terjawab sudah. Sang Presiden sudah menyepakati dengan ditanda-tanganinya kerjasama antara pihak Malaysia dengan pihak swasta Indonesia—yang ternyata beliau ini adalah orang kuat tim sukses sang presiden (lagi-lagi kolusi). Esemka entah kemana, mobil nasional entah kemana pula konsepnya. Yang ada malah membuka kerjasama memasukkan mobil Malaysia ke Indonesia.

Inilah ironi negeri ini. Dan..tentu saja masih ada yang percaya dan berharap….

Satu pemikiran pada “Kopi, Hujan, dan Banjir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s