Diary Mei ’98: Dari Trisakti hingga Turunnya Soeharto

Sebuah kesaksian dari sudut pandang mahasiswa kampus Budi Luhur

Oleh: Helsusandra Syam

 

98Menara kesombongan orde baru ternyata tidak cukup kuat untuk menahan terpaan badai krisis. Istana pasir yang dibangun, megah rupanya tapi rapuh isinya. Krisis moneter telah menghantarkan rupiah melemah sampai Rp 17.000 per dollar Amerika. Krisis multidimensial menggejolakkan mahasiswa untuk berteriak: REFORMASI!!! Aksi-aksi keprihatinan bergelora di setiap kampus. Ketidakbecusan para pemimpin bangsa, korupsi, kolusi dan nepotisme yang seperti kanker ganas berurat-berakar ke seluruh negeri, menjadi tema sentral dalam setiap demonstrasi.

Kisah ini adalah sebuah ledakan akumulasi dari kekecewaan para mahasiswa dalam menyikapi keadaaan kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga terjadilah pendudukan gedung MPR/DPR—dan kesaksian bahwa kampus Budi Luhur adalah kampus pertama yang masuk ke gedung MPR/DPR—hingga mengakibatkan turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan yang selama 32 tahun sudah didudukinya.

Pada saat itu hari menunjukkan Selasa, 12 Mei 1998. Langit Jakarta kelabu.

Aksi keprihatinan yang dilakukan oleh para mahasiswa kampus Trisakti telah dinodai oleh serigala-serigala haus darah yang keluar dari persembunyiannnya di belantara kekejaman. Aksi yang semula berlangsung tertib—walau sempat timbul sedikit ketegangan dengan aparat—akhirnya dapat tercapai saling pengertian antara kedua belah pihak. Para mahasiswa yang sudah terlanjur keluar kampus, akhirnya mau mundur kembali memasuki areal kampus.

Tiba-tiba, entah darimana datangnya serigala-serigala ganas pun bagai keluar dari dalam bumi. Memuntahkan kebencian dan perang lewat mulut-mulutnya. Tiba-tiba aparat keamanan memuntahkan peluru-peluru tajam ke arah kerumunan mahasiswa. Keberingasan begitu saja dipertontonkan. Peluru-peluru tajam melesat, pentungan-pentungan, tendangan, pukulan dan kekerasan lainnya diarahkan ke para mahasiswa. Akibatnya, 4 orang mahasiswa Trisakti dan beberapa orang non mahasiswa roboh tewas! Tinta sejarah yang berdarah ditorehkan di bumi Indonesia. Lagu pilu berkumandang di cakrawala. Kisah besar pun bermula!

Jakarta pun membara akibatnya. Lagu perang telah dikumandangkan dan kekerasan terpicu dan bermula. Mulailah kita saksikan kebiadaban dipertunjukkan dan gambaran bangsa pun semakin buram.

 

Rabu, 13 Mei 1998

Pemakaman Tanah Kusir seakan tidak mampu menampung ribuan pelayat yang menghadiri prosesi pemakaman 2 orang mahasiswa Trisakti, yaitu Hery dan Elang akibat ditembak oleh aparat kemaren Selasa. Gemuruh isi dada para mahasiswa yang mengantar, seakan siap menghantam apa saja yang ada di depannya. Semua orang penuh emosional.

Kemarahan telah menyebar di setiap kampus dan setiap isi dada anak bangsa.

Malamnya, sekitar pukul 19.00 mahasiswa Budi Luhur bergabung dengan para mahasiswa kampus Mercu Buana (UMB) untuk mengikuti malam renungan. Dengan dua bus metromini penuh sesak kami berangkat kesana. Orasi-orasi penuh emosi dan airmata tumpah dalam acara ini.

Setelah acara di UMB, kami kembali ke kampus BL. Malam itu juga sekitar pukul setengah duabelas kami segera mengadakan rapat untuk membahas perkembangan yang terjadi dan langkah apa yang akan dilakukan oleh para mahasiswa Budi Luhur. Akhirnya disepakati untuk mengadakan aksi keprihatinan pada esok harinya (Kamis). Malam itu juga sambil bergadang kami dari Senat Mahasiswa bersama beberapa orang kawan menyiapkan perangkat-perangkat untuk mimbar bebas besok.

 

Kamis, 14 Mei ’98, denyut Jakarta semakin cepat

Pukul 11.00 mimbar bebas pun dimulai di kampus Budi Luhur. Walaupun dilakukan secara spontanitas, tanpa persiapan yang matang sebagaimana biasanya untuk persiapan aksi-aksi, massa yang hadir ramai sekali. Acara berlangsung cukup tertib dan aman. Tampi menjadi orator dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa BL sendiri, dosen maupun pejabat akademik, mahasiswa dari kampus lain, pelajar, masyarakat sampai seniman jalanan (pengamen) pun ikut serta mendendangkan lagu-lagu reformasi dan lagu-lagu kritik panas yang antusias didengar dan diikuti massa. Kampus-kampus yang tercatat hadir di mimbar bebas adalah STIE Bhakti Pembangunan, Universitas Bina Nusantara, Universitas Atmajaya dan lainnya lagi.

Semakin siang mimbar bebas semakin ramai. Suasana di luar kampus mulai panas. Beberapa truk pasukan militer dan kepolisian telah merapat dan berjaga-jaga di luar gerbang kampus. Kami terpaksa menutup pintu gerbang kampus untuk mencegah masuknya provokator dan hal-hal lain yang tidak diinginkan (dari rekaman video kaset salah satu teman yang diputar kemudian hari, terlihat beberapa orang aparat berpakaian preman telah berbaur dengan massa di depan gerbang. Jangan tanya bagaimana kami tahu, kami punya cara sendiri untuk membekan mana intel mana masyarakat awam).

Ketika aku ke belakangan (ke yayasan kampus) untuk menjemput pak Sutrisna Hari untuk ikut berpartisipasi dalam mimbar bebas dan meminta dukungan moral dari yayasan dalam aksi mimbar bebas ini, tiba-tiba terdengar suara keras tembakan dari depan kampus.

Tanpa sadar pak Sutrisna Hari aku tinggalkan dan aku berlari kencang ke depan kampus. Tembakan menyalak membuat panik massa dan masyarakat yang berada di luar gerbang. Rupanya tembakan dikeluarkan untuk peringatan terhadap massa rakyat yang mulai beringas. Keadaan rupanya telah bergejolak di luar kampus. Dari arah Kreo dan Gang Masjid terlihat asap tebal mengepul ke angkasa. Rupanya aksi pembakaran dan chaos telah dilakukan oleh masyarakat. Acara mimbar bebas pun berakhir pukul empat sore.

Aksi pembakaran dan penjarahan telah terjadi dimana-mana. Kemarahan dan keberingasan massa telah bergejolak dan meledak. Keramahan dan kasih-sayang bangsa Indonesia yang terkenal selama ini musnah begitu saja. Jakarta lumpuh hari itu.

Setelah melakukan aksi mimbar bebas, kami mahasiswa ikut serta membantu pengamanan dan pemadaman kebakaran yang terjadi di Gang Masjid serta ikut menenangkan massa. Beberapa toko/ruko telah hangus terbakar. Kami menolong pemilik toko menyelamatkan barang-barang yang tersisa dan beberapa anggota keluarga mereka. Ada beberapa pemilik toko keturunan Cina yang kami selamatkan dan evakuasi.

Mobil pemadam kebakaran yang datang tidak bisa menuju lokasi, ternyata diblokir massa di Pasar Cipulir. Aku dan beberapa rekan mahasiswa terpaksa menuju kesana untuk menjemputnya. Rupanya mahasiswa begitu dihargai oleh masyarakat. Mobil pemadam kebakaran yang tadinya diblokir akhirnya dibiarkan lewat dengan pengawalan mahasiswa. Hidup Mahasiswa!

Massa membludak ke jalanan dan telah menumpahkan kemarahan mereka yang selama 32 tahun terkekang dalam tirani. Sekitar 35 mobil dibakar massa berderet antara Batas dan Kereo. Kerusuhan menjadi-jadi sampai malam datang menjemput. Kami para mahasiswa bersama karyawan dan dosen yang tidak pulang ke rumah serta Satpam kampus terus siaga dan mengamankan kampus sampai pagi.

Penginapan kami para mahasiswa pun mulai pindah dari kos, dari rumah ke kampus. Kampuslah telah menjadi rumah kami semenjak beberapa hari lalu.

 

Jumat, 15 Mei ’98

Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia telah membara dan luluh-lantak oleh kerusuhan dan penjarahan. Melalui Senat Mahasiswa, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Budi Luhur mengeluarkan pernyataan sikap KBM Budi Luhur terhadap suasana dan aksi-aksi massa yang terjadi. Inti dari pernyataan sikap itu adalah keprihatinan terhadap kerusuhan dan penjarahan yang terjadi. KBM Budi Luhur meminta seluruh komponen bangsa untuk arif dan tenang.

Siangnya aku dan beberapa teman menuju kampus UI Salemba untuk berdiskusi dan berkoordinasi dengan teman-teman Senat Mahasiswa UI. Selesai shalat Jumat aku dan teman BL menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk melihat mayat korban-korban kerusuhan. Seumuran hidup baru kali itu aku melihat mayat-mayat manusia bertebaran tak utuh lagi. Seperti pokok kayu yang hangus terbakar, tidak berbentuk dan baunya begitu menyengat sekali. Aku mual dan muntah melihat ini. Rasa campur aduk dan serta bau yang menyengat membuat kami tak bisa berlama-lama disini. Sampai beberapa hari bau mayat terbakar ini masih saja seolah menempel di hidung dan membual mual isi perut.

 

Sabtu-Minggu, 16-17 Mei ’98

Beberapa kali pertemuan secara intensif diadakan secara bergerilya oleh para Ketua Senat Mahasiswa se-Jakarta dan berpindah-pindah tempat. Rapat ini membas perkembangan terakhir dan bagaimana stategi-taktik mahasiswa menghadapi suasana terakhir di negeri ini. Terakhir diadakan rapat rahasia di kampus IKIP Jakarta (sekarang UNJ).

Rapat marathon berlangsung dari Sabtu sampai Minggu di kampus IKIP Jakarta. Rapat berlangsung sampai malam hari. Mereka akhirnya memutuskan untuk “menguasai” gedung MPR/DPR yang “katanya” simbol rakyat. Dibahaslah tentang teknis dan cara untuk menguasai gedung ini. Sebab, sudah tentu kalau menggunakan cover mahasiswa untuk masuk gedung ini akan sulit sekali.

Sementara itu dikirim pulalah informasi ke kampus masing-masing untuk persiapan dan mem-back up aksi ini.

Kesepakatan rapat adalah, pada hari Sening 18 mei delegasi FKSMJ akan datang ke gedung MPR/DPR dengan membawa statement yang intinya menuntut MPR untuk mengadakan Sidang Istimewa dan mencabut mandat terhadap Presiden Soeharto. Delegasi FKSMJ akan memutuskan menduduki/berada di gedung MPR/DPR sampai dipenuhinya tuntutan diadakannya Sidang Istimewa.

Sudah tentu dengan rombongan dan agenda seperti ini tidak akan mungkin kami bisa masuk ke Gedung MPR/DPR.

Akhirnya didapat cara untuk masuk ke gedung MPR/DPR RI dengan menumpang dalam rombongan rektor IKIP yang akan beraudiensi dengan pimpinan MPR/DPR RI Senin esok.

Sebenarnya direncanakan aksi pendudukan MPR/DPR akan dilaksanakan pada saat momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Tapi mengingat sudah bocornya tanggal tersebut dan beredar luasnya tentang aksi serempak mahasiswa dan rakyat di Monas, maka diputuskan untuk bergerak cepat dan mendahului tanggal 20 Mei dan difokuskan aksi mahasiswa di MPR/DPR. Diputuskan teknik keberangkatan dari IKIP Jakarta pada hari Senin, 18 Mei dan berkumpul jam 09.00 pagi.

Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh tahu tentang rencana aksi ini. segala informasi dirahasiakan. Kawan-kawan di kampus pun tidak ada yang tahu. Mengingat situasi pada saat itu yang sudah tidak menentu. Intel-intel sudah mulai berkeliaran. Aksi besar-besaran yang rencananya akan diadakan tanggal 20 Mei pada momen Hari Kebangkitan Nasional yang sudah keburu tersebar luas kemana-mana.

Hari Minggu malam 17 Mei itu, sebagian para Ketua/delegasi Senat Mahasiswa ada yang bermalam di IKIP, sementara yang lainnya pulang dan kembali ke kampus masing-masing untuk mensosialisasikan dan mempersiapkan pergerakan untuk menduduki MPR/DPR.

Hitungan wkatu dihitung dalam hitungan detik. Semua berpacu dalam irama percepatan waktu dan deguban dada. Terasa sekali dada ini berdegub kencang. Semua perencanaan aksi benar-benar diarahasiakan sekali, untuk menjaga jangan sampai bocor ke aparat. Mana teman mana lawan kita tidak tahu pasti waktu itu. Intel-intel sudah bertebaran dan berbaur ke dalam kampus-kampus. Ingat, bagaimana tertangkapnya intel yang menyusup di kampus IKIP Jakarta. Bukan tidak mungkin intel itu direkrut dari mahasiswa yang mungkin adalah teman kita sendiri. Segala informasi dijaga rapih sekali. Hari Seninnya direncanakan hanya mengirim perwakilan masing-masing kampus hanya dua orang saja sebagai tim perintis, salah satunya harus Ketua Senat Mahasiswa.

 

Senin, 18 Mei ’98

Dalam suasana tegang dan kelelahan aku tertidur di ruang Senat Mahasiswa BL. Dini hari, sekitar jam 3 aku dibangunkan oleh Kemas, yang waktu itu Ketua II Senat Mahasiswa. Ia membisiki untuk bersiap-siap untuk berangkat pagi-pagi sekali ke IKIP Jakarta. Julianto, Ketua Umum Senat Luhur. Jam 05.00 aku pulang sebentar ke rumah untuk mempersiapkan pakaian untuk beberapa hari. Suasana seolah-olah akan menuju perjalanan panjang dan tidak menentu kapan pulang.

Senin pagi itu, dari IKIP Jakarta dengan menaiki 2 bus metromini kami rombongan FKSMJ dengan koordinator lapangan (Korlap) Hanry Basel (Ketua Senat Mahasiswa IKIP Jakarta) mulailah berangkat ke MPR/DPR dengan mendompleng rombongan rektor IKIP Jakarta yang akan beraudiensi dengan pimpinan MPR/DPR. Tercatat ada sekitar 75 orang delegasi FKSMJ dari 43 kampus masuk ke MPR/DPR sebagai tim pionir.

Jam menunjukkan pukul sebelas ketika sampai. Suasana masih sepi, yang ada hanyalah para wartawan dan aparat keamanan yang mengawal ketat. Rombongan kami sempat ditahan pihak keamanan gedung. Setelah menunjukkan surat pemberitahuan dari kepolisian dan suara lantang dari dosen IKIP barulah kami diizinkan masuk.

Dengan humas MPR/DPR diadakanlah lobby dan negosiasi agar dapat bertemu dengan pimpinan Dewan. Permintaan tidak dikabulkan, dan hanya bisa ditemui oleh fraksi-fraksi. Kami menolak, yang kami inginkan agar bisa dipertemukan dengan pimpinan Dewan/Majelis yaitu Harmoko.

Siangnya, sementara negosiasi masih berlangsung, masuklah rombongan mahasiswa yang tergabung dalam Forkot (Forum Kota).

Akhirnya kami mengadakan jumpa pers, dan membacakan pernyataan sikap FKSMJ yang intinya menuntut MPR untuk mengadakan Sidang Istimewa dan mencabut mandat presiden Soeharto.

Karena desakan terus-menerus dari kami, akhirnya Harmoko sebagai pimpinan MPR/DPR dan pimpinan Dewan lainnya bersedia ditemui. Setelah pertemuan mereka mengadakan jumpa persa. Pimpinan Dewan meminta Soeharto secara arif dan bijaksana untuk mengundurkan diri. Terlihat raut pucat dari wajah mereka. Namun kami bergembira!

Rekan-rekan Forkot akhirnya memutuskan untuk pulang. Sementara kami memutuskan untuk menginap sampai diadakannya Sidang Istimewa dan berjanji akan mendatangkan massa esok harinya untuk mem-push pimpinan dan anggota Dewan/Majelis untuk segera menyelenggarakan Sidang Istimewa. Malam harinya Pangab (panglima ABRI)/Menhankam Jenderal Wiranto menyatakan bahwa pernyataan Harmoko adalah pendapat pribadi walaupun disampaikan secara kolektif. Malam itu pun kami menginap, tapi sampai kapankah…?

Benarkah akan diadakan Sidang Istimewa? Kami tidak tahu, dan Pangab sudah menganulir pernyataan pimpinan Dewan. Namun yang jelas kami semua sudah siap mati! Tumbal untuk harga Sidang Istimewa adalah para pimpinan Senat Mahasiswa. Kami masih ingat traumanya kasus 27 Juli 1996 dan desas-desus kami pun akan di-27 Juli-kan. Seandainya malam itu kami diserbu dan dibantai, kami sudah siap sedia. Seandainya para pimpinan senat mahasiswa ini dihabisi, maka pastilah akan besar akibatnya! Para mahasiswa tentu tidak akan rela dan marah besar jika pimpinannya dihabisi!

Lalu kami mencari posisi untuk mendirikan tenda kecil di pelataran dalam gedung, untuk tempat barang-barang. Sedangkan untuk tidur, hanya beralaskan jaket almamater masing-masing di lantai ubin yang dingin dan mengkilap. Malamnya psy warpun mulailah terjadi! Isu sweeping dan penyerbuan mendadak akan terjadi oleh aparat keamanan membuat suasana semakin tegang. Dengar-dengar kabarnya MPR/DPR sudah dikepung. Kami akan di-27 Juli-kan (Bagi yang tahu peristiwa 27 Juli 1996 tentu akan paham hal ini. Sudah tentu semua kami tegang dan kuatir. Apalagi ada info ada yang melihat seperti sinar laser sniper dari puncak gedung TVRI yang berada di sebelah gedung MPR/DPR.

Kami semua semakin tegang dan was-was.

Akhirnya dari Syarwan Hamid (pimpinan fraksi ABRI) kami mendapat jaminan bahwa beliau menjamin keselamatan mahasiswa dari teror dan penyerbuan aparat, dengan syarat mahasiswa tidak meledek aparat dan menjaga ketertiban. Di kemudian hari barulah kami tahu, ternyata malam itu Syarwan Hamid pun tak berani pulang malam itu. Kami tahu, pagi-pagi sekali kami melihat beliau masih berada di gedung dan ternyata bajunya belum diganti. Malam itu beliau disembunyikan di dalam gedung. Suasana semakin tidak jelas, apalagi sudah ada counter berita dari Panglima ABRI mengenai aksi dan statement di gedung MPR ini, dan nyatanya memang kami sudah dikepung malam itu.

Malam itu, dari salah satu teman yang membawa handphone (HP masih langka waktu itu) kami mendapat informasi-informasi yang berkembang dan semakin menegangkan. Beberapa orang teman sudah pasrah dan masing-masing memanjatkan doa dengan cara masing-masing. Ada juga salah satu teman yang mencoba memutuskan untuk melarikan diri, tapi setelah diberikan kesadaranoleh salah seorang teman, ia pun pasrah.

 

Bersambung nanti ya….

 

 


Satu pemikiran pada “Diary Mei ’98: Dari Trisakti hingga Turunnya Soeharto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s