Untuk membaca bagian pertama, silahkan klik link ini ( http://t.co/NdvgSTaVvI)

—————————————–

Selasa, 19 Mei ’98, matahari cerah muncul di pagi itu

Setelah melewati malam yang menegangkan, pagi pun cerah menyambut kami. Sekitar jam sembilan lewat, kami dikejutkan oleh suara heboh dari depan gedung. Ternyata telah masuk rombongan pertama mahasiswa ke dalam gedung MPR/DPR.

“Rombongan mahasiswa darimanakah?”, pikirku. Aku pun bergegas ke arah depan gedung. Teman-teman yang lain ikut juga menyambut. Ternyata itu adalah rombongan mahasiswa Kampus Biru Budi Luhur dengan sekitar 300 orang massa. Mahasiswa Budi Luhur adalah mahasiswa pertama yang datang untuk ikut menduduki gedung MPR/DPR. Sehabis subuh para mahasiswa BL sudah berkumpul dan berangkat ke gedung MPR/DPR. Awalnya dari pintu gerbang belakang mereka datang. Tapi karena gerbang tertutup dan terkunci, mereka tidak bisa masuk. Sebagian memanjat pagar tinggi lalu menyelinap ke parit. Kemudian mereka masuk ke basement parkiran. Menyerbu masuk dari belakang gedung Nusantara. Mungkin karena banyaknya mahasiswa yang mendesak masuk akhirnya security membuka gerbang. Issuenya sih mereka menyandera security. Setelah jam 8 lewat barulah gerbang depan juga dibuka. Masuklah semua rombongan mahasiswa yang datang dari mana-mana.

Kawan-kawan BL langsung disambut oleh para delegasi FKSMJ yang rata-rata adalah Ketua Senat Mahasiswa. Rama Pratama Ketua Senat Mahasiswa UI terlihat ikut menyambut dan menyampaikan ucapan selamat datang.

Semangat yang sempat down akibat psy war semalam terasa bangkit kembali begitu melihat rombongan mahasiswa BL. Aku merasa “hidup” kembali ketika melihat kawan-kawan satu kampus. Berikutnya beberapa kampus lain menyusul memasuki gedung MPR/DPR. Di tangga gedung oval (gedung utama) langsung diadakan orasi. Silih berganti para mahasiswa dan delegasi menyuarakan suara-suara reformasi: Soeharto harus turung sekarang juga! Sidang Istimewa sekarang juga!

Semakin siang semakin banyak massa mahasiswa dari berbagai kampus memasuki halaman gedung. Tak terasa sebentar saja MPR/DPR telah dipenuhi oleh ribuan massa mahasiswa.

Sekitar pukul 14.00, terlihat massa Pemuda Pancasila, FKPPI, PPM dengan pimpinannya masuk berserta rombongan pendekar Banten yang pro Soeharto sebanyak kurang lebih 300 orang. Diantara teman-teman ada yang melihat mereka membawa senjata tajam (golok). Suasana semakin pans. Mahasiswa mencoba menghadang gerak maju mereka. Hampir terjadi bentrok fisik antara kedua belah pihak. Setelah bersitegang, lama-kelamaan mereka pun pulang.

Malam itu, gedung MPR/DPR seperti menjadi pasar malam. Mahasiswa bertahan menduduki gedung MPR/DPR. Dimana-mana, di setiap tempat luang dan pojok gedung terlihat mahasiswa memenuhi lantai ubin. Suasana ini kontras sekali dengan suasana kami semalam yang penuh ketegangan. Gedung MPR/DPR pun “ditiduri’ oleh para mahasiswa. Tengah malam, kembali ada isu akan ada penyerangan oleh Pemuda Pancasila. Kami pn bersiaga, beberapa orang mahasiswa ditugaskan berkelompok berjaga-jaga di setiap pintu dan celah masuk gedung.

Rabu, 20 Mei ‘98

Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional. Semua mahasiswa yang ada di gedung memperingati hari itu sebagai hari kebangkitan dari penindasan oleh rezim orde baru. Mimbar dadakan yang diadakan di pelataran depan gedung diisi dengan orasi-orasi. Badut-badut politik, oportunis kesiangan pun mulai silih berganti menampakkan diri dan ikut pula berpidato. “Biarin aja”, pikir kami.

Sementara itu aksi massa yang direncanakan di Monas dibatalkan oleh Amien Rais. Beliau pun menuju ke MPR/DPR. Hari itu puluhan ribu massa tumpah-ruah berbaur rupa memadati gedung.

Siangnya pertemuan antara 40 lebih Ketua Senat Mahasiswa/perwakilan dengan pimpinan MPR/DPR. Mahasiswa mendesak MPR untuk menyelenggarakan Sidang Istimewa segera. Setelah pertemuan itu Harmoko dan rombongan keluar dari ruangan dengan muka tegang. Wartawan mendesakkan pertanyaan apa hasil pertemuan. Harmoko menolak menjawab, “Tanya saja ke mahasiswa. Mereka akan menjelaskannya”. Ia bergegas pergi.

Lalu mahasiswa mengadakan jumpa pers. Sarbini—Ketua Senat Mahasiswa Univ. 17 Agustus Jakarta—sebagai jurubicara FKSMJ menyampaikan keputusan pimpinan MPR/DPR. Keputusannya pimpinan MPR/DPR memberi waktu kepada Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannya paling akhir Jumat. Jika tidak mengundurkan diri maka Dewan akan mengadakan rapat hari Senin, 25 Mei untuk menyiapkan Sidang Istimewa. Mahasiswa melonjak gembira. Semua bergembira atas ultimatum itu.

Sekitar jam empat sore, isu-isu meresahkan mulai beredar. Massa yang membaur dan bercampur semakin ramai dan beragam. Dikarenakan situasi dan kondisi yang semakin tidak menentu dan meresahkan, maka sebagian mahasiswa Budi Luhur minta disiapkan bus kampus untuk menarik massa ke kampus, dan esoknya akan kembali lagi. Teman-teman yang ingin balik dan belum menyiapkan diri akan ditarik menginap di kampus.

Malamnya terjadi pembakaran di lantai atas gedung oleh oknum-oknum yang ingin menodai perjuangan mahasiswa. Mereka berhasil menyusup ke dalam gedung.

Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, sekitar pukul 20.15 rombongan mahasiswa BL pun dievakuasi ke kampus dengan menggunakan 2 bus kampus yang penuh sesak. Aku dan teman-teman lainnya tetap bertahan dan berjaga-jaga di gedung MPR/DPR.

Kamis, 21 Mei Dini Hari, Semua Siaga

Sekitar pukul 00.15 tertangkap 5 “ekor” penyusup. Ada yang kedapatan membawa senjata tajam. Suasana semakin tegang dan panas.

Sekitar pukul 08.00 waktu DPR, masuk sekitar 30 truk pembersih sampah ke gedung. Mahasiswa BL yang bertahan di gedung ikutan membantu mereka.

Dan…. akhirnya pada pukul 09.15 WIB…. Alhamdulillah… Soeharto mundur dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia. Tapi jabatannya langsung diserahkan ke Habibie. Lewat layar televisi yang dipasang di tengah gedung, para mahasiswa menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Shock, surprise! Para mahasiswa gembira. Ada yang berpelukan, melonjak dan berbagai cara mengekspresikan kegembiraannya. Mereka menyanyikan lagu Sorak-sorak Bergembira di semua tempat. Ada yang berlarian sambil bergandengan tangan mengelilingi taman tengah. Ada yang langsung menceburkan diri ke kolam depan. Ada yang berjingkrak-jingkrak. Semua bergembira dengan berbagai bentuk tingkah masing-masing. Semua terharu! Pokoknya macam-macam deh tingkah laku dan ekspresi yang ditampilkan. Yang jelas, semua bergembira sekali!

Di samping gembira, FKSMJ juga merasa tidak puas. Karena proses menyerahan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie tidak melewati proses kedaulatan rakyat.

Pukul 12.00, masyarakat umum sudah boleh masuk ke gedung. Pukul 14.00, dikarenakan sudah tidak “steril” lagi massa yang berada di MPR/DPR maka FKSMJ memutuskan untuk tidak ada lagi aksi atas nama FKSMJ setelah pukul 13.00. para mahasiswa yang tergabung dalam FKSMJ dievakuasi ke kampus masing-masing untuk menyiapkan aksi berikutnya.

Setelah pukul lima sore, mahasiswa BL yang dievakuasi tiba dengan selamat di kampus. Pas masuk pintu gerbang kampus, teman-teman mahasiswa semua serempak meneriakkan yel-yel “Turunkan SKS! Turunkan SKS!” Haa…haa..haa… Mas-mas Satpam dan orang-orang yang ada di kampus cekikan tertawa….

Sementara itu, meskipun secara resminya rombongan FKSMJ dan mahasiswa BL telah ditarik semua, tapi masih ada juga beberapa orang mahasiswa BL yang tetap bertahan di gedung. Massa mahasiswa yang berada di gedung bukan lagi atas nama FKSMJ.

Jumat, 22 Mei ‘98

Sekitar pukul sembilan pagi, masuk rombongan mahasiswa ke gedung MPR/DPR, yang ‘ngakunya sebagai massa Habibie (dari spanduk-spanduk yang mereka bawa bisa terbaca dukungan terhadap Habibie). Bentrokan parah hampir terjadi antara massa pro Habibie dengan massa mahasiswa yang masih ada di dalam yang menolak peralihan kekuasaan ke Habibie.

Jam sembilan malam lewat, di kampus aku mendapat informasi dari kawan di sentra informasi yang berada di kampus Moestopo bahwa malam ini akan ada sweeping di gedung MPR/DPR. Diberi batas waktu sampai jam 05.00 pagi untuk mengosongkan gedung. Jika tidak, maka ABRI akan menyerbu dan melakukan tindak kekerasan. Dari rekan mahasiswa yang berada di dalam gedung, datang permintaan bus untuk evakuasi massa ke kampus.

Sabtu, 23 Mei ‘98

Jam 00.45 dini hari, masuk lagi informasi dari sentra informasi Moestopo mengabarkan bahwa telah terjadi penyerbuan oleh ABRI (Angkatan Darat) ke gedung sekitar jam 23.30 (Jumat). Didapat informasi bahwa tentara sempat mengeluarkan tembakan yang mengakibatkan mahasiswa panik dan kocar-kacir. Benar-benar seperti perang, tentara menyerbu masuk seolah menghadapi para teroris.

Setelah menguasai gedung, para mahasiswa dikumpulkan di halaman depan gedung.

Dari kampus kami—aku dan beberapa orang teman—menyiapkan kendaraan 2 mobil Carry. Langsung ke Moestopo, setelah itu ke MPR/DPR. Sesampai disana terhalang tidak masuk. Gedung telah dikepung dan dijaga sangat ketat. Tapi setelah mencari celah dan bergabung dengan tim nego dan wartawan, bisa juga kami masuk lewat bagian samping depan.

Di dalam terjadi negosiasi antara mahasiswa dengan aparat tentang mekanisme dan teknis evakuasi. Mahasiswa akan dievakuasi ke kampus Atmajaya yang berada di Semanggi. Sebagian mahasisw minta long march, sebagiannya lagi setuju dengan kendaraan yang telah disediakan aparat. Setelah bertemu dengan rekan-rekan BL yang tersisa, maka diputuskan mereka akan kami tunggu di Atmajaya.

Pukul 02.30, para mahasiswa dievakuasi ke kampus Atmajaya, setelah ada kesepakatan mahasiswa akan dikawal pasukan dari Marinir.

Kami yang menunggu di Atmajaya sempat down, baik fisik maupun mental karena terlalu lama menunggu. Setelah menunggu sekian jam, kok rombongan belum sampai juga.

Menjelang subuh, mulailah berdatangan rombongan mahasiswa ke Atmajaya. Sempat terjadi kepanikan karena ternyata pasukan Marinir melakukan manuver/atraksi dengan tank-tanknya berputar-putar di Semanggi. Suara yang ditimbulkan oleh pergesekan rantai tank dengan aspal serta suara mesin yang menderu-deru menimbulkan bunyi yang sangat mencekam dan seakan-akan suasan akan perang. Di lain waktu baru aku ketahui hal itu sengaja dilakukan untuk membuat tandingan dan show of power Marinir terhadap pasukan AD yang menggiring mahasiswa. Marinir ingin mengesankan bahwa mereka siap melindungi mahasiswa. Marinir akan berada di depan mahasisw jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sesampainya rombongan mahasiswa di Atmajaya, diaturlah pengevakuasian teman-teman BL ke kampus. Setelah istirahat sebentar, barulah kami berangkat membawa mahasiswa ke kampus.

Kejadian-kejadian yang bermula dan dipicu dari tragedi Trisakti benar-benar telah menyita fisik dan batin aku dan kawan-kawan. Ada yang tidak pulang ke rumah sejak tanggal 12 Mei tersebut sampai dengan tanggal kejatuhan Soeharto. Baju yang melekat di badan, sampai behari-hari belum diganti. Selama di MPR, ada yang ‘nggak mandi-mandi, tidak ganti baju beberapa hari disana. Apalagi CD (celana dalam) yang sudah side A dan side B. Bagaimana mau ganti baju, sementara suasana sangat mencekam dan tidak bisa pulang?

Semua yang dilakukan adalah suatu keikhlasan untuk tegaknya reformasi. Ternyata perjuangan dan pengorbanan kita tidak sia-sia. Kita saksikan telah runtuhnya rezim penindas yang menutup penindasan dengan baju kemakmuran. Kemakmuran yang hanya dinikmati segelintir orang. Turunnya Soeharto barulah sukses kecil, barulah langkah awal untuk mencapai kesejatian bangsa yang merdeka dan jaya.

Kejatuhan Soeharto, gelora reformasi yang dicanangkan mahasiswa, ternyata menjadi medan baru dari penderitaan baru bangsa. Elit-elit politik bunglon bermetamoforsa menjadi kaum reformis. Ambisi pribadi dan kelompok masih masih tetap menjadi cita-cita mereka.

Musim terus berganti, perubahan dan iklim baru berdemokrasi terus kita lalui, tapi cita-cita menuju masyarakat yang merdeka, adil dan makmur semakin jauh dari realita.

Satu-persatu pejuang reformasi berguguran, satu-persatu pergi memenuhi hidup masing-masing. Para mahasiswa pun kembali disibukkan dengan dunia mereka. Reformasi yang bergulir semakin tidak jelas arahnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin hancur rupanya.

Sementara itu, masih tersisa sekelompok anak muda yang masih setia dan tetap menjunjung-memeluk erat semangat untuk kejayaan rakyat dan bangsanya. Perjuangan masih panjang, Bunda Pertiwi rindu akan hadirnya anak-anaknya yang akan terus membela nasibnya….

Jakarta, Mei 1998

Helsusandra Syam

Iklan

Satu tanggapan untuk “Diary Mei ’98: Dari Trisakti hingga Turunnya Soeharto (Bag.2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s