Keseruan Menyusuri Sungai Cisadane

KESERUAN MENYUSURI SUNGAI CISADANE

Cisadane berasal dari kata ci dan sadane. Sadane berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti istana kerajaan. Sedangkan Ci dalam bahasa Sunda berarti sungai. Jadi Cisadane berarti sungai yang berasal dari istana kerajaan. Kemungkinan istana kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan, Bogor.

Cisadane adalah sungai besar yang melintasi Tangerang. Sungai ini berhulu di lereng Gunung Pangrango dan Gunung Gede di Bogor, bahkan sampai berhulu ke Sukabumi. Sungai ini memasuki wilayah kerajaan Pajajaran, melintasi Tangerang lalu bermuara di Tanjung Burung selanjutnya menuju Laut Jawa.

Panjang sungai Cisadane dari hulu ke hilir sekitar 125 kilometer. Menurut sejarah pada abad 16 banyak kapal dagang lalu lalang di aliran sungai ini. Sungai ini menjadi sarana transportasi masyarakat yang membawa  dan membentuk kisah dan peradaban mereka. Banyak cerita dan mitos yang terbentuk sepanjang kehidupan sekitar sungai ini. Tentang Pendekar Cisadane yang berhasil menaklukkan kerajaan Ratu Siluman Buaya. Tentang misteri buaya putih yang menjadi pertanda akan datangnya banjir besar, kisah heroik para pejuang Islam mengusir penjajah, sampai masuknya orang-orang Tionghoa ke wilayah Tangerang.

Cisadane menyimpan kisah penyebaran Islam dan pusat perlawanan kepada penjajah Belanda. Tepian Cisadane menjadi pusat-pusat keagaaman dan pusat perlawanan. Tentang Aria Wangsakara yang merupakan ulama yang berjuang bersama rakyat bertempur selama tujuh bulan berturut-turut  dan berhasil mempertahankan wilayah Tangerang dari serangan penjajah Belanda.

Peradaban lahir di pinggir Sungai. Kebudayaan, kerajaan dan kehidupan bermula dan berkembang dekat kehidupan air. Sejarah membuktikan banyak peradaban dan kerajaan bermula dari sini.

Cisadane memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakatnya. Sebagai sarana transportasi, mandi, mencuci dan tempat mengambil air. Cisadane adalah bagian kehidupan masyarakat sekitarnya.

Ironisnya sekarang, sekarang Cisadane menjadi tempat pembuangan sampah dan polusi baik dari rumah tangga sepanjang sungai maupun pabrik-pabrik atau limbah industri.

Sabtu lalu, saya dan teman-teman pengurus TDA Tangerang Raya berkesempatan berkunjung markas perjuangan kawan lama saya Uyus Setia Bhakti yang menjadi pejuang lingkungan Cisadane. Beliau menjadi Ketua Komunitas Bangsasuci (Bank Sampah Sungai Cisadane). Bersama teman-temannya dan masyarakat sekitar tepian Cisadane berupaya menjaga kelestarian sungai Cisadane.

Kami dibawa menyusuri aliran sungai Cisadane. Sepanjang perjalanan aliran sungai membawa berbagai sampah baik limbah rumahtangga, pabrik dan berbagai limbah industri. Air sungai keruh coklat. Namun masih ada beberapa masyarakat sepanjang sungai yang memanfaatkan air sungai ini untuk mandi dan mencuci.

Sungai ini besar dan selama berabad-abad telah menjadi jalur transportasi. Perahu hilir mudik membawa kehidupan masyarakatnya. Miris membayangkan, tak lama lagi sepanjang bantaran sungai ini akan berdiri real estate megah dengan pelabuhan privat yang menambatkan speadboat, kapal-kapal mewah langsung ke masing-masing rumah mewah. Seperti pantai-pantai utara Jakarta, rumah-rumah mewah dengan kapal yang langsung mempunyai akses ke laut, demikian juga bisa jadi bantaran sungai Cisadane akan seperti itu. Dari hilir orang-orang kaya akan naik terus ke hulu. Apalagi bagian hulu sudah dikepung oleh perumahan mewah milik orang-orang kaya. Dan kaum kecil akan semakin terpinggirkan. Termajinalkan di bantaran sungai kemudian digusur atas nama kerapihan dan kemajuan kota.

Demikian Jakarta dan Tangerang yang semakin macet jalur daratnya, orang-orang kaya ini tentu akan beralih menjadikan Cisadane sebagai sarana transportasi mereka. Pesisir Utara sudah mereka kuasai, tentu saja bisa menjadi mudah untuk masuk ke Selatan ke pusat daratan melalui Cisadane.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s