Mental Penakluk

Kesuksesan dan kemenangan itu tidaklah hadiah yang turun dari langit. Ia membutuhkan persiapan hebat jauh sebelumnya.

Suatu waktu Salahuddin kecil tengah bermain dengan teman-temannya. Lalu ayahnya menariknya keras sambil menggerutu: “Aku tidak menikahi ibumu, dan ibumu tidak melahirkanmu cuma untuk bermain bersama anak-anak lain. Aku nikahi ibumu, agar anaknya menjadi pembebas Masjid Al-Aqsha!” Kamulah sang Pembebas Al-Aqsho!

Sang ayah melihat Shalahuddin kecil seperti akan menangis. Ia berkata, “apa kamu tersinggung? Kamu sakit hati?

Shalahuddin lirih menjawab, “iya.”

“Lalu mengapa kamu tidak menangis seperti anak kecil biasanya?”

“Seorang Pembebas Masjid Al-Aqsho tidak pantas berteriak menangis dan terisak!”, ucap Shalahuddin.

Mental Penakluk haruslah dipersiapkan sedari kecil. Kemenangan berawal dari pembinaan dan pendidikan. Sehingga terbentuklah mental Pemenang dan Sang Penakluk!

Demikianlah sejarah membuktikan Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi Pembebas Al-Aqsho, kota yang sangat sulit untuk ditaklukkan pada masa itu.

Iklan

2 tanggapan untuk “Mental Penakluk

  1. Assalamualaikum..salam kenal uda Syam..saya senang dg banyak nya penulis2 berbakat yg mulai bermunculan,terutama yg mengangkat issue kondisi negri ini,selamat berkarya semoga tak lekang oleh waktu,sy tunggu karya uda berikut nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s