Keseruan Menyusuri Sungai Cisadane

KESERUAN MENYUSURI SUNGAI CISADANE

Cisadane berasal dari kata ci dan sadane. Sadane berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti istana kerajaan. Sedangkan Ci dalam bahasa Sunda berarti sungai. Jadi Cisadane berarti sungai yang berasal dari istana kerajaan. Kemungkinan istana kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan, Bogor.

Cisadane adalah sungai besar yang melintasi Tangerang. Sungai ini berhulu di lereng Gunung Pangrango dan Gunung Gede di Bogor, bahkan sampai berhulu ke Sukabumi. Sungai ini memasuki wilayah kerajaan Pajajaran, melintasi Tangerang lalu bermuara di Tanjung Burung selanjutnya menuju Laut Jawa.

Panjang sungai Cisadane dari hulu ke hilir sekitar 125 kilometer. Menurut sejarah pada abad 16 banyak kapal dagang lalu lalang di aliran sungai ini. Sungai ini menjadi sarana transportasi masyarakat yang membawa  dan membentuk kisah dan peradaban mereka. Banyak cerita dan mitos yang terbentuk sepanjang kehidupan sekitar sungai ini. Tentang Pendekar Cisadane yang berhasil menaklukkan kerajaan Ratu Siluman Buaya. Tentang misteri buaya putih yang menjadi pertanda akan datangnya banjir besar, kisah heroik para pejuang Islam mengusir penjajah, sampai masuknya orang-orang Tionghoa ke wilayah Tangerang.

Cisadane menyimpan kisah penyebaran Islam dan pusat perlawanan kepada penjajah Belanda. Tepian Cisadane menjadi pusat-pusat keagaaman dan pusat perlawanan. Tentang Aria Wangsakara yang merupakan ulama yang berjuang bersama rakyat bertempur selama tujuh bulan berturut-turut  dan berhasil mempertahankan wilayah Tangerang dari serangan penjajah Belanda.

Peradaban lahir di pinggir Sungai. Kebudayaan, kerajaan dan kehidupan bermula dan berkembang dekat kehidupan air. Sejarah membuktikan banyak peradaban dan kerajaan bermula dari sini.

Cisadane memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakatnya. Sebagai sarana transportasi, mandi, mencuci dan tempat mengambil air. Cisadane adalah bagian kehidupan masyarakat sekitarnya.

Ironisnya sekarang, sekarang Cisadane menjadi tempat pembuangan sampah dan polusi baik dari rumah tangga sepanjang sungai maupun pabrik-pabrik atau limbah industri.

Sabtu lalu, saya dan teman-teman pengurus TDA Tangerang Raya berkesempatan berkunjung markas perjuangan kawan lama saya Uyus Setia Bhakti yang menjadi pejuang lingkungan Cisadane. Beliau menjadi Ketua Komunitas Bangsasuci (Bank Sampah Sungai Cisadane). Bersama teman-temannya dan masyarakat sekitar tepian Cisadane berupaya menjaga kelestarian sungai Cisadane.

Kami dibawa menyusuri aliran sungai Cisadane. Sepanjang perjalanan aliran sungai membawa berbagai sampah baik limbah rumahtangga, pabrik dan berbagai limbah industri. Air sungai keruh coklat. Namun masih ada beberapa masyarakat sepanjang sungai yang memanfaatkan air sungai ini untuk mandi dan mencuci.

Sungai ini besar dan selama berabad-abad telah menjadi jalur transportasi. Perahu hilir mudik membawa kehidupan masyarakatnya. Miris membayangkan, tak lama lagi sepanjang bantaran sungai ini akan berdiri real estate megah dengan pelabuhan privat yang menambatkan speadboat, kapal-kapal mewah langsung ke masing-masing rumah mewah. Seperti pantai-pantai utara Jakarta, rumah-rumah mewah dengan kapal yang langsung mempunyai akses ke laut, demikian juga bisa jadi bantaran sungai Cisadane akan seperti itu. Dari hilir orang-orang kaya akan naik terus ke hulu. Apalagi bagian hulu sudah dikepung oleh perumahan mewah milik orang-orang kaya. Dan kaum kecil akan semakin terpinggirkan. Termajinalkan di bantaran sungai kemudian digusur atas nama kerapihan dan kemajuan kota.

Demikian Jakarta dan Tangerang yang semakin macet jalur daratnya, orang-orang kaya ini tentu akan beralih menjadikan Cisadane sebagai sarana transportasi mereka. Pesisir Utara sudah mereka kuasai, tentu saja bisa menjadi mudah untuk masuk ke Selatan ke pusat daratan melalui Cisadane.

Kami Bukanlah Siapa-siapa, Hanya Pejuang dan Pelayan

Kami Bukanlah Siapa-siapa, Hanya Pejuang dan Pelayan

Oleh: Helsusandra Syam

Ketua TDA Tangerang Raya 4.0

 

Camp Pengurus TDA Tangerang Raya 4.0
Camp Pengurus TDA Tangerang Raya 4.0

Ketika perwakilan Badan Musyawarah TDA Tangerang Raya, di suatu pagi berkunjung ke kantor saya. Sambil menyerahkan surat pengangkatan sebagai Ketua TDA Tangerang Raya periode 4, saya sedikit shock dan dan tercenung. Ada apakah ini? Mereka menyerahkan SK sambil memberikan amanat kepada saya untuk mengemudikan arah komunitas wirausaha TDA Tangerang Raya, salah satu bagian wilayah komunitas wirausaha terbesar se-Indonesia.

Saya shock dan kaget bukan karena apa-apa. Bagaimana tidak? Di saat bisnis saya masih tertatih-tatih, terseok-seok untuk maju lalu saya diamanahi beban berat ini…. Bagaimana mungkin saya akan memimpin organisasi besar ini sementara untuk saya pribadi masih survive…?

Bagaimana mungkin saya akan memikirkan dan memperjuangkan nasib banyak orang sementara saya sendiri harus memperjuangkan terlebih dahulu nasib keluarga dan karyawan saya…???

Tapi inilah TDA. Jika TDA telah memanggil maka saya harus siap!

Demikianlah juga yang saya tahu kepada kawan-kawan seperjuangan lainya, baik yang ada di wilayah-wilayah lain maupun pengurus pusat. Ketika TDA memanggil pulang, maka harus mau dan ikhlas berjuang.

Kami bukanlah siapa-siapa. Bukan pula pengusaha yang benar-benar sukses dan telah hebat. Kami hanyalah orang-orang biasa yang belajar menjadi pejuang dan pelayan.

Bagaimana mungkin kami akan mengelak, jika selama ini kami telah mendapatkan banyak manfaat dari komunitas ini? Bagaimana pula kami akan tidak memberi, sementara sudah banyak yang kami terima dari komunitas ini…?

Inilah jalan kami: Jalan Tangan Di Atas! Bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Bahwa memberi lebih baik dari menerima.

Sebaik-baik kamu adalah yang banyak memberi manfaat buat orang lain.

Kami tahu amanah ini berat, tapi kami akan berusah berjuang untuk memikul ini. Karena kami adalah pejuang dan pelayan!

Alhamdulillah kebanyakan kami Allah karuniai dengan pasangan-pasangan yang sungguh mengerti tentang jalan perjuangan ini. Alhamdlillah kami dikelilingi oleh orang-orang yang sama visi-misinya dalam rangka menyebarkan rahmat. Walau berat, tapi ketika dipikul bersama-sama maka akan terasa ringan. Apalagi bila dijalankan dengan fun.

Negeri ini masih butuh hadirnya para pengusaha yang akan menyelamatkan bangsa ini. Kami bukanlah politisi dan elit yang ribut dalam tataran wacana, kami hanyalah manusia biasa yang belajar menjadi luar biasa karena bekerja konkrit.

Hari-hari terakhir ini kami sibuk mempersembahkan pesta untuk komunitas ini: Pesta Wirausaha. Bukan untuk gagah-gagahan atau seremoni belaka. Tapi ini adalah event tahunan kami, event berkumpulnya kami dalam mendapatkan inspirasi, motivasi, sharing, knowledge dan pengalaman-pengalaman baru untuk memajukan hidup dan bisnis kami. Ini adalah ajang silaturahmi dan kegembiraan kami. Ini adalah berkumpulnya kawan-kawan lama dan baru kami. Inilah pesta kami, pesta kekeluargaan dan pencerahan!

Inilah jalan kami: Jalan Tangan Di Atas!

Mana jalanmu? Jika sepakat, mari kita tempuh jalan ini sama-sama ya!

  • Tangerang Selatan, 15/12/2015

Diary Mei ’98: Dari Trisakti hingga Turunnya Soeharto (Bag.2)

Untuk membaca bagian pertama, silahkan klik link ini ( http://t.co/NdvgSTaVvI)

—————————————–

Selasa, 19 Mei ’98, matahari cerah muncul di pagi itu

Setelah melewati malam yang menegangkan, pagi pun cerah menyambut kami. Sekitar jam sembilan lewat, kami dikejutkan oleh suara heboh dari depan gedung. Ternyata telah masuk rombongan pertama mahasiswa ke dalam gedung MPR/DPR.

“Rombongan mahasiswa darimanakah?”, pikirku. Aku pun bergegas ke arah depan gedung. Teman-teman yang lain ikut juga menyambut. Ternyata itu adalah rombongan mahasiswa Kampus Biru Budi Luhur dengan sekitar 300 orang massa. Mahasiswa Budi Luhur adalah mahasiswa pertama yang datang untuk ikut menduduki gedung MPR/DPR. Sehabis subuh para mahasiswa BL sudah berkumpul dan berangkat ke gedung MPR/DPR. Awalnya dari pintu gerbang belakang mereka datang. Tapi karena gerbang tertutup dan terkunci, mereka tidak bisa masuk. Sebagian memanjat pagar tinggi lalu menyelinap ke parit. Kemudian mereka masuk ke basement parkiran. Menyerbu masuk dari belakang gedung Nusantara. Mungkin karena banyaknya mahasiswa yang mendesak masuk akhirnya security membuka gerbang. Issuenya sih mereka menyandera security. Setelah jam 8 lewat barulah gerbang depan juga dibuka. Masuklah semua rombongan mahasiswa yang datang dari mana-mana.

Kawan-kawan BL langsung disambut oleh para delegasi FKSMJ yang rata-rata adalah Ketua Senat Mahasiswa. Rama Pratama Ketua Senat Mahasiswa UI terlihat ikut menyambut dan menyampaikan ucapan selamat datang.

Semangat yang sempat down akibat psy war semalam terasa bangkit kembali begitu melihat rombongan mahasiswa BL. Aku merasa “hidup” kembali ketika melihat kawan-kawan satu kampus. Berikutnya beberapa kampus lain menyusul memasuki gedung MPR/DPR. Di tangga gedung oval (gedung utama) langsung diadakan orasi. Silih berganti para mahasiswa dan delegasi menyuarakan suara-suara reformasi: Soeharto harus turung sekarang juga! Sidang Istimewa sekarang juga!

Semakin siang semakin banyak massa mahasiswa dari berbagai kampus memasuki halaman gedung. Tak terasa sebentar saja MPR/DPR telah dipenuhi oleh ribuan massa mahasiswa.

Sekitar pukul 14.00, terlihat massa Pemuda Pancasila, FKPPI, PPM dengan pimpinannya masuk berserta rombongan pendekar Banten yang pro Soeharto sebanyak kurang lebih 300 orang. Diantara teman-teman ada yang melihat mereka membawa senjata tajam (golok). Suasana semakin pans. Mahasiswa mencoba menghadang gerak maju mereka. Hampir terjadi bentrok fisik antara kedua belah pihak. Setelah bersitegang, lama-kelamaan mereka pun pulang.

Malam itu, gedung MPR/DPR seperti menjadi pasar malam. Mahasiswa bertahan menduduki gedung MPR/DPR. Dimana-mana, di setiap tempat luang dan pojok gedung terlihat mahasiswa memenuhi lantai ubin. Suasana ini kontras sekali dengan suasana kami semalam yang penuh ketegangan. Gedung MPR/DPR pun “ditiduri’ oleh para mahasiswa. Tengah malam, kembali ada isu akan ada penyerangan oleh Pemuda Pancasila. Kami pn bersiaga, beberapa orang mahasiswa ditugaskan berkelompok berjaga-jaga di setiap pintu dan celah masuk gedung.

Rabu, 20 Mei ‘98

Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional. Semua mahasiswa yang ada di gedung memperingati hari itu sebagai hari kebangkitan dari penindasan oleh rezim orde baru. Mimbar dadakan yang diadakan di pelataran depan gedung diisi dengan orasi-orasi. Badut-badut politik, oportunis kesiangan pun mulai silih berganti menampakkan diri dan ikut pula berpidato. “Biarin aja”, pikir kami.

Sementara itu aksi massa yang direncanakan di Monas dibatalkan oleh Amien Rais. Beliau pun menuju ke MPR/DPR. Hari itu puluhan ribu massa tumpah-ruah berbaur rupa memadati gedung.

Siangnya pertemuan antara 40 lebih Ketua Senat Mahasiswa/perwakilan dengan pimpinan MPR/DPR. Mahasiswa mendesak MPR untuk menyelenggarakan Sidang Istimewa segera. Setelah pertemuan itu Harmoko dan rombongan keluar dari ruangan dengan muka tegang. Wartawan mendesakkan pertanyaan apa hasil pertemuan. Harmoko menolak menjawab, “Tanya saja ke mahasiswa. Mereka akan menjelaskannya”. Ia bergegas pergi.

Lalu mahasiswa mengadakan jumpa pers. Sarbini—Ketua Senat Mahasiswa Univ. 17 Agustus Jakarta—sebagai jurubicara FKSMJ menyampaikan keputusan pimpinan MPR/DPR. Keputusannya pimpinan MPR/DPR memberi waktu kepada Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannya paling akhir Jumat. Jika tidak mengundurkan diri maka Dewan akan mengadakan rapat hari Senin, 25 Mei untuk menyiapkan Sidang Istimewa. Mahasiswa melonjak gembira. Semua bergembira atas ultimatum itu.

Sekitar jam empat sore, isu-isu meresahkan mulai beredar. Massa yang membaur dan bercampur semakin ramai dan beragam. Dikarenakan situasi dan kondisi yang semakin tidak menentu dan meresahkan, maka sebagian mahasiswa Budi Luhur minta disiapkan bus kampus untuk menarik massa ke kampus, dan esoknya akan kembali lagi. Teman-teman yang ingin balik dan belum menyiapkan diri akan ditarik menginap di kampus.

Malamnya terjadi pembakaran di lantai atas gedung oleh oknum-oknum yang ingin menodai perjuangan mahasiswa. Mereka berhasil menyusup ke dalam gedung.

Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, sekitar pukul 20.15 rombongan mahasiswa BL pun dievakuasi ke kampus dengan menggunakan 2 bus kampus yang penuh sesak. Aku dan teman-teman lainnya tetap bertahan dan berjaga-jaga di gedung MPR/DPR.

Kamis, 21 Mei Dini Hari, Semua Siaga

Sekitar pukul 00.15 tertangkap 5 “ekor” penyusup. Ada yang kedapatan membawa senjata tajam. Suasana semakin tegang dan panas.

Sekitar pukul 08.00 waktu DPR, masuk sekitar 30 truk pembersih sampah ke gedung. Mahasiswa BL yang bertahan di gedung ikutan membantu mereka.

Dan…. akhirnya pada pukul 09.15 WIB…. Alhamdulillah… Soeharto mundur dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia. Tapi jabatannya langsung diserahkan ke Habibie. Lewat layar televisi yang dipasang di tengah gedung, para mahasiswa menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Shock, surprise! Para mahasiswa gembira. Ada yang berpelukan, melonjak dan berbagai cara mengekspresikan kegembiraannya. Mereka menyanyikan lagu Sorak-sorak Bergembira di semua tempat. Ada yang berlarian sambil bergandengan tangan mengelilingi taman tengah. Ada yang langsung menceburkan diri ke kolam depan. Ada yang berjingkrak-jingkrak. Semua bergembira dengan berbagai bentuk tingkah masing-masing. Semua terharu! Pokoknya macam-macam deh tingkah laku dan ekspresi yang ditampilkan. Yang jelas, semua bergembira sekali!

Di samping gembira, FKSMJ juga merasa tidak puas. Karena proses menyerahan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie tidak melewati proses kedaulatan rakyat.

Pukul 12.00, masyarakat umum sudah boleh masuk ke gedung. Pukul 14.00, dikarenakan sudah tidak “steril” lagi massa yang berada di MPR/DPR maka FKSMJ memutuskan untuk tidak ada lagi aksi atas nama FKSMJ setelah pukul 13.00. para mahasiswa yang tergabung dalam FKSMJ dievakuasi ke kampus masing-masing untuk menyiapkan aksi berikutnya.

Setelah pukul lima sore, mahasiswa BL yang dievakuasi tiba dengan selamat di kampus. Pas masuk pintu gerbang kampus, teman-teman mahasiswa semua serempak meneriakkan yel-yel “Turunkan SKS! Turunkan SKS!” Haa…haa..haa… Mas-mas Satpam dan orang-orang yang ada di kampus cekikan tertawa….

Sementara itu, meskipun secara resminya rombongan FKSMJ dan mahasiswa BL telah ditarik semua, tapi masih ada juga beberapa orang mahasiswa BL yang tetap bertahan di gedung. Massa mahasiswa yang berada di gedung bukan lagi atas nama FKSMJ.

Jumat, 22 Mei ‘98

Sekitar pukul sembilan pagi, masuk rombongan mahasiswa ke gedung MPR/DPR, yang ‘ngakunya sebagai massa Habibie (dari spanduk-spanduk yang mereka bawa bisa terbaca dukungan terhadap Habibie). Bentrokan parah hampir terjadi antara massa pro Habibie dengan massa mahasiswa yang masih ada di dalam yang menolak peralihan kekuasaan ke Habibie.

Jam sembilan malam lewat, di kampus aku mendapat informasi dari kawan di sentra informasi yang berada di kampus Moestopo bahwa malam ini akan ada sweeping di gedung MPR/DPR. Diberi batas waktu sampai jam 05.00 pagi untuk mengosongkan gedung. Jika tidak, maka ABRI akan menyerbu dan melakukan tindak kekerasan. Dari rekan mahasiswa yang berada di dalam gedung, datang permintaan bus untuk evakuasi massa ke kampus.

Sabtu, 23 Mei ‘98

Jam 00.45 dini hari, masuk lagi informasi dari sentra informasi Moestopo mengabarkan bahwa telah terjadi penyerbuan oleh ABRI (Angkatan Darat) ke gedung sekitar jam 23.30 (Jumat). Didapat informasi bahwa tentara sempat mengeluarkan tembakan yang mengakibatkan mahasiswa panik dan kocar-kacir. Benar-benar seperti perang, tentara menyerbu masuk seolah menghadapi para teroris.

Setelah menguasai gedung, para mahasiswa dikumpulkan di halaman depan gedung.

Dari kampus kami—aku dan beberapa orang teman—menyiapkan kendaraan 2 mobil Carry. Langsung ke Moestopo, setelah itu ke MPR/DPR. Sesampai disana terhalang tidak masuk. Gedung telah dikepung dan dijaga sangat ketat. Tapi setelah mencari celah dan bergabung dengan tim nego dan wartawan, bisa juga kami masuk lewat bagian samping depan.

Di dalam terjadi negosiasi antara mahasiswa dengan aparat tentang mekanisme dan teknis evakuasi. Mahasiswa akan dievakuasi ke kampus Atmajaya yang berada di Semanggi. Sebagian mahasisw minta long march, sebagiannya lagi setuju dengan kendaraan yang telah disediakan aparat. Setelah bertemu dengan rekan-rekan BL yang tersisa, maka diputuskan mereka akan kami tunggu di Atmajaya.

Pukul 02.30, para mahasiswa dievakuasi ke kampus Atmajaya, setelah ada kesepakatan mahasiswa akan dikawal pasukan dari Marinir.

Kami yang menunggu di Atmajaya sempat down, baik fisik maupun mental karena terlalu lama menunggu. Setelah menunggu sekian jam, kok rombongan belum sampai juga.

Menjelang subuh, mulailah berdatangan rombongan mahasiswa ke Atmajaya. Sempat terjadi kepanikan karena ternyata pasukan Marinir melakukan manuver/atraksi dengan tank-tanknya berputar-putar di Semanggi. Suara yang ditimbulkan oleh pergesekan rantai tank dengan aspal serta suara mesin yang menderu-deru menimbulkan bunyi yang sangat mencekam dan seakan-akan suasan akan perang. Di lain waktu baru aku ketahui hal itu sengaja dilakukan untuk membuat tandingan dan show of power Marinir terhadap pasukan AD yang menggiring mahasiswa. Marinir ingin mengesankan bahwa mereka siap melindungi mahasiswa. Marinir akan berada di depan mahasisw jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sesampainya rombongan mahasiswa di Atmajaya, diaturlah pengevakuasian teman-teman BL ke kampus. Setelah istirahat sebentar, barulah kami berangkat membawa mahasiswa ke kampus.

Kejadian-kejadian yang bermula dan dipicu dari tragedi Trisakti benar-benar telah menyita fisik dan batin aku dan kawan-kawan. Ada yang tidak pulang ke rumah sejak tanggal 12 Mei tersebut sampai dengan tanggal kejatuhan Soeharto. Baju yang melekat di badan, sampai behari-hari belum diganti. Selama di MPR, ada yang ‘nggak mandi-mandi, tidak ganti baju beberapa hari disana. Apalagi CD (celana dalam) yang sudah side A dan side B. Bagaimana mau ganti baju, sementara suasana sangat mencekam dan tidak bisa pulang?

Semua yang dilakukan adalah suatu keikhlasan untuk tegaknya reformasi. Ternyata perjuangan dan pengorbanan kita tidak sia-sia. Kita saksikan telah runtuhnya rezim penindas yang menutup penindasan dengan baju kemakmuran. Kemakmuran yang hanya dinikmati segelintir orang. Turunnya Soeharto barulah sukses kecil, barulah langkah awal untuk mencapai kesejatian bangsa yang merdeka dan jaya.

Kejatuhan Soeharto, gelora reformasi yang dicanangkan mahasiswa, ternyata menjadi medan baru dari penderitaan baru bangsa. Elit-elit politik bunglon bermetamoforsa menjadi kaum reformis. Ambisi pribadi dan kelompok masih masih tetap menjadi cita-cita mereka.

Musim terus berganti, perubahan dan iklim baru berdemokrasi terus kita lalui, tapi cita-cita menuju masyarakat yang merdeka, adil dan makmur semakin jauh dari realita.

Satu-persatu pejuang reformasi berguguran, satu-persatu pergi memenuhi hidup masing-masing. Para mahasiswa pun kembali disibukkan dengan dunia mereka. Reformasi yang bergulir semakin tidak jelas arahnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin hancur rupanya.

Sementara itu, masih tersisa sekelompok anak muda yang masih setia dan tetap menjunjung-memeluk erat semangat untuk kejayaan rakyat dan bangsanya. Perjuangan masih panjang, Bunda Pertiwi rindu akan hadirnya anak-anaknya yang akan terus membela nasibnya….

Jakarta, Mei 1998

Helsusandra Syam

Diary Mei ’98: Dari Trisakti hingga Turunnya Soeharto

Sebuah kesaksian dari sudut pandang mahasiswa kampus Budi Luhur

Oleh: Helsusandra Syam

 

98Menara kesombongan orde baru ternyata tidak cukup kuat untuk menahan terpaan badai krisis. Istana pasir yang dibangun, megah rupanya tapi rapuh isinya. Krisis moneter telah menghantarkan rupiah melemah sampai Rp 17.000 per dollar Amerika. Krisis multidimensial menggejolakkan mahasiswa untuk berteriak: REFORMASI!!! Aksi-aksi keprihatinan bergelora di setiap kampus. Ketidakbecusan para pemimpin bangsa, korupsi, kolusi dan nepotisme yang seperti kanker ganas berurat-berakar ke seluruh negeri, menjadi tema sentral dalam setiap demonstrasi.

Kisah ini adalah sebuah ledakan akumulasi dari kekecewaan para mahasiswa dalam menyikapi keadaaan kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga terjadilah pendudukan gedung MPR/DPR—dan kesaksian bahwa kampus Budi Luhur adalah kampus pertama yang masuk ke gedung MPR/DPR—hingga mengakibatkan turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan yang selama 32 tahun sudah didudukinya.

Pada saat itu hari menunjukkan Selasa, 12 Mei 1998. Langit Jakarta kelabu.

Aksi keprihatinan yang dilakukan oleh para mahasiswa kampus Trisakti telah dinodai oleh serigala-serigala haus darah yang keluar dari persembunyiannnya di belantara kekejaman. Aksi yang semula berlangsung tertib—walau sempat timbul sedikit ketegangan dengan aparat—akhirnya dapat tercapai saling pengertian antara kedua belah pihak. Para mahasiswa yang sudah terlanjur keluar kampus, akhirnya mau mundur kembali memasuki areal kampus.

Tiba-tiba, entah darimana datangnya serigala-serigala ganas pun bagai keluar dari dalam bumi. Memuntahkan kebencian dan perang lewat mulut-mulutnya. Tiba-tiba aparat keamanan memuntahkan peluru-peluru tajam ke arah kerumunan mahasiswa. Keberingasan begitu saja dipertontonkan. Peluru-peluru tajam melesat, pentungan-pentungan, tendangan, pukulan dan kekerasan lainnya diarahkan ke para mahasiswa. Akibatnya, 4 orang mahasiswa Trisakti dan beberapa orang non mahasiswa roboh tewas! Tinta sejarah yang berdarah ditorehkan di bumi Indonesia. Lagu pilu berkumandang di cakrawala. Kisah besar pun bermula!

Jakarta pun membara akibatnya. Lagu perang telah dikumandangkan dan kekerasan terpicu dan bermula. Mulailah kita saksikan kebiadaban dipertunjukkan dan gambaran bangsa pun semakin buram.

 

Rabu, 13 Mei 1998

Pemakaman Tanah Kusir seakan tidak mampu menampung ribuan pelayat yang menghadiri prosesi pemakaman 2 orang mahasiswa Trisakti, yaitu Hery dan Elang akibat ditembak oleh aparat kemaren Selasa. Gemuruh isi dada para mahasiswa yang mengantar, seakan siap menghantam apa saja yang ada di depannya. Semua orang penuh emosional.

Kemarahan telah menyebar di setiap kampus dan setiap isi dada anak bangsa.

Malamnya, sekitar pukul 19.00 mahasiswa Budi Luhur bergabung dengan para mahasiswa kampus Mercu Buana (UMB) untuk mengikuti malam renungan. Dengan dua bus metromini penuh sesak kami berangkat kesana. Orasi-orasi penuh emosi dan airmata tumpah dalam acara ini.

Setelah acara di UMB, kami kembali ke kampus BL. Malam itu juga sekitar pukul setengah duabelas kami segera mengadakan rapat untuk membahas perkembangan yang terjadi dan langkah apa yang akan dilakukan oleh para mahasiswa Budi Luhur. Akhirnya disepakati untuk mengadakan aksi keprihatinan pada esok harinya (Kamis). Malam itu juga sambil bergadang kami dari Senat Mahasiswa bersama beberapa orang kawan menyiapkan perangkat-perangkat untuk mimbar bebas besok.

 

Kamis, 14 Mei ’98, denyut Jakarta semakin cepat

Pukul 11.00 mimbar bebas pun dimulai di kampus Budi Luhur. Walaupun dilakukan secara spontanitas, tanpa persiapan yang matang sebagaimana biasanya untuk persiapan aksi-aksi, massa yang hadir ramai sekali. Acara berlangsung cukup tertib dan aman. Tampi menjadi orator dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa BL sendiri, dosen maupun pejabat akademik, mahasiswa dari kampus lain, pelajar, masyarakat sampai seniman jalanan (pengamen) pun ikut serta mendendangkan lagu-lagu reformasi dan lagu-lagu kritik panas yang antusias didengar dan diikuti massa. Kampus-kampus yang tercatat hadir di mimbar bebas adalah STIE Bhakti Pembangunan, Universitas Bina Nusantara, Universitas Atmajaya dan lainnya lagi.

Semakin siang mimbar bebas semakin ramai. Suasana di luar kampus mulai panas. Beberapa truk pasukan militer dan kepolisian telah merapat dan berjaga-jaga di luar gerbang kampus. Kami terpaksa menutup pintu gerbang kampus untuk mencegah masuknya provokator dan hal-hal lain yang tidak diinginkan (dari rekaman video kaset salah satu teman yang diputar kemudian hari, terlihat beberapa orang aparat berpakaian preman telah berbaur dengan massa di depan gerbang. Jangan tanya bagaimana kami tahu, kami punya cara sendiri untuk membekan mana intel mana masyarakat awam).

Ketika aku ke belakangan (ke yayasan kampus) untuk menjemput pak Sutrisna Hari untuk ikut berpartisipasi dalam mimbar bebas dan meminta dukungan moral dari yayasan dalam aksi mimbar bebas ini, tiba-tiba terdengar suara keras tembakan dari depan kampus.

Tanpa sadar pak Sutrisna Hari aku tinggalkan dan aku berlari kencang ke depan kampus. Tembakan menyalak membuat panik massa dan masyarakat yang berada di luar gerbang. Rupanya tembakan dikeluarkan untuk peringatan terhadap massa rakyat yang mulai beringas. Keadaan rupanya telah bergejolak di luar kampus. Dari arah Kreo dan Gang Masjid terlihat asap tebal mengepul ke angkasa. Rupanya aksi pembakaran dan chaos telah dilakukan oleh masyarakat. Acara mimbar bebas pun berakhir pukul empat sore.

Aksi pembakaran dan penjarahan telah terjadi dimana-mana. Kemarahan dan keberingasan massa telah bergejolak dan meledak. Keramahan dan kasih-sayang bangsa Indonesia yang terkenal selama ini musnah begitu saja. Jakarta lumpuh hari itu.

Setelah melakukan aksi mimbar bebas, kami mahasiswa ikut serta membantu pengamanan dan pemadaman kebakaran yang terjadi di Gang Masjid serta ikut menenangkan massa. Beberapa toko/ruko telah hangus terbakar. Kami menolong pemilik toko menyelamatkan barang-barang yang tersisa dan beberapa anggota keluarga mereka. Ada beberapa pemilik toko keturunan Cina yang kami selamatkan dan evakuasi.

Mobil pemadam kebakaran yang datang tidak bisa menuju lokasi, ternyata diblokir massa di Pasar Cipulir. Aku dan beberapa rekan mahasiswa terpaksa menuju kesana untuk menjemputnya. Rupanya mahasiswa begitu dihargai oleh masyarakat. Mobil pemadam kebakaran yang tadinya diblokir akhirnya dibiarkan lewat dengan pengawalan mahasiswa. Hidup Mahasiswa!

Massa membludak ke jalanan dan telah menumpahkan kemarahan mereka yang selama 32 tahun terkekang dalam tirani. Sekitar 35 mobil dibakar massa berderet antara Batas dan Kereo. Kerusuhan menjadi-jadi sampai malam datang menjemput. Kami para mahasiswa bersama karyawan dan dosen yang tidak pulang ke rumah serta Satpam kampus terus siaga dan mengamankan kampus sampai pagi.

Penginapan kami para mahasiswa pun mulai pindah dari kos, dari rumah ke kampus. Kampuslah telah menjadi rumah kami semenjak beberapa hari lalu.

 

Jumat, 15 Mei ’98

Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia telah membara dan luluh-lantak oleh kerusuhan dan penjarahan. Melalui Senat Mahasiswa, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Budi Luhur mengeluarkan pernyataan sikap KBM Budi Luhur terhadap suasana dan aksi-aksi massa yang terjadi. Inti dari pernyataan sikap itu adalah keprihatinan terhadap kerusuhan dan penjarahan yang terjadi. KBM Budi Luhur meminta seluruh komponen bangsa untuk arif dan tenang.

Siangnya aku dan beberapa teman menuju kampus UI Salemba untuk berdiskusi dan berkoordinasi dengan teman-teman Senat Mahasiswa UI. Selesai shalat Jumat aku dan teman BL menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk melihat mayat korban-korban kerusuhan. Seumuran hidup baru kali itu aku melihat mayat-mayat manusia bertebaran tak utuh lagi. Seperti pokok kayu yang hangus terbakar, tidak berbentuk dan baunya begitu menyengat sekali. Aku mual dan muntah melihat ini. Rasa campur aduk dan serta bau yang menyengat membuat kami tak bisa berlama-lama disini. Sampai beberapa hari bau mayat terbakar ini masih saja seolah menempel di hidung dan membual mual isi perut.

 

Sabtu-Minggu, 16-17 Mei ’98

Beberapa kali pertemuan secara intensif diadakan secara bergerilya oleh para Ketua Senat Mahasiswa se-Jakarta dan berpindah-pindah tempat. Rapat ini membas perkembangan terakhir dan bagaimana stategi-taktik mahasiswa menghadapi suasana terakhir di negeri ini. Terakhir diadakan rapat rahasia di kampus IKIP Jakarta (sekarang UNJ).

Rapat marathon berlangsung dari Sabtu sampai Minggu di kampus IKIP Jakarta. Rapat berlangsung sampai malam hari. Mereka akhirnya memutuskan untuk “menguasai” gedung MPR/DPR yang “katanya” simbol rakyat. Dibahaslah tentang teknis dan cara untuk menguasai gedung ini. Sebab, sudah tentu kalau menggunakan cover mahasiswa untuk masuk gedung ini akan sulit sekali.

Sementara itu dikirim pulalah informasi ke kampus masing-masing untuk persiapan dan mem-back up aksi ini.

Kesepakatan rapat adalah, pada hari Sening 18 mei delegasi FKSMJ akan datang ke gedung MPR/DPR dengan membawa statement yang intinya menuntut MPR untuk mengadakan Sidang Istimewa dan mencabut mandat terhadap Presiden Soeharto. Delegasi FKSMJ akan memutuskan menduduki/berada di gedung MPR/DPR sampai dipenuhinya tuntutan diadakannya Sidang Istimewa.

Sudah tentu dengan rombongan dan agenda seperti ini tidak akan mungkin kami bisa masuk ke Gedung MPR/DPR.

Akhirnya didapat cara untuk masuk ke gedung MPR/DPR RI dengan menumpang dalam rombongan rektor IKIP yang akan beraudiensi dengan pimpinan MPR/DPR RI Senin esok.

Sebenarnya direncanakan aksi pendudukan MPR/DPR akan dilaksanakan pada saat momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Tapi mengingat sudah bocornya tanggal tersebut dan beredar luasnya tentang aksi serempak mahasiswa dan rakyat di Monas, maka diputuskan untuk bergerak cepat dan mendahului tanggal 20 Mei dan difokuskan aksi mahasiswa di MPR/DPR. Diputuskan teknik keberangkatan dari IKIP Jakarta pada hari Senin, 18 Mei dan berkumpul jam 09.00 pagi.

Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh tahu tentang rencana aksi ini. segala informasi dirahasiakan. Kawan-kawan di kampus pun tidak ada yang tahu. Mengingat situasi pada saat itu yang sudah tidak menentu. Intel-intel sudah mulai berkeliaran. Aksi besar-besaran yang rencananya akan diadakan tanggal 20 Mei pada momen Hari Kebangkitan Nasional yang sudah keburu tersebar luas kemana-mana.

Hari Minggu malam 17 Mei itu, sebagian para Ketua/delegasi Senat Mahasiswa ada yang bermalam di IKIP, sementara yang lainnya pulang dan kembali ke kampus masing-masing untuk mensosialisasikan dan mempersiapkan pergerakan untuk menduduki MPR/DPR.

Hitungan wkatu dihitung dalam hitungan detik. Semua berpacu dalam irama percepatan waktu dan deguban dada. Terasa sekali dada ini berdegub kencang. Semua perencanaan aksi benar-benar diarahasiakan sekali, untuk menjaga jangan sampai bocor ke aparat. Mana teman mana lawan kita tidak tahu pasti waktu itu. Intel-intel sudah bertebaran dan berbaur ke dalam kampus-kampus. Ingat, bagaimana tertangkapnya intel yang menyusup di kampus IKIP Jakarta. Bukan tidak mungkin intel itu direkrut dari mahasiswa yang mungkin adalah teman kita sendiri. Segala informasi dijaga rapih sekali. Hari Seninnya direncanakan hanya mengirim perwakilan masing-masing kampus hanya dua orang saja sebagai tim perintis, salah satunya harus Ketua Senat Mahasiswa.

 

Senin, 18 Mei ’98

Dalam suasana tegang dan kelelahan aku tertidur di ruang Senat Mahasiswa BL. Dini hari, sekitar jam 3 aku dibangunkan oleh Kemas, yang waktu itu Ketua II Senat Mahasiswa. Ia membisiki untuk bersiap-siap untuk berangkat pagi-pagi sekali ke IKIP Jakarta. Julianto, Ketua Umum Senat Luhur. Jam 05.00 aku pulang sebentar ke rumah untuk mempersiapkan pakaian untuk beberapa hari. Suasana seolah-olah akan menuju perjalanan panjang dan tidak menentu kapan pulang.

Senin pagi itu, dari IKIP Jakarta dengan menaiki 2 bus metromini kami rombongan FKSMJ dengan koordinator lapangan (Korlap) Hanry Basel (Ketua Senat Mahasiswa IKIP Jakarta) mulailah berangkat ke MPR/DPR dengan mendompleng rombongan rektor IKIP Jakarta yang akan beraudiensi dengan pimpinan MPR/DPR. Tercatat ada sekitar 75 orang delegasi FKSMJ dari 43 kampus masuk ke MPR/DPR sebagai tim pionir.

Jam menunjukkan pukul sebelas ketika sampai. Suasana masih sepi, yang ada hanyalah para wartawan dan aparat keamanan yang mengawal ketat. Rombongan kami sempat ditahan pihak keamanan gedung. Setelah menunjukkan surat pemberitahuan dari kepolisian dan suara lantang dari dosen IKIP barulah kami diizinkan masuk.

Dengan humas MPR/DPR diadakanlah lobby dan negosiasi agar dapat bertemu dengan pimpinan Dewan. Permintaan tidak dikabulkan, dan hanya bisa ditemui oleh fraksi-fraksi. Kami menolak, yang kami inginkan agar bisa dipertemukan dengan pimpinan Dewan/Majelis yaitu Harmoko.

Siangnya, sementara negosiasi masih berlangsung, masuklah rombongan mahasiswa yang tergabung dalam Forkot (Forum Kota).

Akhirnya kami mengadakan jumpa pers, dan membacakan pernyataan sikap FKSMJ yang intinya menuntut MPR untuk mengadakan Sidang Istimewa dan mencabut mandat presiden Soeharto.

Karena desakan terus-menerus dari kami, akhirnya Harmoko sebagai pimpinan MPR/DPR dan pimpinan Dewan lainnya bersedia ditemui. Setelah pertemuan mereka mengadakan jumpa persa. Pimpinan Dewan meminta Soeharto secara arif dan bijaksana untuk mengundurkan diri. Terlihat raut pucat dari wajah mereka. Namun kami bergembira!

Rekan-rekan Forkot akhirnya memutuskan untuk pulang. Sementara kami memutuskan untuk menginap sampai diadakannya Sidang Istimewa dan berjanji akan mendatangkan massa esok harinya untuk mem-push pimpinan dan anggota Dewan/Majelis untuk segera menyelenggarakan Sidang Istimewa. Malam harinya Pangab (panglima ABRI)/Menhankam Jenderal Wiranto menyatakan bahwa pernyataan Harmoko adalah pendapat pribadi walaupun disampaikan secara kolektif. Malam itu pun kami menginap, tapi sampai kapankah…?

Benarkah akan diadakan Sidang Istimewa? Kami tidak tahu, dan Pangab sudah menganulir pernyataan pimpinan Dewan. Namun yang jelas kami semua sudah siap mati! Tumbal untuk harga Sidang Istimewa adalah para pimpinan Senat Mahasiswa. Kami masih ingat traumanya kasus 27 Juli 1996 dan desas-desus kami pun akan di-27 Juli-kan. Seandainya malam itu kami diserbu dan dibantai, kami sudah siap sedia. Seandainya para pimpinan senat mahasiswa ini dihabisi, maka pastilah akan besar akibatnya! Para mahasiswa tentu tidak akan rela dan marah besar jika pimpinannya dihabisi!

Lalu kami mencari posisi untuk mendirikan tenda kecil di pelataran dalam gedung, untuk tempat barang-barang. Sedangkan untuk tidur, hanya beralaskan jaket almamater masing-masing di lantai ubin yang dingin dan mengkilap. Malamnya psy warpun mulailah terjadi! Isu sweeping dan penyerbuan mendadak akan terjadi oleh aparat keamanan membuat suasana semakin tegang. Dengar-dengar kabarnya MPR/DPR sudah dikepung. Kami akan di-27 Juli-kan (Bagi yang tahu peristiwa 27 Juli 1996 tentu akan paham hal ini. Sudah tentu semua kami tegang dan kuatir. Apalagi ada info ada yang melihat seperti sinar laser sniper dari puncak gedung TVRI yang berada di sebelah gedung MPR/DPR.

Kami semua semakin tegang dan was-was.

Akhirnya dari Syarwan Hamid (pimpinan fraksi ABRI) kami mendapat jaminan bahwa beliau menjamin keselamatan mahasiswa dari teror dan penyerbuan aparat, dengan syarat mahasiswa tidak meledek aparat dan menjaga ketertiban. Di kemudian hari barulah kami tahu, ternyata malam itu Syarwan Hamid pun tak berani pulang malam itu. Kami tahu, pagi-pagi sekali kami melihat beliau masih berada di gedung dan ternyata bajunya belum diganti. Malam itu beliau disembunyikan di dalam gedung. Suasana semakin tidak jelas, apalagi sudah ada counter berita dari Panglima ABRI mengenai aksi dan statement di gedung MPR ini, dan nyatanya memang kami sudah dikepung malam itu.

Malam itu, dari salah satu teman yang membawa handphone (HP masih langka waktu itu) kami mendapat informasi-informasi yang berkembang dan semakin menegangkan. Beberapa orang teman sudah pasrah dan masing-masing memanjatkan doa dengan cara masing-masing. Ada juga salah satu teman yang mencoba memutuskan untuk melarikan diri, tapi setelah diberikan kesadaranoleh salah seorang teman, ia pun pasrah.

 

Bersambung nanti ya….

 

 


Pesta Wirausaha TDA, Bukan Pesta Biasa

Tak terasa 9 tahun umur komunitas Tangan Di Atas (TDA), dari sekumpulan orang-orang yang punya visi-misi sama bagaimana membangun bisnis, berdiri di atas kaki sendiri. Berusaha menjadi orang-orang yang bermanfaat, menebar rahmat ke sesama. Menjadi tangan di atas. Sekarang TDA telah menjadi gerakan nasional tentang kemandirian ekonomi.Pesta Wirausaha TDA 2015

Sebentar lagi TDA akan merayakan kelahirannya. Jika dahulu perayaan ini diberi nama dengan milad TDA, beberapa tahun terakhir ini diberi nama dengan nama event: Pesta Wirausaha TDA (PW TDA). Ya, diberi nama Pesta Wirausaha karena memang event ini akan menjadi pestanya para wirausahawan di seluruh Indonesia. Jika dulu hanya perayaan sekumpulan orang, sekarang TDA telah berkembang dengan puluhan ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara.

Dari syukuran dengan tumpengan sekadarnya, dirayakan di panggung sederhana. Sekarang milad TDA dirayakan di panggung megah dan dirayakan oleh ribuan member dan pengunjung umum. Dari syukuran segelintir member, sekarang Pesta Wirausaha telah menjadi event nasional. Dihadiri dari seantero negeri. Dari semula pengisi acara hanya dari para pendiri dan penasihat TDA, sekarang diisi dan dihadiri oleh orang-orang hebat penggerak dan inspirator kewirausahaan.

Beberapa tahun telah berlalu semenjak saya bergabung dari masa-masa awal terbentuknya TDA. Dari sekadar pengamat sampai jadi penikmat TDA. Dari semula pasif sampai aktif dalam kegiatan-kegiatan TDA. Banyak hal-hal besar telah terjadi yang saya saksikan dalam perjalanan TDA selama ini, terutama dalam perkembangan hidup dan bisnis para membernya. Dari semula bisnis recehan sampai menjadi miliaran!

Setiap Pesta Wirausaha selalu saya nanti-nanti dan memastikan hadir. Kenapa? Karena disanalah saya bisa menyaksikan transformasi hebat para anggotanya. Dari semula tidak punya bisnis lalu punya bisnis sendiri. Dari semula karyawan sekarang malah sudah punya banyak karyawan. Dari semula tangan di bawah (sebutan untuk orang gajian) sekarang berubah menjadi tangan di atas (orang yang memberi gaji dan berkontribusi bagi sesama).

Bagi para pemula, di acara ini akan mendapatkan banyak inspirasi dan belajar dari para pakar dan orang-orang sukses. Anda akan bertemu orang-orang hebat dalam bisnis dan perubahan. Dan yang lebih hebatnya lagi, selain sukses mereka adalah orang-orang yang suka berbagi dan senang melihat orang lain sukses pula. Ada panggung-panggung motivasi, inspirasi sampai kelas-kelas atau sesi kecil tentang bisnis praktis. Ada pula stan-stan bermacam kuliner, fashion, teknologi dan berbagai macam bisnis.

Setiap PW TDA saya pastikan untuk hadir. Bukan sekedar bertemu teman-teman lama yang satu gerakan, tapi juga dari acara ini saya mendapatkan inspirasi, motivasi dan bertukar-pikiran. PW ini bukan sekedar ngumpul-ngumpul tapi juga pencerahan dan pergerakan.

Pesta Wirausaha ini adalah panggilan pulang bagi para member TDA untuk datang dan berkumpul kembali dan sharing. Berkumpul dalam rumah besar TDA.

Para pemimpin negeri boleh berganti, tapi para anak-anak muda penggerak kewirausahaan negeri ini akan terus bergerak. Para elit boleh datang dan pergi, tapi kami akan terus berjuang untuk negeri ini; dengan cara kami sendiri: TDA ways. Menjadi inspirasi, motor penggerak dan membangun negeri ini. Jika para politisi berkoar dengan jalan politik, maka pejuang TDA melakukan aksi nyata dalam bidang ekonomi. Menjadi mandiri dalam bidang ekonomi.

Jadi, yuk bagi para member TDA baik member jadulers (sebutan untuk member lama) maupun member baru mari kita ramaikan Pesta kita ini. TDA memanggilmu! Dan bagi para calon member atau peserta umum, yuk kita hadiri event nasional ini, dimana disana kita akan menyaksikan berkumpulnya para orang-orang hebat seantoro negeri. Sebab, ada pepatah lama berkata: Jika anda berkumpul dengan penjual minyak wangi maka Anda pun akan tertular wanginya. Dan jika anda ingin menjadi oranghebat maka berkumpullah dengan orang-orang hebat.

Sebab kesuksesan itu adalah bertemunya kesempatan dengan kesiapan.

Yuk, luang waktu Anda 3-5 April 2015 untuk menghadiri Pesta Wirausaha, pestanya kita semua. Info acara sila kunjungi: http://pestawirausaha.com

 

 

Kenangan Pesta Wirausaha 2012

Usai sudah Pesta Wirausaha TDA 2012. Acara yang berlangsung 28-29 Januari 2012 ini digagas oleh komunitas bisnis Tangan Di Atas adalah dalam rangka milad TDA  yang ke-6. Lebih dari 1800 peserta dan partisipan memenuhi gedung Smesco di Jakarta.

Ruangan utama sebagai pusat acara, sesak dan terasa panas. Pendingin ruangan yang semula dingin tak mampu lagi menyejukkan ruangan dimana sekitar 1400 peserta tumpah dalam antusias, bersemangat, bergembira dan bergelora dalam semangat persaudaraan dan perjuangan. Terbakar oleh inspirasi, motivasi dan gelora enterpreneurship.

Bagaimana tidak, tokoh-tokoh yang berbicara mengisi panggung bukan pula orang sembarangan. Ada Dahlan Iskan, menteri BUMN, Chairul Tanjung, CEO Trans Corporation, Jamil Azzaini, Inspirator Sukses-Mulia, Sandiaga Uno, pengusaha muda sukses, Arief Budiman, CEO Petakumpet, dan banyak lainnya.

Itu baru hari pertama, hari kedua diisi oleh Merry Riana, pengusaha muda sukses yang terkenal dengan Mimpi Sejuta Dollar, Joko Widodo, “ambassador” mobil Esemka, Nukman Luthfie, pegiat social media, Sumardy (pakar marketing), Asep Khairul Gani (pakar HRD) dan ditutup oleh mas Mono “Ayam Bakar” serta ustad Yusuf Mansur. Belum lagi kelihaian pembawa acara Iwel Sastra dan Putri Dwiandari.

Selain dihadiri oleh inspirator TDA Haji Alay, juga tampak para pendiri TDA. Yang terbanyak adalah rombongan peserta dari TDA wilayah yang punya ciri khas masing-masing tampak dari seragam yang digunakan atau penanda lainnya. Ratusan stan penuh dan tentu saja terjadi penjualan dan deal yang signifikan bagi pemiliknya. Dari beberapa kali even dan pameran yang saya datangi di gedung Smesco, baru kali inilah tampak paling ramai.

Selain ruang utama dengan acara besar, beberapa kelas workshop juga dibuka gratis untuk pengunjung acara. Pembicaranya juga top markotop dan pakar di bidang masing-masing. Ada Budi Rachmat, Fauzi Rachmanto, Zaenal “Teroris” Abidin, Bije Wijayanto, Teguh Wibawanto, Hafiz Khairul Rizal, Sonny B Sofyan, Ali Akbar, dan lainnya.

Salut sama teman-teman panitia yang menyiapkan acara ini. Berminggu dan berbulan mereka menyiapkan acara ini. Bahkan kabarnya adalah salah satu panitia yang rela menutup toko/bisnisnya selama satu bulan demi menyukseskan acara ini. Dan, asal tahu saja mereka semua tidak dibayar dalam kepanitiaan ini.

Hebat! Mana ada orang yang rela berkurban seperti ini. Apalagi semua mereka adalah Pengusaha. Ini bisnis bung!

Tapi itulah, semangat dan misi TDA “Bersama Menebar Rahmat” begitu kentara di acara ini. Dari jauh datang dengan ongkos sendiri, peserta begitu bahagia hanya untuk bersilaturahim dan bertatap muka. Sebab selama ini hanya banyak berinteraksi melalui dunia maya saja baik di milis, dan media sosial lainnya.

Dan, juga para pembicara hebat yang menginsiprasi dan memotivasi semua mau berbagi ilmu tanpa dibayar pula! Yah, inilah TDA!

Untuk acara selama dua hari, yang penuh daging dan bergizi semua, begitu murah harga yang harus dibayar. Kalau boleh dikata, paling uang peserta hanya untuk sewa dan petugas gedung, konsumsi dan perangkat acara. Sedangkan kalau yang tidak bayar, ya tidak dapat kartu tanda peserta dan konsumsi. Sedangkan lainnya gratis, dan bisa ikut workshop pula! Acara full dari pagi sampai malam! Gratis!

Merinding saya mengikuti acara ini dan menyaksikan semangat peserta. Teringat kisah lama ketika bergerak mengubah Indonesia dengan cara berbeda.  Jika para politisi ngakunya merubah Indonesia dengan cara perdebatan, wacana, dan ujung-ujungnya malah berbagi kekuasan dan merampok uang negara. Ini para pemuda yang berkumpul, berbicara dan bertindak dengan caranya sendiri. Tanpa banyak bicara, action oriented ternyata telah menggerakkan roda-roda ekonomi dan perubahan di tempatnya masing-masing. Biarkanlah para politisi berdebat, kita bekerja saja!

Saya percaya, bahwa perubahan itu tidak semata dari kekuatan politik. Politik dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang. Dan sesungguhnya dibalik perubahan dunia ada kekuatan tersembunyi ekonomi di belakangnya. Mana bisa beli senjata tanpa uang! Mana bisa mengangkat senjata kalau perut lapar! Para founding father sedari awal sudah menyadari ini. Bahwa kejayaan Indonesia hanya bisa melalui 3 hal: Berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.

Saya melihat ada semangat Beli Indonesia, semangat Bela Indonesia bersatu di acara ini. Saya melihat semangat, bahwa kalau mau sukses maka harus menyukseskan orang lain juga. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Inilah Sukses Mulia yang menjadi semangat Tangan Di Atas.

Dan yang paling membuat saya terharu dan meneteskan airmata, ketika sesi Merry Riana meminta semua peserta berdiri dan semua menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri. Kapan terakhir kita menyanyikan kedua lagu ini? Semua larut dalam nasionalisme Indonesia.

Beruntung saya, telah menjadi bagian dari komunitas ini: Tangan Di Atas, dengan misinya: Bersama menebar rahmat. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Seribu orangtua hanya bisa bermimpi tapi seorang Pengusaha bisa mengubah dunia!

Menjadi Pengusaha Itu Sunnah, Tapi Tangan Di Atas Wajib

Tulisan ini  masuk nominasi Lomba Penulisan Characterpreneur yang diadakan oleh Komunitas Tangan Di Atas dalam rangka acara Pesta Wirausaha 2012
————————————————————————————————–
Pengantar

Characterpreneur, adalah singkatan yang berasal dari 2 suku kata yaitu character dan enterpreneur. Character, menurut kamus Poerwadarminta adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan , akhlak ataupun budi pekerti yang mencirikan seseorang..

Secara bahasa, pengertian enterpreneur secara umum adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan.

Secara sempit enterpreneur dipandang adalah seorang pedagang (businessman). Namun pengertian/pendapat Joseph Schumpeter dipakai oleh banyak kalangan luas. Yaitu, seorang enterpreneur tidak selalu pedagang atau seorang manager; ia adalah orang yang unik yang berpembawaan pengambil resiko dan yang memperkenalkan produk-produk inovatif dan teknologi baru ke dalam perekenomian.

Selain konteks bisnis, kita juga mengenal yang namanya social enterpreneur. Social enterpreneur, dimotivasi oleh keinginan untuk membantu, meningkatkan dan mengubah lingkungan sosial

Secara bebas, menurut saya pengertian character-enterprener, selanjutnya disingkat menjadi characterpreneur adalah seseorang atau kelompok yang mengadakan usaha inovatif yang mempunyai karakter atau watak khusus yang mulia, yang memberikan manfaat perubahaan pada lingkungan atau masyarakatnya.

Pengusaha yang Berkarakter

Mengutip ucapan Nietzsche, “Seni demi seni, ilmu demi ilmu atau puisi demi puisi adalah kedok yang digunakan untuk menutupi watak jahat seniman atau ilmuwan serta memberikan pembenaran atas sikapnya dalam menghindari tanggungjawab sosial.” Kalau saya perluas, “Bisnis demi bisnis adalah kedok jahat yang digunakan oleh pengusaha untuk menutupi sifat jahatnya serta memberikan pembenaran atas sikapnya mencari untung dan menghindari tangungjawab sosial.”

Kalimat di atas memang sedikit keras, tapi hal ini perlu dijelaskan. Karena dalam hidup ini tidak ada yang namanya bebas nilai. Ada kaidah lain yang melekat pada bisnis. Sebab pada sebuah realitas ada motif di belakang penciptaannya. Ekonomi sebagai sebuah ilmu, adalah suatu cabang dari filsafat; sebagai sebuah pencarian manusia atas realitas, lingkungan, penciptaan sesuatu, dan atas “Sesuatu” yang melingkupi segala sesuatu.

Ketika agama datang, sesungguhnya pada prinsipnya filsafat telah selesai. Terjawab sudah pertanyaan mendasar manusia. Para Rasul datang membawa nilai yang melengkapi semua persoalan manusia, memberi nilai atas semua tindak, dan sifat atau karakter manusia. Tidak semata tata ibadah syariah belaka tapi termasuk nilai hidup dalam bermasyarakat dan berdagang dibawanya.

Kegiatan ekonomi atau perdagangan telah ada sebelum zaman kenabian terakhir. Sudah tentu masyarakat zaman itu telah punya karakter atau akhlaknya sendiri. Lalu Nabi Saw yang berlatar pedagang datang membawa misi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Contoh terbaik adalah para Nabi dan Sahabat Nabi. Hampir semua Nabi dan sahabatnya adalah para pedagang. Mereka telah menyontohkan adab dan akhlak berdagang. Tidak semata mencari keuntungan, tapi juga membangun sosial kemasyarakatan. Ada kaidah-kaidah yang dibawa mereka.

Menjadi seorang pengusaha tidaklah semata memikirkan untung-rugi belaka yang hanya dihitung secara matematis ekonomi. Dia haruslah menghitung juga secara matematis sosial. Setiap barang yang diproduksi, tidak dipikirkan semata mencari untung, tapi adakah akibat negatif pada masyarakat yang ditimbulkannya? Pada setiap produk yang dijual, adakah racun atau candu di dalamnya? Pada setiap media yang dikeluarkannya, adakah berdampak pada kerusakan generasi?

Mudah saja mengimpor produk luar dengan harga murah, banyak untung yang akan didapat. Tapi tak terpikirkah bahwa ada sekian banyak petani, nelayan dan pedagang lokal yang akan terkapar kalah? Produksi saja konten yang mengikut selera dasar primitif manusia, tapi terpikirkah bahwa sama saja kita telah merusak sekian generasi?

Pada hari ini kita gampang saja menemukan banyak pengusaha yang sukses dengan bisnisnya. Banyak orang kaya atau konglemerat yang muncul. Sebagai seorang pengusaha pemula, mudah saja kita menjadikan mereka sebagai idola dan menjadikannya model dalam berusaha. Tapi pernahkah kita secara kritis menilai mereka? Sudahkah usaha yang dijalankannya beretika dan bernilai secara sosial serta apa efek jangka panjang yang ditimbulkannya?

Karakter yang mulia haruslah melekat pada diri seorang Pengusaha.

Pengusaha yang berkarakter mulia haruslah visioner, idealis, jujur, amanah, tidak semata mencari untung jangka pendek. Dia tidaklah semata mengikut kepada selera pasar. Kalau perlu dia membentuk pasar (social engineering). Pengusaha yang mulia tidaklah menjadikan manusia sebagai obyek pencari keuntungan. Ia mempunyai misi dalam hidupnya.

Bisnis tidaklah bebas nilai, ia haruslah berpegang pada landasan moral etika. Tidak berprinsp sekuler dalam bisnis. Memisahkan kegiatan ekonomi dari moral-etika, dan lupa pada efek sosial dan kebudayaan.

Tangan Di Atas Sebagai Sebuah Ideologi, eh Gerakan Perubahan

Nabi Muhammad Saw pernah menyatakan bahwa, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Terinspirasi oleh hadis ini tercetuslah sebuah komunitas yang bernama Tangan Di Atas (TDA), sebagai sebuah kelompok yang senang berbagi dan berbagi senang dengan memilih berwirausaha sebagai aktivitas para anggotanya.

Menyambung dengan hadis Nabi Saw yang lainnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. TDA mendefinisikan caranya sendiri menjadi manfaat bagi sesama dengan cara berwirausaha.

TDA didirikan oleh para anak muda atau orang-orang yang berjiwa muda, lahir sebagai bentuk perjuangan dan penyelamatan bangsa. Ciri khas orang muda adalah anti kemapanan dan dinamis. TDA mendefinisikan caranya sendiri melakukan perubahan melalui gerakan ekonomi atau perdagangan. Sebab, kemajuan suatu bangsa sudah tentu ditandai oleh kemakmuran ekonominya.

Semenjak dibentuk tahun 2006 dari puluhan anggota sekarang komunitas ini telah mencapai ribuan anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara. TDA telah menjadi kosa kata baru dalam bahasa Indonesia, yang menggambarkan kaum wirausaha (pedagang), lawan dari kata TDB (Tangan Di Bawah) yang diartikan orang yang masih bekerja (karyawan).

TDA itu adalah sebuah gerakan diam (silent movement). Tanpa gembar-gembor, gegap-gempita berita. Di saat para politisi dan aktivis ramai di media lantang bicara  tentang bagaimana mengubah Indonesia, TDA bergerak dengan caranya sendiri tanpa demonstrasi. Kecuali hanya satu kali demo TDA—yang saya ingatJ, ketika melakukan demo di Bundaran HI dua tahun lalu sebagai bentuk sosialisasi Pesta Wirausaha atau Milad TDA yang ke 4J

Banyak orang hanya bicara, tapi TDA telah bekerja!

Banyak orang memandang bahwa perubahan dunia hanya ditentukan dan direkayasa oleh kekuatan politik belaka. Tapi sesungguhnya ada kekuatan ekonomi di belakangnya. Politik dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Pada sejarah perubahan dunia kita melihat bahwa sejatinya ada gerakan ekonomi yang berperan, baik dengan cara baik maupun jahat atau kasar. Pergulatan inilah yang telah melahirkan berbagai macam ideologi, dari kapitalisme—mulai dari klasik sampai kapitalisme moderen yang humanis, sosialisme, sampai marxisme.

Bung Karno mendefinisikan kejayaan Indonesia itu dengan istilah Tri Sakti, yaitu: Berdaulat di bidang politik, kemandirian di bidang ekonomi, dan berkerpribadian di bidang budaya. Bung Hatta malah menekankan pentingnya membangun kekuatan ekonomi kerakyatan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Beberapa tahun terakhir ini, kita melihat banyak fenomena menarik di negeri ini. Wirausaha telah menjadi profesi baru yang sangat menarik. Jika dahulu berdagang dipandang sebagai sebuah pelarian, bentuk kegagalan dari seseorang yang tidak diterima bekerja di kantoran. Atau berdagang adalah profesi para perantau yang mencari penghidupan yang mana tidak bisa mengandalkan ijasahnya. Berdagang juga kebanyakan dijalankan oleh  para orangtua.

Sekarang bisnis atau berwirausaha telah menjadi tren, sebuah gaya hidup baru. Ditampilkan di panggung-panggung, dikonteskan, diberi piala dan penghargaan. Pelakunya banyak para anak muda.

Kita juga melihat betapa kegiatan wirausaha telah menjadi penyokong penyelamat bangsa ini dari krisis. Beberapa negara tumbang oleh resesi politik dan ekonomi, tapi bangsa ini masih berdiri. Berbeda dengan era sebelumnya, sedikit krisis politik maka guncanglah negeri ini. Tapi sekarang, politik dan pemimpin boleh berganti, tapi ekonomi jalan terus! Sekarang pertanyaannya, politik atau ekonomikah yang telah menyelamatkan negeri ini?

Di zaman Orde Baru barangkali banyak yang alergi ketika disebut kata “ideologi”. Tapi mari kita sederhanakan saja, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang sesuatu, menawarkan perubahan untuk kemakmuran masyarakat (weltanschauung). Lalu bagaimana dengan TDA? Bukankah di dalamnya ada kumpulan ide? Tentang bagaimana membentuk masyarakat yang sejahtera? Kekurangannya, barangkali ide TDA ini belum tersusun sebagai sebuah konsep pemikiran yang utuh dan sistematis. Baru dalam tataran idealis, belum diturunkan ke dalam bentuk materialistik (ini menurut istilah filsafat.  Sedikit berat ya istilahnya…🙂 )

Saya tak mau berdebat soal ideologi. Nanti akan banyak pula yang mengejar saya dengan cara pandang ini. Anggap saja cerita ini hanya ngalor-ngidul kegenitan intelektual. Tapi mari kita pandang saja bahwa Tangan Di Atas adalah sebagai sebuah gerakan perubahan. Ia menawarkan harapan. Misi yang dibawanya adalah “bersama menebar rahmat!”

Menjadi Pengusaha itu Sunnah, Tapi Tangan Di Atas Wajib

Ya, saya katakan bahwa menjadi Pengusaha itu adalah sunnah karena ia adalah profesi dan jalan hidup nabi. Sebagai umatnya sudah tentu kita akan meniru teladan dari nabi. Sunnah, itu baik dan menjadi pahala ketika dilakukan tapi tidak menjadi dosa kalau tidak dijalankan.

Boleh saja seseorang tidak memilih menjadi pengusaha sebagai jalan hidupnya. Tapi menjadi Tangan Di Atas hukumnya adalah wajib, berdosa jika tidak menjalankannyaJ

Apa makna menjadi Tangan Di Atas? Ialah menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebaik-baik manusia adalah yang menjadi manfaat bagi orang lain. Ia membawa harapan, bukan musibah bagi sesamanya. Sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah di atas bumi, ia membawa sifat-sifat Tuhan pada dunia ini, yaitu menyebarkan rahmat.

Prinsip Tangan Di Atas itu adalah, memberi dahulu baru menerima (give and receive).

Characterpreneur = Tangan Di Atas

Semua penjelasan yang saya sampaikan di atas adalah sebagai sebuah pengantar untuk sampai pada sebuah kesimpulan: character-enterpreneur atau Pengusaha yang berkarakter itu adalah Tangan Di Atas. Sebagai sebuah kosa kata baru, Tangan Di Atas (TDA) ini menjelaskan banyak hal. Menjadi pengusaha itu tidaklah bebas nilai, tiada sekularisme dalam bisnis, memisahkan bisnis demi bisnis. Ia haruslah menjadi penyebar rahmat. Pembawa kebaikan pada lingkungan sosialnya.

TDA itu senang berbagi.

Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dan, cara yang dipilih oleh TDA untuk menjadi manfaat bagi sesama adalah dengan menjadi Pengusaha. Dengan menjadi Tangan Di Atas.

Jadi, TDA itu artinya sama dengan Pengusaha, tapi Pengusaha belum tentu sama dengan TDA. TDA itu sama dengan character-enterpreneur. Yaitu, Pengusaha yang berkarakter. Yang sukses tidak hanya semata untuk dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat bagi umat. Inilah yang disebut dengan sukses-mulia, yaitu yang menebar rahmat!

Pada akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan memodifikasi ucapannya Bung Karno, “Seribu orangtua hanya bisa bermimpi tapi seorang Pengusaha bisa mengubah dunia!” Ingat, yang saya maksud dengan Pengusaha disini adalah TDA.

Bersama TDA mari kita menebar rahmat.